Jepang Bongkar Organisasi Pengiriman Pasien ke Kamboja untuk Transplantasi Organ, Pasien Wanita Ditolak Berobat Setelah Pulang

EtIndonesia.com  Sebuah lembaga di Tokyo, Jepang, ditutup oleh kepolisian setelah diduga secara ilegal mengatur pasien untuk menjalani transplantasi organ di Kamboja. Seorang pasien wanita yang kembali ke Jepang setelah menjalani transplantasi ginjal dilaporkan beberapa kali ditolak saat mencari perawatan lanjutan. Disebutkan adanya dugaan bahwa Kamboja merupakan bagian dari jaringan perdagangan organ yang dikaitkan dengan Tiongkok.

Menurut laporan Yomiuri Shimbun Jepang, penyelidikan Kepolisian Metropolitan Tokyo menemukan bahwa tokoh utama dalam kasus ini adalah seorang tersangka berusia 66 tahun bernama Jintatsu Kikuchi.

Kikuchi sebelumnya telah ditangkap pada Februari 2023 karena diduga melanggar Undang-Undang Transplantasi Organ Jepang dengan mengatur transplantasi organ di luar negeri secara ilegal. 

Setelah dibebaskan dengan jaminan, ia diduga tetap menjalankan aktivitas tersebut melalui sebuah lembaga yang disebut “International Medical Consultation Office” (Kantor Konsultasi Medis Internasional), yang merekrut pasien Jepang yang membutuhkan transplantasi organ.

Di situs webnya, lembaga tersebut mengklaim menyediakan informasi yang transparan dan tidak terlibat dalam kegiatan ilegal. Namun menurut hasil penyelidikan polisi, lembaga itu diduga tetap menjalankan praktik perantara transplantasi organ berbayar dengan biaya yang sangat tinggi.

Pasien Wanita Ditolak oleh Tiga Rumah Sakit

Salah satu kasus yang terungkap adalah seorang wanita Jepang yang telah lama menderita gagal ginjal.

Wanita tersebut dikirim ke Kamboja untuk menjalani transplantasi ginjal dari donor hidup.

Setelah transplantasi, pasien harus mengkonsumsi obat penekan sistem imun secara rutin dan menjalani pemeriksaan berkala agar organ yang ditransplantasikan tidak ditolak oleh tubuh.

Meskipun lembaga tersebut mengklaim akan membantu menghubungkan pasien dengan rumah sakit di Jepang setelah operasi, kenyataannya wanita itu ditolak oleh tiga rumah sakit ketika kembali ke negaranya. Ketiga rumah sakit tersebut khawatir akan terseret ke dalam kasus dugaan perdagangan organ ilegal.

Baru di rumah sakit keempat, seorang dokter bersedia menerimanya dan berkata:

“Saya akan memeriksa Anda, tetapi saya juga akan melaporkan kasus ini kepada polisi.”

Mendengar kalimat itu, wanita yang selama ini hidup dalam ketakutan justru merasa lega.

Ketika dokter bertanya apakah ia menyadari kemungkinan adanya perdagangan organ dalam kasus tersebut, wanita itu menjawab:

“Saya mengira semua biaya administrasi dibayarkan kepada lembaga itu. Saya tidak tahu apakah uang tersebut sampai kepada pendonor organ.”

Dokter Jepang: Transplantasi Organ Ilegal di Luar Negeri Sangat Berisiko

Dokter Jepang yang mengungkap kasus ini mengatakan bahwa transplantasi organ ilegal di luar negeri bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga menyimpan risiko medis yang sangat besar.

Menurutnya, pasien tidak dapat memastikan sendiri apakah dokter maupun fasilitas medis di luar negeri memenuhi standar yang layak. Selain itu, ketika mereka kembali ke Jepang, sering kali tidak membawa catatan operasi maupun rekam medis, sehingga rumah sakit di Jepang kesulitan memberikan perawatan lanjutan.

Dokter tersebut juga mengatakan bahwa tindakan seperti ini tidak hanya membahayakan keselamatan pasien, tetapi bahkan jika pasien akhirnya berhasil pulih, mereka mungkin harus memikul beban moral sepanjang hidupnya.

Rumah Sakit di Phnom Penh Disebut Pernah Dikaitkan dengan Dugaan Perdagangan Organ

Laporan tersebut menyebut bahwa rumah sakit tempat wanita itu menjalani transplantasi berada di Phnom Penh, ibu kota Kamboja.

Artikel itu mengklaim rumah sakit tersebut telah lama dituduh menjadi lokasi yang terkait dengan perdagangan organ di pasar gelap internasional.

Disebutkan pula bahwa pada tahun 2023, kepolisian Indonesia pernah mengungkap jaringan perantara yang diduga berusaha mengirim lebih dari 100 orang yang ingin menjual ginjal mereka ke rumah sakit tersebut.

Tuduhan Mengenai Hubungan dengan Tiongkok

Industri transplantasi organ di Kamboja diduga memiliki hubungan erat dengan dugaan jaringan pengambilan organ secara paksa yang dikaitkan dengan pemerintah Tiongkok.

Disebutkan bahwa pemerintah Kamboja memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Tiongkok.

Rumah Sakit Persahabatan Tiongkok–Kamboja Kosamak di Phnom Penh, yang dibangun melalui bantuan pemerintah Tiongkok sebagai bagian dari proyek Belt and Road Initiative (BRI).

Rumah sakit tersebut kini bekerja sama dengan Rumah Sakit Tongji di Wuhan dalam bidang transplantasi organ.

Disebutkan bahwa:

  • Pada Juli tahun lalu, delegasi Rumah Sakit Kosamak mengunjungi Rumah Sakit Tongji untuk membahas kerjasama dan pertukaran di bidang transplantasi organ.
  • Pada September tahun yang sama, kedua pihak kembali bertemu dan menandatangani perjanjian kerja sama.

Beberapa tahun terakhir, kawasan pusat penipuan daring (scam compounds) di Asia Tenggara merupakan bagian dari jaringan perdagangan organ ilegal lintas negara.

Disebutkan juga bahwa Kamboja memiliki banyak kawasan pusat penipuan daring, dan artikel itu menuduh salah satu kompleks yang dimiliki Prince Group di Phnom Penh memiliki sejumlah fasilitas seperti Cambodian Institute of Life Sciences, pusat pengambilan sumsum tulang anak, dan Rumah Sakit Longevity, yang menurut artikel tersebut terkait dengan aktivitas ilegal.

Sumber : NTDTV.com

Trump Peringatkan Ancaman Penyebaran Komunisme Global pada KTT NATO 

Trump Menjawab Pertanyaan Wartawan NTD di Konferensi Pers Setelah KTT NATO : “Komunisme Lebih Mematikan daripada Perang”

EtIndonesia.com Setelah KTT NATO yang berlangsung selama dua hari berakhir, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers pada 8 Juli di Ankara, Turkiye untuk menyampaikan hasil pertemuan tersebut kepada publik.

Dalam konferensi pers itu, wartawan NTD Television, Iris Tao atau Tao Ming  mengajukan pertanyaan mengenai penyebaran komunisme di dunia dan pesan yang ingin disampaikan Trump kepada masyarakat. Dalam jawabannya, Trump menegaskan pandangannya mengenai bahaya komunisme dan mengingatkan negara-negara demokrasi agar tetap waspada.

Tao Ming (NTD Television):”Terima kasih, Tuan Presiden, telah menerima pertanyaan saya. Saya Tao Ming dari NTD Television, media saudara dari The Epoch Times.

Mengenai komunisme, selama ini Anda telah memperingatkan rakyat Amerika tentang bahaya komunisme. Kini Anda juga membahas isu tersebut di panggung internasional. Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada orang-orang yang hidup di bawah rezim komunis dan sosialis, maupun kepada masyarakat di negara-negara demokrasi seperti Eropa dan Amerika yang mungkin belum menyadari betapa dekatnya komunisme dengan kehidupan mereka?”

Jawaban Presiden Donald Trump

“Ya, itu pertanyaan yang sangat bagus.

Saya memang ingin menyampaikan pesan ini, karena menurut saya sesuatu yang sedang berkembang di negara ini adalah komunisme. Dan komunisme sangat mudah dipasarkan.

Jika saya seorang komunis, saya mungkin akan menjadi komunis terbaik dalam sejarah. Saya akan berada di jajaran teratas bersama Lenin. Saya akan sama hebatnya dengan siapa pun.”

Trump kemudian menggambarkan bagaimana, menurutnya, komunisme menawarkan janji-janji yang menarik.

“Mereka akan berkata, ‘Sepanjang sisa hidupmu kamu tidak perlu membayar sewa rumah.’ Tetapi mereka tidak memberitahumu bahwa 12 bulan kemudian kamu akan hidup dalam kemiskinan dan lingkungan yang kotor.

Mereka akan berkata, ‘Kamu akan mendapatkan rumah gratis.’ Siapa yang tidak menginginkan rumah gratis? Kami akan mengambil rumah itu dari seseorang lalu memberikannya kepadamu. Setelah itu, pembunuhan akan terjadi di mana-mana.”

Trump melanjutkan:

“Komunisme adalah sebuah bencana. Hal itu sudah terbukti selama ribuan tahun, hanya saja memakai nama yang berbeda-beda, tetapi hakikatnya tetap sama. Ini sangat penting.”

Ia juga mengaitkan pandangan tersebut dengan dukungan yang diterimanya dari pemilih Hispanik.

“Salah satu alasan saya memperoleh hasil yang sangat baik di kalangan pemilih Hispanik—bahkan memecahkan rekor Partai Republik dan membantu saya memenangkan pemilu dengan sangat meyakinkan—adalah karena banyak dari mereka berasal dari negara-negara komunis.

Anda boleh menyebutnya sosialisme radikal atau komunisme, menurut saya perbedaannya tidak terlalu besar. Ketika orang mengatakan ‘demokrat sosial’ atau ‘kami adalah demokrat sosial’, istilah itu terdengar indah. Tetapi sebenarnya tidak. Itu adalah istilah yang sangat berbahaya.”

Trump mengatakan bahwa ia sering membahas isu tersebut melalui berbagai platform.

“Saya membicarakannya di TikTok, saya membicarakannya di berbagai tempat, termasuk di sini. Anda benar, ini telah menjadi persoalan internasional. Namun sistem itu tidak pernah berhasil dan tidak akan pernah berhasil. Yang benar-benar berhasil adalah Amerika.”

Ia kemudian memuji sistem ekonomi Amerika Serikat.

“Lihatlah, sekarang kita memiliki lebih banyak lapangan pekerjaan daripada sebelumnya. Orang-orang memperoleh penghasilan lebih tinggi daripada sebelumnya. Saya berbicara tentang para pekerja. Mereka menerima gaji tertinggi yang pernah ada.

Menurut saya, inilah sistem terbaik. Memang tidak sempurna, karena setiap sistem memiliki kekurangan, tetapi sistem ini telah memberikan hasil yang luar biasa.”

Trump juga berkata : “Ketika saya melihat apa yang sedang terjadi dan melihat orang-orang yang saya anggap tidak bermutu mendapatkan dukungan—ya, menurut saya mereka memang orang-orang seperti itu. Saya mengenal orang baik dan orang yang berkualitas. Orang-orang ini, menurut saya, bukan demikian.

