Menakjubkan! Seorang Wanita Mengabadikan Momen Indah Jangkrik Melepas Cangkangnya

EtIndonesia.com Pada 15 Juli 2026, Ibu Liu, seorang wanita dari Shanghai, Tiongkok menemukan nimfa jangkrik (juga dikenal sebagai jangkrik emas atau belalang) di daerah tempat tinggalnya. Ia dan anaknya menunggu selama 3 jam untuk mengabadikan momen menakjubkan jangkrik yang melepaskan cangkangnya.

Wanita itu mengunggah video di media sosial yang mengatakan bahwa dia dan anaknya menunggu selama 3 jam malam itu, dan ponsel mereka menjadi sangat panas sehingga mereka harus berulang kali menghentikan perekaman, menangkap transformasi indah jangkrik dalam beberapa cuplikan. Setelah tertidur di bawah tanah selama bertahun-tahun, dibutuhkan tiga jam perjuangan berat untuk melepaskan diri dari cangkang lamanya, merobek sedikit demi sedikit untuk membuka sayapnya yang halus. Ternyata semua pertumbuhan di dunia ini membutuhkan kesabaran yang cukup untuk menunggu bunga mekar.

Dia mengatakan bahwa setelah makan malam hari itu, dia sedang berjalan-jalan dengan anaknya di lingkungan sekitar ketika mereka bertemu dengan nimfa jangkrik yang baru saja muncul dari tanah. Sebuah mobil kebetulan lewat, dan karena takut tertabrak, “Ini adalah pertama kalinya kami melihatnya, dan kami sedikit takut, tetapi kami tetap mengumpulkan keberanian dan dengan hati-hati mengambilnya dan membawanya pulang.”

Ia mengatakan bahwa dirinya meletakkannya di pohon uang di balkon, dengan cepat mencari petunjuk perawatan, dan dengan sabar menunggu selama tiga jam tanpa mengganggu atau menyentuhnya, menyaksikan ia melepaskan belenggunya dan berubah menjadi jangkrik emas berkilauan, sayapnya tembus pandang, pemandangan yang menenangkan sepanjang malam musim panas.

Ibu Liu mengatakan kepada media daratan bahwa anaknya segera mengambilnya dan membawanya pulang. Kemudian, ia mengamatinya bersama anaknya dan merekam prosesnya. Ia menemukan kehidupan sangat menakjubkan, dan proses pergantian kulit jangkrik yang legendaris itu sangat indah. Jangkrik berhibernasi di bawah tanah selama beberapa tahun, dan metamorfosisnya sangat sulit dan berat. Anak itu belajar arti ketekunan dan bagaimana menghargai serta memperlakukan kehidupan kecil dengan baik. Keesokan paginya, saya dan anak melepaskannya kembali ke alam liar.

Video terkait menjadi viral di internet, menerima 52.000 suka dan lebih dari 10.000 penyimpanan dan berbagi.

Warganet di daratan Tiongkok meninggalkan banyak komentar: “Proses pergantian kulit jangkrik ini adalah bukti ketangguhan hidup; ia menanggung proses yang menyakitkan untuk menyelesaikan transformasinya.” 

“Muncul dari tanah yang tertutup kotoran, ia bersinar terang setelah melepaskan cangkangnya; setelah masa dormansi datang kelahiran kembali.” 

“Pada saat itu, ia mendapatkan kehidupan kedua.” 

“Jangkrik itu berganti kulit, dan aku tidak pernah membayangkan warnanya akan menjadi emas.”

“Nimfa jangkrik malang itu menghabiskan tiga tahun di bawah pohon, hanya untuk menghabiskan tiga bulan di pohon, namun begitu banyak orang ingin membunuhnya. Aku merasa sangat kasihan padanya.”

“Ini menunjukkan bahwa orang bijak menjauhi dapur. Setelah menangkap satu dan melihat jangkrik dengan cakar kecil dan gerakan canggungnya, namun masih perlahan memanjat ke atas, aku benar-benar tidak bisa memakannya lagi. Aku menangkap sekitar selusin untuk dicoba, lalu melepaskannya.”

Nimfa jangkrik (nama ilmiah: *Cicada nymph*) adalah serangga yang termasuk dalam genus *Cicada* dalam famili Cicadidae, dan merupakan spesies terbesar dalam famili tersebut. Panjangnya 2-4 cm, sebagian besar berwarna coklat gelap atau hitam, dengan tungkai depan yang melengkung yang beradaptasi untuk menggali di bawah tanah dan memanjat batang pohon.

Nimfa jangkrik sebagian besar menghuni akar pohon di daerah beriklim sedang hingga tropis, hidup di bawah tanah selama 3-7 tahun, memakan getah akar. Masa hidup bervariasi antar spesies, dengan beberapa spesies hidup hingga 17 tahun. Mereka muncul dari tanah pada malam hari di musim panas untuk berganti kulit menjadi dewasa.

Nimfa jangkrik kaya akan protein, lemak, vitamin, dan unsur hara mikro. Di lembah Sungai Kuning dan Sungai Huai di Tiongkok, nimfa jangkrik digunakan sebagai makanan dan obat. Kandungan proteinnya mencapai 58%-70%, dan kulit jangkrik yang telah berganti dapat digunakan dalam pengobatan.

Dilaporkan oleh Li Siya/Disunting oleh Xia He

54 Kelompok Global Mengecam Hukum Baru PKT yang Mendorong Represi Transnasional

EtIndonesia.com “Hukum Peningkatan Persatuan Nasional” yang diterapkan secara paksa oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) baru-baru ini mulai berlaku, memicu kecaman keras dari komunitas internasional. 54 kelompok hak asasi manusia dan komunitas luar negeri di seluruh dunia telah bersama-sama mengeluarkan pernyataan yang mengecam hukum tersebut sebagai ancaman terhadap kebebasan global, hak asasi manusia, dan keamanan komunitas. 

LSM yang berbasis di London, “Hong Kong Monitor,” juga telah bergabung dengan kelompok komunitas luar negeri untuk meluncurkan pernyataan bersama global yang mengecam penerapan paksa hukum kejam ini oleh PKT.

“Yang lebih penting, undang-undang ini dapat menjadi alat untuk penindasan transnasional. PKT dapat menggunakannya untuk mencari alasan untuk menekan para kritikus di luar Tiongkok. Bahkan mereka yang berada di Kanada pun dapat terancam,” Landson Chan, kata Direktur Inisiatif dan Komunikasi di “Hong Kong Monitor.”

Pernyataan tersebut secara khusus mengutuk Pasal 20 undang-undang tersebut, yang mengharuskan orang tua untuk menanamkan identitas nasional yang didefinisikan oleh PKT dan melarang transmisi konten yang dianggap merugikan apa yang disebut persatuan nasional oleh otoritas PKT.

Sheng Xue, Wakil Ketua Global Federasi untuk Hak Asasi Manusia Sipil: “Saya melihatnya sebagai undang-undang genosida yang menghilangkan keragaman, memberantas budaya etnis, bahasa, sejarah, dan kepercayaan. Semua ini pada dasarnya adalah proses komunisme yang brutal.”

Pernyataan dari “Hong Kong Monitor” juga menekankan bahwa Pasal 63 memperluas efek hukum ke luar negeri, dan model yurisdiksinya mirip dengan Undang-Undang Keamanan Nasional Hong Kong 2020 dan Peraturan Keamanan Nasional 2024 milik PKT, yang akan digunakan untuk memburu dan mengintimidasi para pembangkang di luar negeri.

Sheng Xue: “Seluruh dunia telah menjadi korban langsung dari undang-undang genosida oleh PKT ini.”

Kelompok petisi tersebut menyerukan kepada pemerintah dan organisasi internasional untuk secara terbuka mengutuk undang-undang jahat baru oleh PKT ini. Bahkan, mengambil langkah-langkah konkret untuk melindungi komunitas di luar negeri dari ancaman penindasan transnasional oleh PKT.

Landson Chan: “Daftar Pengaruh Asing adalah permulaan yang baik. Tetapi tidak diragukan lagi bahwa pemerintah Kanada harus mengambil tindakan lebih lanjut dalam hal ini.”

Baru-baru ini, anggota Kongres AS dari kedua partai bergabung untuk menargetkan PKT, mengusulkan “Undang-Undang Penghentian Penindasan Transnasional” untuk melawan ancaman dan penindasan PKT terhadap komunitas di luar negeri di Amerika Serikat.

Reporter NTD Television Li Wei dan Lin Xi melaporkan dari Kanada

Lari Sambil Napak Tilas Sejarah, BI Jatim Gelar Heritage Fun Run Surabaya 2026: Edukasi Rupiah, Sport Tourism, dan Ekonomi Lokal

SURABAYA – Kabar gembira bagi para pelari dan pecinta sejarah! Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur akan menggelar Heritage Fun Run Surabaya sebagai ajang yang memadukan olahraga, edukasi, pelestarian budaya, dan penggerakan ekonomi lokal. Kegiatan ini ditargetkan diikuti sekitar 3.000 peserta dari berbagai kalangan masyarakat.

Tidak sekadar berlari, peserta diajak menyusuri kawasan cagar budaya dan situs heritage Kota Surabaya sambil mendapatkan edukasi penting mengenai uang Rupiah. “Heritage Fun Run merupakan bentuk kolaborasi antara sport tourism dengan kegiatan edukasi. Selain mengajak masyarakat hidup sehat, peserta juga akan mendapatkan edukasi dari Bank Indonesia terkait Gerakan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah, perlindungan konsumen, serta mengenal lebih dekat kawasan heritage di Kota Surabaya,” ujar perwakilan BI Jatim dalam keterangannya.

Dua Kategori Lomba dan Hadiah Menarik

Heritage Fun Run menyediakan dua kategori lomba, yaitu 5 kilometer dan 10 kilometer. Panitia juga menyiapkan hadiah menarik bagi para pemenang putra dan putri di masing-masing kategori, termasuk kategori Master yang diperuntukkan bagi pelari berusia di atas 45 tahun. Bagi peserta yang suka tampil beda, panitia juga menggelar kompetisi kostum atau jersey paling kreatif dan inovatif. Siap-siap unjuk gaya!

Lebih dari Sekadar Lari: Bangkitkan UMKM dan Cinta Rupiah

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang akan meramaikan area kegiatan.

Di sisi lain, BI Jatim terus menggalakkan pemahaman makna Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah (CBP Rupiah) melalui berbagai kegiatan sosialisasi, termasuk yang terintegrasi dalam ajang lari ini.

Apa Itu Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah?

  • Cinta Rupiah: Masyarakat diajak memperlakukan uang dengan baik melalui prinsip 5D, yakni tidak dilipat, dicoret, diremas, dibasahi, dan distapler. Selain itu, masyarakat diedukasi untuk mengenali ciri-ciri keaslian uang Rupiah sebagai bentuk kecintaan terhadap mata uang Indonesia.
  • Bangga Rupiah: Rupiah adalah simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang harus dihormati dan dijaga bersama.
  • Paham Rupiah: Masyarakat diajak menggunakan Rupiah secara bijak, mulai dari berbelanja sesuai kebutuhan hingga berinvestasi secara aman dan bertanggung jawab.

Edukasi Rupiah Tak Pernah Berhenti

BI Jatim telah menggencarkan berbagai kegiatan sosialisasi melalui program BI Goes to School, BI Goes to Campus, forum diskusi kelompok (FGD), hingga edukasi di berbagai destinasi wisata dan ruang publik. Heritage Fun Run menjadi salah satu inovasi terbaru untuk menyampaikan pesan CBP Rupiah dengan cara yang lebih menyenangkan dan interaktif.

Melalui Heritage Fun Run Surabaya, BI Jatim berharap masyarakat tidak hanya semakin gemar berolahraga dan mengenal kekayaan sejarah Kota Surabaya, tetapi juga semakin memahami pentingnya menjaga, menghargai, dan menggunakan Rupiah secara bijak sebagai wujud cinta kepada bangsa dan negara.

Pantau terus informasi resmi dari Bank Indonesia untuk pendaftaran dan detail jadwal pelaksanaan. Jangan sampai ketinggalan! (*)

BREAKING! AS Gempur Bandar Abbas & Qeshm, Trump Ultimatum: Selat Hormuz Bisa Jadi Medan Perang Terbesar!

