Sejumlah Besar Burung di Zhejiang, Tiongkok Tiba-Tiba Meninggalkan Sarang dan Berputar-putar di Langit 

EtIndonesia.com Fenomena langit yang tidak biasa kembali muncul di Tiongkok. Menjelang kedatangan Topan Super Bavi, sejumlah besar burung terlihat terbang berkelompok sambil berputar-putar di langit dan meninggalkan sarang lebih awal di wilayah seperti Ningbo dan Taizhou, Provinsi Zhejiang. Fenomena tersebut memicu perbincangan hangat di media sosial.

Video yang beredar di internet memperlihatkan langit di Ningbo dan Taizhou dipenuhi kawanan burung yang terbang berkelompok dalam jumlah sangat banyak. Burung-burung itu tampak terus berputar-putar di udara dan meninggalkan sarang mereka lebih awal. Jumlahnya sangat banyak hingga memenuhi langit, dan perilaku yang tidak biasa itu terjadi secara serentak.

Banyak warganet Tiongkok memberikan komentar, antara lain:

  • “Fenomena langit yang aneh, banyak burung walet berkumpul.”
  • “Ini pertama kalinya saya melihat begitu banyak burung walet, benar-benar mengejutkan.”
  • “Kemarin (9 Juli) tiba-tiba banyak lalat masuk ke ruang kelas, dan di bawah gedung juga muncul banyak kecoak.”
  • “Belum pernah melihat begitu banyak burung terbang bersama.”
  • “Seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengejar mereka.”

Sebagian warganet mengaitkan fenomena tersebut dengan cuaca buruk:

  • “Ini bukan pertanda baik. Mungkin besok atau lusa topan akan datang.”
  • “Hewan-hewan sudah memberi peringatan lebih dulu kepada manusia.”
  • “Topan kali ini pasti berbahaya, hewan-hewan bisa merasakannya lebih dulu.”

Ada pula yang berspekulasi mengenai kemungkinan bencana lain:

  • “Banyak orang mengatakan mungkin ini tanda akan terjadi gempa bumi.”
  • “Di Zhejiang rasanya tidak mungkin gempa, mungkin hanya karena topan.”
  • “Ini pertanda sebelum hukum alam menunjukkan kekuatannya.”
  • “Ini adalah tanda datangnya bencana.”
  • “Mungkin topan berkekuatan level 17 atau bencana alam besar lainnya.”

Pada 10 Juli pagi, Biro Meteorologi Kota Ningbo mengeluarkan peringatan topan. Disebutkan bahwa pada pukul 08.00, pusat Topan Bavi berada sekitar 1.173 kilometer di tenggara Ningbo, dengan kecepatan angin maksimum di sekitar pusat mencapai level 14 (42 meter per detik). Topan diperkirakan terus bergerak mendekati pesisir Zhejiang dan Fujian, serta akan mendarat pada malam 11 Juli di kawasan pesisir antara Wenling hingga Fuqing, Fujian, dengan kekuatan topan kuat hingga topan (level 13–14, kecepatan angin 38–45 meter per detik).

Sebelumnya, pada 7 dan 8 Juli, langit di Hangzhou, Zhejiang, tampak memerah seperti berwarna darah, sehingga membuat banyak warga merasa khawatir akan datangnya bencana.

Pada 10 Juli pukul 06.00, Pusat Meteorologi Nasional Tiongkok mengeluarkan:

  • Peringatan Oranye untuk Topan,
  • Peringatan Kuning untuk Hujan Lebat, dan
  • Peringatan Biru untuk Cuaca Konvektif Kuat.

Sumber : NTDTV.com

Pasar Foodservice Indonesia Tembus US$29 Miliar, FHI 2026 Siap Percepat Transformasi Industri F&B dan Hospitality

Jakarta – Industri makanan, minuman, dan hospitality Indonesia menunjukkan daya tahan sekaligus prospek yang semakin menjanjikan. Nilai pasar Hotel, Restaurant, and Institutional (HRI) Indonesia tercatat mencapai US$29 miliar pada 2024, menjadikannya sebagai pasar foodservice terbesar di Asia Tenggara dan melampaui capaian sebelum pandemi.

Capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa sektor foodservice nasional tengah memasuki fase pertumbuhan baru yang ditopang meningkatnya konsumsi domestik, ekspansi industri pariwisata, perubahan gaya hidup masyarakat, hingga pesatnya digitalisasi layanan makanan dan minuman.

Mengacu pada laporan Food Service – Hotel, Restaurant and Institutional Annual 2025, pertumbuhan industri didorong oleh ekspansi jaringan hotel dan restoran internasional, meningkatnya tren specialty coffee dan premium bakery, serta berkembangnya layanan pesan-antar makanan berbasis digital yang memperluas akses konsumen terhadap produk berkualitas.

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, pelaku industri juga menghadapi tantangan baru, mulai dari meningkatnya permintaan terhadap produk premium, penerapan kewajiban sertifikasi halal yang semakin luas, hingga persaingan regional yang semakin kompetitif. Kondisi itu menuntut hadirnya kolaborasi yang lebih kuat antara pelaku usaha, pemasok, distributor, dan regulator.

Momentum tersebut menjadi dasar penyelenggaraan Food & Hospitality Indonesia (FHI) 2026, yang akan berlangsung pada 21–24 Juli 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO), Kemayoran. Memasuki penyelenggaraan ke-20, FHI kembali menegaskan posisinya sebagai pameran dagang internasional B2B terbesar di Indonesia untuk sektor makanan, minuman, dan hospitality.

Portfolio Director FHI 2026, Meysia Stephanie, mengatakan pertumbuhan industri harus diimbangi dengan ekosistem bisnis yang mampu mempercepat inovasi dan memperluas kolaborasi.

“Pertumbuhan industri tidak hanya ditentukan oleh besarnya pasar, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan untuk berkolaborasi, beradaptasi terhadap perubahan tren, serta memanfaatkan inovasi dan teknologi. FHI hadir sebagai platform yang mempertemukan seluruh ekosistem industri dalam satu forum bisnis sehingga pelaku usaha dapat membangun kemitraan strategis, menemukan solusi baru, sekaligus meningkatkan daya saing industri di tingkat global,” ujarnya.

Tahun ini, FHI menghadirkan konsep pameran yang lebih terintegrasi dengan menggabungkan Hotelex Indonesia, Fine Furniture & Deco Asia (FFDA), Hotel & Shop Design and Supply Asia (HSDSA), serta PROPAK Indonesia dalam satu kawasan pameran. Integrasi tersebut diharapkan menciptakan ekosistem bisnis yang lebih lengkap sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas sektor.

Prospek industri juga diperkuat oleh fundamental ekonomi nasional yang tetap positif. Indonesia diproyeksikan memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$6,13 triliun pada 2028, dengan target pertumbuhan ekonomi 5,8–6,3 persen pada 2026. Di saat yang sama, sektor hospitality diperkirakan mampu tumbuh hingga tiga kali lipat pada 2030, didorong meningkatnya investasi, berkembangnya pariwisata berkelanjutan, serta tingginya permintaan terhadap pengalaman kuliner dan layanan hospitality berkualitas.

Mengusung tema “A Thrilling Journey of Excellence that Celebrates the Now and Ignites the Future”, FHI 2026 akan menghadirkan lebih dari 500 perusahaan exhibitor dari 32 negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, Italia, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Swiss, Turki, Uni Emirat Arab, hingga Brasil. Ribuan produk, teknologi, serta solusi bisnis terbaru akan ditampilkan untuk mendukung kebutuhan industri makanan, minuman, jasa boga, dan hospitality.

Selain menjadi ajang pameran, FHI 2026 juga menghadirkan beragam kompetisi bergengsi, seperti Indonesia Barista Championship (IBC) bersama Specialty Coffee Association Indonesia (SCAI), World Fashion Drinks Competition (WFDC), serta Tea Master Cup Indonesia yang menjadi ajang promosi teh Nusantara ke pasar internasional.

Penyelenggaraan FHI juga diperkuat melalui berbagai program peningkatan kompetensi, antara lain Masterclass Workshop bersama Association of Culinary Professionals (ACP), Wine Masterclass bersama Indonesia Sommelier Association (ISA), serta seminar industri yang membahas isu strategis seperti implementasi kewajiban sertifikasi halal dan ketahanan pangan nasional bersama LPPOM MUI dan Perum BULOG.

Untuk mendorong transaksi bisnis, FHI kembali menghadirkan Business Matching Programme yang mempertemukan exhibitor dengan pembeli potensial, distributor, importir, operator, hingga mitra bisnis dari berbagai sektor.

Tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, penyelenggaraan tahun ini juga menempatkan aspek keberlanjutan sebagai salah satu agenda utama. Berbagai perusahaan akan menampilkan inovasi ramah lingkungan, mulai dari produk organik, kemasan berkelanjutan, efisiensi energi, hingga solusi pengurangan limbah.

Marketing Communications Manager PT Pamerindo Indonesia, Leonarita Hutama, mengatakan keberlanjutan kini menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan industri.

“Transformasi industri tidak hanya ditentukan oleh inovasi produk dan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha mengembangkan bisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Melalui FHI 2026, kami ingin menghadirkan platform yang mempertemukan perusahaan, inovator, dan pemangku kepentingan untuk berbagi solusi serta mempercepat adopsi praktik bisnis berkelanjutan di sektor makanan, minuman, dan hospitality,” katanya.

Dengan mempertemukan pelaku industri, inovasi, teknologi, serta pengambil keputusan dari berbagai negara, FHI 2026 diharapkan menjadi katalis bagi peningkatan investasi, kemitraan bisnis, dan daya saing industri makanan, minuman, serta hospitality Indonesia di pasar global.

Desa Liulan Luluh Lantak Diterjang Banjir Dahsyat: Liputan Langsung dari Hilir Waduk Liulan, Hengzhou, Guangxi, Tiongkok

EtIndonesia.com Menurut laporan New Tang Dynasty (NTD), jebolnya Waduk Liulan di Kota Hengzhou, Guangxi, menyebabkan bencana banjir yang sangat parah. Seorang kreator konten dari Tiongkok melakukan liputan langsung ke Desa Liulan yang berada tepat di bawah bendungan. Ia menemukan bahwa setelah banjir surut, lebih dari separuh rumah di desa tersebut telah hancur, dan banyak keluarga kehilangan anggota keluarganya.

Dalam video tersebut dijelaskan bahwa bendungan Waduk Liulan jebol pada  6 Juli pagi. Menjelang sore hari, air banjir mulai berangsur surut. Warga yang sebelumnya melarikan diri mulai kembali ke desa, sementara mereka yang berlindung di lantai atas rumah juga turun ke permukaan. Namun, setelah banjir reda, secara kasat mata sedikitnya setengah dari rumah-rumah di desa telah hancur.

Banyak warga yang kembali mendapati rumah mereka sudah lenyap, sehingga menangis histeris. Sebagian warga terlihat memikul barang-barang seadanya meninggalkan desa, diduga hendak mengungsi ke rumah kerabat atau teman.

Menurut keterangan warga yang diwawancarai, sekitar pukul 07.00–08.00 pagi 6 Juli, aparat desa mengumumkan bahwa bendungan telah meluap dan akan segera jebol. Namun hanya sekitar 10 menit kemudian, banjir besar langsung menerjang hingga mencapai lantai dua rumah-rumah.

Sebagian warga yang bergerak cepat berhasil membawa keluarganya melarikan diri ke perbukitan di belakang desa. Namun banyak warga lainnya, terutama lansia dan anak-anak yang bergerak lebih lambat, tidak sempat menyelamatkan diri. Mereka hanya bisa memanjat ke atap rumah-rumah yang lebih tinggi. Salah satu rumah bahkan menampung lebih dari 40 orang di atas atapnya.

Masih banyak warga yang malang terseret arus banjir dan dikhawatirkan tidak selamat.

Seorang warga perempuan mengatakan bahwa dirinya masih tergolong beruntung karena “semua anggota keluarga saya masih selamat.” Ia menambahkan bahwa banyak keluarga lainnya masih terus mencari anggota keluarga yang hanyut terbawa banjir.

