Elon Musk Tanda Tangani Dukungan Amerika Keluar dari NATO dan PBB, Bagaimana Tanggapan Trump?

EtIndonesia. Elon Musk, yang juga merupakan CEO Tesla dan SpaceX, serta pejabat tinggi dalam pemerintahan Trump, telah menghebohkan dunia politik Amerika Serikat dan menarik perhatian masyarakat internasional dengan seruanya agar Amerika Serikat keluar dari NATO dan PBB.

Musk Serukan AS Keluar dari NATO: Posisi Amerika Menjadi Sorotan

Pada Jumat lalu, Presiden Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menggelar pertemuan di Gedung Putih yang disebut sebagai “perundingan abad ini,” memicu kekhawatiran global tentang masa depan perang Rusia-Ukraina. Di tengah gejolak politik tersebut, pada Sabtu malam, Elon Musk secara terbuka membagikan sebuah unggahan di media sosial X (sebelumnya Twitter) yang mendukung Amerika Serikat keluar dari NATO dan PBB.

Seorang pengguna media sosial X menulis: “Sudah waktunya Amerika keluar dari NATO dan PBB,” yang kemudian mendapat tanggapan “setuju” dari Elon Musk pada malam 1 Maret.

Yang menarik, pemerintahan Trump sebelumnya telah mengindikasikan adanya peninjauan ulang hubungan dengan sekutu-sekutu tradisional, termasuk peran Amerika dalam NATO.

Newsweek melaporkan bahwa hubungan dekat antara Musk dan Trump bukanlah rahasia umum, dan dukungan Musk ini semakin memperdalam skeptisisme dalam pemerintahan mengenai nilai aliansi internasional. Selama ini, Trump juga kerap mempertanyakan relevansi NATO dan mendesak negara-negara anggota untuk meningkatkan anggaran pertahanan mereka.

Pada 2 Maret, Musk kembali membuat pernyataan di media sosial, menyindir para pemimpin Uni Eropa dan Zelenskyy yang menikmati “makan malam mewah, sementara para prajurit mati di parit.” Musk mempertanyakan berapa banyak orang tua yang kehilangan anak-anak mereka dan berapa banyak anak-anak yang tidak akan pernah bertemu kembali dengan ayah mereka.

Musk bukanlah satu-satunya yang mempertanyakan partisipasi Amerika dalam organisasi internasional. Senator Partai Republik dari Utah, Mike Lee, juga menulis di media sosial X: “Mari kita keluar dari NATO.”

Pada Februari, Mike Lee mengajukan Rancangan Undang-Undang “Undang-Undang Pemisahan Penuh dari PBB Tahun 2025”, yang berusaha mengakhiri keanggotaan Amerika Serikat dalam PBB dan menghentikan semua pendanaan untuk organisasi tersebut. 

Senator Marsha Blackburn dari Tennessee turut menjadi salah satu pengusul dalam Senat, dan beberapa anggota Partai Republik di Dewan Perwakilan Rakyat juga mendukung RUU tersebut dengan alasan bahwa PBB tidak lagi sejalan dengan kepentingan nasional Amerika.

Mike Lee secara konsisten mengkritik NATO, menekankan bahwa Amerika menghabiskan banyak sumber daya untuk mempertahankan Eropa tanpa mendapatkan imbalan yang sebanding, dan dia menyatakan bahwa saat ini adalah “waktu yang tepat” untuk meninggalkan NATO.

Mengapa Banyak Pihak Mempertanyakan Keberadaan NATO?

NATO saat ini memiliki 32 anggota, termasuk 30 negara di Eropa, serta Amerika Serikat dan Kanada. Salah satu prinsip utamanya, “Pasal 5” (serangan terhadap satu negara dianggap sebagai serangan terhadap semua), hanya pernah diaktifkan sekali, yakni setelah serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Sejak awal masa jabatannya, Trump menekankan bahwa Amerika memberikan perlindungan kepada anggota NATO tanpa mendapatkan kompensasi yang setimpal. Trump mendesak negara-negara anggota untuk mengalokasikan 5% dari produk domestik bruto (PDB) mereka untuk pertahanan, jauh di atas target 2% saat ini. Saat ini, bahkan Amerika Serikat sendiri belum mencapai standar tersebut.