EtIndonesia.com Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang semakin berbahaya. Amerika Serikat dan Iran terus meningkatkan intensitas konfrontasi militer, sementara dampak konflik kini mulai meluas ke berbagai kawasan strategis, mulai dari Selat Hormuz, Teluk Persia, Laut Merah, hingga Irak, Suriah, dan Kuwait.

Pada Rabu, 16 Juli 2026, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (U.S. Central Command/CENTCOM) mengumumkan bahwa militer AS kembali melancarkan gelombang baru serangan udara terhadap Iran. 

Operasi tersebut dimulai sekitar pukul 14.00 waktu Pantai Timur Amerika Serikat (EDT) dan menjadi malam keenam berturut-turut Washington menggempur berbagai sasaran militer di wilayah Iran.

Menurut pernyataan resmi, operasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Amerika Serikat untuk menghancurkan kemampuan militer Iran, khususnya fasilitas yang dinilai digunakan untuk mengancam jalur pelayaran internasional di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Bandar Abbas Kembali Menjadi Target Utama

Berdasarkan berbagai laporan yang beredar, serangan terbaru Amerika Serikat kali ini memusatkan perhatian pada tiga lokasi strategis, yakni Pelabuhan Bandar Abbas, Kota Ahvaz, dan Pulau Qeshm.

Di antara ketiga lokasi tersebut, Bandar Abbas menjadi sasaran yang paling mendapat perhatian. Kota pelabuhan yang terletak di pesisir selatan Iran ini merupakan pelabuhan dagang terbesar di negara tersebut sekaligus pangkalan utama Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Selama bertahun-tahun, Bandar Abbas menjadi pusat aktivitas logistik militer Iran di kawasan Teluk Persia. Dari pelabuhan inilah sebagian besar kapal perang, kapal cepat, serta sistem pertahanan pantai Iran beroperasi untuk mengawasi lalu lintas kapal yang melewati Selat Hormuz.

Informasi yang beredar di platform media sosial X menyebutkan bahwa menara telekomunikasi utama di Bandar Abbas kembali menjadi sasaran serangan udara, sehingga menyebabkan gangguan layanan telepon seluler maupun jaringan internet di sejumlah wilayah Iran bagian selatan.

Apabila laporan tersebut benar, serangan terhadap infrastruktur komunikasi diperkirakan bertujuan mengganggu sistem komando, koordinasi, serta komunikasi militer Iran selama operasi berlangsung.

Pulau Qeshm Memiliki Posisi Sangat Strategis di Selat Hormuz

Selain Bandar Abbas, militer Amerika Serikat juga dilaporkan menyerang Pulau Qeshm, pulau terbesar di Iran yang terletak tepat di mulut Selat Hormuz.

Secara geografis, Pulau Qeshm memiliki nilai strategis yang sangat tinggi. Lokasinya memungkinkan Iran mengawasi hampir seluruh aktivitas pelayaran yang keluar masuk Teluk Persia menuju Laut Arab.

Selama ini kawasan tersebut juga menjadi lokasi berbagai fasilitas militer, radar pantai, serta sistem pengawasan maritim milik Iran.

Analis militer menilai bahwa serangan terhadap Pulau Qeshm kemungkinan besar ditujukan untuk:

  • melemahkan kemampuan Iran memantau lalu lintas kapal internasional;
  • mengurangi efektivitas sistem pengawasan Selat Hormuz;
  • menghambat kemampuan Iran melaksanakan blokade terhadap jalur pelayaran energi dunia.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan tersebut setiap hari sehingga setiap gangguan keamanan langsung berdampak terhadap pasar energi internasional.

Ahvaz, Pusat Energi Iran, Ikut Digempur

Sasaran penting lainnya adalah Kota Ahvaz, ibu kota Provinsi Khuzestan di Iran barat daya.

Ahvaz dikenal sebagai salah satu pusat industri minyak dan gas terbesar Iran. Wilayah ini memiliki banyak ladang minyak, fasilitas pemrosesan energi, serta pangkalan militer yang mendukung operasi IRGC di kawasan barat daya negara tersebut.

Letaknya yang tidak jauh dari perbatasan Irak juga menjadikan Ahvaz sebagai salah satu titik strategis dalam sistem pertahanan Iran.

Serangan terhadap kota ini diperkirakan bertujuan melemahkan kemampuan logistik sekaligus mengganggu infrastruktur energi yang menjadi sumber pendapatan utama pemerintah Iran.

Jembatan Kahurestan Dilaporkan Hancur

Di tengah berlangsungnya gelombang serangan udara tersebut, sejumlah foto yang beredar di media sosial memperlihatkan kerusakan besar pada Jembatan Kahurestan di Distrik Hamir, Provinsi Hormozgan.

Berdasarkan gambar yang beredar, jembatan tersebut dilaporkan mengalami kerusakan sangat parah bahkan disebut telah hancur sepenuhnya.

Apabila informasi tersebut terkonfirmasi, kerusakan itu berpotensi mengganggu mobilitas militer maupun distribusi logistik di kawasan selatan Iran.

Gedung Putih: Iran Masih Berupaya Berunding

Pada 16 Juli 2026, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa pemerintah Iran hingga kini masih terus menjalin komunikasi dengan Amerika Serikat.

Menurut Leavitt, Teheran berharap masih terdapat peluang untuk mencapai kesepakatan diplomatik meskipun saat ini negara tersebut sedang menghadapi tekanan militer yang sangat besar.

Ia menegaskan bahwa gelombang serangan terbaru merupakan konsekuensi atas pelanggaran Iran terhadap Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang sebelumnya telah disepakati kedua negara.

Menurut Gedung Putih, Iran dianggap melanggar kesepakatan tersebut setelah kembali melakukan aksi militer terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Leavitt juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat kini mengerahkan kekuatan militer dalam jumlah besar di kawasan tersebut.

Menurutnya, operasi saat ini melibatkan:

  • lebih dari 10.000 personel militer Amerika Serikat;
  • dua kapal induk;
  • lebih dari 20 kapal perang;
  • puluhan pesawat tempur dan pesawat pendukung.

Seluruh kekuatan tersebut disebut sedang menjalankan operasi pengamanan jalur pelayaran sekaligus pemblokadean terhadap sejumlah pelabuhan Iran.

Trump Ancam Tingkatkan Operasi Militer

Menurut laporan Fox News, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis, 16 Juli 2026, menyatakan bahwa persediaan persenjataan militer Iran kini hampir habis akibat gelombang serangan yang terus berlangsung.

Meski demikian, Trump menilai pemerintah Iran masih belum menunjukkan sikap kompromi dalam proses perundingan.

Ia juga memberikan peringatan bahwa apabila Selat Hormuz tetap ditutup hingga akhir pekan, Amerika Serikat kemungkinan akan meningkatkan eskalasi operasi militernya secara signifikan.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Washington masih menempatkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz sebagai salah satu prioritas utama dalam operasi militernya.

Reuters: Iran Siapkan Houthi untuk Menutup Laut Merah

Di sisi lain, Reuters, mengutip tiga sumber yang mengetahui perkembangan tersebut, melaporkan bahwa Iran telah meminta kelompok Houthi di Yaman untuk bersiap melaksanakan operasi pemblokadean Laut Merah apabila Amerika Serikat menyerang fasilitas pembangkit listrik Iran.

Menurut laporan tersebut, kelompok Houthi telah menyelesaikan berbagai persiapan militer.

Mereka dilaporkan telah menempatkan:

  • rudal jarak jauh;
  • drone tempur;
  • sistem peluncur bergerak;

di sejumlah titik strategis yang menghadap Teluk Aden serta kawasan di sekitar Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk utama menuju Laut Merah dari arah selatan.

Sumber tersebut menyebutkan bahwa seluruh kekuatan itu kini tinggal menunggu perintah langsung dari Teheran sebelum memulai operasi.

Apabila ancaman tersebut benar-benar direalisasikan, maka jalur perdagangan global berpotensi menghadapi gangguan serius di dua titik strategis sekaligus, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.

Kuwait Gagalkan Serangan Drone

Konflik juga mulai berdampak langsung terhadap negara-negara tetangga.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait mengungkapkan bahwa sejak dini hari 16 Juli 2026, angkatan bersenjata Kuwait berhasil mencegat 32 pesawat nirawak (drone) yang memasuki wilayah udara negara tersebut.

Walaupun beberapa fasilitas mengalami kerusakan akibat serangan itu, pemerintah Kuwait menyatakan bahwa hingga saat ini tidak terdapat korban jiwa.

Kapal Tanker Diserang di Teluk Persia

Dalam perkembangan lain, Reuters, mengutip sejumlah sumber yang mengetahui kejadian tersebut, melaporkan bahwa sebuah kapal tanker minyak diserang oleh drone ketika sedang berlayar di kawasan Teluk Persia pada Kamis, 16 Juli 2026.

Saat serangan berlangsung, kapal tersebut dilaporkan tengah memuat sekitar 1 juta barel minyak mentah.

Insiden tersebut mendorong pemerintah Irak menghentikan sementara aktivitas pemuatan minyak di fasilitas ekspor Basra sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan lanjutan.

Sebelumnya, beredar pula laporan bahwa militer Amerika Serikat telah menyerang sebuah supertanker yang berada jauh di kawasan Teluk Persia, meskipun rincian mengenai insiden tersebut masih sangat terbatas dan belum memperoleh konfirmasi resmi.

Suriah Gagalkan Dugaan Pengiriman Senjata untuk Hizbullah

Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Suriah mengumumkan bahwa aparat keamanan berhasil menyita sebuah truk yang datang dari Irak dan diduga membawa persenjataan menuju Lebanon untuk kelompok Hizbullah.

Dalam pemeriksaan, aparat menemukan berbagai perlengkapan militer, antara lain:

  • sekitar 150 unit drone bermuatan bahan peledak;
  • rudal jarak jauh;
  • rudal antitank.

Temuan tersebut segera memicu penyelidikan lintas negara.

Perdana Menteri Irak langsung memerintahkan pembentukan komite investigasi yang dipimpin oleh Kepala Intelijen Militer Irak. Tim tersebut akan bekerja sama dengan pemerintah Suriah untuk mengungkap jalur penyelundupan serta pihak-pihak yang terlibat dalam pengiriman senjata tersebut.

Kedutaan Besar AS di Irak Keluarkan Peringatan Keamanan

Di tengah meningkatnya ketegangan regional, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Irak juga mengeluarkan peringatan keamanan kepada seluruh warga negara Amerika yang berada di negara tersebut.

Pihak kedutaan meminta seluruh warga AS meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan situasi keamanan yang berubah sangat cepat.

Selain itu, kedutaan memperingatkan bahwa ruang udara Irak dapat ditutup sewaktu-waktu apabila kondisi keamanan terus memburuk, sehingga warga Amerika diminta terus memantau informasi resmi mengenai penerbangan dan langkah-langkah evakuasi apabila diperlukan.

Konflik Berpotensi Memasuki Babak yang Lebih Berbahaya

Perkembangan sepanjang 16 Juli 2026 menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran tidak lagi terbatas pada serangan udara di wilayah Iran. Ancaman terhadap jalur pelayaran internasional, serangan drone lintas negara, dugaan penyelundupan senjata, serta meningkatnya aktivitas militer di Teluk Persia dan Laut Merah memperlihatkan bahwa krisis kini telah berkembang menjadi konflik regional yang melibatkan semakin banyak aktor.

Dengan Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan militer dan Iran tetap mempertahankan sikap konfrontatif, risiko meluasnya konflik ke negara-negara lain di Timur Tengah semakin besar. Perhatian dunia kini tertuju pada perkembangan beberapa hari ke depan, terutama terkait keamanan Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, dua jalur pelayaran yang memegang peranan vital bagi perdagangan dan pasokan energi global. (***(

AS Hancurkan Posisi Rudal Iran, Tiga Sinyal Besar Ini Bisa Menentukan Nasib Timur Tengah

EtIndonesia.com — Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengalami eskalasi signifikan setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara berskala besar yang menyasar sistem pertahanan pantai serta sejumlah posisi rudal milik Iran. 