Ketika saya mendengar apa yang mereka katakan, saya menganggap mereka sangat berbahaya dalam banyak hal. Saya pernah mengatakan hal ini sebelumnya. Awalnya saya berpikir, ‘Wah, ini pernyataan yang cukup besar.’ Namun kemudian saya menyadari bahwa memang itulah kenyataannya.”

Di akhir jawabannya, Trump menyatakan bahwa menurut pandangannya ancaman komunisme terhadap Amerika Serikat lebih besar daripada ancaman perang-perang besar dalam sejarah.

“Menurut saya, bahaya yang dihadapi negara ini dalam situasi seperti ini bahkan lebih besar daripada Perang Dunia I maupun Perang Dunia II.

“Jika Anda berbicara tentang serangan 11 September atau Pearl Harbor, semuanya adalah ancaman yang sangat besar. Tetapi menurut saya, gagasan bahwa Amerika dapat bergerak menuju komunisme merupakan bahaya yang lebih besar.”

“Karena begitu sebuah negara memasuki komunisme, ada satu hal yang akan terjadi: Anda tidak akan pernah bisa kembali. Tidak akan pernah kembali.

“Anda akan hidup dan mati dalam kemiskinan dan lingkungan yang kotor. Anda akan meninggal dengan cara yang mengerikan. Sistem itu akan menjadi sangat jahat dan sangat buruk.”

Sejak pemilihan pendahuluan (primary) yang digelar di AS, Presiden Trump telah menggunakan sejumlah pidato terbarunya untuk memperingatkan bahaya komunisme dan mengkritik para kandidat yang dianggap menganut paham tersebut.

“Mereka adalah komunis, bukan sosial demokrat,” kata Trump dalam konferensi Faith and Freedom Coalition pada 26 Juni.

Dalam konferensi tersebut, serta dalam pidato yang disampaikannya pada 3 Juli dan 4 Juli untuk memperingati hari jadi ke-250 Amerika Serikat, Trump mengimbau rakyat Amerika untuk melindungi jati diri negaranya. Ia memperingatkan bahwa ideologi komunis sedang kembali bangkit.

“Kini terjadi kebangkitan kembali ancaman komunisme di negara kita, termasuk dari para pendatang baru yang memeluk gagasan-gagasan yang sepenuhnya bertentangan dengan cara hidup dan keberhasilan besar yang telah kita capai,” ujar Trump pada 3 Juli.

Dalam pidatonya pada 3 Juli, ia juga menggambarkan komunisme sebagai “ancaman mematikan bagi kebebasan Amerika” dan menyebutnya sebagai “ancaman terbesar bagi negara kita.”

Diperkirakan sekitar 65 juta warga Tiongkok tewas di bawah kepemimpinan Mao Zedong dalam upayanya membangun Tiongkok baru yang “sosialis”. Sementara itu, sekitar 25 juta hingga 30 juta orang diperkirakan meninggal di bekas Uni Soviet di bawah pemerintahan komunis.

Warga Guangxi, Tiongkok Kembali ke Rumah Setelah Dilanda Banjir: “Sangat Tragis, Tak Ada yang Tersisa, Rasanya Hanya Ingin Menangis Saja”

Pada 8 Juli 2026, banjir di sebagian desa dan kota kecil di Guangxi mulai surut. Sejumlah warga mulai kembali ke rumah mereka, namun yang mereka lihat hanyalah puing-puing dan kehancuran. Banyak warga tak kuasa menahan air mata dan berkata, “Sangat tragis, tidak ada yang tersisa. Rasanya hanya ingin menangis saja.”

EtIndonesia.com Pada 6 Juli 2026, Bendungan Liulan (Liulan Reservoir) di Kota Hengzhou, Guangxi, dilaporkan jebol sehingga air bah mengalir deras dan menyebabkan desa Liulan serta Kota Yunbiao di hilir mengalami kerusakan parah. Setelah beberapa hari, air di sebagian wilayah mulai surut sehingga warga dapat kembali melihat kondisi rumah mereka.

Seorang pria merekam keadaan kota setelah banjir. Dalam video tersebut terlihat jalan-jalan dipenuhi lumpur tebal dan berbagai puing berserakan di mana-mana.

Ia mengatakan: “Semuanya hancur berantakan. Syukurlah istri dan anak-anak saya selamat.”

Ia juga menambahkan bahwa puskesmas dan rumah sakit di kota tersebut roboh.

“Tidak ada satu rumah pun yang luput. Semuanya tinggal puing-puing.”

Video lain memperlihatkan seluruh pertokoan di lantai dasar terendam banjir, sementara barang dagangan di banyak toko hanyut terbawa arus.

Menurut laporan Nanfang Metropolis Daily, Desa Liulan yang berada tepat di bawah bendungan mengalami kerusakan paling parah. Sedikitnya setengah dari rumah-rumah di desa tersebut hancur diterjang banjir.

Sepasang suami istri mengatakan : “Rumah kami sekarang benar-benar tidak memiliki apa-apa lagi. Yang tersisa hanya rangka bangunannya. Pintu dan jendela hilang, bahkan satu kursi pun tidak tersisa. Semua pakaian dan barang-barang hanyut.”

Mereka mengatakan bahwa ketika bendungan jebol, air datang terlalu cepat sehingga mereka tidak sempat melarikan diri. Lebih dari 40 orang akhirnya terjebak di lantai dua rumah mereka.

Saat menceritakan kondisi rumahnya, sang suami tampak berkaca-kaca.

“Saya sudah menangis tiga kali.”

Setelah mengatakan itu, ia hanya melambaikan tangan dan tidak ingin melanjutkan pembicaraan.

Istrinya berkata : “Kami hanya bisa melihat air menerjang turun. Kami sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya bisa berdiri di atap rumah menyaksikan semuanya hanyut. Sekarang rumah kami tidak memiliki apa-apa lagi.”

Ada pula warga yang kehilangan anggota keluarganya akibat banjir, dan hingga kini jasad mereka belum ditemukan.

Seorang pria mengatakan bahwa neneknya hanyut terbawa arus saat berada di rumah.

“Kami mencarinya lama sekali tetapi tidak menemukannya. Nenek hanyut dari rumah. Kami tidak menyangka airnya akan sedahsyat itu.”

Seorang warga perempuan mengatakan bahwa setelah bendungan jebol, air mengalir deras seperti lautan.

“Saya lahir dan besar di sini, tetapi belum pernah melihat banjir sebesar ini.”

Menurutnya, hanya dalam waktu sekitar 10 menit, seluruh desa mereka sudah terendam banjir. Tidak ada waktu untuk melakukan evakuasi. Lansia dan anak-anak hanya bisa berlindung di lantai dua, lantai tiga, atau di atas atap rumah.

Ia melanjutkan: “Banyak orang sangat menderita. Ada rumah yang roboh sehingga orang-orang di dalamnya tidak bisa diselamatkan. Ada juga yang kemungkinan hanyut terbawa arus. Ketika beberapa orang kembali dan melihat rumah mereka sudah hilang, mereka langsung terduduk dan menangis. Sangat menyedihkan, rasanya ingin menangis. Ada juga yang sampai sekarang belum menemukan anggota keluarganya. Melihat mereka saja membuat saya ikut menangis.”

Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian warga melarikan diri ke perbukitan di sekitar desa. Mereka masih memiliki air minum, tetapi tidak memiliki makanan dan bertahan seperti itu selama sehari.

Banyak video yang beredar di internet memperlihatkan kondisi pasca banjir. Rumah-rumah roboh di mana-mana, sementara perabotan, peralatan elektronik, pakaian, dan selimut terendam lumpur. Banyak kendaraan yang terendam banjir ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan.

Hingga saat ini, banjir di wilayah Hengzhou, Guigang, dan daerah lain di Guangxi belum sepenuhnya surut. Masih banyak warga yang terjebak dan menunggu pertolongan serta sangat membutuhkan air bersih, makanan, dan bantuan lainnya.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa upaya penyelamatan dari pihak berwenang dinilai berlangsung lambat, sehingga banyak warga terpaksa menyelamatkan diri sendiri dan terus mengunggah permintaan bantuan melalui internet.

Dilaporkan oleh Luo Tingting/ Wen Hui

AS Hancurkan Infrastruktur Strategis Iran, Teheran Siapkan Operasi Balasan Terbesar ke Israel

EtIndonesia.com Konflik di Timur Tengah semakin memasuki fase yang berbahaya pada 8 Juli 2026. Di tengah terputusnya jalur diplomasi antara Washington dan Teheran, kedua pihak mulai memperlihatkan kesiapan untuk meningkatkan konfrontasi militer secara langsung. 

Sementara Iran dikabarkan tengah mempersiapkan operasi balasan berskala besar terhadap Israel, Amerika Serikat justru memperluas kampanye militernya dengan menyerang sejumlah fasilitas strategis yang menjadi tulang punggung kemampuan pertahanan Iran.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada aksi saling mengancam melalui pernyataan politik, melainkan telah berkembang menjadi operasi militer yang menyasar infrastruktur penting, pusat komando, hingga fasilitas pendukung ekonomi Iran.


Iran Dikabarkan Menyiapkan Serangan Besar terhadap Israel

Di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat, muncul laporan dari sumber internal Iran yang menyebut bahwa pemerintah Teheran sedang menyusun operasi balasan berskala besar terhadap Israel.

Menurut sumber tersebut, Iran berencana mengerahkan persenjataan generasi terbaru yang hingga kini belum pernah diperlihatkan kepada publik.

Selain itu, operasi tersebut juga disebut akan melibatkan pengerahan ratusan drone tempur serta rudal jarak menengah dan jarak jauh yang diarahkan ke berbagai sasaran strategis di wilayah Israel.

Walaupun rincian mengenai jenis persenjataan tersebut belum diungkapkan, laporan itu menunjukkan bahwa Iran berupaya meningkatkan kemampuan serangannya sebagai bentuk respons terhadap meningkatnya tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel.

Apabila laporan tersebut benar, maka kawasan Timur Tengah berpotensi menghadapi gelombang konflik yang jauh lebih luas dibandingkan fase-fase sebelumnya.


CENTCOM Konfirmasi Dimulainya Operasi Militer Baru

Tidak lama setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa dirinya siap memerintahkan gelombang serangan baru terhadap Iran, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengeluarkan konfirmasi resmi.

Pada sore hari 8 Juli 2026, CENTCOM menyatakan bahwa atas instruksi langsung Presiden Trump, militer Amerika Serikat telah memulai operasi serangan baru terhadap sejumlah target di wilayah Iran.

Menurut pihak militer Amerika, tujuan utama operasi tersebut adalah melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Washington menilai bahwa berbagai aksi Iran terhadap jalur pelayaran internasional telah menciptakan ancaman serius bagi stabilitas perdagangan global, sehingga memerlukan tindakan militer yang lebih tegas.


Pulau Khark Menjadi Target Utama

Salah satu sasaran paling penting dalam operasi tersebut adalah Pulau Khark, kawasan yang selama puluhan tahun menjadi pusat utama ekspor minyak Iran.

Pulau ini memiliki arti yang sangat strategis karena menangani sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran menuju pasar internasional.

Dalam operasi tersebut, Angkatan Laut dan Angkatan Udara Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas penting yang berada di pulau tersebut.

Meskipun demikian, sebagaimana telah disampaikan Trump sebelumnya, sejumlah infrastruktur minyak dilaporkan tidak menjadi sasaran utama penghancuran.

Langkah itu memunculkan berbagai spekulasi bahwa Washington berusaha melemahkan kemampuan militer Iran tanpa merusak seluruh fasilitas ekonomi yang kemungkinan masih memiliki nilai strategis apabila situasi berkembang ke tahap berikutnya.