Desa Liulan terletak tepat di bawah Waduk Liulan. Setelah bendungan jebol, gelombang banjir menghancurkan desa tersebut, kemudian menerjang sejumlah desa dan kota di hilir, bahkan mencapai Kota Guigang yang berjarak puluhan kilometer. Diperkirakan banyak desa di sepanjang aliran banjir mengalami kerusakan serupa dengan Desa Liulan.

Waduk Liulan dibangun pada masa Gerakan Lompatan Jauh ke Depan (Great Leap Forward).  Pada masa itu pemerintahaan komunis Tiongkok membangun banyak bendungan dengan mengusung slogan “menaklukkan langit dan bumi”, tanpa mempertimbangkan keselamatan manusia maupun lingkungan. Karena keterbatasan teknologi pada masa itu, banyak bendungan disebut menyimpan berbagai potensi bahaya.

Berdasarkan informasi yang dipublikasikan, bendungan Waduk Liulan merupakan bendungan tanah homogen, yaitu tidak menggunakan struktur beton bertulang maupun lapisan kedap air. Bendungan tersebut sepenuhnya dibangun dengan timbunan tanah liat secara berlapis. 

Selain itu, kapasitas saluran pelimpahnya juga dinilai terbatas sehingga kemampuan membuang air tidak memadai. Meskipun pemerintah Tiongkok telah beberapa kali melakukan proyek perbaikan dan penguatan bendungan, artikel tersebut menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut tidak mengubah kerentanan dasar dari bendungan tersebut.

Menurut prinsip dasar teknik sumber daya air, salah satu kelemahan utama bendungan tanah adalah ketika terjadi air melimpas melewati puncak bendungan (overtopping). 

Arus deras akan mengikis lereng luar bendungan sehingga tubuh bendungan dapat runtuh dengan sangat cepat. Oleh karena itu, jebolnya Waduk Liulan kali ini terjadi karena limpasan air menghancurkan tubuh bendungan dan membentuk celah besar. (***)

AS Mendadak Serang Iran Utara! Jembatan Strategis ke Rusia dan Tiongkok Dihantam, Ada Apa Sebenarnya?

EtIndonesia.com 9 Juli 2026 menjadi salah satu hari paling penting dalam eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah melancarkan gelombang serangan besar-besaran terhadap berbagai sasaran militer Iran selama dua hari berturut-turut, Washington mulai menunjukkan perubahan strategi yang dinilai memiliki dampak geopolitik jauh lebih luas dibandingkan sekadar operasi militer biasa.

Pada larut malam 8 Juli 2026, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa militer AS telah menyelesaikan serangan terhadap sekitar 90 sasaran militer yang tersebar di sepanjang wilayah pesisir Iran. 

Serangan tersebut merupakan kelanjutan dari operasi yang telah dimulai sehari sebelumnya dan disebut sebagai salah satu kampanye militer terbesar Amerika terhadap Iran sejak gencatan senjata pada April 2026.

Di saat yang sama, sejumlah media Amerika Serikat melaporkan bahwa Gedung Putih telah mulai menyusun skenario apabila konflik harus berlanjut dalam jangka waktu lebih lama. Pemerintah AS dikabarkan sedang mempersiapkan kemungkinan operasi militer yang dapat berlangsung selama beberapa hari bahkan hingga beberapa minggu, bergantung pada respons yang diberikan Iran.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa Washington kini tidak lagi memandang operasi terhadap Iran sebagai aksi balasan yang bersifat terbatas, melainkan sebagai kampanye militer yang dapat berkembang menjadi konfrontasi berkepanjangan apabila situasi terus memburuk.


Pengamanan Trump Diperketat, Air Force One Lama Kembali Digunakan

Tingkat kewaspadaan pemerintah Amerika Serikat juga terlihat dari pengamanan terhadap Presiden Donald Trump setelah menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara.

Menurut berbagai laporan, ketika meninggalkan Ankara pada 8 Juli 2026, Trump tidak diizinkan menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One generasi terbaru.

Sebagai gantinya, Dinas Rahasia Amerika Serikat (U.S. Secret Service) memutuskan menggunakan Air Force One versi lama yang dinilai memiliki konfigurasi perlindungan dan sistem pertahanan yang lebih matang untuk menghadapi berbagai potensi ancaman.

Proses keberangkatan Presiden berlangsung dengan pengamanan yang sangat ketat. Seluruh agenda pengambilan foto oleh media dibatalkan. Setelah seluruh penumpang memasuki pesawat, awak penerbangan segera meminta semua orang menutup tirai jendela sebelum pesawat lepas landas.

Langkah-langkah tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kekhawatiran Washington terhadap kemungkinan ancaman keamanan selama konflik dengan Iran terus berlangsung.


Untuk Pertama Kalinya Amerika Menyerang Sasaran di Iran Utara

Di balik puluhan serangan yang dilancarkan Amerika Serikat, terdapat satu operasi yang paling menarik perhatian para analis militer.

Selama ini, sebagian besar serangan Amerika terhadap Iran selalu difokuskan pada wilayah Teluk Persia di bagian selatan, terutama terhadap pangkalan militer, fasilitas angkatan laut, radar pesisir, serta infrastruktur yang berkaitan dengan pengamanan Selat Hormuz.

Namun pada dini hari 9 Juli 2026, pola tersebut berubah.

Militer Amerika justru melancarkan serangan terhadap Jembatan Aq Tekeh Khan  di Provinsi Golestan, wilayah paling utara Iran.

Serangan itu dilaporkan memutus jalur kereta api yang menghubungkan kawasan Gorgan dengan jaringan transportasi menuju perbatasan utara Iran.

Bagi banyak pengamat, operasi tersebut merupakan perkembangan yang sangat signifikan karena menjadi serangan pertama Amerika Serikat terhadap sasaran di luar kawasan Teluk Persia sejak gencatan senjata April 2026.

Perubahan lokasi sasaran ini memunculkan pertanyaan baru mengenai tujuan strategis Washington.


Mengapa Jembatan Aq Tekeh Khan Sangat Penting?

Secara geografis, Jembatan Aktek Khan memiliki posisi yang sangat strategis.

Lokasinya hanya sekitar 40 kilometer dari perbatasan Turkmenistan. Dari wilayah tersebut, jaringan rel kereta dan transportasi darat Iran tersambung langsung ke Asia Tengah, kemudian berlanjut menuju Rusia dan Tiongkok.

Dengan kata lain, jembatan tersebut bukan sekadar infrastruktur domestik Iran, melainkan salah satu simpul penting dalam jaringan logistik lintas benua.

Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memengaruhi arus distribusi barang, energi, dan logistik yang menghubungkan Timur Tengah dengan Eurasia.


Analis: Serangan Itu Sebenarnya Ditujukan kepada Beijing dan Moskow

Analis geopolitik Amerika, Brandon Weichert, dalam wawancaranya dengan jurnalis Mario Nawfal, menilai bahwa pola serangan Amerika selama dua hari terakhir memperlihatkan strategi yang sangat jelas.

Menurut Weichert, Washington terlebih dahulu menggempur Pulau Khark, yang merupakan pusat ekspor minyak utama Iran.

Setelah itu, Amerika melanjutkan serangan ke jalur kereta api di Gorgan.

Ia berpendapat bahwa kedua sasaran tersebut bukan dipilih secara acak.

Menurut analisisnya, jalur Gorgan merupakan bagian penting dari Eurasian Land Bridge atau Jembatan Darat Eurasia, sebuah koridor logistik internasional yang menghubungkan Xi’an di Tiongkok dengan kawasan Asia Tengah, Timur Tengah, hingga Eropa.

Karena itu, Weichert menilai bahwa meskipun bom Amerika dijatuhkan di wilayah Iran, pesan strategis yang sebenarnya ingin disampaikan Washington ditujukan kepada Beijing dan Moskow.

Dalam pandangannya, Amerika Serikat sedang berupaya menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengganggu seluruh rantai distribusi energi dan logistik yang menjadi bagian dari jaringan strategis Eurasia.

Tidak hanya ladang minyak Iran yang menjadi sasaran, tetapi juga jalur distribusi, rel kereta api, dan infrastruktur transportasi yang menopang konektivitas regional.


Iran Dinilai Sedang Bermain dengan Waktu

Sementara itu, mantan perwira intelijen Angkatan Darat Amerika Serikat, Stefano Ridondi, memberikan sudut pandang berbeda mengenai strategi Iran.

Menurut Ridondi, sejak awal meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, tujuan utama Iran bukanlah menutup jalur pelayaran internasional sepenuhnya.

Sebaliknya, Teheran diduga ingin memaksa kapal-kapal dagang internasional mengubah rute pelayaran mereka agar bergerak lebih dekat ke pantai utara Iran.

Dengan kondisi tersebut, Iran diyakini memiliki peluang lebih besar untuk mengawasi lalu lintas kapal dan, dalam skenario tertentu, mengenakan berbagai bentuk pungutan atau biaya terhadap kapal-kapal yang melintasi wilayah tersebut.

Ridondi menilai bahwa Iran sedang menjalankan strategi jangka panjang yang bertumpu pada faktor waktu.

Menurutnya, apabila kondisi tersebut dapat dipertahankan hingga sekitar 60 hari, maka pola pelayaran baru yang terbentuk berpotensi dianggap sebagai praktik normal oleh sebagian pelaku pelayaran internasional.

Dalam skenario itu, sistem pungutan terhadap kapal yang melintas bisa berkembang menjadi mekanisme yang secara de facto diterima oleh sebagian pihak.


Kedua Negara Sama-Sama Menghadapi Tekanan Besar

Namun strategi tersebut juga memiliki risiko yang tidak kecil.

Ridondi menilai bahwa kondisi ekonomi Iran saat ini berada di bawah tekanan yang semakin berat akibat konflik berkepanjangan, sanksi internasional, serta gangguan terhadap sektor energi dan perdagangan.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga menghadapi tantangan tersendiri.

Operasi militer yang berlangsung hampir tanpa henti membutuhkan konsumsi amunisi berpemandu presisi, rudal jarak jauh, dan dukungan logistik dalam jumlah sangat besar.

Menurut Ridondi, pada akhirnya konflik ini dapat berubah menjadi perlombaan mengenai siapa yang lebih mampu mempertahankan sumber daya militer, ekonomi, dan politik dalam jangka panjang.

Dengan kata lain, baik Washington maupun Teheran sama-sama berusaha menguji daya tahan lawan sebelum salah satu pihak mulai kehilangan kemampuan untuk mempertahankan eskalasi konflik.


Apakah Timur Tengah Menuju Perang Besar?

Muncul pula pertanyaan mengenai kemungkinan konflik berkembang menjadi perang berskala regional.

Dalam konteks tersebut, banyak pengamat mengingat teori yang pernah dikemukakan oleh pakar strategi nuklir Amerika pada era Perang Dingin, Herman Kahn.

Kahn menjelaskan bahwa dalam konflik bersenjata terdapat fase yang disebut sebagai “autopilot escalation”.

Pada tahap tersebut, kedua pihak terus meningkatkan intensitas serangan demi menghindari kesan bahwa mereka mulai melemah.

Akibatnya, ruang bagi kompromi politik menjadi semakin sempit karena setiap langkah mundur berisiko dipersepsikan sebagai bentuk kekalahan.

Dalam kondisi seperti itu, perang dapat terus berkembang meskipun tidak ada satu pun pihak yang benar-benar menginginkannya.


Amerika Dinilai Masih Menahan Diri

Meski demikian, Ridondi menilai bahwa hingga 9 Juli 2026, masih terdapat sejumlah garis merah yang belum dilanggar Iran.

Beberapa sasaran yang hingga kini belum menjadi target serangan Iran antara lain:

  • Pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi.
  • Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab.
  • Jalur pelayaran utama di wilayah Oman.

Selama Iran belum menyerang lokasi-lokasi strategis tersebut, Ridondi berpendapat bahwa Amerika Serikat kemungkinan masih akan membatasi operasinya pada serangan udara, rudal, dan operasi maritim, tanpa beralih ke kampanye militer berskala jauh lebih besar.

Pandangan serupa disampaikan Brandon Weichert.