Di tengah meningkatnya intensitas operasi militer tersebut, pemerintah Iran menegaskan bahwa perang yang sedang berlangsung kini telah memasuki fase yang mereka sebut sebagai “perang hidup atau mati” bagi kelangsungan negara.

Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa konflik tidak lagi sekadar berupa saling serang terbatas, melainkan mulai mengarah pada fase yang berpotensi membawa dampak lebih luas terhadap stabilitas Timur Tengah. 

Di tengah situasi tersebut, sejumlah analis menilai terdapat tiga indikator utama yang patut diperhatikan untuk membaca arah perkembangan konflik dalam waktu dekat, yakni dinamika negosiasi, kemungkinan operasi darat, serta meningkatnya risiko konfrontasi di Selat Hormuz yang berpotensi menyeret isu nuklir ke dalam krisis.

Amerika Serikat Intensifkan Serangan terhadap Infrastruktur Pertahanan Iran

Dalam beberapa hari terakhir, militer Amerika Serikat meningkatkan intensitas serangan terhadap berbagai fasilitas militer Iran. Sasaran utama operasi kali ini adalah sistem pertahanan pantai, pangkalan rudal, serta sejumlah instalasi militer yang berada di sepanjang pesisir Iran, mulai dari wilayah timur hingga barat.

Target operasi meliputi fasilitas yang digunakan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) maupun angkatan bersenjata reguler Iran. 

Serangan tersebut dinilai bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mempertahankan wilayah pesisirnya sekaligus mengurangi ancaman terhadap jalur pelayaran internasional di Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Di pihak Iran, pemerintah menegaskan bahwa negara itu tidak akan menyerah terhadap tekanan militer. Sejumlah pejabat menyatakan bahwa konflik saat ini bukan lagi sekadar perselisihan regional, melainkan pertarungan yang menentukan masa depan Republik Islam Iran.

Sinyal Pertama: Munculnya Kembali Peluang Negosiasi

Pada 16 Juli 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan yang menarik perhatian publik internasional.

Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan memperlakukan Korps Garda Revolusi Islam Iran sebagaimana Washington pernah menghancurkan kelompok ISIS. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah Amerika masih mempertahankan pendekatan tekanan militer yang keras terhadap struktur militer utama Iran.

Namun, dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengungkapkan bahwa Teheran disebut pernah menghubunginya untuk meminta perdamaian. Pernyataan tersebut segera memicu berbagai spekulasi mengenai kemungkinan adanya jalur komunikasi tidak langsung antara kedua negara.

Sejumlah pengamat menilai bahwa pernyataan tersebut merupakan bagian dari strategi maximum pressure atau tekanan maksimum yang selama ini menjadi ciri khas pendekatan Trump terhadap Iran. Strategi tersebut menggabungkan tekanan militer, ekonomi, dan diplomatik untuk mendorong lawan memasuki meja perundingan dari posisi yang lebih lemah.

Menurut sejumlah analis, apabila dalam beberapa hari mendatang muncul kabar mengenai keterlibatan utusan khusus, mediator internasional, ataupun negara penengah, maka hal tersebut dapat menjadi indikasi bahwa proses negosiasi mulai bergerak dan konflik kemungkinan telah mendekati titik puncaknya.

Sinyal Kedua: Meningkatnya Dugaan Persiapan Operasi Darat

Selain meningkatnya serangan udara, perhatian para pengamat juga tertuju pada pola sasaran operasi militer Amerika Serikat.

Dalam beberapa hari terakhir, hampir seluruh serangan difokuskan pada kawasan pesisir Iran, termasuk pangkalan rudal, sistem radar, pertahanan pantai, serta berbagai fasilitas militer yang memiliki fungsi strategis dalam menghadapi kemungkinan pendaratan pasukan.

Dalam doktrin militer modern, penghancuran sistem pertahanan pesisir sering dipandang sebagai salah satu tahapan awal sebelum dilaksanakannya operasi amfibi atau pendaratan pasukan darat. Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat konfirmasi resmi bahwa Amerika Serikat benar-benar sedang mempersiapkan invasi darat ke wilayah Iran.

Kekhawatiran mengenai kemungkinan tersebut juga disampaikan oleh juru bicara pemerintah Iran sekaligus profesor Universitas Teheran, Seyed Mohammad Marandi.

Marandi memperingatkan bahwa Amerika Serikat diduga tengah mempersiapkan operasi invasi darat dengan dukungan salah satu negara Arab di kawasan. Ia menegaskan bahwa apabila skenario tersebut benar-benar terjadi, Iran akan memberikan respons militer terhadap negara mana pun yang membantu operasi tersebut.

Pernyataan tersebut dipandang sebagian analis sebagai cerminan meningkatnya kewaspadaan Teheran terhadap kemungkinan eskalasi konflik menuju operasi militer berskala lebih besar.

Sinyal Ketiga: Ancaman terhadap Selat Hormuz dan Pesan Strategis dari Dimona

Perkembangan lain yang mendapat perhatian adalah meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz.

Militer Iran memperingatkan bahwa apabila Amerika Serikat mengganggu atau mengambil tindakan militer yang memengaruhi Selat Hormuz, maka Iran akan menyerang berbagai infrastruktur penting di kawasan tersebut.

Ancaman tersebut dipandang sebagai upaya Iran mempertahankan salah satu instrumen strategis terpenting yang masih dimilikinya. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran energi paling vital di dunia, sehingga setiap gangguan terhadap kawasan tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas pasar minyak global.

Sementara itu, pada 15 Juli 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan ke Dimona, kawasan yang selama puluhan tahun diyakini menjadi lokasi pusat program nuklir Israel.

Dalam kunjungan tersebut, Netanyahu memperingatkan bahwa apabila Iran kembali melancarkan serangan terhadap Israel, maka respons berikutnya tidak akan sama seperti sebelumnya. Ia menyatakan bahwa operasi selanjutnya akan memiliki karakter berbeda dengan tingkat daya hancur yang jauh lebih besar.

Israel sendiri tetap mempertahankan kebijakan ambiguitas nuklir dan hingga kini tidak pernah secara resmi mengonfirmasi maupun membantah kepemilikan senjata nuklir.

Karena itu, sejumlah analis memandang keputusan Netanyahu menyampaikan peringatan dari Dimona memiliki makna simbolis yang kuat. Menurut mereka, lokasi tersebut kemungkinan dipilih sebagai bentuk pesan pencegahan strategis (nuclear deterrence) kepada Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Tiga Faktor yang Diperkirakan Menentukan Arah Konflik

Para pengamat menilai bahwa dalam jangka pendek terdapat tiga faktor utama yang akan menentukan arah perkembangan konflik di Timur Tengah, yaitu:

  • perkembangan proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran;
  • kemungkinan dimulainya operasi darat atau pendaratan pasukan;
  • situasi keamanan di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia.

Perubahan signifikan pada salah satu dari ketiga faktor tersebut diperkirakan akan memengaruhi dinamika konflik secara keseluruhan serta menentukan apakah eskalasi akan terus meningkat atau justru mulai mengarah pada penyelesaian diplomatik.

Sorotan Beralih ke Washington

Meski medan perang berada di Timur Tengah, perhatian dunia kini juga tertuju ke Washington.

Berdasarkan berbagai laporan media Amerika Serikat, Presiden Donald Trump dijadwalkan menyampaikan pidato nasional pada malam 16 Juli 2026 waktu Pantai Timur Amerika Serikat (EDT).

Sejumlah laporan media menyebut bahwa dalam pidato tersebut Trump diperkirakan akan menyampaikan berbagai isu keamanan nasional, termasuk kemungkinan mengemukakan tuduhan bahwa Partai Komunis Tiongkok diduga ikut campur dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2020.

Laporan-laporan tersebut juga menyebutkan bahwa para pejabat senior dari sejumlah lembaga intelijen Amerika Serikat, termasuk CIA, FBI, serta Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI), dijadwalkan menghadiri acara tersebut.

Hingga berita ini ditulis, isi pidato tersebut belum disampaikan secara resmi sehingga berbagai spekulasi mengenai kebijakan yang akan diumumkan masih belum dapat dipastikan. Namun, banyak pengamat menilai bahwa apabila laporan tersebut benar, pidato Trump berpotensi menjadi salah satu momen politik paling penting di Amerika Serikat sekaligus dapat memengaruhi arah dinamika geopolitik internasional dalam beberapa waktu mendatang. (***)

BREAKING! AS Tembus Jantung Iran, Trump Diam-Diam Alihkan Bidikan ke Tiongkok

EtIndonesia.com — Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak baru setelah militer Amerika Serikat memperluas jangkauan serangan udaranya hingga ke wilayah pedalaman dan utara Iran. 

Untuk pertama kalinya sejak perang meletus, sejumlah sasaran strategis di kawasan utara Iran dilaporkan menjadi target serangan, bahkan ledakan terdengar di sekitar ibu kota Teheran.

Di saat operasi militer terhadap Iran terus berlanjut, muncul pula sejumlah perkembangan yang memunculkan spekulasi baru mengenai arah strategi Washington. 

Sejumlah analis menilai bahwa meskipun Amerika Serikat masih terlibat perang dengan Iran, perhatian utama pemerintahan Presiden Donald Trump sesungguhnya mulai beralih kepada meningkatnya kekuatan militer Partai Komunis Tiongkok (PKT), khususnya di kawasan Indo-Pasifik.

Gelombang Serangan Terbaru AS Resmi Berakhir

Pada Rabu dini hari, 16 Juli 2026, militer Amerika Serikat mengumumkan bahwa gelombang terbaru operasi serangan udara terhadap Iran telah selesai dilaksanakan.

Operasi tersebut menjadi salah satu serangan paling luas sejak konflik dimulai karena untuk pertama kalinya menjangkau berbagai sasaran di Iran bagian utara, wilayah yang sebelumnya relatif tidak tersentuh serangan langsung.

Laporan dari berbagai sumber di Iran menyebutkan bahwa ledakan tidak hanya terjadi di wilayah selatan maupun pesisir Teluk Persia, tetapi juga terdengar di sejumlah kawasan yang berada di sekitar Teheran, menandai perubahan signifikan dalam pola operasi militer Amerika Serikat.

Perluasan area serangan ini dipandang sebagai indikasi bahwa Washington kini tidak lagi hanya menargetkan fasilitas militer yang berkaitan dengan operasi di Selat Hormuz, tetapi juga mulai memburu infrastruktur strategis yang berada jauh di pedalaman Iran.

Pangkalan Rudal di Lorestan Dibombardir

Analis pertahanan keturunan Iran, Babak Taghvaee, melalui unggahannya pada 16 Juli 2026, mengungkapkan bahwa salah satu target utama serangan Amerika Serikat adalah sebuah pangkalan rudal besar di Provinsi Lorestan, Iran bagian barat.

Menurut laporan warga setempat, rentetan serangan berlangsung sangat cepat.

Dalam kurun waktu sekitar sepuluh menit, terdengar sedikitnya tujuh ledakan besar yang mengguncang kawasan tersebut.

Provinsi Lorestan berada jauh dari garis pantai maupun wilayah konflik utama di Selat Hormuz sehingga selama ini relatif jarang menjadi sasaran serangan.

Namun sebenarnya kawasan tersebut bukan lokasi yang asing bagi operasi militer Amerika Serikat dan Israel.

Pada Maret 2026, pangkalan yang sama pernah menjadi target dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel. Meski demikian, berdasarkan berbagai laporan, sebagian fasilitas masih tetap dapat beroperasi.

Serangan terbaru ini diduga merupakan upaya lanjutan untuk menghancurkan sisa kemampuan rudal Iran yang masih bertahan.

Bandara Semnan Ikut Menjadi Sasaran

Selain Lorestan, sasaran penting lainnya adalah Bandara Semnan yang terletak di Iran bagian utara.

Lokasi ini dikenal sebagai salah satu fasilitas strategis yang memiliki keterkaitan dengan program rudal dan antariksa Iran.

Berbeda dengan pangkalan-pangkalan di pesisir selatan yang selama ini menjadi target utama serangan Amerika Serikat, Semnan berada jauh dari kawasan pertempuran sehingga sebelumnya relatif aman dari serangan udara.