Sejumlah Wilayah Strategis Iran Ikut Dibombardir

Selain Pulau Khark, operasi militer Amerika Serikat juga diperluas ke berbagai wilayah penting lainnya.

Beberapa lokasi yang menjadi sasaran serangan antara lain:

  • Pulau Abu Musa;
  • Konarak;
  • Pulau Qeshm; dan
  • Bandar Abbas.

Seluruh kawasan tersebut memiliki posisi yang sangat penting dalam sistem pertahanan Iran di sekitar Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Melalui serangan terhadap lokasi-lokasi tersebut, Amerika Serikat berupaya mengurangi kemampuan Iran dalam mengendalikan jalur pelayaran internasional sekaligus membatasi ruang gerak militer Teheran di kawasan pesisir.


Infrastruktur Kelistrikan dan Kendali Maritim Dihancurkan

Operasi Amerika tidak hanya menyasar instalasi militer.

Militer AS juga menyerang sebuah pembangkit listrik serta menara pengendali lalu lintas maritim di Pelabuhan Chabahar, salah satu pelabuhan penting Iran di pesisir Laut Arab.

Fasilitas tersebut memiliki peranan vital dalam mendukung aktivitas pelayaran sekaligus koordinasi pengawasan kawasan maritim.

Dengan dihancurkannya fasilitas-fasilitas tersebut, kemampuan Iran untuk memantau dan mengendalikan aktivitas pelayaran di sekitar Selat Hormuz disebut mengalami penurunan yang signifikan.

Bagi Washington, penghancuran infrastruktur tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memastikan jalur pelayaran internasional tetap terbuka dan tidak dapat dikendalikan secara sepihak oleh Iran.


Kemampuan IRGC Mengawasi Selat Hormuz Melemah

Serangkaian serangan yang dilakukan Amerika Serikat juga diarahkan untuk melumpuhkan kemampuan Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam mengawasi kawasan Teluk Persia.

Menurut penilaian sejumlah analis militer, rusaknya berbagai fasilitas radar, pusat kendali, dan infrastruktur pendukung membuat kemampuan IRGC untuk mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz mengalami pelemahan yang cukup besar.

Artinya, apabila sebelumnya Iran memiliki kemampuan yang relatif kuat untuk memonitor setiap pergerakan kapal di kawasan tersebut, kini kapasitas tersebut mulai berkurang akibat kerusakan pada jaringan pertahanan dan sistem pengawasannya.


Markas IRGC di Bushehr Ikut Diserang

Gelombang serangan Amerika kemudian berlanjut ke Bushehr, salah satu kota pesisir paling strategis di Iran.

Di wilayah ini, militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap markas Garda Revolusi Iran.

Barak-barak pasukan IRGC menjadi sasaran langsung pemboman.

Selain itu, serangan juga diarahkan ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr, yang merupakan satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir komersial yang beroperasi di Iran.

Serangan terhadap kawasan tersebut segera menarik perhatian internasional karena menyangkut fasilitas nuklir yang memiliki tingkat sensitivitas sangat tinggi.


Bandara Sipil di Iran Tenggara Turut Menjadi Sasaran

Operasi militer Amerika tidak berhenti di Bushehr.

Pada malam harinya, militer Amerika kembali melaksanakan serangan terhadap sebuah bandara sipil di wilayah tenggara Iran.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata, serangan dilakukan menggunakan bom berkekuatan ledak tinggi yang menimbulkan beberapa ledakan besar di sekitar kawasan bandara.

Hingga saat itu belum terdapat informasi resmi mengenai tingkat kerusakan maupun jumlah korban akibat serangan tersebut.

Namun penambahan sasaran baru menunjukkan bahwa cakupan operasi Amerika Serikat terus meluas, tidak lagi terbatas pada pangkalan militer semata.


Strategi Washington Memasuki Tahap Baru

Rangkaian operasi pada 8 Juli 2026 memperlihatkan perubahan penting dalam strategi militer Amerika Serikat.

Jika pada tahap awal operasi lebih banyak difokuskan pada penghancuran aset-aset militer tertentu, kini sasaran telah berkembang mencakup infrastruktur energi, sistem pengawasan maritim, pusat komando, hingga fasilitas logistik yang menopang kemampuan pertahanan Iran.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa Washington berusaha melemahkan kapasitas Iran secara menyeluruh, baik dari sisi militer maupun kemampuan operasionalnya dalam mengendalikan kawasan Teluk Persia.

Sementara itu, laporan mengenai persiapan serangan balasan Iran terhadap Israel semakin memperbesar kekhawatiran bahwa konflik yang awalnya melibatkan Amerika Serikat dan Iran dapat berubah menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara di Timur Tengah. (***)

Iran Resmi Tutup Semua Negosiasi dengan AS, Ancam Serang Dua Kali Lipat

EtIndonesia.com Perkembangan situasi pada 8 Juli 2026 menunjukkan bahwa peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi semakin menipis. Beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa proses negosiasi dengan Teheran telah berakhir, pemerintah Iran mengambil langkah balasan dengan mengumumkan penghentian seluruh perundingan komprehensif dengan Amerika Serikat.

Keputusan tersebut menjadi titik balik penting dalam hubungan kedua negara. Jalur diplomasi yang selama ini masih dianggap sebagai harapan terakhir untuk membatasi program nuklir Iran praktis tertutup, sementara kedua belah pihak justru semakin memperkeras retorika dan meningkatkan kesiapan militernya.


Iran Resmi Mengakhiri Jalur Diplomasi dengan Amerika Serikat

Seorang pejabat senior Iran, dalam keterangannya kepada kantor berita Rusia TASS, mengonfirmasi bahwa Teheran secara resmi menghentikan seluruh perundingan menyeluruh dengan Amerika Serikat.

Menurut pejabat tersebut, keputusan itu diambil sebagai respons langsung terhadap berbagai ancaman yang disampaikan Presiden Donald Trump dalam beberapa hari terakhir.

Sumber itu menegaskan bahwa pemerintah Iran menilai Washington tidak lagi menunjukkan itikad untuk mencari solusi diplomatik. Sebaliknya, Amerika Serikat dianggap lebih memilih menggunakan tekanan militer sebagai instrumen utama untuk memaksa Iran memenuhi berbagai tuntutan strategisnya.

Dengan dihentikannya proses negosiasi tersebut, pembahasan mengenai pembatasan program nuklir Iran yang selama ini menjadi fokus utama diplomasi kedua negara praktis memasuki jalan buntu.

Perkembangan ini sekaligus memperbesar risiko bahwa penyelesaian konflik di masa mendatang akan lebih banyak ditentukan melalui kekuatan militer dibandingkan meja perundingan.


Iran Ancam Balasan Dua Kali Lipat

Tidak hanya mengakhiri jalur diplomasi, pemerintah Iran juga menyampaikan ancaman yang jauh lebih keras terhadap Amerika Serikat.

Pejabat Iran menegaskan bahwa apabila militer Amerika kembali melancarkan operasi militer terhadap wilayah Iran, maka respons yang diberikan tidak lagi bersifat terbatas seperti sebelumnya.

Menurut peringatan tersebut, setiap satu sasaran Iran yang diserang Amerika akan dibalas dengan menyerang dua sasaran militer Amerika Serikat.

Iran juga memperingatkan bahwa balasan berikutnya akan memiliki skala yang jauh lebih besar, mencakup wilayah operasi yang lebih luas, serta menggunakan kekuatan yang lebih besar dibandingkan seluruh serangan sebelumnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Teheran berusaha membangun efek penangkalan (deterrence) dengan meningkatkan biaya yang harus ditanggung Washington apabila konflik terus bereskalasi.

Namun demikian, berbagai kalangan menilai ancaman tersebut justru berpotensi menghasilkan dampak sebaliknya.

Alih-alih membuat Amerika Serikat mengurangi tekanannya, retorika keras dari Iran diperkirakan semakin memperkuat tekad pemerintahan Trump untuk meningkatkan operasi militernya.


Trump: Amerika Bisa Mencapai Tujuannya Tanpa Kesepakatan

Menanggapi perkembangan tersebut, Donald Trump kembali menyampaikan sikap yang tidak kalah tegas.

Dalam pernyataannya pada hari yang sama, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat bahkan mungkin dapat mencapai seluruh tujuan strategisnya terhadap Iran tanpa perlu menandatangani kesepakatan apa pun.

Pernyataan ini menunjukkan perubahan pendekatan Washington.

Jika sebelumnya pemerintah Amerika masih menempatkan kesepakatan sebagai salah satu pilihan utama, kini Gedung Putih memberi sinyal bahwa keberhasilan operasi militer dianggap mampu menghasilkan tujuan yang sama, bahkan tanpa adanya kompromi politik dengan Teheran.

Pernyataan Trump tersebut segera menarik perhatian para pengamat karena dinilai mengindikasikan semakin kecilnya peluang kedua negara untuk kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat.


JD Vance Berikan Peringatan Keras Mengenai Selat Hormuz

Di tengah meningkatnya ketegangan, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance turut menyampaikan pesan yang sangat tegas kepada pemerintah Iran.

Menurut Vance, setiap upaya Iran untuk memblokade Selat Hormuz akan dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan strategis Amerika Serikat maupun stabilitas perdagangan internasional.

Ia menegaskan bahwa apabila Iran benar-benar mencoba menutup jalur pelayaran tersebut, maka Washington akan memberikan respons militer secara langsung.

Vance menilai Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi paling vital di dunia sehingga kebebasan navigasi di kawasan itu harus tetap dijaga.

Karena itu, Amerika Serikat, menurutnya, tidak akan membiarkan siapa pun menghambat arus pelayaran internasional melalui kawasan tersebut.


Amerika Tetapkan Syarat Penghentian Operasi Militer

Lebih lanjut, JD Vance menjelaskan bahwa operasi militer Amerika Serikat tidak akan dihentikan begitu saja.

Washington menetapkan sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh Iran sebelum operasi tersebut dapat diakhiri.

Di antaranya adalah:

  • membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz;
  • menghentikan seluruh serangan terhadap kapal dagang maupun kapal sipil yang melintas di kawasan tersebut;
  • serta mematuhi seluruh kesepakatan internasional yang sebelumnya telah disampaikan kepada Teheran.

Selama syarat-syarat tersebut belum dipenuhi, Amerika Serikat, menurut Vance, akan terus melanjutkan operasi militernya.

Pernyataan itu memperjelas bahwa tujuan Washington kini bukan sekadar membalas serangan Iran, melainkan memastikan kebebasan navigasi internasional tetap terjamin melalui tekanan militer yang berkelanjutan.


Risiko Eskalasi Semakin Besar

Dengan keputusan Iran menghentikan seluruh perundingan dan Amerika Serikat yang tetap mempertahankan operasi militernya, situasi di Timur Tengah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya.

Hubungan kedua negara kini tidak lagi ditopang oleh mekanisme diplomasi yang dapat meredakan ketegangan sewaktu-waktu.

Sebaliknya, setiap tindakan militer dari salah satu pihak kini berpotensi memicu respons yang lebih besar dari pihak lainnya.

Para analis keamanan internasional menilai kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya konflik terbuka yang lebih luas, terutama apabila aksi saling serang mulai menyasar infrastruktur strategis maupun pangkalan militer di kawasan Teluk Persia.