Menurutnya, apabila Washington benar-benar memutuskan membuka jalan bagi operasi darat skala penuh, pola serangan yang terjadi saat ini akan berubah secara drastis.

Ia memperkirakan intensitas pengeboman dapat meningkat hingga sekitar 50 kali lipat dibandingkan operasi yang sedang berlangsung sekarang.

Karena itu, meskipun eskalasi konflik terus meningkat, sejumlah analis masih menilai bahwa Amerika Serikat belum menunjukkan seluruh kemampuan militernya dan masih mempertahankan ruang bagi pengendalian eskalasi apabila situasi memungkinkan. (***)

Trump Murka! AS Hancurkan 170 Target Militer Iran dalam 2 Hari, Ancam Serangan 20 Kali Lebih Dahsyat

EtIndonesia.com 9 Juli 2026 menjadi salah satu hari yang menandai eskalasi baru dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah sebelumnya melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap berbagai instalasi pertahanan Iran, Washington kembali meningkatkan intensitas serangannya dengan menghantam puluhan sasaran tambahan di berbagai wilayah strategis. 

Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran, menegaskan bahwa setiap aksi balasan Iran akan dibalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik yang semula berfokus pada target-target militer kini mulai meluas hingga menyasar infrastruktur logistik, pelabuhan, jalur transportasi strategis, dan fasilitas energi yang memiliki peranan penting bagi aktivitas ekonomi maupun pertahanan Iran.


KTT NATO Menjadi Titik Balik Sikap Donald Trump terhadap Iran

Perubahan sikap Presiden Donald Trump terhadap Iran mulai terlihat secara jelas setelah rangkaian pertemuan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang berlangsung pada 9 Juli 2026.

Dalam perjalanan kembali menuju Amerika Serikat menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menyampaikan pernyataan yang menunjukkan perubahan pendekatan Washington terhadap Teheran.

Di hadapan wartawan yang ikut dalam penerbangan tersebut, Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tidak lagi akan memberikan respons yang terbatas apabila Iran kembali melakukan tindakan militer terhadap kepentingan Amerika Serikat maupun sekutunya.

Ia memperingatkan bahwa apabila Iran kembali menyerang kapal-kapal dagang internasional atau aset Amerika Serikat, maka serangan balasan Washington akan memiliki kekuatan 20 kali lebih besar dibandingkan serangan yang dilakukan Iran.

Pernyataan tersebut dipandang banyak pengamat sebagai sinyal bahwa Amerika Serikat kini telah memasuki fase operasi militer yang jauh lebih agresif dibandingkan sebelumnya.


CENTCOM Umumkan Penghancuran 90 Sasaran Militer Iran

Tidak lama setelah pernyataan Trump tersebut, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada 9 Juli 2026 mengumumkan bahwa militer Amerika telah menyelesaikan gelombang terbaru operasi udara terhadap Iran.

Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebut seluruh operasi dilakukan menggunakan senjata berpemandu presisi untuk meminimalkan kesalahan sasaran sekaligus meningkatkan efektivitas serangan.

Militer Amerika mengklaim berhasil menghancurkan 90 sasaran militer yang tersebar di berbagai wilayah Iran.

Jumlah tersebut menarik perhatian karena hanya sehari sebelumnya, Washington juga mengumumkan keberhasilannya menghancurkan 80 target militer dalam operasi sebelumnya.

Dengan demikian, dalam kurun waktu sekitar dua hari, Amerika Serikat mengklaim telah menghancurkan sekitar 170 sasaran militer di wilayah Iran.


Berbagai Fasilitas Strategis Iran Menjadi Sasaran

Gelombang serangan terbaru tidak hanya menyasar instalasi militer konvensional, tetapi juga infrastruktur yang berperan penting dalam mendukung kemampuan logistik dan operasional militer Iran.

Menurut rincian yang disampaikan pihak Amerika Serikat, sasaran yang dihantam meliputi:

  • kamp pelatihan Garda Revolusi Iran (IRGC);
  • gudang penyimpanan persenjataan;
  • pusat komando dan pengendalian militer;
  • fasilitas komunikasi;
  • Pelabuhan Bandar Abbas;
  • Pelabuhan Chabahar;
  • Pelabuhan Bushehr;
  • sejumlah dermaga utama;
  • fasilitas penyimpanan bahan bakar;
  • pusat distribusi logistik;
  • area bongkar muat peralatan militer.

Serangan tersebut menunjukkan adanya perubahan strategi Washington yang tidak lagi hanya berupaya melumpuhkan kemampuan tempur Iran, tetapi juga berusaha mengganggu jaringan logistik yang menopang operasi militer negara tersebut.


Infrastruktur Energi Iran Mulai Menjadi Sasaran

Salah satu perkembangan yang paling menonjol dalam operasi kali ini adalah keputusan Amerika Serikat untuk mulai menyerang infrastruktur energi Iran.

Menurut sejumlah laporan, ini merupakan pertama kalinya sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Iran Washington secara langsung melancarkan pemboman terhadap fasilitas-fasilitas energi yang memiliki nilai strategis.

Langkah tersebut dinilai berpotensi memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan serangan sebelumnya karena sektor energi merupakan salah satu sumber utama pendapatan ekonomi Iran sekaligus penopang operasional industri dan militer negara tersebut.

Sejumlah analis menilai bahwa perubahan pola sasaran ini menunjukkan meningkatnya tekanan Amerika Serikat terhadap kemampuan logistik dan ekonomi Iran secara bersamaan.


Jalur Kereta Strategis di Iran Utara Ikut Dihancurkan

Selain menyerang pelabuhan dan fasilitas energi, militer Amerika juga dilaporkan menghancurkan sebuah jembatan rel kereta api strategis di dekat wilayah Akala, Provinsi Golestan, Iran bagian utara.

Jalur tersebut merupakan salah satu koridor perdagangan penting yang menghubungkan Iran dengan negara-negara Asia Tengah, termasuk Turkmenistan dan Uzbekistan.

Kerusakan pada jalur tersebut diperkirakan akan mengganggu arus logistik, distribusi barang, serta perdagangan lintas kawasan yang selama ini menjadi salah satu jalur transportasi utama Iran.


Iran Laporkan Korban Jiwa di Lima Provinsi

Di sisi lain, media pemerintah Iran pada Kamis, 9 Juli 2026, melaporkan bahwa gelombang serangan Amerika Serikat selama dua hari terakhir telah menimbulkan korban di sedikitnya lima provinsi.

Menurut laporan tersebut, serangan mengakibatkan:

  • 14 orang meninggal dunia;
  • 78 orang mengalami luka-luka;
  • 47 korban lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Hingga saat ini belum terdapat verifikasi independen mengenai jumlah korban yang disampaikan pemerintah Iran.


IRGC Ancam Lakukan Pembalasan Besar

Menanggapi serangan tersebut, Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan bahwa mereka akan melakukan “pembalasan yang menghancurkan” terhadap pasukan Amerika Serikat.

Pihak Iran mengklaim telah meluncurkan sejumlah drone menuju pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di:

  • Kuwait;
  • Qatar;
  • Bahrain.

Namun hingga saat ini belum terdapat konfirmasi independen mengenai tingkat keberhasilan serangan tersebut.


Bahrain Aktifkan Sirene Serangan Udara

Pemerintah Bahrain kemudian mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan beberapa rudal serta drone yang mengarah ke wilayah negara tersebut.

Pasukan Pertahanan Bahrain menyatakan seluruh sasaran berhasil dihancurkan sebelum mencapai target.

Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Dalam Negeri Bahrain langsung mengaktifkan sirene serangan udara di sejumlah wilayah.

Pemerintah juga mengimbau seluruh warga negara maupun penduduk asing agar tetap tenang, mengikuti arahan otoritas setempat, dan segera menuju tempat perlindungan apabila terdengar peringatan lanjutan.


Jalur Kereta Menuju Mashhad Dikabarkan Ikut Dibom

Laporan lain yang diterbitkan Iran International menyebutkan bahwa jalur kereta api yang menghubungkan Teheran dengan Mashhad, kota kelahiran Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, juga mengalami kerusakan akibat serangan Amerika Serikat.

Jalur tersebut merupakan salah satu rute transportasi utama menuju Mashhad.

Akibat kerusakan tersebut, perjalanan ribuan warga yang hendak menuju kota tersebut diperkirakan mengalami gangguan.

Media tersebut juga melaporkan bahwa jenazah Ayatollah Ali Khamenei telah dipindahkan dari Najaf, Irak, menuju Mashhad untuk menjalani prosesi pemakaman.

Apabila laporan tersebut benar, kerusakan jalur kereta diperkirakan akan memperlambat mobilisasi para pelayat dari Teheran menuju lokasi pemakaman.


Axios: Serangan Bertujuan Memberikan Pelajaran kepada Iran

Sementara itu, situs berita Amerika Serikat Axios, yang mengutip seorang pejabat pemerintah AS yang identitasnya tidak dipublikasikan, melaporkan bahwa tujuan utama operasi terbaru bukan sekadar menghancurkan sasaran militer, tetapi juga memberikan tekanan psikologis kepada pemerintah Iran.

Menurut pejabat tersebut, Washington ingin menunjukkan bahwa Amerika Serikat siap meningkatkan tekanan apabila Iran tetap memilih jalur konfrontasi.

Pejabat itu mengatakan:

“Kami akan menampar Iran beberapa kali agar mereka tahu bahwa Amerika Serikat tidak sedang bermain-main.”

Ia juga menambahkan bahwa durasi maupun skala gelombang serangan berikutnya sepenuhnya akan bergantung pada respons Iran dalam beberapa hari mendatang.

Pernyataan tersebut memperkuat indikasi bahwa Washington masih membuka kemungkinan melanjutkan operasi militer apabila Teheran tetap melakukan aksi balasan terhadap kepentingan Amerika Serikat maupun negara-negara sekutunya.


Ketegangan Memasuki Babak Baru

Rangkaian peristiwa pada 9 Juli 2026 menunjukkan bahwa konflik Amerika Serikat dan Iran telah memasuki fase yang semakin kompleks. Sasaran operasi militer kini tidak lagi terbatas pada instalasi pertahanan, tetapi juga mencakup pelabuhan strategis, infrastruktur energi, jaringan logistik, serta jalur transportasi yang memiliki nilai ekonomi dan militer.

Di sisi lain, ancaman pembalasan dari Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan Teluk menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke negara-negara tetangga dan semakin meningkatkan risiko instabilitas di kawasan Timur Tengah.

Dengan kedua belah pihak terus meningkatkan tekanan militer dan retorika politik, perhatian dunia kini tertuju pada langkah berikutnya yang akan diambil Washington maupun Teheran, yang berpotensi menentukan arah konflik dalam beberapa hari mendatang. (***)

AS Luncurkan Gelombang Kedua Serangan ke Iran, Trump : “Saya Target Nomor Satu Mereka!

EtIndonesia.com 10 Juli 2026 menjadi salah satu hari paling menegangkan dalam perkembangan konflik di Timur Tengah. Atas otorisasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, militer Amerika kembali melancarkan gelombang kedua serangan udara terhadap berbagai sasaran di wilayah Iran pada malam hari. Operasi tersebut berlangsung hanya berselang sehari setelah Washington memulai fase baru kampanye militernya terhadap Teheran.

Di saat yang sama, pemerintah Israel mengumumkan bahwa mereka mulai mempersiapkan berbagai skenario menghadapi kemungkinan pecahnya kembali perang dalam skala besar. Serangkaian perkembangan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa konflik yang sebelumnya terkonsentrasi di kawasan Teluk kini berpotensi meluas ke wilayah Timur Tengah secara keseluruhan.

Situasi semakin menarik perhatian setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, secara mendadak membatalkan kunjungannya ke Israel. Pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menilai keputusan tersebut dapat menjadi indikasi bahwa Washington sedang mempersiapkan langkah strategis yang lebih besar dalam waktu dekat.

Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, Presiden Donald Trump juga memperketat pengamanan pribadinya. Dalam perjalanan luar negerinya, ia bahkan mengganti pesawat kepresidenan yang digunakan. Dalam pidato yang disampaikannya pada sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO, Trump menyatakan bahwa dirinya kini diyakini telah menjadi target utama Iran.