Pada operasi gabungan Amerika Serikat-Israel pada Maret 2026, fasilitas tersebut berhasil lolos dari pemboman.

Namun dalam gelombang serangan terbaru pada 16 Juli 2026, pangkalan tersebut akhirnya dilaporkan menjadi sasaran langsung militer Amerika Serikat untuk pertama kalinya.

Para analis menilai langkah ini menunjukkan bahwa Washington kini mulai membidik fasilitas-fasilitas strategis yang selama ini masih tersisa di wilayah pedalaman Iran.

Rudal Jelajah Hantam Chabahar

Perkembangan lain terjadi pada malam 15 Juli 2026, ketika Angkatan Laut Amerika Serikat meluncurkan rudal jelajah yang menghantam sejumlah fasilitas keamanan Iran di Chabahar, Provinsi Sistan dan Baluchestan, Iran tenggara.

Menurut berbagai laporan, sasaran serangan meliputi:

  • Kantor kepolisian.
  • Pangkalan Penjaga Pantai Iran.

Serangan terhadap fasilitas penegakan hukum ini menarik perhatian para pengamat.

Dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Maret 2026, target semacam kantor polisi dan fasilitas penjaga pantai lebih banyak menjadi sasaran operasi Israel dibandingkan Amerika Serikat.

Kini pola tersebut tampaknya mulai diadopsi Washington.

Target Strategis Iran Dinilai Semakin Menipis

Babak Taghvaee menilai perubahan pola serangan Amerika Serikat memberikan gambaran mengenai kondisi kemampuan militer Iran saat ini.

Menurutnya, ketika sasaran mulai bergeser dari pangkalan militer utama menuju kantor polisi dan fasilitas penjaga pantai, hal tersebut dapat menunjukkan bahwa jumlah target militer strategis Iran yang tersisa semakin sedikit.

Artinya, sebagian besar fasilitas utama yang sebelumnya menjadi prioritas kemungkinan telah mengalami kerusakan atau tidak lagi berfungsi secara optimal akibat rangkaian serangan yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir.

Iran Bebaskan Warga Negara Amerika

Di tengah meningkatnya intensitas perang, Iran justru mengambil langkah yang dipandang sejumlah pihak sebagai sinyal positif.

Menurut berbagai laporan media internasional, pemerintah Iran membebaskan seorang warga negara Amerika Serikat yang telah ditahan selama kurang lebih dua tahun.

Setelah dibebaskan, warga Amerika tersebut diizinkan meninggalkan wilayah Iran.

Langkah tersebut tidak berkaitan langsung dengan dimulainya kembali perundingan damai, namun dinilai sebagai bentuk isyarat diplomatik di tengah konflik yang masih berlangsung.

Presiden Donald Trump dilaporkan menyambut positif keputusan tersebut.

Ia menyebut tindakan Iran sebagai sebuah isyarat niat baik yang patut diapresiasi, meskipun belum menunjukkan adanya perubahan mendasar dalam hubungan kedua negara.

Perhatian Washington Disebut Mulai Mengarah ke Tiongkok

Di tengah perang melawan Iran, sejumlah analis menilai bahwa perhatian strategis utama Amerika Serikat sebenarnya mulai bergeser ke kawasan Indo-Pasifik.

Menurut pandangan tersebut, ancaman jangka panjang yang dianggap lebih besar oleh Washington berasal dari meningkatnya kekuatan militer Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Spekulasi itu semakin menguat setelah citra satelit terbaru memperlihatkan aktivitas pembangunan fasilitas latihan militer di Gurun Taklamakan, Daerah Otonomi Xinjiang.

PKT Bangun Replika Kapal Perusak Amerika

Citra satelit menunjukkan bahwa militer Tiongkok membangun replika tiga dimensi berukuran asli kapal perusak kelas Arleigh Burke milik Angkatan Laut Amerika Serikat.

Penemuan tersebut segera menarik perhatian komunitas intelijen dan para analis pertahanan internasional.

Banyak pihak memperkirakan replika tersebut digunakan sebagai sasaran latihan untuk mempersiapkan kemungkinan konflik di kawasan Selat Taiwan.

Logikanya cukup sederhana.

Sebelum mampu menghadapi kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat, militer Tiongkok terlebih dahulu harus mengembangkan kemampuan untuk menghancurkan kapal-kapal pengawal, termasuk kapal perusak kelas Arleigh Burke yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan armada Amerika.

Dibangun Sangat Mirip dengan Kapal Asli

Replika kapal perang tersebut memiliki panjang sekitar 155 meter, hampir identik dengan ukuran kapal perusak asli milik Angkatan Laut Amerika Serikat.

Berbagai detail penting dibuat menyerupai kapal sebenarnya, antara lain:

  • Anjungan komando.
  • Meriam utama.
  • Landasan helikopter.
  • Struktur dek kapal.
  • Tata letak bagian atas kapal.

Tingkat kemiripan tersebut menunjukkan bahwa fasilitas itu kemungkinan memang dirancang untuk kebutuhan latihan serangan secara realistis.

Kapal Tiruan Dapat Bergerak

Yang membuat fasilitas ini semakin menarik adalah desainnya yang tidak bersifat statis.

Replika tersebut dipasang di atas lintasan rel sepanjang sekitar 37 kilometer.

Dengan sistem tersebut, kapal tiruan dapat digerakkan sehingga menyerupai kapal perang yang sedang berlayar di laut.

Setelah target bergerak, berbagai jenis rudal kemudian ditembakkan untuk menguji:

  • Akurasi sistem pemandu.
  • Kemampuan penguncian sasaran.
  • Efektivitas hulu ledak.
  • Kinerja rudal terhadap sasaran bergerak.

Metode latihan semacam ini memungkinkan militer memperoleh data yang lebih mendekati kondisi peperangan sebenarnya.

Latihan Serupa Pernah Terungkap pada 2021

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Tiongkok membangun model kapal perang Amerika Serikat di Gurun Taklamakan.

Pada 2021, citra satelit juga mengungkap keberadaan:

  • Replika kapal induk Amerika Serikat.
  • Sedikitnya dua kapal perusak kelas Arleigh Burke.

Berbagai model tersebut diyakini digunakan sebagai sasaran latihan bagi rudal balistik antikapal, rudal jelajah, serta sistem persenjataan lainnya.

Selain menguji akurasi senjata, latihan tersebut juga memungkinkan militer Tiongkok mengumpulkan data operasional yang dapat dimanfaatkan apabila suatu saat terjadi konflik laut berskala besar.

Pengalaman Perang Timur Tengah Jadi Bahan Evaluasi

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai bahwa berbagai konflik di Timur Tengah justru memperlihatkan tantangan tersendiri bagi teknologi persenjataan buatan Tiongkok.

Beberapa sistem senjata yang digunakan dalam berbagai konflik dinilai belum mampu menunjukkan performa yang benar-benar meyakinkan di medan tempur.

Karena itu, sebagian analis berpendapat bahwa Washington kemungkinan telah memiliki gambaran yang cukup mengenai kemampuan nyata teknologi militer Tiongkok.

Yang justru dianggap lebih mengkhawatirkan adalah pendekatan “zona abu-abu” (grey zone) yang selama bertahun-tahun diterapkan Beijing di kawasan Indo-Pasifik, yakni strategi yang menggabungkan tekanan militer, kehadiran aparat maritim, serta aktivitas non-perang untuk memperluas pengaruh tanpa memicu konflik terbuka.

Enam Kapal Patroli AS Dipindahkan ke Indo-Pasifik

Indikasi perubahan fokus strategis Amerika Serikat juga terlihat dari langkah terbaru Penjaga Pantai Amerika Serikat (U.S. Coast Guard).

Menurut laporan The Wall Street Journal, ketika perang dengan Iran masih berlangsung, Amerika Serikat justru memindahkan enam kapal patroli dari kawasan Timur Tengah menuju Asia.

Kapal-kapal tersebut ditempatkan di:

  • Singapura.
  • Pangkalan Angkatan Laut Subic Bay, Filipina.

Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi memperkuat kehadiran Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik.

Tujuan utamanya adalah meningkatkan kemampuan pengawasan serta menghadang aktivitas yang dikaitkan dengan strategi zona abu-abu Beijing, termasuk berbagai bentuk infiltrasi maritim, patroli kapal pemerintah, dan upaya memperluas pengaruh di perairan strategis Pasifik Barat.

Situasi Masih Sangat Dinamis

Rangkaian perkembangan pada 15–16 Juli 2026 menunjukkan bahwa konflik Amerika Serikat-Iran tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga memengaruhi kalkulasi strategis Washington di tingkat global.

Di satu sisi, operasi militer terhadap Iran terus diperluas hingga menjangkau wilayah pedalaman dan utara negara tersebut. Di sisi lain, langkah-langkah Amerika Serikat di Indo-Pasifik memperlihatkan bahwa perhatian terhadap dinamika keamanan kawasan Asia tetap menjadi prioritas penting.

Meskipun demikian, sejumlah klaim mengenai sasaran serangan, dampak operasional, maupun penilaian strategis dalam laporan ini masih berasal dari berbagai sumber terbuka dan analisis pengamat. Sebagian informasi belum dapat diverifikasi secara independen sehingga perkembangan selanjutnya masih perlu terus dipantau. (***)

Inggris Desak FIFA Selidiki Aksi Argentina yang Bentangkan Spanduk Kepulauan Falkland di Piala Dunia

Tim nasional Argentina berpotensi menghadapi sanksi FIFA setelah dianggap menyampaikan pernyataan bermuatan politik dalam perayaan kemenangan mereka di Piala Dunia.

EtIndonesia.com Lionel Messi dan sejumlah pemain tim nasional Argentina kini berada dalam penyelidikan Komite Disiplin Independen FIFA. Hal demikian setelah perayaan kemenangan semifinal mereka atas Inggris pada 15 Juli berubah menjadi ajang penyampaian pesan politik terkait Kepulauan Falkland.

Gelandang Giovani Lo Celso terlihat mengambil sebuah spanduk yang sebelumnya dibawa oleh penonton di tribun bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” (“Malvinas adalah milik Argentina”). Ia kemudian mengangkat spanduk tersebut bersama Messi, sementara sejumlah rekan setim mereka menari di belakang, sebelum akhirnya meletakkannya di lapangan.

Pejabat Inggris mengecam aksi tersebut dan mendesak FIFA untuk menegakkan peraturannya dengan menjatuhkan hukuman kepada para pemain Argentina yang terlibat, termasuk kemungkinan melarang mereka tampil pada pertandingan final mendatang.

Dalam berbagai kasus sebelumnya, pernyataan politik yang disampaikan selama atau setelah pertandingan telah berujung pada denda puluhan ribu dolar AS hingga hukuman larangan bermain.

Malvinas adalah nama yang digunakan Argentina untuk menyebut Kepulauan Falkland, wilayah seberang laut Britania Raya di Samudra Selatan yang terletak sekitar 480 kilometer dari daratan utama Argentina.

Argentina menginvasi kepulauan tersebut pada tahun 1982. Namun, Inggris berhasil merebutnya kembali setelah perang yang berlangsung dari 2 April hingga 14 Juni 1982. Konflik itu menewaskan 255 tentara Inggris, 649 tentara Argentina, dan tiga warga sipil.

Perang Falkland meninggalkan luka sejarah yang masih terasa hingga kini. Argentina terus mengklaim kedaulatan atas wilayah yang dikuasai Inggris tersebut.

Wakil Presiden Argentina Victoria Villarruel mengunggah video di platform X yang menampilkan prajurit Argentina dalam Perang Falkland. Dalam video itu, salah satu veteran terlihat kembali menghadap kamera dan membuat gestur kasar. Villarruel berterima kasih kepada tim nasional Argentina dan menulis, “Ini bukan sekadar pertandingan biasa.”

Ia juga mengunggah foto Messi dan rekan-rekannya yang memegang spanduk tersebut dengan keterangan: “Malvinas adalah milik Argentina! Mereka melarang spanduk itu dibawa ke stadion, tetapi lupa bahwa kami membawanya dalam darah dan hati kami.”