Di tengah meningkatnya ancaman tersebut, perhatian dunia pun kini tertuju pada langkah berikutnya yang akan diambil oleh Washington dan Teheran, terutama setelah kedua negara sama-sama menunjukkan bahwa mereka tidak berniat mengurangi tekanan terhadap lawannya.

Sementara itu, di balik memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran, laporan-laporan intelijen mulai mengungkap adanya persiapan operasi militer yang jauh lebih besar. Tidak hanya Amerika Serikat yang meningkatkan serangan, Iran juga dikabarkan tengah mempersiapkan serangan balasan berskala besar terhadap Israel dengan mengerahkan persenjataan generasi terbaru yang belum pernah digunakan sebelumnya. Perkembangan inilah yang kemudian menjadi awal dari gelombang operasi militer berikutnya yang semakin memperluas konflik di kawasan. (***)

Tiongkok Konfirmasi Peluncuran Rudal Balistik dari Kapal Selam ke Samudra Pasifik, Pakar Analisis Berbagai Tujuan Strategis

EtIndonesia.com Pemerintahan partai komunis Tiongkok (PKT) baru-baru ini untuk pertama kalinya secara terbuka mengonfirmasi bahwa sebuah kapal selam nuklir Angkatan Laut, telah meluncurkan rudal balistik strategis yang ditembakkan dari kapal selam (Submarine-Launched Ballistic Missile/SLBM) ke wilayah Samudra Pasifik. Langkah tersebut memicu perhatian dan kekhawatiran dari Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Taiwan.

Sejumlah pengamat menilai bahwa peluncuran ini bukan sekadar uji coba senjata, melainkan juga sinyal penting bahwa Beijing ingin menunjukkan kemampuan pencegahan nuklirnya, yang berpotensi mengubah keseimbangan strategis di kawasan Indo-Pasifik.

Menurut kantor berita pemerintah PKT Xinhua, pada 6 Juli siang, sebuah kapal selam nuklir Angkatan Laut Tiongkok berhasil meluncurkan sebuah rudal balistik strategis dari bawah laut yang membawa hulu ledak latihan ke wilayah laut lepas Samudra Pasifik dan jatuh di area sasaran yang telah ditentukan.

Pemerintah PKT menyatakan bahwa peluncuran tersebut merupakan bagian dari latihan militer rutin tahunan. Beijing juga mengatakan telah memberi pemberitahuan sebelumnya kepada negara-negara terkait dan bahwa peluncuran tersebut tidak ditujukan kepada sasaran tertentu.

Namun, Australia, Jepang, Selandia Baru, dan Taiwan menyampaikan keberatan.

  • Australia menilai tindakan tersebut dapat mengganggu stabilitas kawasan.
  • Jepang menyatakan akan terus meningkatkan pemantauan dan kewaspadaan.
  • Selandia Baru memperingatkan agar aktivitas militer seperti ini tidak menjadi hal yang dianggap biasa.
  • Kantor Kepresidenan Taiwan menyatakan bahwa Beijing berupaya mengintimidasi masyarakat internasional melalui aksi militernya.

Direktur Institute for National Defense and Security Research (INDSR) Taiwan, Su Tzu-yun, mengatakan bahwa peluncuran ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Beijing untuk memperkuat kekuatan laut dan kemampuan nuklirnya guna meningkatkan daya gentar strategis terhadap Amerika Serikat.

“Ini merupakan strategi besar jangka panjang Tiongkok, yaitu memperluas operasi ke samudra lepas dan meningkatkan pengaruh politiknya di dunia internasional. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan dua kekuatan utama, yaitu kekuatan maritim dan kekuatan nuklir. Tujuan lainnya adalah strategi geopolitik, yaitu menembus sepenuhnya Rantai Pulau Pertama, khususnya Taiwan, sehingga Tiongkok memiliki akses yang lebih luas ke Samudra Pasifik,” katanya. 

Sementara itu, pembawa acara kanal militer Mark Space, Mark, mengatakan bahwa banyak analis memperkirakan rudal yang diuji adalah JL-3 (Julang-3), rudal balistik antarbenua terbaru yang diluncurkan dari kapal selam.

Menurutnya, rudal tersebut diperkirakan memiliki jangkauan lebih dari 10.000 kilometer, sehingga kapal selam nuklir Tiongkok tidak lagi harus menembus Rantai Pulau Pertama untuk mengancam wilayah daratan Amerika Serikat.

“Rudal JL-2 sebelumnya memiliki jangkauan kurang dari 8.000 kilometer. Jika ingin mengancam Amerika Serikat, kapal selam strategis PKT harus melewati Rantai Pulau Pertama dan memasuki Pasifik Barat, wilayah yang dikelilingi sekutu-sekutu Amerika, sehingga terasa seperti memasuki daerah operasi musuh,” jelasnya. 

Ia menambahkan bahwa uji peluncuran pertama JL-3 dilakukan pada Desember 2019 dari Laut Bohai menuju lokasi uji di wilayah barat Tiongkok.

“Kali ini rudal benar-benar diluncurkan dari kapal selam menuju Pasifik Selatan. Ini memberikan kesan bahwa PKT sedang menyatakan secara resmi bahwa JL-3 telah memiliki kemampuan operasional tempur sepenuhnya,” katanya. 

Su Tzu-yun juga mengatakan: “Dengan jangkauan sekitar 12.000 kilometer, kapal selam PKT tidak perlu lagi beroperasi jauh di Samudra Pasifik. Dari Laut Kuning, Laut Tiongkok Timur, Selat Taiwan, atau Laut Tiongkok Selatan saja sudah dapat menjangkau Amerika Serikat. Karena jangkauannya lebih jauh dan kapal selam memiliki mobilitas tinggi serta beroperasi dekat pantai Tiongkok, maka akan semakin sulit dilacak atau ditangkal. Inilah tujuan utamanya.”

Para pengamat juga memperhatikan alasan Beijing memilih waktu peluncuran tersebut.

Menurut Mark, pemerintah PKT sengaja mengumumkannya menjelang peringatan Insiden Jembatan Marco Polo (7 Juli), bertepatan dengan dimulainya Latihan Militer RIMPAC, serta setelah Australia dan Fiji menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan.

Namun, menurutnya sasaran utama tetap Amerika Serikat.

Ia mengatakan: “Amerika Serikat akan memulai latihan gabungan RIMPAC bersama 31 negara di Pasifik Barat pada bulan Juli. Skala latihan kali ini belum pernah terjadi sebelumnya dan jelas ditujukan untuk menghadapi Tiongkok. Saya percaya sasaran utama Beijing adalah menunjukkan daya gentarnya kepada Amerika.”

Su Tzu-yun juga menambahkan: “Ada faktor lain yang penting, yaitu KTT NATO yang dijadwalkan berlangsung pada 7 Juli di Turki. Beijing meluncurkan rudal ini sebelum pertemuan tersebut. Menurut saya justru akan menimbulkan dampak balik, karena semakin menguatkan persepsi bahwa Beijing merupakan ancaman. Hal ini bisa membuat Amerika Serikat dan NATO semakin memiliki kesamaan pandangan untuk memperkuat kemampuan pertahanan mereka.”

Dalam beberapa tahun terakhir, PKT terus meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Pasifik.

Sebuah dokumen internal Selandia Baru juga disebut mengungkapkan bahwa aktivitas militer PKT di kawasan Pasifik kini semakin menjadi kegiatan yang rutin.

Su Tzu-yun memperkirakan bahwa setelah uji coba rudal balistik antarbenua berbasis darat pada tahun 2024 dan kini uji coba rudal berbasis kapal selam, PKT kemungkinan akan mengembangkan pesawat pengebom siluman dalam beberapa tahun mendatang sehingga memiliki kemampuan serangan nuklir triad, yaitu melalui darat, laut, dan udara.

“Saat ini PKT sedang meningkatkan seluruh kemampuan kekuatan nuklirnya,” ujarnya. 

Menurut Su, Amerika Serikat dan negara-negara demokrasi di kawasan Indo-Pasifik perlu memperkuat konsep pertahanan kolektif Rantai Pulau Pertama sebagaimana ditekankan dalam strategi keamanan nasional Amerika Serikat.

Ia memperkirakan Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Filipina akan meningkatkan investasi dalam sistem pertahanan rudal untuk memperkuat kemampuan penangkalan, sementara Amerika Serikat kemungkinan akan mempercepat pembangunan sistem pertahanan rudal seperti Golden Dome guna menghadapi meningkatnya ancaman nuklir dari PKT.

Sumber : NTDTV.com

Banjir Melanda Berbagai Wilayah di Tiongkok, Desa-Desa Tenggelam dan Rumah-Rumah Hancur 

EtIndonesia.com Belakangan ini, wilayah selatan dan utara Tiongkok sama-sama dilanda hujan lebat. Di Guangxi, banyak warga melaporkan bahwa sejumlah waduk melepaskan air pada malam hari tanpa peringatan, sehingga banjir datang secara tiba-tiba dan menenggelamkan desa, rumah, serta lahan pertanian. Banyak korban terjebak dan bencana terus meluas.

Sementara itu, di wilayah timur laut Tiongkok seperti Fushun, Provinsi Liaoning, hujan deras dan pelepasan air dari waduk juga menyebabkan banjir besar yang menelan korban jiwa serta mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat.

Seorang warga Nanning, Guangxi, mengatakan : “Bendungan Waduk Liulan jebol. Hampir seluruh desa hilang.”

Akibat pengaruh Topan Maysak serta hujan deras yang terus berlangsung, berbagai daerah di Guangxi mengalami banjir hebat.

Pada 5 Juli malam, Waduk Liulan di Hengzhou, Kota Nanning, melakukan pelepasan air. Bendungan kemudian mengalami kerusakan besar sehingga air bah mengalir deras ke wilayah hilir.

Banyak rumah terendam hingga atapnya. Sejumlah warga terpaksa naik ke atap rumah untuk menyelamatkan diri. Video yang beredar di internet juga memperlihatkan beberapa orang terseret arus deras dan berjuang bertahan hidup. Setelah banjir melewati kota-kota dan desa di hilir, banyak rumah serta kendaraan hancur atau terendam.

Pada 7 Juli pagi, Pusat Hidrologi Guangxi kembali mengeluarkan peringatan merah banjir.

Menurut laporan resmi, sebanyak 55 sungai dan 70 stasiun hidrologi, termasuk Sungai Yujiang dan Qianjiang, telah melampaui batas siaga. Ketinggian air tertinggi mencapai 7,46 meter di atas batas peringatan. Dalam 24 jam berikutnya, sejumlah sungai diperkirakan masih akan mengalami banjir dengan ketinggian 5 hingga 6 meter di atas batas normal.

Beberapa warga Hengzhou mengatakan kepada wartawan New Tang Dynasty Television bahwa sejak 4 Juli daerah mereka dilanda hujan lebat dan angin kencang. Ditambah dengan air laut pasang dan pelepasan air waduk, kondisi tersebut menyebabkan Waduk Liulan jebol.

Menurut mereka, lebih dari 100.000 penduduk di Kota Yunbiao terdampak. Listrik dan air bersih terputus, sementara para korban sangat membutuhkan bantuan.

“Masih sangat banyak orang yang tidak punya makanan karena seluruh jalan telah terendam. Permukaan air terus naik dan situasinya benar-benar sangat darurat. Sepertinya air tidak akan cepat surut karena hujan deras turun lagi,” kata Seorang warga Yunbiao yang menggunakan nama samaran Xiao Li. 