Amerika Serikat Melancarkan Serangan Terdalam ke Wilayah Iran Sejak Gencatan Senjata

Berdasarkan data operasional terbaru, gelombang serangan udara yang berlangsung pada 9 Juli 2026 tercatat sebagai operasi militer Amerika Serikat yang menjangkau wilayah terdalam Iran sejak kedua negara menyepakati gencatan senjata beberapa bulan sebelumnya.

Selama periode setelah gencatan senjata diberlakukan, sebagian besar serangan Amerika Serikat hanya difokuskan pada sasaran yang berada di kawasan pesisir Iran, terutama fasilitas militer, pangkalan angkatan laut, radar pantai, serta sistem pertahanan udara yang menghadap Selat Hormuz.

Namun pola operasi kali ini mengalami perubahan yang cukup signifikan.

Salah satu sasaran utama berada di wilayah Iranshahr, yang terletak lebih dari 100 mil atau sekitar 160 kilometer dari garis pantai Iran. Jarak tersebut menjadikan operasi ini sebagai salah satu penetrasi terdalam yang pernah dilakukan militer Amerika ke wilayah pedalaman Iran sejak konflik kembali memanas.

Para analis pertahanan menilai perubahan lokasi sasaran tersebut merupakan sinyal strategis dari Washington. Amerika Serikat ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menembus jauh ke dalam wilayah Iran dan melaksanakan serangan presisi terhadap berbagai infrastruktur penting tanpa harus bergantung pada operasi yang hanya terbatas di kawasan pesisir.


Amerika Serikat Memperkuat Kekuatan Udara di Timur Tengah

Seiring dimulainya gelombang serangan kedua, Amerika Serikat juga meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.

Menurut peta penyebaran kekuatan udara terbaru, Washington mengerahkan tambahan berbagai aset strategis, antara lain:

  • 10 pesawat tanker pengisian bahan bakar udara milik Angkatan Udara Amerika Serikat.
  • 1 pesawat peringatan dini E-3 Sentry AWACS yang berfungsi sebagai pusat komando udara sekaligus pengendali operasi tempur.

Kehadiran pesawat-pesawat tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat tengah mempersiapkan operasi udara dengan durasi yang lebih panjang serta cakupan wilayah yang lebih luas dibandingkan operasi sebelumnya.

Dalam gelombang serangan kali ini, fokus utama diarahkan ke berbagai sasaran di kawasan Kepulauan Hormuz, termasuk sejumlah fasilitas yang dinilai mendukung kemampuan militer Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional.

Menurut sejumlah laporan, operasi tersebut juga bertujuan mengamankan jalur pergerakan armada pendukung Amerika Serikat, termasuk kapal-kapal logistik dan pesawat tanker yang berperan penting dalam menjaga keberlangsungan operasi udara.

Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Reuters bahwa intensitas serangan pada malam kedua diperkirakan akan lebih besar dibandingkan gelombang pertama yang dilaksanakan sehari sebelumnya.


Washington Kembali Memindahkan Aset Militernya ke Timur Tengah

Tidak lama setelah penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Amerika Serikat dan Iran kehilangan efektivitasnya akibat memburuknya situasi keamanan, Departemen Pertahanan Amerika Serikat segera mengembalikan berbagai aset militer ke kawasan Timur Tengah.

Beberapa pekan sebelumnya, sebagian pesawat tempur dan pesawat pendukung Amerika sempat dipindahkan ke Eropa sebagai bagian dari penyesuaian strategi militer.

Kini, aset-aset tersebut kembali ditempatkan di Timur Tengah untuk memperkuat kesiapan tempur apabila konflik terus meningkat.

Departemen Pertahanan Amerika Serikat menegaskan bahwa operasi militer terhadap berbagai sasaran di Iran dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri setelah Iran dituduh menyerang kapal dagang Amerika Serikat, mengancam kepentingan nasional Washington, serta membahayakan negara-negara mitra Amerika di kawasan.


Iran Mulai Mengalihkan Serangan Balasan ke Bahrain dan Kuwait

Sebagai respons atas meningkatnya serangan Amerika Serikat, Iran dilaporkan mulai memperluas cakupan operasi balasannya.

Jika sebelumnya sasaran utama hanya berada di sekitar kawasan operasi militer di Selat Hormuz, kali ini perhatian beralih ke negara-negara Teluk yang menjadi lokasi berbagai pangkalan militer Amerika Serikat.

Dari Provinsi Bushehr di Iran selatan, warga sipil merekam peluncuran sejumlah rudal balistik yang disebut-sebut mengarah ke wilayah Bahrain.

Peristiwa tersebut segera meningkatkan status siaga di sejumlah negara Teluk.

Pemerintah Kuwait mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara nasional telah diaktifkan secara penuh untuk menghadapi kemungkinan serangan rudal maupun serangan udara.

Militer Kuwait juga mengimbau masyarakat agar segera menuju bunker atau tempat perlindungan yang telah disiapkan apabila situasi semakin memburuk.

Pada saat yang hampir bersamaan, pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dilaporkan membunyikan sirene peringatan sebagai tanda meningkatnya ancaman keamanan.

Tidak lama kemudian, Kementerian Dalam Negeri Qatar turut mengeluarkan peringatan keamanan kepada masyarakat.

Dalam pemberitahuan tersebut, pemerintah menyatakan tingkat ancaman telah berada pada level yang sangat tinggi dan meminta seluruh warga tetap berada di dalam rumah atau segera mencari lokasi perlindungan hingga kondisi dinyatakan aman.


Netanyahu Gelar Rapat Darurat, Pete Hegseth Batalkan Kunjungan ke Israel

Situasi yang semakin memanas juga mendorong pemerintah Israel mengadakan konsultasi keamanan tingkat tinggi.

Menurut laporan Channel 12 News, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz segera menggelar rapat darurat untuk mengevaluasi dampak dari meningkatnya konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah Israel membahas berbagai kemungkinan, termasuk apabila Iran memutuskan memperluas serangan balasannya ke wilayah Israel.

Netanyahu juga mengonfirmasi bahwa Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth membatalkan kunjungan resminya ke Israel setelah dipanggil kembali ke Washington.

Sebelumnya Hegseth menghadiri KTT NATO di Ankara bersama Presiden Donald Trump sebelum akhirnya kembali ke Amerika Serikat untuk mengikuti pembahasan keamanan yang dinilai semakin mendesak.


Israel Tegaskan Tidak Terlibat dalam Serangan Amerika terhadap Iran

Meski konflik terus meningkat, pemerintah Israel berusaha menjaga jarak dari operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat.

Dalam wawancara dengan salah satu stasiun televisi Arab, seorang pejabat Israel menegaskan bahwa negaranya tidak terlibat secara langsung dalam gelombang serangan udara Amerika terhadap Iran pada malam tersebut.

Namun pejabat itu juga memberikan peringatan keras kepada Teheran agar tidak menjadikan Israel sebagai sasaran pembalasan.

Menurut pemerintah Israel, walaupun bentrokan saat ini masih berpusat di kawasan Teluk Persia dan belum meluas ke wilayah Israel, seluruh aparat keamanan tetap berada dalam kondisi siaga tinggi.

Militer Israel disebut telah menyiapkan berbagai skenario darurat apabila konflik berkembang menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara.


Pasar Memperkirakan Selat Hormuz Baru Pulih Sepenuhnya pada 2027

Meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran juga memicu kekhawatiran di pasar energi internasional.

Data dari berbagai pasar prediksi menunjukkan bahwa peluang jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali beroperasi secara normal sebelum tahun 2027 kini diperkirakan hanya sekitar 50 persen.

Selain itu, pelaku pasar juga mulai memperkirakan meningkatnya kemungkinan Iran keluar dari nota kesepahaman yang selama ini menjadi dasar pengendalian konflik.

Berdasarkan proyeksi para trader, peluang Iran menarik diri dari kesepakatan tersebut sebelum 31 Juli 2026 diperkirakan mencapai sekitar 24 persen.

Apabila skenario tersebut benar-benar terjadi, maka risiko terhadap pasokan energi global diperkirakan akan meningkat secara signifikan mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur ekspor minyak terpenting di dunia.


Trump Tingkatkan Pengamanan, Ganti Pesawat Kepresidenan

Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, seluruh agenda perjalanan Presiden Donald Trump juga menjadi perhatian publik.

Pada 9 Juli 2026, setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan dalam KTT NATO di Ankara, Trump melanjutkan perjalanan menuju Pangkalan Udara Kerajaan RAF Mildenhall di Inggris.

Yang menarik perhatian para pengamat adalah keputusan Trump untuk menggunakan pesawat kepresidenan VC-25A, bukan VC-25B yang sebelumnya sempat disiapkan oleh Qatar.

Pergantian pesawat tersebut diyakini sebagai bagian dari langkah pengamanan tambahan mengingat meningkatnya ancaman terhadap keselamatan Presiden Amerika Serikat.


Trump Mengaku Menjadi Target Nomor Satu Iran

Dalam pernyataannya kepada wartawan saat menghadiri KTT NATO, Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya meyakini telah menjadi sasaran utama pemerintah Iran.

Trump mengatakan bahwa ancaman terhadap dirinya bukanlah hal baru dan telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Menurutnya, kebijakan keras yang diambil terhadap Iran membuat dirinya menjadi tokoh yang paling dibenci oleh pemerintah Teheran.

Dalam pidatonya, Trump menyatakan:

“Tahukah Anda? Saya mungkin tidak akan lolos karena saya adalah target nomor satu mereka. Itu sudah lama menjadi pembicaraan banyak orang. Saya adalah orang yang paling mereka benci. Memang begitulah cara mereka bertindak. Selama 47 tahun terakhir mereka selalu seperti itu. Tetapi apa yang saya lakukan adalah demi kepentingan negara.”

Pernyataan tersebut semakin mempertegas bahwa ketegangan antara Washington dan Teheran telah memasuki fase yang sangat sensitif, di mana konflik tidak lagi hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga menyentuh aspek keamanan para pemimpin negara yang terlibat. (***)

AS Gempur Iran Dua Hari Berturut-turut! 80 Target Hancur, Dunia Khawatir Tahap Perang Berikutnya Dimulai

EtIndonesia Serangkaian serangan yang dilancarkan Amerika Serikat pada 8 Juli 2026 bukanlah operasi yang berdiri sendiri. Sehari sebelumnya, tepatnya pada 7 Juli 2026, Washington telah lebih dahulu menggelar gelombang pertama serangan udara besar-besaran terhadap Iran. Operasi awal tersebut menjadi fondasi bagi kampanye militer yang kemudian berkembang menjadi serangan yang jauh lebih luas pada hari berikutnya.

Menurut sejumlah pejabat militer Amerika, terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara operasi pada 7 Juli dan 8 Juli. Jika serangan pertama difokuskan untuk melumpuhkan aset-aset militer utama Iran, maka operasi lanjutan pada 8 Juli mulai menyasar infrastruktur pertahanan pesisir, jaringan pengawasan maritim, serta sistem pertahanan udara yang melindungi wilayah strategis Iran.

Perubahan pola sasaran tersebut membuat banyak analis militer menilai bahwa Amerika Serikat mulai memasuki tahap baru dalam kampanye militernya.


Gelombang Pertama Menghantam Lebih dari 80 Sasaran Militer

Berdasarkan informasi yang disampaikan militer Amerika Serikat, operasi pada 7 Juli 2026 berhasil menghantam lebih dari 80 sasaran militer yang tersebar di berbagai wilayah Iran.

Target-target tersebut mencakup:

  • pangkalan militer;
  • fasilitas logistik;
  • gudang persenjataan;
  • pusat komando;
  • hingga sekitar 60 kapal cepat milik Garda Revolusi Iran (IRGC) yang selama ini beroperasi di sekitar Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Kapal-kapal cepat IRGC selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kekuatan utama Iran dalam menjalankan strategi perang asimetris di kawasan Teluk Persia.

Kapal-kapal tersebut sering digunakan untuk patroli cepat, pengawasan jalur pelayaran, hingga operasi pencegatan terhadap kapal asing.