Sementara itu, Presiden Argentina Javier Milei membagikan ulang sejumlah pernyataan di X yang mendukung klaim negaranya atas kepulauan tersebut.

Salah satunya adalah nota diplomatik resmi yang dikirim Kementerian Luar Negeri Argentina kepada Kedutaan Besar Inggris di Buenos Aires yang memprotes keberadaan kapal patroli Angkatan Laut Kerajaan Inggris HMS Medway di sekitar kepulauan tersebut.

Pernyataan lain memperingati 16 Juli sebagai Hari Kepentingan Maritim Argentina, sementara unggahan lainnya mengutip Milei yang menyatakan bahwa “Malvinas” akan direbut kembali melalui diplomasi dan kecerdasan.

Di seberang Atlantik, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menanggapi kontroversi itu dengan mengatakan: “Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tetapi Falkland jelas milik kami.”

Namun, sejumlah anggota parlemen Inggris mengambil sikap yang lebih keras. Pemimpin Partai Liberal Demokrat Ed Davey mengirim surat kepada Presiden FIFA Gianni Infantino, mendesak Komite Disiplin FIFA segera bertindak dan melarang para pemain Argentina tampil di partai final.

FIFA Larang Pernyataan Politik

FIFA memiliki aturan ketat yang melarang pernyataan politik, keagamaan, maupun pribadi di dalam arena sepak bola.

Dalam peraturan International Football Association Board (IFAB) disebutkan: “Perlengkapan pemain tidak boleh memuat slogan, pernyataan, atau gambar yang bersifat politik, keagamaan, maupun pribadi. Pemain juga tidak boleh memperlihatkan pakaian dalam yang menampilkan slogan, pernyataan, atau gambar politik, keagamaan, pribadi, ataupun iklan selain logo produsen.”

Peraturan itu juga menyatakan: “Untuk setiap pelanggaran, pemain dan/atau tim akan dikenai sanksi oleh penyelenggara kompetisi, asosiasi sepak bola nasional, atau FIFA.”

FIFA selama ini dikenal berupaya mempertahankan netralitas politik secara ketat. Pada Piala Dunia terbaru, FIFA bahkan menolak permintaan tim nasional Prancis untuk mengenakan ban lengan hitam guna mengenang wafatnya ibu pelatih Didier Deschamps.

Pada tahun 2016, FIFA juga menjatuhkan denda kepada Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara karena mengenakan ban lengan bergambar bunga poppy dalam pertandingan yang bertepatan dengan Armistice Day, hari peringatan berakhirnya Perang Dunia I.

Dalam suratnya kepada FIFA, Davey mengingatkan kasus tahun 2024 ketika UEFA menjatuhkan larangan bermain satu pertandingan kepada pemain Spanyol Rodri dan Álvaro Morata, itu setelah mereka meneriakkan slogan “Gibraltar adalah milik Spanyol” saat perayaan pasca pertandingan.

“UEFA dengan tepat memutuskan bahwa membawa sengketa wilayah dan politik ke dalam arena olahraga melanggar prinsip dasar perilaku yang pantas, merusak citra sepak bola, dan merupakan tindakan yang tidak sportif,” tulis Davey.

“FIFA harus menerapkan standar etika yang sama kepada seluruh peserta kompetisinya.”

Argentina Pernah Didenda karena Kasus Serupa

Argentina sebelumnya pernah dijatuhi hukuman disipliner terkait klaim atas Falkland. Pada tahun 2014, FIFA mengenakan denda sebesar US$26.000 setelah para pemain Argentina membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” usai kemenangan 2–0 atas Slovenia dalam laga persahabatan.

Pada 16 Juli, FIFA mengumumkan bahwa Komite Disiplin Independen telah mulai menelaah laporan terkait insiden tersebut. Namun, FIFA belum menyebutkan batas waktu maupun kemungkinan sanksi yang akan dijatuhkan.

Sumber : Theepochtimes.com

Melihat Tata Kelola Sistem PKT Lewat Penanganan Banjir

—Banjir Tidak Mengenal Batas, Bencana Buatan Manusia Mengungkap Sistem

 oleh Huang Guangci

Setiap kali Tiongkok mengalami banjir besar dan penduduk mengalami kerugia serius, Tiongkok yang dikuasai oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) selalu mengeluarkan pernyataan resmi yng berbunyi: “Ini adalah peristiwa cuaca ekstrem yang terjadi sekali dalam seabad” atau “sekali dalam seribu tahun terakhir.” Seolah-olah hanya dengan satu kata “bencana alam,” semua tanggung jawab dapat dilimpahkan kepada alam.

Namun, yang seharusnya dipertimbangkan oleh orang adalah: apakah banjir hanyalah bencana alam, ataukah banjir diperparah menjadi malapetaka karena kelemahan sistemik?

Banjir bukanlah fenomena cuma terjadi di Tiongkok.

Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Korea Selatan, dan negara-negara lain semuanya pernah mengalami banjir parah. Tidak ada negara yang kebal terhadap kekuatan alam. Namun, kerugian yang diderita oleh berbagai negara yang menghadapi hujan deras yang sama dapat sangat jauh berbeda.

Makna peradaban modern bukanlah untuk menghilangkan banjir, tetapi untuk meminimalkan bencana yang ditimbulkannya.

Apakah suatu negara memiliki mekanisme peringatan dini yang baik, pengelolaan waduk yang ilmiah, penyebaran informasi yang transparan, fasilitas drainase yang kuat, pengawasan media yang independen, dan akuntabilitas yang tulus atas kelalaian tugas—ini adalah standar penting untuk mengukur tingkat tata kelolanya.

Badai hujan dahsyat di Kota Zhengzhou, Provinsi Henan pada tahun 2021 menjadi kasus yang menggugah pikiran. Meskipun curah hujan yang sangat deras memang sangat jarang terjadi, tetapi apakah masalah peringatan dini berfungsi? Apakah kapasitas drainase kota memadai untuk menangani risiko-risiko tersebut? Apakah manajemen darurat di kereta bawah tanah dan ruang bawah tanah dilakukan tepat waktu? dan sebagainya ini telah memicu perdebatan publik yang luas. Setelah kejadian tersebut, banyak keluarga korban dan anggota masyarakat menyerukan agar pemerintah dapat mengungkapkan informasi lebih lanjut, memetik pelajaran, dan meningkatkan sistem manajemen daruratnya. Menuntut pemerintah pusat agar tidak cuma mengaitkan semuanya ini dengan “cuaca ekstrem” saja yang tidak cukup untuk meredakan keluhan publik dan meningkatkan kepercayaan terhadap pemerintah.

Dalam beberapa tahun terakhir, orang sering melihat fenomena lain setiap terjadi banjir besar, yaitu propaganda dan pemberitaan publik sering lebih digahulukan, yang meramaikan publisitas adalah gambar-gambar tentang upaya penyelamatan, arahan kepemimpinan, dan kisah-kisah yang menyentuh hati, sementara kekhawatiran paling mendesak dari mereka yang berada di daerah bencana adalah di daerah mana lagi air banjir akan dilepaskan, penduduk daerah mana yang membutuhkan evakuasi, dan sejauh mana risikonya. Namun, informasi yang sangat penting untuk keselamatan masyarakat ini justru sangat minim atau bahkan tidak ada.

Pemerintah modern harus memprioritaskan untuk memberi tahu rakyat fakta kebenaran, daripada berfokus pada pembentukan citranya.

Jika pengungkapan informasi tidak memadai, jika pengawasan media dibatasi, dan jika pendapat para ahli tidak dapat sepenuhnya masuk ke dalam diskusi publik, maka banyak kerugian yang seharusnya dapat dikurangi mungkin akan terjadi berulang kali.

Sementara itu, beberapa daerah sangat tertarik untuk membuat proyek-proyek yang bersifat pamer dan proyek-proyek pencitraan, mengabaikan investasi jangka panjang seperti membangun drainase bawah tanah, fasilitas pengendalian banjir, dan pengelolaan sungai dan lainnya. Masalah yang tidak terlihat dalam keadaan normal akhirnya terungkap oleh satu badai hujan.

Yang lebih menggugah pikiran adalah banyaknya liputan media setelah bencana besar. Para petugas penyelamat tentu layak dihormati, tetapi jika fokus liputan media hanya pada pembentukan citra, alih-alih benar-benar memeriksa masalah, menyelidiki penyebabnya secara publik, dan memperbaiki sistem, maka tidak menutupi kemungkinan tragedi serupa akan terjadi kembali.

Tata kelola yang benar-benar maju tidak takut mengakui kesalahan.

Negara-negara seperti Jepang dan Jerman biasanya melakukan investigasi setelah bencana besar, merangkum pengalaman, merevisi peraturan, meningkatkan rencana manajemen darurat, dan menerima pengawasan media. Hanya dengan terus menerus menghadapi masalah, kita dapat terus mengatasinya dan mengurangi kemungkinan terjadinya bencana di masa depan.

Sistem yang kurang pengawasan dan akuntabilitas publik dengan mudah menciptakan siklus seperti ini: bencana terjadi – propaganda dan daya tarik emosional lebih dikedepankan – tanggung jawab diremehkan – kurangnya refleksi – dan menunggu bencana berikutnya.

Aih bah tidak akan memilih negara, juga tidak dapat memilih sistem.

Namun, apakah suatu sistem menghormati kehidupan, menjamin hak untuk mengetahui, dan menerima pengawasan akan secara langsung memengaruhi skala bencana yang disebabkan oleh air bah.

Evaluasi modernisasi suatu negara seharusnya tidak cuma melihat gedung-gedung pencakar langitnya, pertumbuhan PDB, atau besarnya parade militer, tetapi evaluasi juga harus mempertimbangkan apakah warga biasa menerima informasi yang tepat waktu dan akurat selama hujan deras, apakah mereka dapat mengungsi dengan aman, apakah investigasi publik dilakukan setelahnya, dan apakah mereka yang bertanggung jawab atas kelalaian benar-benar dimintai pertanggungjawaban.

Pada akhirnya air bah akan surut.

Tetapi masyarakat tidak akan melupakan apakah mereka diberi tahu tepat waktu sebelum air bah datang? Apakah menerima bantuan yang memadai, dan mengetahui kebenaran selama bencana.

Banjir mengungkapkan lebih dari sekadar ketinggian sungai, banjir mencerminkan tingkat tata kelola suatu negara. Banjir tidak hanya menghanyutkan jalan dan rumah, tetapi juga menguji sejauh mana suatu sistem menghormati kehidupan.

Ketika pemerintah suatu negara memprioritaskan rakyatnya, bencana alam dapat mengurangi kerugian. Namun ketika pemerintah memprioritaskan menjaga citranya, bencana alam lebih mungkin meningkat menjadi bencana buatan manusia.

Inilah peringatan sebenarnya yang ditinggalkan kepada kita setiap kali terjadi banjir besar.

Siasat Catur Beijing: Mengapa Pastor Jin Mingri Dilepas, Namun Jimmy Lai Tetap Terbelenggu?

Pembebasan Pastor Jin Mingri atau yang dikenal Ezra Jin, pendiri Gereja Sion Beijing, pada 4 Juli 2026, sekilas tampak seperti sebuah kemenangan bagi kebebasan beragama. Tiba di Los Angeles tepat pada Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, kepulangan Jin digambarkan sebagai momen yang penuh “drama panggung.” Namun, di balik pelukan hangat keluarga di bandara, tersembunyi skenario politik yang dingin dan penuh perhitungan dari Zhongnanhai.

Dalam ulasan mendalam di kanal YouTube 江峰时刻 (Jiang Feng Moment), analis Jiang Feng menyebut fenomena ini sebagai hasil dari “pilihan strategis” Xi Jinping.

Menurut sumber tersebut, pembebasan Jin adalah respons langsung atas permintaan Donald Trump dalam kunjungannya ke Beijing. “Trump memberikan skenarionya, Xi Jinping menyalakan lampu dan kamera, menggunakan orang beriman untuk berakting di hadapan Tuhan,” ungkap Jiang Feng menggambarkan betapa teraturnya “pertunjukan” diplomatik ini.