“Permintaan bantuan membanjiri internet. Persediaan bantuan sangat cepat habis. Tempat tidur darurat juga tidak mencukupi. Baru beberapa kotak tempat tidur lipat yang dikirim, setiap kotak hanya berisi empat unit. Jelas tidak cukup untuk semua korban,” lanjutnya. 

Pemerintah setempat melaporkan bahwa hingga 7 Juli, banjir telah menyebabkan sedikitnya 4 orang meninggal dunia, 8 orang hilang, dan 84.000 orang terdampak.

Namun demikian, sejumlah warga mengatakan bahwa kondisi sebenarnya jauh lebih parah. Banyak orang terseret banjir, banyak pula yang masih hilang, dan hingga kini sejumlah desa masih terendam.

Seorang warga Hengzhou bermarga Chen mengatakan: “Hengzhou dikenal sebagai ibukota bunga melati. Setelah bendungan waduk jebol, lahan pertanian dan kebun melati berubah menjadi lautan. Kedalaman air sekitar lebih dari satu meter. Hampir semua kebun melati terendam. Peternakan juga sangat menderita. Babi dan sapi bahkan terlihat berenang di permukaan air.”

Warga lain bermarga Huang mengatakan: “Sekarang banyak daerah mengalami pemadaman listrik. Di Yunbiao air tidak bisa mengalir keluar. Seorang teman saya kehilangan sekitar 5.000 ekor bebek yang hanyut terbawa banjir.”

Selain Waduk Liulan, warga juga mengatakan bahwa Waduk Yunbiao, Waduk Sancha, dan beberapa waduk lainnya mengalami keruntuhan atau longsor pada tanggulnya, sehingga banyak desa maupun kawasan perkotaan terisolasi oleh banjir.

Seorang warga bermarga Yang mengatakan: “Bendungan waduk jebol dan semuanya terendam. Orang-orang tua mengatakan belum pernah melihat banjir sebesar ini. Semua kebun melati tenggelam, jagung saya habis terendam, bahkan mesin cuci saya hanyut. Kehidupan keluarga kami yang memang sederhana kini menjadi semakin sulit.”

Pada 6 Juli, seorang narasumber di Nanning mengatakan bahwa longsornya tanggul Waduk Sancha di bagian hulu Desa Liuxiang, Kecamatan Shitang, Hengzhou, menyebabkan seluruh desa di hilir terendam.

Daerah tersebut mengalami pemadaman air dan listrik. Hujan masih terus turun, permukaan air terus naik, sementara banyak korban masih terjebak dan bantuan maupun logistik belum tiba.

Di Kecamatan Taiping, Kabupaten Lingshan, Kota Qinzhou, banjir besar juga terjadi sejak 5 Juli.

Sebagian ruas jalan Qinling menuju Jiulong dilaporkan ambruk sehingga beberapa mobil terjatuh. Seorang pemilik kendaraan dilaporkan meninggal karena tenggelam.

Seorang warga Dongxing, Kota Fangchenggang, mengatakan bahwa banjir menjadi semakin parah karena persiapan pengendalian banjir dinilai kurang memadai, ditambah pelepasan air dari waduk dan pembangkit listrik tenaga air di wilayah hulu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Seorang warga Fangchenggang bermarga Huang mengatakan: “Banyak tempat terendam dengan kedalaman lebih dari tiga meter. Air dan listrik padam. Seluruh lantai pertama bangunan terendam. Toko-toko semuanya kebanjiran. Mobil-mobil terendam sampai tidak terlihat atapnya lagi. Semuanya rusak dan kerugiannya sangat besar.”

Bencana tidak hanya terjadi di Guangxi.

Pada 6–7 Juli, Shandong, Henan, Anhui, Jiangsu, dan Hubei juga dilanda badai petir dengan angin berkekuatan di atas skala 10 disertai hujan deras.

Di Huangshi, Huanggang, Ezhou, dan Xianning di Provinsi Hubei terjadi banjir perkotaan yang parah dan banyak pohon tumbang.

Menurut laporan resmi hingga pukul 23.00 pada 6 Juli malam, bencana tersebut menyebabkan 8 orang meninggal dunia dan 1 orang hilang.

Wilayah yang paling parah adalah Distrik Huangzhou di Kota Huanggang, dengan 4 korban meninggal dan lebih dari 170 orang dirawat di rumah sakit akibat luka-luka.

Hingga kini, wilayah timur laut Hubei masih berada dalam status peringatan oranye untuk potensi banjir bandang.

Di wilayah utara Tiongkok, hujan deras juga menyebabkan kerusakan besar.

Sejak 4 Juli, Kementerian Sumber Daya Air Tiongkok mengaktifkan tanggap darurat banjir Level IV untuk Provinsi Liaoning dan Jilin.

Akibat hujan yang berlangsung selama beberapa hari, banyak jalan di Fushun, Liaoning, berubah menjadi sungai. Lahan pertanian dan rumah-rumah mengalami kerusakan berat, dan sedikitnya tiga orang dilaporkan meninggal dunia.

Pada 7 Juli pagi, hujan deras juga memicu tanah longsor di Desa Rencang, Kecamatan Nanhe, Kabupaten Dangchang, Provinsi Gansu.

Sebanyak 33 warga tertimbun material longsor. Menurut laporan resmi, hingga pukul 12.30 siang, 18 orang telah berhasil dievakuasi.

Sumber : NTDTV.com

Sejumlah Sekolah di Guigang, Guangxi, Tiongkok Terendam Banjir, Ribuan Siswa Terjebak 

Baru-baru ini, berbagai wilayah di Daerah Otonomi Guangxi dilanda hujan deras. Kota Guigang mengalami banjir perkotaan yang parah, mengakibatkan sejumlah sekolah terendam dan ribuan siswa terjebak. Pasokan listrik dan air terputus, sementara komunikasi dengan dunia luar juga terganggu sehingga para siswa kesulitan meminta bantuan.

EtIndonesia.com Laporan media Tiongkok menyebutkan, pada 7 Juli pagi, asrama Guangxi Logistics Vocational and Technical College terendam banjir dan permukaan air terus meningkat.

Saat ini, lantai pertama gedung asrama telah sepenuhnya terendam, sehingga lebih dari seribu mahasiswa terjebak di dalam asrama.

Seorang mahasiswa mengatakan bahwa pada 6 Juli, air masih setinggi mata kaki. Namun pada 7 Juli pagi, lantai pertama gedung asrama telah sepenuhnya terendam sehingga para penghuni lantai satu harus dipindahkan ke lantai yang lebih tinggi.

(Tangkapan layar dari internet)


Ia juga mengatakan bahwa seluruh kampus kini mengalami pemadaman listrik dan terputusnya pasokan air bersih. Para mahasiswa kekurangan air minum dan makanan. Karena telepon seluler tidak dapat diisi ulang akibat tidak adanya listrik, mereka juga kesulitan menghubungi dunia luar.

Informasi yang beredar di internet menunjukkan bahwa seluruh kompleks asrama dikelilingi banjir. Lantai pertama sepenuhnya berada di bawah air, sementara para mahasiswa berdiri di koridor luar gedung menunggu bantuan.

(Tangkapan layar dari internet)

Pada 7 Juli, SMA Negeri Guigang No. 8 mengeluarkan permintaan bantuan darurat. Sekolah tersebut menyatakan bahwa banjir telah menggenangi area kampus dengan parah, sehingga sekitar 3.500 siswa terjebak di dalam sekolah.

Menurut pihak sekolah, jalan menuju luar kampus memiliki genangan air dengan kedalaman hingga 2 meter. Selama dua hari terakhir sekolah mengalami pemadaman air, listrik, dan jaringan komunikasi, sehingga bantuan logistik dari luar tidak dapat masuk.

Sekolah menyatakan sangat membutuhkan air minum, makanan, dan kebutuhan pokok, serta berharap ada bantuan menggunakan perahu untuk mengevakuasi para siswa.

(Tangkapan layar dari internet)

Seorang pengguna internet menulis bahwa meskipun gelombang pertama bantuan telah tiba, masih ada laporan bahwa lebih dari 20 siswa hanya menerima beberapa buah mantou (roti kukus) untuk dibagi bersama.

Saat ini, kebutuhan yang paling mendesak adalah roti, air mineral, tisu, dan perlengkapan kebersihan. Warga juga berharap tim penyelamat yang memiliki drone atau perahu karet dapat membantu mengirimkan bantuan ke lokasi.

Selain itu, beredar informasi bahwa Guigang Senior High School, Dakai Senior High School, Dajiang Senior High School, dan beberapa sekolah menengah atas lainnya juga mengalami banjir yang cukup dalam sehingga guru dan siswa masih terjebak di dalam kampus.

Dalam beberapa hari terakhir, akibat pengaruh topan, berbagai wilayah di Guangxi diguyur hujan sangat lebat. Beberapa waduk di daerah tersebut juga melakukan pelepasan air secara bersamaan.

Salah satunya adalah Waduk Liulan di Hengzhou, yang dilaporkan mengalami jebolnya bendungan. Air bah menenggelamkan wilayah-wilayah di bagian hilir, menghanyutkan banyak orang, dan menyebabkan kerusakan parah di sejumlah kota kecil dan desa.

Warga setempat mengatakan bahwa saat ini tidak tersedia tempat penampungan yang memadai bagi para korban banjir. Banyak daerah mengalami kekurangan air bersih dan makanan. Laporan juga menyebutkan adanya korban meninggal dunia dan orang hilang.

Namun, artikel tersebut menyatakan bahwa karena informasi mengenai korban dan kondisi bencana di wilayah tersebut dibatasi oleh pihak berwenang, kondisi sebenarnya di lapangan masih sulit diketahui secara pasti.

Sumber : NTDTV.com 

Sejumlah Waduk di Guangxi, Tiongkok Jebol, Banjir Menenggelamkan Banyak Kota dan Desa di Hengzhou

Guangxi baru-baru ini dilanda hujan lebat yang sangat ekstrem. Pada 6 Juli, empat waduk di Kota Hengzhou, Nanning, dilaporkan jebol secara beruntun, menyebabkan air bah mengalir deras dan menenggelamkan banyak kota kecil serta desa di wilayah hilir. Sejumlah orang dilaporkan hanyut bersama rumah mereka. Banyak warga terjebak selama lebih dari satu hari tanpa makanan maupun tempat berlindung.

Selain itu, Kota Qinzhou dan Kota Guigang juga telah mengalami banjir perkotaan selama dua hari. Banyak warga dilaporkan kelaparan dan belum menerima bantuan penyelamatan.

Akibat pengaruh Topan Maysak, sejak 4 Juli hujan deras terus mengguyur berbagai wilayah Guangxi.

EtIndonesia.com Pada 6 Juli 2026, Waduk Yunbiao, Sancha, dan Chayuan di Hengzhou dilaporkan jebol secara berturut-turut. Air bah dengan cepat menenggelamkan kota-kota dan desa-desa di bagian hilir, termasuk Xiaoyi, Yunbiao, Zhenlong, dan Lingzhu. Banyak rumah hancur, sementara sejumlah warga dilaporkan terseret arus banjir.

Video yang beredar di internet memperlihatkan orang-orang dan kendaraan terapung di tengah banjir dalam kondisi yang sangat berbahaya. Sebagian warga terpaksa naik ke atap rumah untuk menyelamatkan diri, dengan tubuh mereka basah kuyup.