Karena itu, penghancuran puluhan kapal cepat tersebut dipandang sebagai upaya Amerika Serikat untuk mengurangi kemampuan Iran melakukan gangguan terhadap lalu lintas pelayaran internasional.


Operasi Lima Kali Lebih Besar Dibanding Serangan Sebelumnya

Sejumlah pejabat pertahanan Amerika mengungkapkan bahwa skala operasi pada 7 Juli jauh melampaui berbagai operasi yang sebelumnya pernah dilakukan terkait ketegangan di Selat Hormuz.

Menurut mereka, intensitas serangan tersebut diperkirakan lima kali lebih besar dibandingkan operasi-operasi terdahulu.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington telah meningkatkan kapasitas serangannya secara signifikan.

Tidak hanya jumlah sasaran yang bertambah, tetapi juga cakupan wilayah operasi, jenis persenjataan yang digunakan, serta koordinasi antara Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat.

Banyak analis menilai bahwa peningkatan skala tersebut mencerminkan perubahan strategi Washington, dari sekadar memberikan tekanan menjadi upaya sistematis untuk melemahkan kemampuan pertahanan Iran dalam jangka panjang.


Serangan 8 Juli Difokuskan pada Sistem Pertahanan Pesisir

Apabila serangan pada 7 Juli banyak menyasar kekuatan tempur bergerak, maka operasi yang dilaksanakan pada 8 Juli 2026 memiliki karakter yang berbeda.

Seorang pejabat Amerika menjelaskan bahwa sasaran utama kali ini meliputi:

  • radar pengawas pantai;
  • posisi rudal anti-kapal;
  • sistem rudal pertahanan udara;
  • serta berbagai fasilitas milik Garda Revolusi Iran yang berfungsi melindungi kawasan pesisir Teluk Persia.

Target-target tersebut dipilih karena merupakan elemen penting dalam sistem pertahanan Iran terhadap kemungkinan operasi dari laut.

Dengan melumpuhkan jaringan tersebut, Amerika Serikat dinilai berupaya mengurangi kemampuan Iran untuk mendeteksi maupun menghadang pergerakan armada laut dan pesawat tempur Amerika di kawasan.


Indikasi Awal Persiapan Operasi Pendaratan

Pilihan sasaran yang didominasi fasilitas pertahanan pantai segera menarik perhatian kalangan militer internasional.

Banyak analis menilai pola tersebut bukan sekadar operasi penghancuran biasa, melainkan dapat menjadi indikasi awal persiapan operasi amfibi.

Dalam doktrin peperangan modern, sebelum pasukan melakukan pendaratan di wilayah musuh, sistem pertahanan pesisir biasanya harus dihancurkan terlebih dahulu.

Langkah tersebut bertujuan untuk:

  • menghilangkan ancaman rudal anti-kapal;
  • melumpuhkan radar pengawas;
  • mengganggu komunikasi militer;
  • serta membuka jalur aman bagi kapal-kapal pendarat dan armada pendukung.

Karena itulah, serangan besar-besaran terhadap radar pantai dan sistem pertahanan udara Iran memunculkan spekulasi bahwa Washington mungkin sedang mempersiapkan opsi operasi militer yang lebih besar apabila konflik terus meningkat.

Meski demikian, hingga saat ini pemerintah Amerika Serikat belum pernah mengonfirmasi adanya rencana pendaratan pasukan di wilayah Iran.


Iran Ancam Serang Pangkalan Militer Amerika

Di tengah meningkatnya tekanan militer dari Washington, Iran kembali mengeluarkan ancaman balasan.

Menurut perkembangan terbaru, pemerintah Iran memperingatkan bahwa mereka tengah menyiapkan operasi besar-besaran terhadap berbagai pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Walaupun rincian mengenai sasaran maupun waktu pelaksanaan tidak diungkapkan, ancaman tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik ke berbagai negara di kawasan.

Apabila pangkalan-pangkalan Amerika di negara-negara Teluk benar-benar menjadi sasaran, maka eskalasi konflik berpotensi berkembang menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak aktor.


Israel Sebut Operasi Akan Berlangsung Beberapa Hari

Sementara itu, sumber-sumber dari Israel mengungkapkan bahwa Washington tidak berencana mengakhiri operasi hanya setelah satu atau dua gelombang serangan.

Menurut mereka, Amerika Serikat diperkirakan akan terus melanjutkan operasi militernya terhadap Iran selama beberapa hari berikutnya.

Informasi tersebut diperkuat oleh meningkatnya aktivitas militer Israel.

Pemerintah Israel diketahui telah menaikkan status kesiagaan nasional ke tingkat yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan balasan dari Iran maupun kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya di kawasan.


Angkatan Udara Israel Ikut Menggempur Iran

Pada saat yang sama, Angkatan Udara Israel (IAF) terus melaksanakan serangan terhadap sejumlah sasaran di wilayah utara Iran.

Operasi tersebut berlangsung hampir bersamaan dengan serangan udara Amerika Serikat, sehingga menunjukkan adanya tingkat koordinasi yang sangat tinggi antara kedua negara.

Dengan beroperasinya dua kekuatan udara terbesar di kawasan secara bersamaan, tekanan terhadap sistem pertahanan Iran meningkat secara signifikan.

Para pengamat menilai koordinasi tersebut bertujuan untuk memecah konsentrasi pertahanan Iran sehingga lebih sulit memberikan respons terhadap serangan yang datang dari berbagai arah.


Kepala Staf IDF Gelar Evaluasi Bersama CENTCOM

Dalam waktu 24 jam terakhir, Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, menggelar serangkaian rapat evaluasi operasional bersama unsur intelijen, Angkatan Udara Israel, serta komando operasi militer.

Tidak hanya itu, Zamir juga melakukan koordinasi langsung dengan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon).

Koordinasi tingkat tinggi tersebut menunjukkan bahwa operasi Amerika Serikat dan Israel tidak berjalan secara terpisah, melainkan berada dalam satu kerangka kerja yang saling mendukung.

Bagi para analis militer, komunikasi intensif antara kedua negara menjadi salah satu indikator bahwa kampanye militer terhadap Iran telah dirancang dengan tingkat koordinasi yang jauh lebih matang dibandingkan operasi-operasi sebelumnya.


Koordinasi Semakin Erat, Kekhawatiran Konflik Regional Meningkat

Rangkaian perkembangan pada 7–8 Juli 2026 memperlihatkan bahwa konflik telah berkembang dari sekadar aksi saling balas serangan menjadi operasi militer terkoordinasi yang melibatkan berbagai cabang angkatan bersenjata.

Di satu sisi, Amerika Serikat terus memperluas sasaran serangannya untuk melemahkan kemampuan pertahanan Iran.

Di sisi lain, Israel meningkatkan kesiagaan nasional sambil terus memberikan dukungan operasional melalui serangan udara dan koordinasi intensif dengan CENTCOM.

Situasi tersebut semakin memperbesar kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi terbatas pada hubungan antara Washington dan Teheran, tetapi berpotensi melibatkan lebih banyak negara apabila eskalasi terus berlanjut. (***)

Situasi Makin Genting! Armada Raksasa AS Berkumpul, Target Berikutnya Pemimpin IRGC?

EtIndonesia.com Memasuki malam 8 Juli 2026, berbagai indikator menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak hanya berfokus pada gelombang serangan udara yang sedang berlangsung. Washington juga mulai memperkuat kehadiran militer di kawasan Timur Tengah dalam skala yang jauh lebih besar. 

Di saat yang sama, muncul laporan mengenai kemungkinan operasi khusus yang menargetkan para petinggi Garda Revolusi Iran (IRGC), sementara negara-negara anggota NATO mulai mengambil langkah untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada serangan udara semata, melainkan mulai memasuki tahap konsolidasi kekuatan militer yang dapat menentukan arah perang dalam beberapa hari mendatang.


Menteri Pertahanan AS Batalkan Kunjungan ke Israel Secara Mendadak

Salah satu perkembangan yang menarik perhatian adalah keputusan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, yang secara mendadak membatalkan rencana kunjungannya ke Israel.

Meskipun pemerintah Amerika tidak menjelaskan secara rinci alasan pembatalan tersebut, keputusan itu langsung memicu berbagai spekulasi di kalangan analis pertahanan.

Banyak pengamat menilai langkah tersebut kemungkinan berkaitan dengan kebutuhan Pentagon untuk memusatkan perhatian pada koordinasi operasi militer yang sedang berlangsung di kawasan Teluk Persia.

Di tengah meningkatnya intensitas konflik, keberadaan Menteri Pertahanan di Washington dinilai lebih penting untuk mengawasi perkembangan situasi secara langsung bersama Gedung Putih, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), dan para pimpinan militer lainnya.

Keputusan mendadak itu semakin memperkuat dugaan bahwa operasi yang sedang berlangsung bukan sekadar aksi pembalasan sementara, melainkan bagian dari strategi militer yang telah dipersiapkan secara sistematis.


Armada Tanker Udara Mulai Memenuhi Langit Teluk Persia

Berdasarkan data pemantauan penerbangan militer, pesawat-pesawat tanker pengisian bahan bakar milik Amerika Serikat beserta sejumlah negara sekutunya mulai terlihat beroperasi secara intensif di atas kawasan Teluk Persia.

Selain itu, Washington juga diketahui memindahkan kembali sejumlah pesawat tanker yang sebelumnya ditempatkan di pangkalan-pangkalan udara di Eropa menuju Timur Tengah.

Langkah tersebut memiliki arti strategis yang sangat penting.

Dalam operasi udara modern, pesawat tanker berfungsi memperpanjang jangkauan tempur pesawat-pesawat pembom dan jet tempur dengan melakukan pengisian bahan bakar di udara.

Dengan dukungan armada tanker yang lebih besar, pesawat tempur Amerika dapat:

  • melaksanakan misi lebih jauh ke wilayah Iran;
  • berada lebih lama di udara;
  • membawa muatan persenjataan yang lebih besar;
  • serta meningkatkan frekuensi serangan tanpa harus kembali ke pangkalan dalam waktu singkat.

Pengerahan besar-besaran armada tanker biasanya dipandang sebagai salah satu indikator bahwa operasi udara diperkirakan akan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang.


Kekuatan Angkatan Laut Amerika Terus Bertambah

Tidak hanya memperkuat unsur udara, Amerika Serikat juga terus meningkatkan kehadiran armada lautnya di kawasan Timur Tengah.

Menurut sejumlah pejabat Angkatan Laut Amerika Serikat, saat ini terdapat sekitar 20 kapal perang dan kapal pendukung yang beroperasi di kawasan Teluk Arab.

Di atas kapal-kapal tersebut ditempatkan sekitar 20.000 personel Angkatan Laut dan Korps Marinir Amerika Serikat yang siap menjalankan berbagai jenis operasi, mulai dari pengamanan jalur pelayaran hingga dukungan terhadap kemungkinan operasi amfibi.

Keberadaan kekuatan sebesar itu menunjukkan bahwa Washington ingin memastikan setiap perkembangan situasi di kawasan dapat direspons dengan cepat apabila konflik semakin meluas.


Dua Kelompok Tempur Kapal Induk Siaga di Timur Tengah

Kekuatan laut Amerika semakin diperbesar dengan pengerahan dua kelompok tempur kapal induk (Carrier Strike Group).

Menurut laporan tersebut, kelompok tempur yang berada di kawasan meliputi:

  • USS Abraham Lincoln, dan
  • USS George H. W. Bush.

Kedua kapal induk tersebut didukung oleh berbagai kapal penjelajah, kapal perusak, kapal logistik, kapal selam, serta unsur pendukung lainnya yang membentuk satu kesatuan tempur terpadu.

Selain itu, Marine Expeditionary Unit (MEU) ke-11 juga ditempatkan di sejumlah kapal perang untuk memberikan kemampuan respons cepat apabila diperlukan operasi pendaratan maupun evakuasi.

Secara keseluruhan, disebutkan bahwa sekitar 24 kapal perang Amerika Serikat kini telah dikerahkan di berbagai perairan Timur Tengah.

Bagi para analis pertahanan, jumlah tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat sedang membangun postur militer yang mampu mendukung operasi berskala besar apabila eskalasi konflik terus meningkat.