Kartu AS vs Kartu Inggris

Pertanyaan besar muncul ketika dalam putaran negosiasi yang sama, nasib Jimmy Lai—pendiri Apple Daily yang juga warga negara Inggris—berakhir berbeda. Lai tetap mendekam di penjara Hong Kong meski namanya turut disebut oleh pihak Amerika Serikat.

Mengapa Beijing membedakan perlakuan ini? Laporan 江峰时刻 menjelaskan bahwa bagi Partai Komunis Tiongkok (PKC), Jimmy Lai adalah sosok yang jauh lebih “berbahaya.” Lai menyatukan tiga hal yang paling ditakuti rezim: kebebasan Hong Kong, janji internasional “Satu Negara Dua Sistem,” dan iman pribadi yang teguh.

“Bagi PKT, Jimmy Lai di dalam penjara adalah alat tawar-menawar untuk mendapatkan keuntungan transaksi internasional; tetapi di luar penjara, ia adalah saksi hidup atas 30 tahun kehancuran Hong Kong,” tulis kanal tersebut. Lebih jauh, Lai dianggap sebagai “Kartu Inggris.” Beijing enggan memberikan “skor” kemenangan diplomatik ini kepada Amerika Serikat jika mereka bisa menyimpannya untuk menekan London di masa depan terkait isu investasi, kebijakan finansial, atau sanksi.

Taktik “Transformasi” dan Pecah Belah

Siasat Beijing tidak hanya berhenti pada diplomasi luar negeri. Ada motif yang lebih gelap di balik pola “tangkap masal, lepas bertahap.” Mengacu pada sejarah penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong sejak 1999, rezim menggunakan taktik yang disebut “Transformasi” (zhuanhua).

Targetnya bukan sekadar memenjarakan tubuh, melainkan menghancurkan mental dan koneksi antar-individu. Dengan melepaskan sang pemimpin (“domba pemimpin”) ke luar negeri namun tetap menahan pengikutnya di dalam negeri, PKC sengaja menciptakan ruang untuk kecurigaan.

“Tujuan mereka adalah membuat para korban saling menghakimi. Mengapa dia bisa keluar? Apa yang dia janjikan (pada pemerintah)? Apakah dia akan tetap bersuara?” papar Jiang Feng dalam video tersebut. Rezim ingin agar komunitas iman dan aktivis terpecah dari dalam sementara pelaku kejahatan sebenarnya bersembunyi di balik layar.

Kanal 江峰时刻 menegaskan bahwa teknik ini telah diasah selama lebih dari dua dekade. Dalam kasus Falun Gong, para praktisi dipaksa menulis “surat pertobatan” untuk memotong ikatan dengan keyakinan dan sesama rekan mereka melalui siksaan fisik dan tekanan psikologis yang luar biasa.

Sebuah Pesan untuk Dunia

Pembebasan Jin Mingri, menurut analisis ini, adalah sebuah “tes” bagi dunia internasional. Beijing sedang menguji apakah Amerika Serikat akan melunak dalam perang dagang atau isu hak asasi manusia lainnya setelah mendapatkan satu “hadiah” kecil.

“Jangan sampai satu suap membuat Anda lupa bahwa seluruh panci obat pahit masih mendidih di atas kompor,” pungkas laporan tersebut, mengingatkan bahwa ribuan orang lainnya—termasuk praktisi Falun Gong, warga Uighur, dan pengacara HAM—masih tertindas.

Pada akhirnya, apa yang paling ditakuti oleh rezim totaliter bukanlah satu individu, melainkan koneksi yang tak terlihat antar-manusia yang tidak berada di bawah kendali Partai. Selama dunia tetap mengingat Jimmy Lai dan mereka yang masih di balik jeruji, maka skenario “catur” Beijing belum sepenuhnya menang.

Sumber Berita: Kanal YouTube 江峰时刻 (Jiang Feng Moment), Episode 1229: “Mengapa Xi Jinping melepas Jin Mingri tapi tidak melepas Jimmy Lai?” (Juli 2026).

Laporan Media Jerman : Akibat Kena “Ilmu Pelet” AS, Xi Jinping Sedang Dijatuhkan oleh Robot Humanoid

Media Inggris melaporkan bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping tetap terobsesi oleh persaingan teknologi tinggi dengan Amerika Serikat, tetapi mengabaikan krisis ekonomi dalam negerinya yang semakin serius. Media Jerman mengklaim bahwa robot humanoid sedang menjatuhkan Xi Jinping. Beberapa self-media menafsirkan hal itu sebagai PKT sedang mengikuti jalan runtuhnya Uni Soviet.

Pada 21 Juni, Media Jerman “Deutsche Welle” menerbitkan kutipan dari sebuah artikel di The Economist yang berjudul “Apakah robot humanoid sedang menjatuhkan Xi Jinping?”

Judul asli artikel tersebut adalah “PKT memiliki inovasi, tetapi ekonominya berantakan—mana yang lebih penting?”. Artikel menyebutkan bahwa taruhan Xi Jinping pada perekonomian adalah bahwa model pertumbuhan baru berkembang lebih cepat daripada model lama yang didorong oleh sektor properti yang sedang runtuh. Ini adalah sebuah pertaruhan yang berisiko tinggi.

Artikel tersebut mengutip analisis dari seorang penasihat senior di tingkat pusat PKT, yang menunjukkan bahwa obsesi untuk memenangkan perlombaan teknologi seperti “ilmu pelet” yang secara tidak sengaja ditimpakan kepada para pemimpin PKT oleh Amerika Serikat. Perlombaan ini telah mendistorsi prioritas para pengambil keputusan PKT, mendorong mereka untuk sangat fokus—mungkin berlebihan—pada teknologi mutakhir sementara terlalu sedikit yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi kronis yang sedang dihadapi PKT saat ini.

Artikel tersebut menyatakan bahwa kebijakan industri Xi Jinping telah memicu persaingan sengit antara perusahaan dan wilayah. Tekanan persaingan yang ekstrem ini telah menurunkan harga dan menekan keuntungan perusahaan. Proporsi perusahaan industri yang merugi melonjak ke rekor tertinggi sekitar 32% pada bulan April tahun ini, melampaui puncak sebelumnya selama krisis keuangan Asia 1998. Utang perusahaan tetap tinggi dan terus meningkat.

Artikel tersebut menunjukkan bahwa meskipun produksi robot humanoid di Tiongkok mungkin bertambah, tetapi permintaan domestik tetap lemah. Untuk meningkatkan kepercayaan konsumen Tiongkok, beberapa “kesuksesan teknologi tinggi” saja jauh dari cukup.

Beberapa self-media berbahasa Mandarin menafsirkan artikel ini sebagai indikasi bahwa PKT, mengabaikan krisis ekonominya sendiri, mempertaruhkan segalanya pada persaingan teknologi dengan Amerika Serikat. Ini mengindikasikan bahwa Xi Jinping sedang memimpin PKT menempuh jalan “perlombaan ruang angkasa AS-Uni Soviet” yang meruntuhkan Uni Soviet.

Dalam programnya “Wen Zhao Official” komentator Wen Zhao menyebutkan bahwa pada tahun 1980-an, di akhir Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet, pemerintahan Ronald Reagan merancang program “Star Wars,” yang bertujuan untuk membangun sistem pertahanan rudal berlapis dari darat hingga ruang angkasa. Uni Soviet yang khawatir dengan runtuhnya “keseimbangan teror nuklir” yang telah mereka bangun dengan cermat selama bertahun-tahun, selain menyebabkan statusnya sebagai negara adidaya yang setara dengan Amerika Serikat akan hilang, sehingga memilih untuk menyalurkan jumlah dana besar dalam perlombaan ruang angkasa dengan mengabaikan kesulitan ekonomi yang dihadapi dalam negerinya. Akibatnya, sumber daya nasional menipis, semakin menjerumuskan dirinya ke dalam kesulitan keuangan dan sosial, yang mempercepat keruntuhan Uni Soviet.

Wen Zhao menjelaskan bahwa meskipun momentum Uni Soviet mengalami pelemahan pada tahun 1980-an, mungkin negara sosialis komunis itu masih dapat “bertahan lebih lama lagi” jika tidak ikut serta dalam perlombaan ruang angkasa dengan AS. Namun, kenyataannya adalah perlombaan ruang angkasa AS-Soviet menjadi pukulan terakhir yang menghancurkan Uni Soviet, membuat Uni Soviet terpaksa gulung tikar.

Saat ini, pemerintah AS dan PKT telah meluncurkan kompetisi teknologi tinggi di berbagai bidang, termasuk ruang angkasa, militer, semikonduktor, dan AI. Pemerintahan Trump juga meluncurkan Proyek Golden Dome, sistem pertahanan rudal berbasis ruang angkasa. Dalam beberapa tahun terakhir, PKT juga telah berinvestasi besar-besaran di bidang semikonduktor, kendaraan listrik, dan AI, berupaya menyaingi Amerika Serikat untuk dominasi global. (***)

600 Kilometer Diterobos! Drone Ukraina Hantam Markas Pembom Nuklir Rusia, Moskow Kembali Terguncang

EtIndonesia.com— Konflik Rusia-Ukraina kembali memasuki fase yang semakin intens. Pada malam 16 Juli 2026, militer Ukraina melancarkan serangkaian serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) terhadap sejumlah target strategis milik Rusia, mulai dari pangkalan udara pembom strategis hingga depot penyimpanan bahan bakar di wilayah pendudukan.

Di saat yang sama, pertempuran di kawasan Laut Hitam dan Laut Azov terus meningkat dengan saling serang terhadap fasilitas pelabuhan dan jalur logistik. Sementara itu, di dalam negeri Ukraina, Presiden Volodymyr Zelenskyy melakukan perombakan besar di jajaran pemerintahan dan pertahanan sebagai bagian dari upaya memperkuat strategi perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

Ukraina Kembali Menyerang Pangkalan Udara Strategis Engels-2

Pada malam Kamis, 16 Juli 2026, Ukraina kembali melancarkan serangan drone jarak jauh terhadap Pangkalan Udara Engels-2 di Oblast Saratov, Rusia.

Pangkalan ini merupakan salah satu instalasi militer paling penting milik Angkatan Udara Rusia karena menjadi markas berbagai pesawat pembom strategis yang selama ini digunakan untuk meluncurkan serangan rudal jarak jauh ke wilayah Ukraina.

Menurut laporan warga setempat, beberapa ledakan keras terdengar berturut-turut sebelum terjadi pemadaman listrik berskala luas di sejumlah kawasan sekitar pangkalan.

Tak lama kemudian, rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan kepulan asap hitam pekat serta kobaran api besar yang membumbung tinggi dari arah fasilitas militer tersebut.

Hingga berita ini ditulis, pihak Kementerian Pertahanan Rusia belum memberikan rincian resmi mengenai tingkat kerusakan maupun kemungkinan adanya korban dalam serangan itu. 

Engels-2 Memiliki Nilai Strategis Sangat Tinggi bagi Rusia

Pangkalan Udara Engels-2 terletak sekitar 600 kilometer dari garis depan Ukraina, sehingga selama ini dianggap relatif aman dari serangan langsung.

Meski berada jauh di wilayah pedalaman Rusia, pangkalan tersebut memiliki peran yang sangat vital dalam operasi udara strategis Moskow.

Di Engels-2 ditempatkan sejumlah pesawat pembom strategis utama Rusia, antara lain:

  • Tu-95 Bear, pembom strategis bermesin turboprop yang mampu membawa rudal jelajah jarak jauh.
  • Tu-22M, pesawat pembom supersonik yang kerap digunakan untuk menyerang sasaran darat maupun maritim.
  • Tu-160 Blackjack, pembom strategis terbesar dan tercepat yang masih aktif di dunia.

Pesawat-pesawat tersebut selama ini menjadi tulang punggung serangan rudal Rusia terhadap berbagai kota di Ukraina. Dengan meluncurkan rudal dari wilayah udara Rusia, pesawat-pesawat itu tidak perlu memasuki zona pertahanan udara Ukraina sehingga risikonya jauh lebih kecil.

Karena alasan tersebut, Engels-2 berulang kali menjadi sasaran operasi drone jarak jauh Ukraina dalam beberapa bulan terakhir.