Menurut informasi yang beredar, Waduk Liulan telah lama mengalami kerusakan dan disewakan kepada perusahaan swasta untuk budidaya ikan. Karena khawatir ikan-ikan akan lepas, air waduk disebut tidak dikurangi sebelum topan datang untuk menyediakan kapasitas tampung tambahan. Setelah permukaan air mencapai batas maksimum, air baru dilepaskan, namun bendungan akhirnya jebol dan membahayakan desa-desa di bagian hilir.

Seorang warga Kota Yunbiao mengatakan bahwa air telah mencapai ketinggian lantai dua bangunan. Ribuan warga mengungsi ke perbukitan untuk menghindari banjir, tetapi bantuan pemerintah belum juga datang sehingga mereka menghadapi kekurangan makanan dan tempat berlindung.

“Masih sangat banyak orang yang belum punya makanan. Seluruh jalan di kota sudah terendam. Permintaan bantuan membanjiri internet. Di seluruh Kota Yunbiao ada sekitar 60.000 hingga 70.000 penduduk, dan semuanya tidak mungkin diselamatkan sekaligus. Ada ribuan orang yang sekarang berlindung di gunung. Kalau ada tempat untuk tidur saja sudah dianggap sangat beruntung. Persediaan bantuan sangat kurang. Air juga belum surut, malah hujan deras turun lagi. Situasinya benar-benar sangat darurat,” ujar seorang warga Yunbiao yang menggunakan nama samaran Xiao Li. 

Hengzhou memiliki lahan budidaya melati seluas 180.000 hingga 200.000 mu dan dikenal sebagai “Kampung Melati Tiongkok”.

Warga setempat mengatakan bahwa di beberapa bagian kota, banjir mencapai setinggi satu lantai bangunan sehingga hampir seluruh kebun melati mengalami kerusakan.

“Bendungan waduk jebol dan semuanya terendam. Orang-orang tua mengatakan mereka belum pernah melihat banjir sebesar ini seumur hidup mereka. Kerugiannya sangat besar. Semua kebun melati terendam. Jagung saya juga habis terendam. Mesin cuci saya hanyut terbawa banjir. Keluarga kami yang memang tidak berkecukupan kini semakin menderita,” ujar seorang warga Hengzhou bermarga Yang. 

Sementara itu, Qinzhou dan Guigang mengalami banjir perkotaan berskala luas selama dua hari berturut-turut. Banyak toko dan kendaraan terendam, sementara banyak warga tidak memiliki makanan dan belum mendapatkan bantuan.

“Seluruh Qinzhou sudah kebanjiran dan hujan masih terus turun. Air laut juga masuk ke daratan, sementara waduk juga melepaskan air. Kami berada di wilayah hilir. Permukaan sungai sudah sama tinggi dengan tanggul sehingga air tidak bisa mengalir keluar. Tidak ada tim penyelamat yang datang. Kolam ikan, ikan, dan udang semuanya hanyut. Sekarang kami bertahan di lantai tiga. Lantai satu sudah terendam. Air bersih dan listrik terputus. Pemerintah tidak peduli. Saluran pengaduan pemerintah juga tidak bisa dihubungi,” ujar seorang warga Desa di Qinzhou bermarga Huang. 

Seorang warga Guigang bermarga Yan mengatakan: “Air di Guigang belum surut. Kompleks perumahan kami tidak memiliki listrik maupun air bersih. Telepon seluler juga tidak bisa digunakan karena tidak ada sinyal. Sejak kemarin sampai sekarang kami belum makan. Mie instan di supermarket pun sudah habis karena semuanya diperebutkan.”

Laporan oleh Xiong Bin dan Gao Yu, New Tang Dynasty Television.

Patuhi Perpres 27/2026, inDrive Resmi Potong Komisi Ojol Maksimal 8 Persen

JAKARTA, 6 Juli 2026 — Platform layanan mobilitas global inDrive resmi menerapkan komisi sebesar 8 persen untuk layanan transportasi roda dua di Indonesia. Kebijakan ini mulai diberlakukan setelah diterbitkannya Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP-PHB 532 Tahun 2026 sebagai bagian dari penyesuaian terhadap regulasi terbaru di sektor transportasi online.

Langkah ini menegaskan komitmen inDrive yang telah beroperasi di Indonesia sejak 2019 dan kini hadir di lebih dari 70 kota untuk mematuhi kebijakan pemerintah sekaligus meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi.

Latar Belakang Regulasi

Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto pada 1 Mei 2026. Melalui aturan tersebut, pembagian pendapatan berubah menjadi minimal 92 persen untuk pengemudi dan maksimal 8 persen bagi aplikator.

Sebelumnya, inDrive telah menerapkan kebijakan komisi yang relatif kompetitif dengan batas maksimal hingga 12 persen. Kini, perusahaan menurunkan komisi menjadi 8 persen sesuai amanat regulasi.

Komitmen terhadap Ekosistem yang Berkelanjutan

Rio Aristo, Country Manager inDrive Indonesia, menyatakan bahwa perusahaan mendukung penerapan kebijakan komisi yang progresif dengan tetap mempertimbangkan kondisi pasar secara menyeluruh.

“Untuk memastikan keberlanjutan ekosistem industri transportasi online, kami mendukung penerapan kebijakan komisi yang progresif dengan tetap mempertimbangkan kondisi pasar secara menyeluruh. Struktur tarif pada platform digital perlu dibangun berdasarkan keseimbangan antara kepentingan pengguna, mitra pengemudi, dan platform agar dapat terus berkelanjutan,” ujar Rio.

inDrive menegaskan akan terus mematuhi seluruh regulasi yang diterbitkan Pemerintah Republik Indonesia dan siap berkolaborasi dengan pemerintah serta para pemangku kepentingan untuk mendukung implementasi Perpres Nomor 27 Tahun 2026 secara efektif, adil, dan berkelanjutan.

Dukungan terhadap Kebijakan Strategis Pemerintah

Selain menyesuaikan komisi, inDrive juga mendorong terciptanya sistem transportasi online yang lebih inklusif dan berkeadilan. Perusahaan menilai diperlukan struktur tarif yang mampu memberikan keseimbangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam ekosistem digital.

inDrive juga mendorong dukungan pemerintah melalui berbagai kebijakan strategis, seperti subsidi bahan bakar hingga skema insentif lainnya yang dinilai dapat membantu menjaga keseimbangan antara kepentingan perusahaan, pengemudi, dan pengguna layanan.

“Kami meyakini bahwa perlindungan terhadap mitra pengemudi dan keberlanjutan ekosistem digital harus berjalan beriringan. inDrive siap mendukung dialog yang terbuka dan konstruktif bersama pemerintah guna memastikan implementasi kebijakan dapat memberikan manfaat nyata bagi mitra pengemudi, penumpang, serta keberlangsungan industri transportasi online di Indonesia dalam jangka panjang,” tutup Rio.

Harapan ke Depan

Seiring diterbitkannya Perpres Nomor 27 Tahun 2026, inDrive berharap implementasi regulasi dapat dilakukan secara bertahap, transparan, dan melalui dialog bersama seluruh pemangku kepentingan. Perusahaan meyakini bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, mitra pengemudi, dan masyarakat luas akan menjadi kunci dalam membangun ekosistem transportasi online yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Rekaman Udara yang Menggemparkan Saat Tornado Menerjang Hubei, Tiongkok : Kawasan Permukiman Tampak Seperti Medan Perang

Wilayah Huanggang dan beberapa daerah lain di Provinsi Hubei, Tiongkok dilanda tornado langka pada 6 Juli malam. Angin kencang menerjang jalan-jalan utama dan sekunder di pusat kota Huanggang, kawasan permukiman, serta kawasan industri. Sejumlah pejalan kaki dilaporkan tersapu angin, sementara beberapa penghuni apartemen bertingkat disebut tersedot keluar dari bangunan. Bencana tersebut dilaporkan menyebabkan sedikitnya 11 orang meninggal dunia.

Rekaman udara terbaru memperlihatkan kerusakan yang sangat parah, dengan pemandangan yang disebut menyerupai medan perang.

EtIndonesia.com Pada 6 Juli 2026 malam, berbagai wilayah di bagian timur Hubei dilanda cuaca konvektif ekstrem. Kota Huangshi, Huanggang, Ezhou, dan Xianning mengalami badai petir disertai angin kencang.

Menurut laporan, 53 kota kecil dan kecamatan mencatat kekuatan angin antara skala 8 hingga 13, dengan dua wilayah mencapai skala 13.

Di pusat Kota Huanggang, terjadi tornado berkekuatan EF2, yang disebut sebagai peristiwa yang sangat langka dalam sejarah setempat. Kecepatan angin maksimum dilaporkan melebihi skala 15, sehingga suasana digambarkan seperti “kiamat”.

Selain itu, Distrik Echeng di Kota Ezhou juga diterjang tornado dengan kekuatan skala 13, dengan kecepatan angin sesaat mencapai 40,4 meter per detik.

Pada 7 Juli, rekaman udara dari sejumlah wilayah terdampak di Huanggang menunjukkan kerusakan yang meluas di kawasan permukiman maupun kawasan industri.

Atap-atap rumah dan bangunan pabrik beterbangan dalam area yang sangat luas, memperlihatkan rangka baja dan struktur bangunan yang hancur. Banyak jendela hilang sehingga hanya menyisakan lubang-lubang gelap. Di permukaan tanah berserakan puing-puing bangunan, menciptakan pemandangan yang digambarkan seperti wilayah yang baru saja mengalami pemboman hebat.

Menurut media pemerintah Tiongkok, rekaman udara tersebut diambil di sekitar Jalan Baota, Distrik Huangzhou, Kota Huanggang.

Salah satu perusahaan logistik dan proyek pergudangan di kawasan itu mengalami kerusakan sangat berat. Atap bangunan terangkat dan hancur diterjang angin, sementara beberapa truk dilaporkan terlempar hingga sekitar 30 meter dari posisi semula.

Seorang pengguna platform X menggambarkan kondisi lokasi dengan mengatakan: “Seperti Kyiv setelah empat tahun perang, atau Gaza yang dibombardir selama berbulan-bulan.”

Rekaman kamera pengawas lainnya memperlihatkan bahwa ketika tornado menerjang, ruang penerimaan laporan darurat di kantor kepolisian setempat langsung hancur.

Meja dan kursi terlempar ke segala arah, pecahan material beterbangan, dan sebagian atap bangunan ambruk. Dua orang pria terlihat berlari dalam kepanikan untuk menghindari reruntuhan.

Sejumlah video lain juga menunjukkan suasana di luar sebuah restoran saat warga sedang makan.

Angin tornado menyapu seluruh jalan, menyebabkan tiang listrik miring, percikan api muncul dari kabel listrik, sebuah mobil terangkat oleh angin, kaca-kaca pertokoan pecah, dan para pelanggan berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.

Sumber : NTDTV.com

Pencemaran Pabrik Baterai Tiongkok Melebihi Ambang Batas hingga 13.000 Kali, Hungaria Perintahkan Penghentian Produksi

FOTO : Baru-baru ini, Semcorp Group, produsen baterai lithium terkemuka asal Tiongkok, diperintahkan untuk menangguhkan produksi di pabriknya di Debrecen, Hungaria, karena masalah pencemaran lingkungan. Foto tersebut menunjukkan warga setempat melakukan protes di dekat pabrik pada 1 Februari 2025. (Attila KISBENEDEK / AFP)

Baru-baru ini, pabrik Semcorp Group di Debrecen, Hungaria, diperintahkan oleh otoritas lingkungan setempat untuk menghentikan operasi akibat dugaan pencemaran lingkungan yang serius. Laporan menunjukkan bahwa kadar aluminium dalam air tanah di sekitar pabrik tersebut melebihi batas standar hingga lebih dari 13.000 kali

EtIndonesia.com Menurut laporan berbagai media internasional, pada 24 Juni 2026, otoritas pengawas lingkungan setempat mengeluarkan perintah penghentian produksi terhadap pabrik tersebut. Alasan utamanya adalah pencemaran serius terhadap air tanah dan lingkungan sekitar.