Washington Pertimbangkan Operasi Khusus Menargetkan Pimpinan IRGC

Selain operasi udara dan pengerahan armada laut, laporan terbaru juga mengungkap adanya pembahasan mengenai kemungkinan pelaksanaan operasi penargetan terhadap para petinggi Garda Revolusi Iran (IRGC).

Menurut laporan tersebut, Washington bersama Israel tengah mempelajari opsi untuk melaksanakan operasi gabungan yang secara khusus menyasar sejumlah komandan senior IRGC.

Salah satu nama yang disebut sebagai target potensial adalah Komandan Garda Revolusi Iran, Ahmad Vahidi.

Para analis berpendapat bahwa para pemimpin IRGC dipandang sebagai pengambil keputusan utama dalam berbagai operasi militer Iran di kawasan.

Karena itu, apabila kepemimpinan organisasi tersebut berhasil dilemahkan, kemampuan Iran dalam mengoordinasikan operasi militernya diperkirakan juga akan mengalami penurunan.

Walaupun belum terdapat konfirmasi resmi bahwa operasi tersebut akan benar-benar dilaksanakan, munculnya pembahasan mengenai opsi tersebut menunjukkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan berbagai skenario untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran.


Isu Perubahan Rezim Kembali Menguat

Laporan dari Channel 14 Israel juga menyoroti perubahan arah kebijakan Washington.

Menurut laporan tersebut, pemerintahan Donald Trump mulai kembali mempertimbangkan opsi perubahan rezim (regime change) sebagai salah satu kemungkinan apabila konflik dengan Iran terus berlanjut.

Isu tersebut segera memunculkan perhatian luas karena selama beberapa tahun terakhir Amerika Serikat cenderung menghindari pernyataan terbuka mengenai pergantian pemerintahan di Iran.

Walaupun belum ada kebijakan resmi yang diumumkan Gedung Putih, munculnya kembali pembahasan mengenai skenario tersebut menunjukkan bahwa pilihan-pilihan strategis Washington kini semakin luas.


Trump: Setiap Serangan Iran Akan Dibalas Dua Puluh Kali Lipat

Di tengah berbagai laporan tersebut, Presiden Donald Trump kembali menyampaikan peringatan keras kepada Iran.

Ia menegaskan bahwa setiap serangan yang dilakukan Iran terhadap kepentingan Amerika Serikat akan dibalas dengan kekuatan dua puluh kali lipat.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Washington berusaha membangun efek penangkalan maksimal agar Teheran tidak memperluas konflik.

Trump juga mengungkapkan bahwa sebelumnya pihak Iran sempat menghubungi Amerika Serikat untuk membahas kemungkinan tercapainya sebuah kesepakatan.

Menurut Trump, Iran sebenarnya menginginkan perdamaian.

Namun demikian, ia menyatakan masih meragukan apakah pemerintah Iran benar-benar akan mematuhi isi perjanjian apabila kesepakatan tersebut nantinya berhasil dicapai.


NATO Mulai Ambil Peran Lebih Aktif

Perkembangan penting lainnya terjadi dalam KTT NATO yang berlangsung pada hari yang sama.

Sekretaris Jenderal NATO secara terbuka menyatakan bahwa langkah Amerika Serikat terhadap Iran merupakan tindakan yang dinilai tepat dalam menghadapi ancaman terhadap keamanan kawasan.

Sementara itu, Prancis dan Inggris mengajukan usulan pembentukan misi keamanan maritim multinasional.

Rencana tersebut mencakup pengerahan kapal-kapal perang yang memiliki kemampuan penyapuan ranjau laut guna menjaga keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Apabila rencana tersebut direalisasikan, maka pengamanan salah satu jalur energi terpenting di dunia tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab Amerika Serikat, tetapi melibatkan lebih banyak negara anggota NATO.


Trump Kritik Keras Spanyol di Forum NATO

Di sisi lain, Donald Trump juga menunjukkan sikap yang berbeda terhadap negara-negara anggota NATO yang dianggap tidak memberikan dukungan penuh kepada kebijakan Amerika Serikat.

Dalam forum KTT tersebut, Trump secara terbuka mengkritik Spanyol, yang menurutnya merupakan salah satu mitra NATO yang tidak menunjukkan komitmen sebagaimana diharapkan Washington.

Trump bahkan menyatakan telah memerintahkan Menteri Keuangan Amerika Serikat untuk mempertimbangkan langkah-langkah ekonomi terhadap Spanyol, termasuk opsi peninjauan kembali hubungan perdagangan bilateral.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah, Washington juga berupaya memastikan adanya dukungan politik yang solid dari para sekutunya di dalam NATO.


Konflik Memasuki Tahap yang Sangat Menentukan

Rangkaian perkembangan sepanjang 7–8 Juli 2026 menunjukkan bahwa krisis antara Amerika Serikat dan Iran telah berkembang menjadi salah satu konfrontasi militer paling serius dalam beberapa tahun terakhir.

Di satu sisi, Washington terus meningkatkan tekanan melalui serangan udara, pengerahan armada laut, penguatan kekuatan udara, hingga mempertimbangkan operasi khusus terhadap pimpinan militer Iran.

Di sisi lain, Teheran tetap menunjukkan sikap konfrontatif dengan menghentikan seluruh jalur diplomasi serta mengancam akan melancarkan serangan balasan yang lebih besar terhadap kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya.

Dengan kedua pihak sama-sama meningkatkan tekanan tanpa menunjukkan tanda-tanda akan mundur, perhatian dunia kini tertuju pada perkembangan beberapa hari berikutnya. Banyak pengamat menilai bahwa keputusan yang diambil Washington maupun Teheran dalam waktu dekat akan menjadi faktor penentu apakah konflik ini masih dapat dikendalikan atau justru berkembang menjadi perang regional berskala lebih luas yang melibatkan lebih banyak negara di Timur Tengah. (***)

Rekaman Jenazah Korban Banjir di Tiongkok Mulai Beredar, Netizen Bertanya: “Sebenarnya Berapa Banyak Korban Tewas yang Tenggelam?”

EtIndonesia.com Setelah jebolnya sebuah bendungan di Guangxi, Tiongkok beberapa desa dilaporkan hancur diterjang banjir. Warga yang tidak sempat menyelamatkan diri terseret arus. Laporan menyebutkan bahwa jumlah korban tewas yang diumumkan pemerintah Tiongkok, yakni hanya satu digit, memicu keraguan. Sejumlah gambar dan video yang diklaim memperlihatkan jenazah korban mulai beredar di media sosial luar negeri.

Salah satu video yang beredar memperlihatkan sebuah saluran air kecil yang masih dialiri air berlumpur setelah banjir surut. Di dalamnya terlihat dua jenazah laki-laki dalam posisi tengkurap di perairan dangkal. Berdasarkan penampakan dalam video, artikel tersebut berspekulasi bahwa keduanya tampak masih berusia muda dan kemungkinan adalah anak-anak.

Sebuah foto lain yang beredar memperlihatkan sebuah jalan yang dipenuhi puing-puing sisa banjir. Di antara tumpukan puing tersebut tampak sesosok jenazah orang dewasa dalam posisi tengkurap.

Dikutip dari NTDTV.com, hingga saat ini hanya sebagian kecil gambar dan video yang berhasil beredar di media sosial di luar Tiongkok. Sejumlah warganet berkomentar bahwa jika materi tersebut masih dapat tersebar, kemungkinan ada lebih banyak foto dan video lain yang tidak muncul karena diduga telah disensor oleh pemerintah Tiongkok.

Sebelumnya seorang pengguna internet di Hengzhou dilaporkan mendapat ancaman dari aparat kepolisian setempat setelah menulis dalam sebuah grup percakapan bahwa “banyak jenazah hanyut dari Desa Nankang.” Pemerintah setempat kemudian mengeluarkan klarifikasi yang menyatakan informasi tersebut tidak benar.

Warganet di hilir Waduk Liulan, Hengzhou, mengklaim “banyak jenazah hanyut terbawa banjir”, tetapi setelah mengunggah informasi tersebut mereka justru diancam aparat kepolisian. (Tangkapan layar internet)

Disebutkan bahwa Bendungan Liulan yang jebol berada di wilayah Hengzhou, sementara Desa Nankang merupakan salah satu desa yang disebut paling parah terdampak arus banjir.

Menurut berbagai laporan, pemerintah Tiongkok saat ini berupaya membatasi penyebaran informasi dari wilayah bencana.

Sebagai contoh seorang perempuan yang melakukan live streaming untuk memperlihatkan kondisi desa yang masih dikepung banjir. Disebutkan bahwa setelah ia mengatakan “situasinya tidak optimistis,” siaran langsung tersebut segera dihentikan oleh platform.

Pada 6 Juli, Bendungan Liulan dilaporkan jebol sehingga air dalam jumlah sangat besar mengalir deras ke wilayah hilir. Artikel tersebut menyebut bahwa beberapa desa hampir rata dengan tanah akibat banjir tersebut.

Rekaman udara yang beredar memperlihatkan kerusakan yang sangat luas. Sebagian warganet memperkirakan jumlah korban jiwa bisa mencapai ribuan, meskipun tidak menyertakan bukti independen yang mendukung perkiraan tersebut.

Saat bendungan jebol, banyak video di internet memperlihatkan banjir menghancurkan desa-desa di hilir. Dalam beberapa rekaman tampak warga berusaha bertahan di tengah arus deras, dengan hanya kepala mereka yang terlihat di atas permukaan air.

Sebagian warga berhasil menyelamatkan diri ke perbukitan di belakang desa, sementara yang lain terjebak di atas atap rumah atau memanjat rangka besi di tempat yang lebih tinggi. Akan tetapi, berapa banyak warga lain yang tidak sempat menyelamatkan diri dan akhirnya hanyut terbawa banjir.

Hingga dua hari setelah bendungan jebol, masih banyak warga yang terjebak tanpa air bersih dan makanan sambil menunggu bantuan. Pemerintah dikabarkan menerapkan pembatasan lalu lintas yang menghambat masuknya tim penyelamat swasta ke daerah terdampak.

Selain itu,  media sosial di Tiongkok dipenuhi video resmi mengenai operasi penyelamatan, tetapi pada saat yang sama banyak warga yang masih meminta pertolongan karena terjebak banjir. Akan tetapi, permintaan bantuan tersebut kemudian dihapus atau disensor.

Dilaporkan oleh Chen Zhenjin/Disunting oleh Lin Qing

Gempa Venezuela Tewaskan 3.811 Orang, Sebagian Besar Tim Penyelamat Internasional Akhiri Operasi Pencarian

EtIndonesia.com Jumlah korban tewas akibat gempa bumi di Venezuela dilaporkan telah meningkat menjadi 3.811 orang, dengan kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 6,7 miliar dolar AS. Mengingat besarnya kebutuhan bantuan kemanusiaan pascabencana, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 8 Juli menyerukan penggalangan dana darurat hampir 300 juta dolar AS untuk mendukung operasi bantuan.

Menurut laporan AFP, Venezuela diguncang gempa berkekuatan M7,2 dan M7,5 pada 24 Juni. Dua minggu setelah bencana, sebagian besar tim penyelamat internasional telah mengakhiri operasi pencarian korban selamat. Namun, banyak keluarga masih terus mencari jenazah kerabat mereka di antara puing-puing bangunan yang runtuh.

Pemerintah Venezuela pada 8 Juli memperbarui data korban menjadi:

  • 3.811 orang meninggal dunia
  • Hampir 17.000 orang terluka
  • Sekitar 18.000 orang kehilangan tempat tinggal

Gempa tersebut menghancurkan banyak bangunan tempat tinggal di Negara Bagian La Guaira, menyebabkan ribuan warga kehilangan rumah.

Selain itu, Bandara Internasional Simón Bolívar di Caracas juga mengalami kerusakan dan hingga kini masih belum dibuka kembali untuk penerbangan komersial.