Depot Bahan Bakar Rusia di Donetsk Ikut Diserang

Selain menghantam pangkalan udara strategis, militer Ukraina juga mengumumkan keberhasilan operasi terhadap sebuah depot penyimpanan bahan bakar di Shahtersk, Oblast Donetsk, wilayah yang saat ini berada di bawah kendali Rusia.

Serangan yang juga dilakukan pada malam 16 Juli 2026 itu memicu kebakaran besar.

Video dari lokasi menunjukkan api melahap hampir seluruh kompleks penyimpanan bahan bakar, sementara asap hitam tebal terlihat membumbung tinggi ke udara.

Fasilitas tersebut diyakini menjadi salah satu pusat distribusi logistik penting bagi pasukan Rusia yang bertempur di sektor Donetsk.

Apabila kerusakan yang ditimbulkan cukup besar, serangan tersebut berpotensi mengganggu pasokan bahan bakar kendaraan tempur, truk logistik, maupun peralatan militer Rusia yang beroperasi di kawasan timur Ukraina.

Para analis militer menilai bahwa dalam beberapa bulan terakhir Ukraina semakin memfokuskan serangan terhadap infrastruktur logistik Rusia dibandingkan sekadar menghancurkan kendaraan tempur di garis depan.

Strategi ini bertujuan mengurangi kemampuan Rusia mempertahankan operasi militer dalam jangka panjang.

Pertempuran di Laut Hitam dan Laut Azov Semakin Intens

Di luar serangan terhadap sasaran darat, Ukraina juga melanjutkan operasi militernya di kawasan Laut Hitam dan Laut Azov.

Menurut laporan terbaru, dalam operasi tersebut Ukraina berhasil:

  • menghantam enam kapal milik Rusia, serta
  • merusak dua kapal tunda yang digunakan untuk mendukung operasi logistik dan pelabuhan.

Walaupun rincian mengenai tingkat kerusakan masing-masing kapal belum diumumkan secara resmi, operasi tersebut kembali menunjukkan kemampuan Ukraina menyerang target maritim Rusia menggunakan kombinasi drone laut, drone udara, serta rudal jarak jauh.

Rusia Terus Menyerang Odesa dan Kyiv

Di sisi lain, Rusia juga meningkatkan tekanan terhadap wilayah Ukraina.

Gelombang serangan udara terbaru kembali menghantam Kota Odesa, pelabuhan utama Ukraina di pesisir Laut Hitam.

Sedikitnya tiga orang dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.

Tidak hanya itu, Rusia juga kembali meluncurkan rudal balistik ke ibu kota Kyiv.

Sedikitnya dua distrik dilaporkan menjadi sasaran serangan, memaksa sistem pertahanan udara Ukraina kembali bekerja untuk mencegat rudal-rudal yang masuk.

Serangan balasan dari kedua belah pihak memperlihatkan bahwa konflik kini semakin bergeser menjadi perang atrisi (war of attrition), yaitu strategi menguras kemampuan lawan secara bertahap melalui penghancuran:

  • fasilitas pelabuhan,
  • infrastruktur energi,
  • depot logistik,
  • gudang bahan bakar,
  • jalur transportasi,
  • hingga pusat distribusi militer.

Alih-alih hanya mengejar kemenangan cepat di garis depan, kedua pihak kini berusaha melemahkan kemampuan perang lawan dalam jangka panjang.

Zelenskyy Lakukan Perombakan Besar Kabinet

Di tengah meningkatnya tekanan perang, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga melakukan perubahan besar dalam struktur pemerintahan.

Pada Rabu, 16 Juli 2026, Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov resmi diberhentikan dari jabatannya.

Dalam waktu hampir bersamaan, Zelenskyy mengumumkan pencalonan Oleksiy Koletsky, Direktur Utama perusahaan energi nasional Naftogaz, sebagai calon Perdana Menteri Ukraina.

Langkah tersebut langsung memicu spekulasi luas mengenai kemungkinan perubahan strategi pemerintahan maupun kebijakan perang Ukraina pada fase berikutnya.

Alasan Pergantian Menteri Pertahanan

Menurut laporan The Kyiv Independent yang mengutip seorang anggota parlemen Ukraina yang identitasnya tidak disebutkan, Zelenskyy menjelaskan dalam rapat internal partai pemerintah bahwa pergantian Menteri Pertahanan dilakukan karena sejumlah persoalan mendasar.

Beberapa faktor yang disebut menjadi pertimbangan antara lain:

  • memburuknya hubungan antara Kementerian Pertahanan dengan pimpinan militer;
  • efektivitas sistem mobilisasi yang dinilai belum memenuhi target;
  • meningkatnya kritik publik terhadap sistem perekrutan militer;
  • perlunya penyegaran kepemimpinan di sektor pertahanan.

Laporan tersebut juga menyebut pemerintah sedang mempertimbangkan Menteri Dalam Negeri Ihor Klymenko sebagai kandidat kuat pengganti Menteri Pertahanan.

Fedorov Dinilai Berhasil Mendorong Modernisasi Militer

Mykhailo Fedorov yang kini berusia 35 tahun sebenarnya baru menjabat sebagai Menteri Pertahanan sejak Januari 2026.

Selama enam bulan masa kepemimpinannya, ia dikenal sebagai tokoh yang mendorong modernisasi militer melalui pemanfaatan teknologi digital.

Beberapa program yang menjadi fokus utamanya meliputi:

  • pengembangan sistem drone tempur;
  • digitalisasi sektor pertahanan;
  • percepatan inovasi teknologi militer;
  • integrasi berbagai sistem komando berbasis teknologi.

Namun, sejumlah analis menilai bahwa Fedorov dan Presiden Zelenskyy memiliki perbedaan pandangan mengenai arah reformasi militer.

Fedorov dianggap lebih mengedepankan pendekatan inovatif yang berasal dari dunia teknologi, sedangkan sebagian struktur pertahanan Ukraina masih dipengaruhi pola birokrasi lama yang berakar dari era Uni Soviet.

Perbedaan pendekatan tersebut disebut semakin diperumit oleh persoalan birokrasi yang berbelit serta dugaan praktik korupsi yang masih menjadi tantangan di sebagian institusi pertahanan.

Fedorov Ungkap Capaian Selama Enam Bulan Menjabat

Pada Rabu malam, 16 Juli 2026, setelah pengumuman pergantian jabatan, Mykhailo Fedorov mengunggah rangkuman berbagai pencapaiannya melalui media sosial.

Dalam pernyataannya, ia menyoroti sejumlah program strategis yang berhasil dijalankan selama menjabat, antara lain:

  • menjalin kerja sama dengan perusahaan antariksa SpaceX milik Elon Musk;
  • menghambat upaya Rusia memanfaatkan jaringan satelit Starlink untuk mendukung operasi drone;
  • mendorong reformasi militer yang menurutnya sangat penting meskipun sering menuai kritik;

Abaikan Peringatan Berulang, Militer AS Menembaki Kapal Tanker yang Berusaha Memasuki Pelabuhan Iran

EtIndonesia.com Menurut laporan New Tang Dynasty Television (NTD), sebuah pesawat militer Amerika Serikat pada Rabu (15 Juli) melepaskan tembakan terhadap sebuah kapal tanker kosong yang berusaha menerobos blokade laut menuju pelabuhan Iran. Serangan tersebut menyebabkan kapal kehilangan kemampuan berlayar. Insiden ini disebut sebagai tindakan pencegatan paksa pertama sejak Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Menurut laporan tersebut, kapal tanker itu mengabaikan beberapa kali peringatan dan tetap berusaha memasuki pelabuhan Iran meskipun terdapat blokade laut yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan Agence France-Presse (AFP), Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melalui akun resminya di platform X menyatakan bahwa kapal tersebut adalah M/T Belma, sebuah kapal tanker berbendera Curaçao.

CENTCOM menyatakan bahwa pesawat militer AS: “Menembakkan rudal Hellfire ke cerobong kapal tersebut sehingga kapal kehilangan kemampuan berlayar. Kapal itu tidak lagi menuju Iran.”

Pencegatan Paksa Pertama Sejak Blokade Diberlakukan Kembali

Laporan tersebut menyebutkan bahwa ini merupakan pencegatan paksa pertama sejak Amerika Serikat kembali menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada 14 Juli pukul 20.00 GMT (15 Juli pukul 04.00 waktu Beijing).

CENTCOM juga menyatakan bahwa dalam 24 jam pertama setelah blokade kembali diberlakukan, pihaknya telah:

  • Mengalihkan rute dua kapal dagang yang mematuhi instruksi.
  • Mencegah kapal-kapal tersebut memasuki pelabuhan Iran.

Menurut data yang disampaikan CENTCOM, selama periode blokade sebelumnya, yaitu 13 April hingga 18 Juni, militer Amerika Serikat: Membuat 9 kapal kehilangan kemampuan berlayar serta mengalihkan rute lebih dari 140 kapal agar tidak memasuki pelabuhan Iran. (***)

Militer AS Terus Melancarkan Serangan ke Iran, Pekan Depan Dikabarkan Akan Menargetkan Infrastruktur Energi dan Jembatan 

Pada Rabu (15 Juli) Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah melancarkan serangan presisi selama 90 menit terhadap Pulau Greater Tunb di Iran, menghancurkan sistem pertahanan pantai serta fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa apabila Iran tidak kembali ke meja perundingan, sasaran berikutnya adalah pembangkit listrik dan jembatan-jembatan penting. Sementara itu, Iran menyatakan akan tetap menutup Selat Hormuz dan bahkan mengancam akan memblokade Selat Bab el-Mandeb, sehingga memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi dunia.

EtIndonesia.com Pada pukul 15.00  Rabu 15 Juli 2026, CENTCOM mengumumkan bahwa militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara kedua pada hari itu, dengan sasaran fasilitas militer Iran yang dinilai digunakan untuk mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Sebelumnya pada pagi hari, militer AS telah melakukan operasi udara selama sekitar 90 menit terhadap Pulau Greater Tunb, dengan target sistem pertahanan pantai serta fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah.

Pulau Greater Tunb dianggap sebagai salah satu lokasi strategis di Selat Hormuz. Menurut laporan tersebut, serangan ini dipandang sebagai eskalasi terbaru dalam ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Tidak lama sebelumnya, militer AS juga dilaporkan menyelesaikan operasi pengeboman selama tujuh jam terhadap puluhan sasaran di Iran, dengan tujuan mengurangi kemampuan Iran untuk mengancam kapal-kapal dagang dan warga sipil.

Presiden Trump mengatakan: “Serangan udara akan terus berlanjut sampai saya mengatakan cukup.”

Trump juga menyatakan bahwa ia tidak menutup kemungkinan untuk menargetkan Pulau Kharg, yang merupakan pusat utama ekspor energi Iran. Ia menambahkan bahwa pekan depan operasi militer akan diperluas hingga mencakup pembangkit listrik dan jembatan.

Trump mengatakan: “Minggu depan keadaan mereka akan menjadi lebih buruk, karena kami akan menargetkan pembangkit listrik dan jembatan mereka. Kecuali mereka kembali ke meja perundingan, kami akan menghancurkan semua pembangkit listrik dan jembatan mereka.”

Dalam wawancara tersebut, seorang wartawan Fox News bertanya: “Apakah Anda benar-benar yakin Iran ingin mencapai kesepakatan?”

Trump menjawab: “Saya rasa mereka tidak punya pilihan lain.”

Selain operasi militer, Amerika Serikat juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Menurut laporan itu, Washington kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. 

Departemen Keuangan AS juga mengumumkan perluasan sanksi terhadap industri minyak Iran, menjatuhkan sanksi kepada tujuh individu dan entitas yang dituduh mendukung jaringan pengadaan senjata Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta membekukan aset digital Iran senilai lebih dari 130 juta dolar AS.

Di pihak lain, Iran mengambil sikap yang tegas. Laporan tersebut menyebut bahwa Iran mengklaim telah melakukan serangan balasan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Korps Garda Revolusi Islam juga memperingatkan bahwa apabila Amerika Serikat tidak menghentikan serangannya, Selat Hormuz akan tetap ditutup.