Pada Februari lalu, terjadi insiden kebocoran bahan kimia di dekat pabrik Semcorp di Debrecen. Saat itu, perusahaan menyatakan bahwa cairan yang bocor hanyalah air kondensasi yang tidak mengandung zat berbahaya.

Namun, hasil pemeriksaan lanjutan terhadap air tanah yang dilakukan pemerintah menunjukkan bahwa kadar aluminium di air tanah kawasan pabrik melebihi standar hingga lebih dari 13.000 kali lipat.

Menanggapi pencemaran lingkungan yang serius tersebut, Pemerintah Kota Debrecen menyatakan tidak dapat lagi mentoleransi pelanggaran lingkungan yang dilakukan pabrik itu. Pemerintah kota mendukung penuh keputusan penghentian produksi oleh otoritas lingkungan, telah mengajukan tuntutan pidana terhadap pabrik tersebut, dan bahkan tidak menutup kemungkinan akan menutupnya secara permanen di masa mendatang.

Anggota parlemen Debrecen dari Partai Tisza, Tárkányi, menulis di Facebook bahwa pabrik Semcorp di Debrecen akan ditutup dalam jangka waktu yang “panjang”.

Sementara itu, perusahaan baterai besar asal Tiongkok lainnya, CATL (Contemporary Amperex Technology Co., Limited), juga terlibat dalam kontroversi lingkungan di Hungaria.

Pada 5 Mei lalu, pabrik CATL di Debrecen diketahui membuang limbah cair berwarna hijau ke sistem saluran pembuangan kota, alih-alih menyerahkannya kepada lembaga pengolah limbah profesional sesuai ketentuan. Kasus tersebut mendapat perhatian luas setelah terungkap.

CATL menjelaskan bahwa selama pengujian tangki penyimpanan terjadi penyumbatan pada saluran pipa sehingga cairan yang mengandung pewarna hijau meluap. Perusahaan menegaskan bahwa zat tersebut tidak beracun dan menyatakan akan bekerja sama dalam penyelidikan. Meskipun CATL telah menyelesaikan perbaikan dalam batas waktu yang ditentukan, perusahaan tetap dikenai denda atas pelanggaran tersebut.

Pada 5 Juni, Pemerintah Kabupaten Hajdú-Bihar di Hungaria memulai proses hukum terhadap CATL.

Saat ini, otoritas pengelola air dan perlindungan lingkungan Hungaria telah mencabut izin CATL untuk melakukan pra-pengolahan limbah industri serta memerintahkan perusahaan membersihkan sistem saluran pembuangan dan limbah yang terdampak.

Sejak tahun 2021, pemerintahan Perdana Menteri Hungaria saat itu, Viktor Orbán, secara aktif mendorong pengembangan industri baterai kendaraan listrik. Sejumlah perusahaan baterai besar asal Tiongkok kemudian mendirikan pabrik di Hungaria, sehingga negara tersebut menjadi salah satu pintu masuk utama industri energi baru Tiongkok ke pasar Eropa.

Namun, setelah pemilu pada April tahun ini yang dimenangkan oleh Partai Tisza, pemerintahan baru menyatakan akan memperketat peninjauan terhadap proyek-proyek investasi asal Tiongkok, termasuk mengevaluasi dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat setempat.

Disusun berdasarkan laporan berbagai media oleh Luo Tingting / Editor: Wen Hui, New Tang Dynasty Television

Dua Perwira Angkatan Laut PKT Tewas dalam Kecelakaan Helikopter, Sumber Ungkap Lebih Banyak Rincian

EtIndonesia.com Baru-baru ini, Kolonel Fang Ming dari Angkatan Laut Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan Letnan Shi Shaoyong dilaporkan meninggal dunia saat menjalankan tugas latihan penerbangan. Hingga kini, pihak partai komunis Tiongkok (PKT)  belum mengungkap rincian insiden tersebut, sehingga memicu berbagai spekulasi. Sejumlah sumber menyebut keduanya tewas akibat kecelakaan helikopter.

Menurut laporan Qilu Net pada 6 Juli, abu jenazah Shi Shaoyong baru-baru ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Yishui, Provinsi Shandong. Dalam upacara pemakaman, pemerintah secara resmi menganugerahinya gelar “martir”.

Shi Shaoyong berasal dari Kabupaten Yishui, Provinsi Shandong. Ia lahir pada Maret 2001, bergabung dengan militer pada September 2019, berpangkat letnan Angkatan Laut, dan merupakan pilot Angkatan Laut tingkat empat.

Berdasarkan prasasti yang didirikan Pemerintah Kabupaten Yishui, Shi meninggal dunia pada 10 Juni 2026 saat mengikuti latihan penerbangan malam. Ia meninggal dunia pada usia 25 tahun. Sebelum meninggal, ia bertugas di Unit 91911, Subunit ke-16, sebagai komandan taktis.

Sementara itu, upacara pemakaman Fang Ming, 38 tahun, yang menjabat sebagai komandan taktis di satuan penerbangan Angkatan Laut Komando Teater Selatan, telah dilaksanakan pada 3 Juli di Kabupaten Lujiang, Kota Hefei, Provinsi Anhui.

Fang Ming lahir pada Februari 1988 di Kota Lucheng, Kabupaten Lujiang, dan bergabung dengan militer pada September 2006. Ia berpangkat kolonel Angkatan Laut.

Ia juga meninggal pada 10 Juni saat menjalankan latihan penerbangan, dan pemerintah juga menganugerahinya status “martir”.

Hingga kini, otoritas PKT belum mengungkap penyebab pasti kematian kedua perwira tersebut maupun rincian insiden yang menyebabkan mereka gugur. Pemerintah juga belum mengumumkan adanya kecelakaan pesawat militer dalam periode tersebut.

Namun, beredar luas di internet bahwa keduanya berada di pesawat yang sama saat kecelakaan terjadi. Rumor juga menyebutkan bahwa ada seorang personel militer lainnya yang turut meninggal dunia.

Seorang yang mengaku mengetahui kejadian itu menulis di media sosial:

“Untuk mengenang pilot Fang Ming. Pada 10 Juni, kebetulan saya datang ke satuan untuk mengurus sesuatu. Begitu memasuki kompleks, suasananya sangat sunyi dan menyesakkan. Semua orang diam. Saya merasa ada yang tidak beres dan segera menelepon untuk mencari tahu. Baru kemudian saya mengetahui bahwa telah terjadi kecelakaan saat latihan penerbangan. Saat itu kami hanya tahu situasinya sangat serius dan belum ada kepastian apapun. Karena aturan kerahasiaan, rasa cemas dan sedih itu hanya bisa saya pendam sendiri selama lebih dari setengah bulan.”

Sumber lain mengungkapkan bahwa pada 10 Juni, satuan penerbangan Angkatan Laut Komando Teater Selatan sedang melaksanakan latihan penerbangan siang hari. Tak lama setelah lepas landas, sebuah pesawat mengalami kerusakan mesin yang sangat serius, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh dengan cepat hingga akhirnya hancur. Dua orang dilaporkan tewas dalam kecelakaan tersebut.

Ketika ada yang bertanya apakah pesawat itu helikopter atau pesawat tempur, seorang warganet menjawab:

“Helikopter anti-kapal selam Z-9 yang biasa ditempatkan di kapal perusak.”

Menurut berbagai informasi yang beredar, terdapat tiga orang di dalam helikopter tersebut.

Seorang warganet menulis: “Pilot di satuan tempat anak saya bertugas biasanya berjumlah tiga orang dalam satu pesawat.”

Warganet lain menambahkan: “Yang tertua berusia 38 tahun, yang satu lagi baru berusia 25 tahun dan baru saja bertunangan. Dua orang lainnya (kemudian salah satunya diumumkan sebagai Shi Shaoyong) sebelumnya tidak diumumkan.”

Halaman Facebook bertema militer “World Special Forces and Military Database” pada 5 Juli menyatakan bahwa karena saat ini Tiongkok tidak sedang berperang, besar kemungkinan kedua perwira tersebut meninggal saat menjalankan latihan militer. Dengan kata lain, diduga telah terjadi kecelakaan pesawat militer yang tidak diumumkan kepada publik.

Sebagai komandan taktis pesawat khusus Angkatan Laut, Fang Ming kemungkinan bertugas di pesawat yang memiliki awak cukup banyak. Jika benar terjadi kecelakaan, maka kemungkinan besar bukan hanya Fang Ming yang menjadi korban, tetapi juga anggota awak lainnya, sekaligus menyebabkan hilangnya sebuah pesawat militer khusus yang bernilai sangat tinggi.

Selama ini militer PKT terus mempertahankan pola ekspansi dengan intensitas tinggi serta menutupi berbagai insiden, maka kerugian tersembunyi berupa hilangnya personel berpengalaman dan peralatan bernilai tinggi diperkirakan akan semakin sering terjadi tanpa diketahui publik.

Perlu dicatat bahwa media pemerintah Tiongkok sebelumnya melaporkan pada 22 Juni bahwa kelompok tempur kapal induk Liaoning telah kembali ke pelabuhan setelah menyelesaikan lebih dari 40 hari latihan tempur di laut lepas. Selama latihan tersebut, armada Liaoning melakukan latihan gabungan dengan kelompok kapal serbu amfibi yang mengoperasikan helikopter Z-9 dan Z-20.

Menurut laporan tersebut, latihan gabungan berlangsung di suatu wilayah Samudra Pasifik Barat, melibatkan kapal induk Liaoning bersama armada kapal serbu amfibi yang mengoperasikan helikopter Z-9 dan Z-20.

Disusun berdasarkan laporan Tang Zixuan, New Tang Dynasty Television. Editor: Li Quan.

Saksi Mata Tornado di Hubei, Tiongkok, Ceritakan Pengalaman Selamat dari Maut : “Mengerikan, Sulit Dibayangkan” 

EtIndonesia.com. Kota Huanggang, Provinsi Hubei, Tiongkok dilanda tornado berkekuatan EF2 yang disebut sebagai salah satu yang paling langka dalam sejarah pada 6 Juli malam. Universitas Normal Huanggang, yang berada tepat di jalur utama tornado, mengalami kerusakan parah. Atap stadion kampus terangkat oleh angin, sementara puluhan mahasiswa dan dosen mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Sejumlah penyintas menceritakan kepada media tentang detik-detik yang mereka alami, yang mereka gambarkan sebagai “mengerikan hingga sulit dibayangkan.” Dalam salah satu kisah paling tragis, seorang pria menyaksikan langsung kedua orang tuanya tersapu tornado hingga ratusan meter ke udara sebelum akhirnya tewas.

Menurut laporan resmi pemerintah Tiongkok, hingga pukul 12.00 siang pada 7 Juli, sebanyak 45 mahasiswa telah mendapatkan perawatan di rumah sakit, dengan 17 orang masih dirawat. Selain itu, 7 staf dan dosen juga menjalani pemeriksaan medis, dan 4 orang masih menjalani observasi. 