Pada 3 Maret 2025, Musk juga pernah membagikan unggahan miliarder David Sacks yang mempertanyakan relevansi NATO, dengan menyatakan: “Saya selalu bertanya-tanya mengapa NATO masih ada, padahal musuh utamanya, Pakta Warsawa, sudah lama bubar.”

Trump dan Ancaman Keluar dari NATO

Pada masa jabatan pertamanya, Trump sudah mendesak anggota NATO untuk meningkatkan anggaran militer mereka, menyoroti ketidakadilan beban biaya keamanan Eropa yang lebih banyak ditanggung Amerika. Bahkan, Trump sempat menyatakan niatnya untuk keluar dari NATO jika sekutu tidak memenuhi target belanja militer.

Pada sebuah wawancara televisi yang ditayangkan pada 8 Desember tahun lalu, Trump kembali menegaskan bahwa jika sekutu-sekutu Amerika tidak memenuhi standar anggaran pertahanan yang ditetapkan, Washington “secara absolut mungkin” akan keluar dari NATO.

Dampaknya Jika Amerika Serikat Keluar dari NATO: Mengubah Peta Keamanan Barat

Para analis menilai, jika Amerika Serikat benar-benar keluar dari NATO, hal ini akan mengubah lanskap keamanan Barat secara fundamental. Sejak Perang Dunia II, NATO telah menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas keamanan di Eropa dan sekitarnya. Tanpa kehadiran Amerika, negara-negara Eropa mungkin harus mencari alternatif baru untuk mempertahankan keamanan mereka, yang bisa menciptakan kekosongan kekuatan dan meningkatkan risiko konflik.

Secara internasional, langkah ini juga bisa memberikan keuntungan strategis bagi Rusia dan Tiongkok, yang selama ini menentang dominasi NATO. Pengaruh Amerika dalam kebijakan global juga bisa menurun, sementara sekutu-sekutu tradisionalnya mungkin akan mulai mempertimbangkan aliansi baru atau memperkuat kerjasama regional tanpa keterlibatan Amerika Serikat.

Keputusan untuk keluar dari NATO dan PBB bukan sekadar isu kebijakan luar negeri, tetapi juga mencerminkan perubahan mendasar dalam arah politik dan strategi internasional Amerika. Jika Trump melanjutkan agenda ini, maka dunia mungkin akan menyaksikan era baru dalam dinamika geopolitik global. (jhn/yn)

Trump Menang Lagi? Miliarder Li Ka-shing Akan Menjual Pelabuhan Terusan Panama

Presiden Amerika Serikat menekan Panama untuk membatasi pengaruh Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap Terusan Panama. Dilaporkan bahwa perusahaan milik miliarder Hong Kong, Li Ka-shing, akan menjual hak pengelolaan pelabuhan di Terusan Panama.

EtIndonesia. Pada Selasa (4 Maret), kantor berita Reuters melaporkan bahwa perusahaan Hong Kong, CK Hutchison Holdings, telah setuju untuk menjual sahamnya di perusahaan pelabuhan Panama kepada konsorsium yang didukung oleh BlackRock.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa kesepakatan senilai 22,8 miliar dolar AS ini juga mencakup hak pengelolaan puluhan pelabuhan di berbagai negara lainnya. Langkah ini tampaknya merupakan kemenangan bagi kebijakan luar negeri Trump.

Setelah kembali ke Gedung Putih, Trump meningkatkan tekanan pada Panama agar mengambil kembali kendali atas dua pelabuhan penting di Terusan Panama yang sebelumnya dikelola oleh perusahaan Hong Kong. 

Terusan Panama adalah jalur perdagangan utama bagi Amerika Serikat dan sangat penting bagi pergerakan kapal perang AS ke kawasan Indo-Pasifik. Pemerintah AS khawatir bahwa kawasan strategis ini akan jatuh di bawah kendali PKT.

Pada  Selasa, CK Hutchison Holdings mengumumkan bahwa mereka akan menjual seluruh sahamnya di HPHS dan HPGHL. 