Selain itu, Iran mengancam akan memutus seluruh jalur ekspor energi dari Timur Tengah yang menguntungkan Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk melalui dukungan terhadap kelompok Houthi di Yaman untuk memblokade Selat Bab el-Mandeb.

Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Bersama Selat Hormuz, wilayah ini merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. 

Sebagian besar ekspor minyak Arab Saudi dan banyak jalur perdagangan internasional melewati selat tersebut. Ancaman penutupan jalur ini memicu kekhawatiran mengenai kenaikan harga energi dan terganggunya pasokan global.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa ia berencana berkunjung ke Amerika Serikat untuk menghadiri pemakaman Senator Lindsey Graham, dan berharap dapat kembali bertemu dengan Presiden Trump selama kunjungan itu.

NTD Television reporter Yi Jing 

Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo Capai 2.011 Kasus, Total 754 Orang Meninggal Dunia

EtIndonesia.com  Berdasarkan data terbaru yang diumumkan oleh Republik Demokratik Kongo (RDK), jumlah kasus Ebola yang telah dikonfirmasi kini mencapai 2.011 kasus, dengan 754 kematian. Pemerintah setempat menyatakan bahwa wabah kali ini merupakan yang menyebar paling cepat sejak pencatatan epidemi Ebola di negara tersebut. Situasi semakin diperburuk oleh aksi mogok sejumlah tenaga kesehatan yang belum menerima gaji mereka.

Menurut laporan Associated Press (AP), data Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo menunjukkan bahwa saat ini terdapat:

  • 2.011 kasus Ebola terkonfirmasi
  • 754 orang meninggal dunia
  • 753 pasien masih menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit
  • 366 pasien telah dinyatakan sembuh

Pemerintah juga menyebutkan bahwa pelacakan kontak masih menjadi tantangan besar. Hingga saat ini, hanya sekitar 67% kontak berisiko tinggi yang berhasil dilacak.

Wabah Disebabkan Varian Bundibugyo

Sejak 15 Mei 2026, negara di Afrika Tengah tersebut berjuang menghadapi wabah Ebola yang disebabkan oleh virus Ebola varian Bundibugyo (Bundibugyo ebolavirus), yaitu salah satu jenis virus Ebola yang relatif lebih jarang ditemukan.

Meski upaya pengendalian wabah terus diperluas selama dua bulan terakhir, penyebaran virus masih berlangsung sangat cepat sehingga menyulitkan petugas kesehatan untuk melacak rantai penularannya.

WHO: Sebagian Besar Kasus Baru Berasal dari Rantai Penularan yang Tidak Diketahui

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari sebelumnya menyatakan bahwa setidaknya 80% kasus baru berasal dari rantai penularan yang belum diketahui.

Salah satu kendala utama adalah bahwa hingga kini otoritas kesehatan belum berhasil mengidentifikasi kasus pertama (index case) dari wabah ini.

Selain itu, konflik bersenjata yang menyebabkan banyak warga mengungsi, ditambah tingginya mobilitas penduduk akibat aktivitas pertambangan, membuat pelacakan ribuan orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien menjadi sangat sulit.

Direktur Kedaruratan Kesehatan WHO, Chikwe Ihekweazu, setelah mengunjungi Kota Bunia di Provinsi Ituri—wilayah yang paling terdampak—mengatakan bahwa banyak laporan kematian terbaru terjadi di masyarakat.

Menurutnya, banyak pasien meninggal dunia di rumah atau di komunitas tanpa pernah datang ke fasilitas kesehatan maupun menerima pengobatan.

Tenaga Kesehatan Mogok karena Belum Digaji

Di berbagai wilayah Provinsi Ituri, tenaga kesehatan juga mulai melakukan aksi mogok kerja.

Beberapa petugas medis mengatakan kepada Associated Press bahwa sejak terlibat dalam penanganan wabah Ebola, mereka belum menerima gaji sama sekali.

Kondisi ini dinilai semakin menghambat upaya pengendalian wabah.

Belum Ada Vaksin untuk Varian Bundibugyo

Berbeda dengan virus Ebola varian Zaire, yang telah memiliki vaksin dan beberapa pilihan terapi, hingga saat ini belum ada vaksin maupun pengobatan yang disetujui secara khusus untuk varian Bundibugyo.

Padahal, sebagian besar dari 16 wabah Ebola sebelumnya di Republik Demokratik Kongo disebabkan oleh varian Zaire.

Saat ini, sebuah uji klinis yang mengevaluasi dua kandidat terapi Ebola telah mulai merekrut peserta di Provinsi Ituri. Penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan pilihan pengobatan yang lebih efektif bagi pasien yang terinfeksi varian Bundibugyo.

Diterbitkan ulang dari Kantor Berita CNA / Editor: Lu Yongxin

Laporan Khusus : Banyak Desa di Guangxi, Tiongkok Hancur Diterjang Banjir, Korban Tewas Disebut Sangat Besar 

EtIndonesia.com Hujan deras yang melanda Daerah Otonom Guangxi, Tiongkok  baru-baru ini menyebabkan sejumlah bendungan dan waduk mengalami pelepasan air maupun jebol. Banjir besar yang terjadi dilaporkan menghancurkan banyak desa. Sejumlah korban selamat dan relawan mengungkapkan bahwa banyak rumah hanyut dan banyak warga terseret arus. Mereka mengklaim jumlah korban jiwa yang sebenarnya mencapai sedikitnya ribuan orang.

Banyak Waduk Dilaporkan Jebol atau Melepaskan Air

Laporan menyebutkan bahwa sejak 6 Juli, hujan ekstrem melanda Kota Hengzhou dan wilayah sekitarnya. Sedikitnya 15 waduk dilaporkan mengalami keruntuhan atau kerusakan, sementara beberapa waduk lainnya melakukan pelepasan air, sehingga banjir besar menghanyutkan rumah-rumah, lahan pertanian, dan warga yang tidak sempat menyelamatkan diri.

Seorang pembawa siaran langsung (livestreamer) mengatakan bahwa Desa Liulan, yang berada tepat di dekat Waduk Liulan, mengalami kerusakan sangat parah.

“Setelah banjir mulai surut sejak sore 6 Juli, inilah kondisi kampung mereka. Berdasarkan perkiraan sementara dan apa yang saya lihat langsung di lokasi, setidaknya separuh rumah telah rusak,” katanya. 

Warga: Air Naik Setinggi Dua Lantai

Seorang warga Desa Liulan bermarga Lu mengatakan bahwa setelah Waduk Liulan runtuh, air banjir naik dengan sangat cepat hingga mencapai ketinggian sekitar dua lantai bangunan. Banyak warga naik ke atap rumah untuk menyelamatkan diri, tetapi rumah-rumah tersebut kemudian ikut hanyut.

“Ada yang kondisinya sangat menyedihkan. Mereka berada di atas rumah, tetapi rumahnya roboh dan tidak bisa diselamatkan. Ada juga yang kemungkinan hanyut terbawa arus. Banyak orang pulang dan mendapati rumah mereka sudah hilang sama sekali. Sangat menyedihkan. Ada yang sampai sekarang belum menemukan anggota keluarganya. Melihat mereka saja membuat saya ingin menangis,” ujarnya. 

Desa Dutian Disebut Rata dengan Tanah

Desa Dutian, yang juga berada di dekat Waduk Liulan, dilaporkan mengalami kerusakan berat.

Seorang warga setempat mengatakan: “Saat banjir datang, 27 rumah di Desa Dutian hanyut semuanya. Bahkan fondasinya pun sudah tidak ada.”

Klaim Korban Jauh Lebih Besar dari Angka Resmi

Pada 9 Juli, pemerintah setempat mengumumkan bahwa banjir di Guangxi menyebabkan 39 orang meninggal dunia dan 9 orang hilang. Setelah itu tidak ada lagi pembaruan resmi mengenai jumlah korban.

Namun menurut laporan tersebut, pada 13 Juli beberapa warga Hengzhou dan relawan mengatakan kepada The Epoch Times bahwa hanya di Tim 5, Desa Yabo, Kecamatan Yunbiao saja terdapat lebih dari sepuluh korban jiwa. Mereka mengklaim masih banyak warga yang hilang maupun tertimbun lumpur, dan memperkirakan jumlah korban tewas “setidaknya mencapai empat digit” (lebih dari seribu orang).

Seorang warga perempuan dari Kecamatan Yunbiao sambil menangis mengatakan hampir seluruh rumah di desanya hanyut.

“Rumah hanyut, mobil juga hanyut dan tidak ditemukan lagi. Tidak ada yang tersisa. Kami benar-benar kehilangan segalanya,” katanya. 

Relawan Menggambarkan Kondisi yang Memilukan

Seorang livestreamer yang mendatangi lokasi banjir menangis ketika melihat banyak rumah di sepanjang sungai telah lenyap.

“Baru setelah datang ke lokasi kami tahu, puluhan rumah yang dulu berdiri di tepi sungai sekarang semuanya sudah hilang,” ujarnya. 

Pada hari ketujuh setelah banjir, sejumlah relawan yang mengirim bantuan ke Kecamatan Yunbiao menggambarkan suasana daerah bencana sebagai sangat sunyi dan rusak berat.

Salah seorang relawan berkata: “Ya Tuhan. Seluruh jalan sepi tanpa penghuni. Truk di depan itu membawa bantuan kami. Di kedua sisi jalan penuh sampah dan mobil-mobil yang terendam. Baunya sangat menyengat, seperti bau jamban di pedesaan.”

Klaim: Satu Desa Saja Sedikitnya 500 Orang Tewas

Menurut laporan tersebut, Kecamatan Zhenlong yang berbatasan dengan Yunbiao juga mengalami kerusakan sangat serius.

Seorang korban banjir mengatakan: “Semua barang terendam. Tidak sempat membawa apapun. Mobil hancur. Kami benar-benar tidak tahu harus bagaimana ke depannya.”

Seorang relawan juga mengklaim bahwa ketika membersihkan desa-desa di hilir waduk di Kecamatan Zhenlong, alat berat menemukan jenazah hampir setiap kali menggali.

Laporan tersebut juga menyebut adanya klaim dari warga bahwa salah satu desa di Zhenlong rata dengan tanah dan sedikitnya 500 orang meninggal dunia, namun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Beredar Foto Daftar Kebutuhan Bantuan

Di media sosial juga beredar tangkapan layar dokumen berjudul “Daftar Penugasan Distribusi Bantuan Bencana Hengzhou” bertanggal 12 Juli, yang di dalamnya tercantum kebutuhan 250 kantong jenazah beserta perlengkapan lainnya.

Beberapa warga mengatakan bahwa petugas yang bertugas mengevakuasi jenazah di Kecamatan Yunbiao membawa kantong jenazah ke lokasi.

Seorang warga bermarga Li (nama samaran) mengatakan bahwa kawasan bencana kini masih dibatasi.

Ia mengatakan: “Orang biasa tidak bisa masuk ke daerah bencana untuk ikut membantu. Setelah masuk pun tidak ada sinyal internet karena daerah itu ditutup dan dipasang garis pembatas. Jalan menuju ke dalam juga masih ditutup.”

Warga Mengaku Masih Banyak Korban Terjebak

Pada 14 Juli, warga yang sama mengatakan kepada NTD bahwa operasi pencarian korban hilang masih berlangsung. Ia mengklaim masih banyak warga yang terjebak di pemukiman maupun daerah pegunungan, serta kekurangan air bersih dan bahan makanan.

Menurut laporan tersebut, sejumlah relawan juga mengaku mengalami kesulitan menyalurkan bantuan.

Seorang relawan mengatakan: “Saya menempuh perjalanan lebih dari 2.000 kilometer, tetapi bantuan kami justru ditolak. Akhirnya saya membagikannya sendiri. Siapa yang membutuhkan silakan ambil.”

Relawan lain mengatakan: “Kami membawa bantuan ke lokasi, tetapi pemerintah tidak mengizinkan kami masuk ke daerah bencana. Banyak lokasi yang dituju melalui navigasi tidak bisa dicapai, sinyal komunikasi juga terputus sehingga warga tidak dapat menghubungi dunia luar.”

Laporan dari reporter NTD Television, Wang Ziyi.