Pemerintah menyatakan bahwa seluruh korban luka tidak berada dalam kondisi yang mengancam jiwa. Namun, artikel ini menyebut bahwa data resmi pemerintah sering dipertanyakan sehingga kondisi sebenarnya belum dapat dipastikan.

Tornado tersebut menumbangkan lebih dari 2.000 pohon di dalam kampus. Gedung administrasi, ruang kuliah, perpustakaan, gedung olahraga, serta berbagai fasilitas umum mengalami kerusakan besar pada jendela, dinding luar, plafon, peralatan pembelajaran, dan infrastruktur. Kampus dipenuhi puing-puing.

Pada malam kejadian, pihak universitas mengumumkan bahwa mahasiswa yang belum lulus diperbolehkan pulang lebih awal, sementara ujian akhir semester ditunda hingga awal semester berikutnya.

Universitas Normal Huanggang, yang terletak di pusat tornado, mengalami kerusakan parah dan hancur lebur. (Gambar dari internet)

Dosen: “Saya sampai berlutut karena ketakutan”

Pada 7 Juli, beberapa dosen Universitas Normal Huanggang menceritakan pengalaman mereka kepada media Hongxing News.

Sekitar pukul 20.00 malam sebelumnya, dua dosen Fakultas Sastra, Zhou Meihua dan Zhou Minhua, sedang lembur di lantai 10 gedung administrasi kawasan selatan kampus ketika tornado tiba-tiba menerjang.

Listrik gedung padam. Rangka besi tempat unit pendingin udara dipasang tercabut oleh angin. Gedung mulai berguncang disertai suara kaca pecah di mana-mana.

“Saya sampai tanpa sadar berlutut karena sangat ketakutan,” kata Zhou Meihua.

Ia menambahkan:”Kami pernah mengalami topan sebelumnya. Tetapi angin tadi malam berputar. Saat itu kami langsung tahu bahwa ini bukan topan. Itu pertama kalinya kami melihat pemandangan seburuk itu. Mengerikan sampai tidak bisa dibayangkan.”

“Saya pikir hari itu adalah akhir hidup saya”

Saat listrik padam, dosen lain, Hu Xiaoxing, sedang hendak meninggalkan kampus utara dengan mobilnya.

Ketika hampir mencapai gerbang kampus, pagar-pagar besi roboh menghantam mobilnya. Pohon-pohon beterbangan ke arahnya, dan ia merasa mobilnya hampir terangkat oleh angin.

“Semuanya terjadi dalam sekejap,” katanya.

“Saat itu saya berpikir, ‘Hari ini saya tamat.'”

Kaca jendela sisi pengemudi dan penumpang pecah seluruhnya. Baru beberapa menit kemudian angin mulai melemah sehingga ia berani keluar dari mobil.

“Saya benar-benar merasa seperti baru lolos dari kematian.”

Mahasiswa: Plafon runtuh, kaca beterbangan

Seorang mahasiswa yang menggunakan nama samaran Liu Ya mengatakan bahwa sekitar pukul delapan malam ia sedang belajar di asrama ketika hujan deras dan angin kencang datang secara tiba-tiba.

Semakin lama angin bertambah kuat dan berbagai benda beterbangan di udara.

Beberapa detik kemudian listrik asrama padam. Tidak lama setelah itu, plafon lorong runtuh. Banyak jendela kamar asrama tercabut, sementara pecahan kaca beterbangan ke mana-mana hingga melukai sejumlah mahasiswa yang tidak sempat menghindar.

Menyaksikan kedua orang tuanya diterbangkan tornado

Tidak semua orang seberuntung para penyintas.

Seorang pengelola kawasan logistik di dekat rumah Li You, bermarga Wu, mengatakan kepada China News Weekly bahwa saat tornado datang, ia sedang mengantar seseorang di pintu masuk kawasan logistik.

Di hadapannya sendiri, kedua orang tuanya yang sedang duduk di halaman rumah diterbangkan tornado hingga ratusan meter ke udara sebelum akhirnya jatuh.

Sekitar pukul 02.00 dini hari pada 7 Juli, jenazah ayahnya berhasil ditemukan. Jenazah ibunya baru ditemukan sekitar pukul 12.00 siang.

Seorang pria tersedot keluar dari apartemen di lantai 12

Seorang warga Huanggang bermarga Wang mengatakan kepada media daratan bahwa adik iparnya tersedot keluar dari apartemennya di lantai 12 akibat angin tornado dan jatuh ke area taman di kompleks perumahan.

Korban kini masih dirawat di unit perawatan intensif (ICU).

Wang mengatakan: “Seluruh gedung, dari lantai atas sampai bawah, semua jendela yang menghadap utara dan selatan hilang. Kaca dan kusennya lenyap semua. Lemari, sofa, meja tamu, meja makan, kursi—semuanya hilang dalam sekejap. Rasanya seluruh isi gedung dikosongkan.”

Menurut Wang, Rumah Sakit Pusat Huanggang kini sudah penuh. Sebagian besar korban dirawat di bagian ortopedi dan ICU.

Atap rumah terbang, loteng runtuh

Seorang warga Kota Jinniu, Kota Huangshi, bermarga Chen, juga menceritakan pengalamannya.

Saat tornado datang, ia sedang mandi di kamar mandi belakang rumah. Mendengar suara ledakan keras, ia bahkan tidak sempat mengenakan pakaian dan langsung berlari ke bagian depan rumah untuk menyelamatkan diri.

Angin menerbangkan seluruh atap rumahnya, sementara loteng ambruk hingga lenyap. Rumah mengalami kebocoran parah dan tidak lagi layak dihuni.

Rumah-rumah di sekitar juga mengalami kerusakan serupa. Panel surya dan berbagai peralatan rumah tangga tersapu angin.

Beruntung, seluruh anggota keluarganya selamat dan hanya mengalami luka ringan.

Hingga saat ini, pemerintah Provinsi Hubei menyatakan bahwa tornado tersebut telah menyebabkan 11 orang meninggal dunia dan 1 orang masih hilang. Artikel ini menyebutkan bahwa jumlah korban sebenarnya mungkin lebih tinggi daripada angka resmi.

Beredar informasi di media sosial yang menyebut bahwa dalam satu keluarga beranggotakan empat orang, tiga orang tersapu keluar dari rumah oleh tornado. Selain itu, ada juga korban tewas akibat tertimpa benda di jalan, sementara rumah-rumah di tepi sungai dilaporkan kehilangan seluruh kaca jendelanya akibat terjangan angin. (***)

Sumber : NTDTV.com

Rentetan Jebolnya Bendungan Waduk di Guangxi, Tiongkok : Faktor Manusia di Balik Hujan Lebat

Baru-baru ini, sejumlah waduk di Kota Hengzhou, Nanning, Daerah Otonomi Guangxi, secara berturut-turut melakukan pelepasan air darurat dan mengalami jebolnya bendungan, yang memicu banjir besar dan menyebabkan kerugian besar terhadap jiwa serta harta benda warga. Sejumlah pihak mempertanyakan, seberapa besar bencana ini disebabkan oleh cuaca ekstrem dan seberapa besar dipengaruhi oleh faktor manusia.

Seorang warga setempat berkata:”Bendungan Waduk Liulan jebol. Seluruh desa habis tersapu.”

EtIndonesia.com  Sejak 4 Juli, hujan deras terus mengguyur berbagai wilayah di Guangxi. Waduk Liulan, Yunbiao, Sancha, Chayuan, dan beberapa waduk lainnya di Hengzhou mengalami jebol secara beruntun.

Air bah dengan cepat membanjiri desa-desa di hilir. Air mencapai lantai dua rumah-rumah, kendaraan terseret arus, dan banyak warga hanya bisa menyelamatkan diri dengan usaha sendiri.

Rekaman video memperlihatkan dua orang lanjut usia terjebak di atap rumah dan berjalan perlahan di sepanjang bubungan atap sambil menunggu pertolongan. Banyak korban banjir juga meminta bantuan melalui internet.

“Saat ini kota kami, Yunbiao, merupakan daerah yang paling parah terdampak. Tolong sebarkan informasi ini. Yang paling kami butuhkan sekarang adalah perahu karet bermesin berukuran besar. Air di sini sangat dalam sehingga perahu karet biasa tidak bisa mencapai lokasi. Kami berharap informasi ini bisa disebarluaskan,” ujar seorang warga Kota Yunbiao. 

Banjir besar tersebut datang sangat cepat dan sangat deras. Banyak warga mempertanyakan apakah bencana ini murni akibat bencana alam atau juga disebabkan oleh kesalahan manusia.

Seorang warga Desa Dutian, yang berada di dekat Waduk Liulan, mengatakan bahwa mereka baru menerima pemberitahuan evakuasi darurat pada pagi hari saat kejadian. Kurang dari 30 menit kemudian, seluruh desa sudah terendam banjir. Banyak rumah hanyut terbawa arus dan sejumlah warga tidak sempat mengungsi sehingga terjebak di dalam rumah.

Hingga kini, pemerintah setempat melaporkan 8 orang meninggal dunia, namun sebagian pihak meragukan angka tersebut dan menduga jumlah korban sebenarnya lebih tinggi.

“Hengzhou yang dilanda banjir kali ini hanyalah sebuah kota setingkat kabupaten dengan jumlah penduduk sekitar 900.000 jiwa. Namun di sana terdapat hingga 1.766 waduk kecil dan bendungan penampung air. Pembangunan waduk dalam jumlah begitu besar oleh pemerintah PKT menyimpan risiko yang sangat besar,” ujar lomentator isu-isu Tiongkok, Zheng Haochang. 

“Dengan lebih dari 1.700 waduk dan bendungan yang selama ini kurang mendapat perawatan, ketika banjir datang, bahaya muncul di mana-mana. Sangat sulit untuk mengatasinya,” katanya. 

Para analis menilai bahwa selain cuaca ekstrem, bencana ini juga mencerminkan persoalan dalam sistem pemerintahan.

“Pejabat Partai Komunis Tiongkok hanya bertanggung jawab kepada atasan mereka, bukan kepada rakyat. Mereka tidak dipilih melalui pemilu yang demokratis, melainkan ditunjuk oleh atasan. Karena itu, banyak pejabat tidak memberi perhatian yang cukup terhadap persoalan seperti ini. Inilah salah satu penyebab mendasar mengapa bencana besar sering terjadi di Tiongkok—yakni masalah sistem,” ujar Ketua Partai Demokrasi Sosial Tiongkok, Liu Yinquan. 

“Kalau melihat bencana kali ini secara khusus, sebenarnya prakiraan cuaca sudah sejak lama dapat memprediksi kapan dan di mana akan terjadi bahaya. Namun peringatan tersebut tidak mendapat perhatian yang memadai dari para pejabat. Seandainya mereka lebih serius sejak awal, melakukan pelepasan air lebih dini, secara ilmiah dan bertahap, kemungkinan besar situasi seperti ini bisa dihindari,” ujarnya. 

Analisis tersebut juga menyebutkan bahwa Tiongkok memiliki jumlah waduk yang sangat banyak. Banyak diantaranya sudah tua, kurang terawat, dan memiliki potensi bahaya keamanan dalam jangka panjang. Ditambah dengan kurangnya perhatian pemerintah terhadap pemeliharaan infrastruktur, risiko terjadinya bencana pun semakin meningkat.

Laporan oleh Chen Yue dan Chang Chun, New Tang Dynasty Television.