HPHS dan HPGHL memiliki 80% kepemilikan efektif dalam Hutchison Ports Group, yang mengoperasikan 43 pelabuhan di 23 negara dan wilayah.

Kesepakatan ini juga mencakup penjualan 90% saham perusahaan pelabuhan Panama, yang mengelola dua pelabuhan di Terusan Panama.

Setelah pemerintahan Trump menekan Panama, pemerintah Panama telah mengumumkan pengunduran diri dari inisiatif “Belt and Road”  yang dipimpin oleh PKT dan sedang mencari jalur hukum untuk mengambil kembali hak pengelolaan pelabuhan terusan.

Baru-baru ini, Mahkamah Agung Panama setuju untuk meninjau gugatan hukum yang diajukan oleh seorang pengacara yang menuntut pembatalan kontrak pengelolaan pelabuhan. Jaksa Agung Panama kemudian mengajukan opini hukum yang mendukung gugatan tersebut, dengan alasan bahwa kontrak tersebut melanggar konstitusi karena secara tidak sah mengalihkan hak eksklusif Panama. (Hui)

Sumber : NTDTV.com 

Direktur CIA: Amerika Serikat Hentikan Berbagi Informasi Intelijen dengan Ukraina

EtIndonesia. Direktur CIA, John Lee Ratcliffe, pada Rabu (5/3),  mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah “menangguhkan” berbagi intelijen dengan Ukraina setelah terjadinya keretakan hubungan antara Pemerintah Ukraina dan Gedung Putih.

Ratcliffe menekankan bahwa penghentian ini hanya bersifat sementara, terutama dalam sektor “militer dan intelijen,” dan menyatakan bahwa Amerika Serikat akan “kembali berdiri bahu-membahu dengan Ukraina” di masa mendatang.

Hubungan Memburuk Antara AS dan Ukraina

Amerika Serikat selama ini menjadi sekutu terpenting Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia. Namun, hubungan kedua negara memburuk setelah pertemuan antara Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Ruang Oval Gedung Putih pekan lalu berakhir dengan konfrontasi terbuka.

Pasca pertemuan tersebut, pemerintahan Trump tidak hanya menghentikan bantuan militer penting untuk Ukraina tetapi juga kini memutuskan untuk menghentikan berbagi informasi intelijen. Langkah ini diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap kemampuan militer Ukraina dalam melawan pasukan Rusia.

Keraguan Trump Terhadap Niat Damai Ukraina

Dalam wawancaranya dengan Fox News, Ratcliffe mengungkapkan bahwa Presiden Trump “sangat meragukan” apakah Presiden Zelenskyy benar-benar berkomitmen pada proses perdamaian.

Ratcliffe mengatakan: “Penangguhan ini hanya sementara dan Amerika Serikat akan segera melanjutkan kerja sama militernya dengan Ukraina.”

Namun, di tengah ketidakpastian ini, Ukraina berusaha tetap melangkah maju. Presiden Trump sebelumnya menyatakan bahwa Zelenskyy telah meyakinkannya bahwa Ukraina siap untuk bernegosiasi dengan Rusia serta menyelesaikan kesepakatan terkait sumber daya mineral dengan Amerika Serikat.

Dampak Terhadap Situasi di Ukraina

Langkah Amerika Serikat ini kemungkinan besar akan mengganggu strategi militer Ukraina, terutama dalam mengantisipasi gerakan pasukan Rusia. Selama ini, informasi intelijen dari Amerika Serikat berperan penting dalam memberikan peringatan dini dan koordinasi operasi militer Ukraina di lapangan.

Beberapa analis militer memperingatkan bahwa tanpa bantuan intelijen dari AS, Ukraina mungkin akan kesulitan dalam mempertahankan posisinya, terutama di wilayah-wilayah strategis seperti Donbas dan Krimea.

Bagaimana Langkah Berikutnya?

Sampai saat ini, belum ada kejelasan mengenai berapa lama penangguhan ini akan berlangsung dan apa syaratnya agar Amerika Serikat kembali melanjutkan berbagi intelijen dengan Ukraina. Namun, pernyataan Ratcliffe bahwa AS akan kembali “berdiri bahu-membahu” memberikan sedikit harapan bahwa ini mungkin hanya bagian dari strategi negosiasi Trump untuk mendapatkan lebih banyak konsesi dari Ukraina.