PBB memperkirakan bahwa rangkaian dua gempa besar tersebut mengakibatkan kerugian sekitar 6,7 miliar dolar AS, atau setara dengan sekitar 6% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Venezuela.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, dalam sebuah pertemuan mengenai penanganan bencana mengatakan bahwa PBB sedang menggalang dana sebesar 296 juta dolar AS agar selama enam bulan ke depan dapat memberikan bantuan mendesak kepada sekitar 1,3 juta korban terdampak.

Pemerintah di ibu kota Caracas juga menyerukan agar aset-aset Venezuela yang dibekukan di luar negeri dapat dilepaskan guna membantu membiayai proses pemulihan pascabencana.

Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, mengatakan bahwa ia telah meminta Raja Charles III dari Britania Raya untuk melepaskan sekitar 30 ton emas milik Venezuela yang dibekukan akibat sanksi Inggris.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat telah mencabut sementara sejumlah sanksi ekonomi terhadap Venezuela selama empat bulan guna mempermudah pelaksanaan operasi bantuan kemanusiaan setelah gempa.

Sumber : NTDTV.com

Uji Coba Rudal PKT Dinilai Mengintimidasi Masyarakat Internasional, Sejumlah Negara Mengecam Keras

Uji coba rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam oleh militer partai komunis Tiongkok (PKT) baru-baru ini di Samudra Pasifik memicu perhatian sejumlah negara. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan bahwa rudal tersebut berpotensi membawa hulu ledak nuklir dan mempertanyakan perluasan persenjataan nuklir PKT yang dinilai tidak transparan. Jepang, Selandia Baru, dan Australia juga menyampaikan keberatan atas uji coba tersebut.

EtIndonesia.com Pada 6 Juli, sebuah kapal selam bertenaga nuklir milik Angkatan Laut Tiongkok meluncurkan rudal balistik jarak jauh yang membawa hulu ledak simulasi (dummy warhead) di Samudra Pasifik. Menurut laporan, ini merupakan uji coba rudal jenis tersebut yang pertama dalam dua tahun terakhir dan memicu perhatian internasional.

Amerika Serikat memantau peluncuran rudal tersebut. Dalam pernyataannya, Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa ketika Amerika Serikat sedang meningkatkan upaya pencegahan proliferasi nuklir, PKT justru bergerak ke arah yang berlawanan. 

Menurut AS, perluasan persenjataan nuklir PKT yang berlangsung cepat dan kurang transparan menimbulkan kekhawatiran di kawasan maupun dunia.

Pernyataan itu juga mendesak PKT untuk berpartisipasi dalam pembahasan pengendalian senjata yang bermakna serta membangun mekanisme pemberitahuan rutin mengenai seluruh peluncuran rudal balistik antarbenua dan peluncuran antariksa.

“Saat ini Tiongkok menggunakan strategi dua jalur untuk membangun kemampuan pencegahan nuklirnya. Di satu sisi, mereka meminta Amerika Serikat dan Rusia mengurangi senjata nuklir. Namun di sisi lain, mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperluas kemampuan nuklir mereka sendiri. Tujuan akhirnya adalah mampu menandingi Amerika Serikat,” ujar Zhong Zhidong, peneliti di Institute for National Defense and Security Research (INDSR) Taiwan. 

Departemen Luar Negeri AS juga menegaskan kembali komitmen Amerika terhadap pertahanan sekutu dan mitranya.

Zhong menambahkan: “Amerika Serikat sebenarnya sudah sangat memperhatikan perkembangan kemampuan nuklir PKT . Uji coba rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam ini kembali memperkuat kekhawatiran Washington terhadap pesatnya perluasan kekuatan nuklir PKT. Saya yakin Amerika Serikat akan mengambil langkah-langkah yang lebih konkret dan lebih aktif untuk menanggapi perkembangan tersebut.”

Sebelumnya, Duta Besar Amerika Serikat untuk Jepang, George Glass, melalui platform X mengkritik Tiongkok. Ia mengatakan bahwa di satu sisi Beijing mengkritik peningkatan anggaran pertahanan Jepang, tetapi di sisi lain justru melakukan uji coba rudal balistik di kawasan Indo-Pasifik.

Menurut Glass, selama lebih dari 70 tahun, aliansi Amerika Serikat–Jepang telah membawa perdamaian, kemakmuran, dan stabilitas bagi kawasan Indo-Pasifik.

Peneliti INDSR Taiwan, Shen Ming-shih, mengatakan: “Rudal tersebut tidak hanya memiliki jangkauan yang jauh, tetapi juga dapat membawa hulu ledak nuklir. Karena itu, dampaknya terhadap kawasan Indo-Pasifik sangat besar. Negara-negara tentu akan menyatakan penolakan atau kecaman. Selain itu, mereka juga akan memperkuat kemampuan pertahanan anti rudal serta mempersiapkan berbagai skenario dan latihan menghadapi kemungkinan agresi militer Tiongkok.”

Jepang, Selandia Baru, dan Australia sama-sama menyampaikan ketidakpuasan terhadap uji coba rudal tersebut.

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengatakan bahwa uji coba rudal balistik Tiongkok bersifat provokatif dan berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.

Shen Ming-shih menambahkan: “Kemampuan PKT pada dasarnya masih tertinggal dibandingkan Amerika Serikat. Jika terjadi perlombaan senjata rudal balistik, jumlah kapal selam bertenaga nuklir PKT masih lebih sedikit daripada milik Amerika. Kemampuan rudal balistik dan rudal darat-ke-darat Amerika Serikat juga masih lebih unggul.”

Pemerintah Jepang menyatakan keprihatinan serius atas meningkatnya aktivitas militer PKT dan mendesak Beijing untuk mempertimbangkan kembali tindakannya.

Selandia Baru juga menyatakan tidak ingin melihat Pasifik Selatan dijadikan lokasi uji kemampuan rudal oleh PKT.

Zhong Zhidong mengatakan: “Perluasan kemampuan nuklir PKT berlangsung dengan tingkat transparansi yang rendah. Kurangnya keterbukaan inilah yang menimbulkan perhatian kawasan maupun dunia, sehingga muncul desakan agar Tiongkok ikut dalam pembahasan pengendalian senjata yang benar-benar bermakna.”

Sementara itu, Kantor Kepresidenan Taiwan menyatakan bahwa uji coba tersebut merupakan upaya PKT untuk mengintimidasi masyarakat internasional.

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, juga memberikan tanggapannya.

Ia mengatakan bahwa peristiwa ini membuktikan satu hal, yaitu dunia tidak boleh bersikap terlalu naif terhadap PKT.

Shen Ming-shih menambahkan: “Tindakan seperti ini justru akan mendorong Amerika Serikat dan para sekutunya di Indo-Pasifik untuk semakin mempersiapkan berbagai skenario guna menghadapi dan menangkal uji coba persenjataan maupun peluncuran rudal yang dilakukan PKT secara rutin.”

Menanggapi kritik dari berbagai negara, Kementerian Pertahanan PKT pada 8 Juli menyatakan bahwa peluncuran tersebut merupakan bagian dari latihan militer tahunan yang rutin, “sesuai dengan hukum internasional dan praktik internasional”, serta menegaskan bahwa Tiongkok “tidak sedang melakukan perlombaan senjata nuklir dengan negara mana pun.”

Menurut analisis yang dimuat dalam laporan ini, kecaman keras dari berbagai negara dapat membuat pemerintah PKT lebih berhati-hati, sekaligus mendorong negara-negara lain untuk meningkatkan kemampuan militernya sebagai langkah pencegahan terhadap potensi ancaman dari PKT.

Disunting oleh Meng Xinqi; Wawancara oleh Luo Ya dan Tony

Galeri Foto: Kondisi Memprihatinkan Desa Liulan, Guangxi, Tiongkok, Setelah Banjir Banyak Warga Kehilangan Tempat Tinggal 

EtIndonesia.com Setelah Bendungan Liulan di Hengzhou, Guangxi jebol, Desa Liulan diterjang banjir besar yang menghancurkan sebagian wilayah desa. Warga yang selamat pada Rabu (8/7/2026) kini mulai kembali ke kampung halaman untuk membersihkan lumpur dan merapikan rumah-rumah yang rusak.

Banjir yang datang secara tiba-tiba ini menghancurkan banyak keluarga. Rumah-rumah yang dibangun dengan hasil jerih payah seumur hidup banyak yang hanyut atau rusak berat, sehingga banyak warga kehilangan tempat tinggal dan seluruh harta benda mereka. Pemandangan di wilayah terdampak tampak sangat memprihatinkan.

8 Juli 2026 — Setelah banjir surut di Desa Liulan, Guangxi, warga kembali ke rumah mereka untuk membersihkan lumpur yang menutupi lingkungan. (Foto: GREG BAKER / AFP via Getty Images)

8 Juli 2026 — Setelah banjir surut di Desa Liulan, Guangxi, warga kembali ke rumah mereka untuk membersihkan lumpur yang menutupi lingkungan. (Foto: GREG BAKER / AFP via Getty Images)

8 Juli 2026 — Setelah banjir surut di Desa Liulan, Guangxi, warga kembali ke rumah mereka untuk membersihkan lumpur yang menutupi lingkungan. (Foto: GREG BAKER / AFP via Getty Images)

8 Juli 2026 — Setelah banjir surut di Desa Liulan, Guangxi, warga kembali ke rumah mereka untuk membersihkan lumpur yang menutupi lingkungan. (Foto: GREG BAKER / AFP via Getty Images)

8 Juli 2026 — Setelah banjir surut di Desa Liulan, Guangxi, warga kembali ke rumah mereka untuk membersihkan lumpur yang menutupi lingkungan. (Foto: GREG BAKER / AFP via Getty Images)

8 Juli 2026 — Setelah banjir surut di Desa Liulan, Guangxi, warga kembali ke rumah mereka untuk membersihkan lumpur yang menutupi lingkungan. (Foto: GREG BAKER / AFP via Getty Images)

8 Juli 2026 — Seorang pria berdiri di tepi sungai sambil melihat desa yang rusak diterjang banjir. (Foto: GREG BAKER / AFP via Getty Images)

8 Juli 2026 — Warga membersihkan lumpur dari dalam rumah yang terdampak banjir. (Foto: GREG BAKER / AFP via Getty Images)

8 Juli 2026 — Warga membersihkan lumpur dari dalam rumah yang terdampak banjir. (Foto: GREG BAKER / AFP via Getty Images)

8 Juli 2026 — Warga membersihkan lumpur dari dalam rumah yang terdampak banjir. (Foto: GREG BAKER / AFP via Getty Images)

8 Juli 2026 — Warga membersihkan lumpur dari dalam rumah yang terdampak banjir. (Foto: GREG BAKER / AFP via Getty Images)

8 Juli 2026 — Warga membersihkan lumpur dari dalam rumah yang terdampak banjir. (Foto: GREG BAKER / AFP via Getty Images)

8 Juli 2026 — Sebuah rumah yang diterjang banjir tampak kosong melompong setelah seluruh isi rumah hanyut terbawa arus. (Foto: GREG BAKER / AFP via Getty Images)

Ukraina Menggempur 21 Kapal Rusia dalam 72 Jam, Rusia Segera Membalas

EtIndonesia.com  Menurut laporan Kyiv Post, dalam 72 jam terakhir, militer Ukraina menyerang 21 kapal Rusia, yang terdiri dari 19 kapal tanker yang disebut sebagai bagian dari “shadow fleet” (armada bayangan), satu kapal kargo, dan satu kapal feri. Serangan tersebut diklaim memberikan pukulan besar terhadap jalur logistik laut Rusia yang digunakan untuk mengirimkan pasokan ke Krimea yang diduduki Rusia.

Pihak Ukraina menyatakan bahwa operasi ini merupakan bagian dari strategi “Pemadaman Krimea selama 40 Hari” yang disetujui oleh Presiden Volodymyr Zelenskyy dan dipimpin oleh Dinas Keamanan Ukraina (SBU).

Selain menyerang armada kapal, sejak awal bulan ini militer Ukraina juga mengklaim telah menyerang sekitar 50 fasilitas energi Rusia, dengan tujuan terus melemahkan kemampuan logistik militer Rusia.

Pasukan Sistem Nirawak Ukraina mengungkapkan bahwa operasi tersebut dilaksanakan oleh tiga skuadron drone elite yang menggunakan drone FP-2 buatan dalam negeri. Setiap drone mampu membawa hulu ledak seberat 50 hingga 100 kilogram, yang cukup untuk memicu kebakaran besar dan menyebabkan kerusakan berat pada kapal berukuran besar, meskipun umumnya tidak cukup untuk menenggelamkannya.

Di pihak lain, Rusia menyatakan bahwa dua kapal tanker kosong menjadi sasaran serangan dan mengakibatkan dua awak kapal terluka. Rusia juga mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh tujuh drone Ukraina.

Yang juga menjadi perhatian adalah pernyataan Presiden Volodymyr Zelenskyy dalam wawancara dengan Financial Times minggu ini. Ia mengatakan bahwa medan perang yang menentukan dalam konflik ini telah bergeser dari darat dan laut ke udara.

Zelenskyy mengakui bahwa kelemahan terbesar Ukraina saat ini masih terletak pada kemampuan pertahanan udara. Oleh karena itu, saat menghadiri KTT NATO pekan ini, ia kembali mendesak negara-negara sekutu untuk menyediakan lebih banyak sistem pertahanan udara bagi Ukraina.

Sementara itu, akibat serangan Ukraina yang terus menyasar infrastruktur energi Rusia dalam beberapa hari terakhir, pemerintah Rusia mengumumkan penghentian sementara ekspor solar (diesel) hingga 31 Juli.

Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak pada 8 Juli menyatakan bahwa Rusia telah mulai memberlakukan larangan ekspor diesel dengan tujuan meningkatkan pasokan untuk pasar domestik.

Ia juga mengatakan bahwa mulai Juli, Rusia akan mengimpor produk minyak bumi dan meningkatkan produksi bahan bakar.

Para analis menilai bahwa karena Rusia merupakan eksportir solar terbesar kedua di dunia, pembatasan ekspor tersebut berpotensi memperketat pasokan diesel global dan meningkatkan biaya di berbagai sektor di Eropa, termasuk pertanian dan transportasi.

Sementara itu, Ukraina menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas energi Rusia merupakan balasan yang sah atas serangan udara Rusia yang terus berlangsung terhadap wilayah Ukraina.

Sumber : NTDTV.com

Militer AS Melancarkan Serangan Hari Kedua Berturut-turut, Target Ditingkatkan Menjadi Sekitar 90 Sasaran

EtIndonesia.com Setelah pada 7 Juli malam militer Amerika Serikat menyerang sekitar 80 target militer Iran, pada 8 Juli militer AS kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran dengan menargetkan sekitar 90 sasaran militer di wilayah pesisir negara tersebut.

Menurut pengumuman Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada malam 8 Juli, gelombang serangan udara terbaru itu bertujuan untuk semakin melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal dagang dan warga sipil di Selat Hormuz.

CENTCOM menyatakan bahwa sekitar 90 target militer diserang, meliputi:

  • Sistem pertahanan udara.
  • Fasilitas pengawasan pantai.
  • Gudang penyimpanan rudal dan drone.
  • Aset Angkatan Laut Iran.
  • Infrastruktur logistik militer.

Sebelumnya, pada 7 Juli, militer AS telah menyerang sekitar 80 target militer Iran, termasuk lebih dari 60 kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Menurut pihak AS, serangan tersebut merupakan respons terhadap dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Iran melalui serangan terhadap kapal-kapal dagang. Sebelum itu, tiga kapal dagang yang berlayar di Selat Hormuz dilaporkan menjadi sasaran serangan Iran.

Dalam pernyataannya, CENTCOM menegaskan bahwa pasukan AS tetap berada dalam kondisi siaga tinggi, memiliki kekuatan tempur yang besar, dan siap melaksanakan setiap perintah dari Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Amerika Serikat.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump saat menghadiri KTT NATO telah memperingatkan Iran bahwa militer AS mungkin akan kembali melancarkan serangan, namun terlebih dahulu akan melihat respons dari pihak Iran.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada 8 Juli menyatakan bahwa angkatan laut dan angkatan udaranya telah meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain.

Di sisi lain, artikel ini menyebut bahwa meskipun Iran menunjukkan sikap keras dalam menghadapi konflik, negara itu juga berupaya mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Saat berbicara kepada wartawan di atas Air Force One, Presiden Trump kembali mengatakan bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan.

“Mereka menelepon belum lama ini. Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan. Saya hanya tidak tahu apakah mereka layak mendapatkan kesepakatan itu. Saya juga tidak tahu apakah mereka akan mematuhinya. Itulah masalahnya,” ujarnya. 

Trump kembali menegaskan bahwa setiap serangan Iran akan dibalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

“Kami baru saja memberikan pukulan yang sangat keras kepada mereka. Saya mengatakan kami mengalahkan mereka dengan perbandingan 20 banding 1. Setiap kali mereka menyerang kami, kami akan membalas dua puluh kali lebih kuat… Mereka menyerang kami, kami akan membalas dengan lebih keras lagi,” katanya. 

CENTCOM juga membagikan foto dan video terbaru melalui akun resminya di platform X yang memperlihatkan pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Unggahan tersebut menunjukkan bahwa pada 8 Juli, lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut AS sedang berpatroli di perairan Timur Tengah.

Sementara itu, menurut laporan terbaru dari Iran International, militer Iran pada 9 Juli menyatakan telah meluncurkan serangan drone terhadap sejumlah sasaran militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia, termasuk:

  • Sistem pertahanan udara Patriot di Kuwait.
  • Fasilitas satelit peringatan dini di Qatar.
  • Fasilitas penyimpanan bahan bakar militer AS di Bahrain.

Militer Iran menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan balasan atas serangan Amerika Serikat terhadap Iran, serta menegaskan akan terus melanjutkan operasi militernya.

Dilaporkan oleh Jin Hong/Disunting oleh Li Quan

Jepang Bongkar Organisasi Pengiriman Pasien ke Kamboja untuk Transplantasi Organ, Pasien Wanita Ditolak Berobat Setelah Pulang

EtIndonesia.com  Sebuah lembaga di Tokyo, Jepang, ditutup oleh kepolisian setelah diduga secara ilegal mengatur pasien untuk menjalani transplantasi organ di Kamboja. Seorang pasien wanita yang kembali ke Jepang setelah menjalani transplantasi ginjal dilaporkan beberapa kali ditolak saat mencari perawatan lanjutan. Disebutkan adanya dugaan bahwa Kamboja merupakan bagian dari jaringan perdagangan organ yang dikaitkan dengan Tiongkok.

Menurut laporan Yomiuri Shimbun Jepang, penyelidikan Kepolisian Metropolitan Tokyo menemukan bahwa tokoh utama dalam kasus ini adalah seorang tersangka berusia 66 tahun bernama Jintatsu Kikuchi.

Kikuchi sebelumnya telah ditangkap pada Februari 2023 karena diduga melanggar Undang-Undang Transplantasi Organ Jepang dengan mengatur transplantasi organ di luar negeri secara ilegal. 

Setelah dibebaskan dengan jaminan, ia diduga tetap menjalankan aktivitas tersebut melalui sebuah lembaga yang disebut “International Medical Consultation Office” (Kantor Konsultasi Medis Internasional), yang merekrut pasien Jepang yang membutuhkan transplantasi organ.

Di situs webnya, lembaga tersebut mengklaim menyediakan informasi yang transparan dan tidak terlibat dalam kegiatan ilegal. Namun menurut hasil penyelidikan polisi, lembaga itu diduga tetap menjalankan praktik perantara transplantasi organ berbayar dengan biaya yang sangat tinggi.

Pasien Wanita Ditolak oleh Tiga Rumah Sakit

Salah satu kasus yang terungkap adalah seorang wanita Jepang yang telah lama menderita gagal ginjal.

Wanita tersebut dikirim ke Kamboja untuk menjalani transplantasi ginjal dari donor hidup.

Setelah transplantasi, pasien harus mengkonsumsi obat penekan sistem imun secara rutin dan menjalani pemeriksaan berkala agar organ yang ditransplantasikan tidak ditolak oleh tubuh.

Meskipun lembaga tersebut mengklaim akan membantu menghubungkan pasien dengan rumah sakit di Jepang setelah operasi, kenyataannya wanita itu ditolak oleh tiga rumah sakit ketika kembali ke negaranya. Ketiga rumah sakit tersebut khawatir akan terseret ke dalam kasus dugaan perdagangan organ ilegal.

Baru di rumah sakit keempat, seorang dokter bersedia menerimanya dan berkata:

“Saya akan memeriksa Anda, tetapi saya juga akan melaporkan kasus ini kepada polisi.”

Mendengar kalimat itu, wanita yang selama ini hidup dalam ketakutan justru merasa lega.

Ketika dokter bertanya apakah ia menyadari kemungkinan adanya perdagangan organ dalam kasus tersebut, wanita itu menjawab:

“Saya mengira semua biaya administrasi dibayarkan kepada lembaga itu. Saya tidak tahu apakah uang tersebut sampai kepada pendonor organ.”

Dokter Jepang: Transplantasi Organ Ilegal di Luar Negeri Sangat Berisiko

Dokter Jepang yang mengungkap kasus ini mengatakan bahwa transplantasi organ ilegal di luar negeri bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga menyimpan risiko medis yang sangat besar.

Menurutnya, pasien tidak dapat memastikan sendiri apakah dokter maupun fasilitas medis di luar negeri memenuhi standar yang layak. Selain itu, ketika mereka kembali ke Jepang, sering kali tidak membawa catatan operasi maupun rekam medis, sehingga rumah sakit di Jepang kesulitan memberikan perawatan lanjutan.

Dokter tersebut juga mengatakan bahwa tindakan seperti ini tidak hanya membahayakan keselamatan pasien, tetapi bahkan jika pasien akhirnya berhasil pulih, mereka mungkin harus memikul beban moral sepanjang hidupnya.

Rumah Sakit di Phnom Penh Disebut Pernah Dikaitkan dengan Dugaan Perdagangan Organ

Laporan tersebut menyebut bahwa rumah sakit tempat wanita itu menjalani transplantasi berada di Phnom Penh, ibu kota Kamboja.

Artikel itu mengklaim rumah sakit tersebut telah lama dituduh menjadi lokasi yang terkait dengan perdagangan organ di pasar gelap internasional.

Disebutkan pula bahwa pada tahun 2023, kepolisian Indonesia pernah mengungkap jaringan perantara yang diduga berusaha mengirim lebih dari 100 orang yang ingin menjual ginjal mereka ke rumah sakit tersebut.

Tuduhan Mengenai Hubungan dengan Tiongkok

Industri transplantasi organ di Kamboja diduga memiliki hubungan erat dengan dugaan jaringan pengambilan organ secara paksa yang dikaitkan dengan pemerintah Tiongkok.

Disebutkan bahwa pemerintah Kamboja memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Tiongkok.

Rumah Sakit Persahabatan Tiongkok–Kamboja Kosamak di Phnom Penh, yang dibangun melalui bantuan pemerintah Tiongkok sebagai bagian dari proyek Belt and Road Initiative (BRI).

Rumah sakit tersebut kini bekerja sama dengan Rumah Sakit Tongji di Wuhan dalam bidang transplantasi organ.

Disebutkan bahwa:

  • Pada Juli tahun lalu, delegasi Rumah Sakit Kosamak mengunjungi Rumah Sakit Tongji untuk membahas kerjasama dan pertukaran di bidang transplantasi organ.
  • Pada September tahun yang sama, kedua pihak kembali bertemu dan menandatangani perjanjian kerja sama.

Beberapa tahun terakhir, kawasan pusat penipuan daring (scam compounds) di Asia Tenggara merupakan bagian dari jaringan perdagangan organ ilegal lintas negara.

Disebutkan juga bahwa Kamboja memiliki banyak kawasan pusat penipuan daring, dan artikel itu menuduh salah satu kompleks yang dimiliki Prince Group di Phnom Penh memiliki sejumlah fasilitas seperti Cambodian Institute of Life Sciences, pusat pengambilan sumsum tulang anak, dan Rumah Sakit Longevity, yang menurut artikel tersebut terkait dengan aktivitas ilegal.

Sumber : NTDTV.com