Dengan situasi geopolitik yang terus berkembang, baik Rusia maupun Ukraina mungkin akan mengambil keuntungan dari ketidakpastian hubungan antara Washington dan Kyiv ini. Ke depan, keputusan Trump dan tanggapan Zelenskyy terhadap situasi ini akan menjadi faktor penentu dalam kelanjutan konflik di Ukraina dan stabilitas kawasan Eropa Timur. (jhn/yn)

Industri Makanan dan Minuman di Tiongkok  Kompetitif, “Kafe Kandang Babi” Bermunculan di Banyak Tempat

Ekonomi Tiongkok yang terus lesu menyebabkan persaingan ketat dalam industri makanan dan minuman. Baru-baru ini, di Yunnan, Guangdong, dan Jiangsu muncul sejumlah “Kafe Kandang Babi” yang menarik banyak anak muda untuk berkunjung dan berfoto. Namun demikian, kualitas “Kafe Kandang Babi” ini dipertanyakan oleh banyak konsumen

EtIndonesia. Laporan dari Hongcan.com, topik tentang “Kafe Kandang Babi” sedang viral di platform media sosial Tiongkok. Di Xiaohongshu, terdapat lebih dari 10.000 postingan terkait “Kafe Kandang Babi”, sementara di Douyin, jumlah penayangan tagar terkait telah melebihi 80 juta kali.

Sebagian besar kafe ini terletak jauh dari pusat kota, berada di pedesaan atau dekat tempat wisata. 

Beberapa kafe yang populer, seperti “Kafe Kandang Babi” di Dujiangyan, Chengdu; “Xiaoxiaobai Café” di Yunfu, Guangdong; serta “Xiaozhu Café” di Sanming, Fujian, semuanya dibangun dari kandang babi tua yang telah direnovasi. 

Dekorasi kafe ini mengusung konsep pedesaan, dengan penggunaan alat-alat tradisional seperti palung makan, batu giling, dan tampah sebagai hiasan.

Kandang babi yang dulunya usang dan terbengkalai kini disulap menjadi “Starbucks pedesaan”. Konsep yang kontras ini menarik banyak konsumen muda untuk datang dan berfoto.

Produk yang dijual di kafe-kafe ini juga mengusung unsur “babi”. Misalnya, “Xiaoxiaobai Café” menamai kopi Americano mereka sebagai “Kopi Kotoran Babi”. 

Di “Jiuge Pigpen Café”, sebagian besar menu diberi nama dengan kata “Zhuzhu” (babi). Sementara itu, “Pigpen Waterfall Café” di Kunshan menghias kopi latte mereka dengan gambar babi dalam seni latte art.

Beberapa kafe juga menawarkan layanan interaksi dengan babi mini. Misalnya, “Kafe Kandang Babi” di Lijiang dan “Kafe Kandang Babi” di Nanjing yang memelihara beberapa babi kecil untuk berinteraksi dengan pelanggan.

Meskipun mengusung konsep unik, harga produk di kafe-kafe ini tidaklah murah. Rata-rata pengunjung harus mengeluarkan sekitar RMB.35 (sekitar Rp77.000) per orang. Namun, kualitas produk dan pengalaman pelanggan banyak dipertanyakan.

Di Xiaohongshu, seorang pelanggan menulis bahwa meskipun dekorasi kafe ini menarik untuk difoto, pengalaman yang diberikan sangat mengecewakan. 

“Daripada fokus pada dekorasi agar pelanggan bisa berfoto untuk media sosial, lebih baik meningkatkan kualitas produk,” tulisnya.

Di aplikasi Meituan, ada juga keluhan tentang pelayanan yang buruk, serta kurangnya area khusus merokok, yang membuat pelanggan harus menghirup asap rokok.

Banyak netizen yang sepakat dengan kritik ini. Ada yang mengatakan bahwa “Kafe Kandang Babi hanya bagus untuk berfoto, tetapi produk mereka biasa saja dan tidak sebanding dengan harganya. Dengan RMB.30 lebih, saya bisa membeli secangkir Starbucks.”

Beberapa pelanggan juga mengeluhkan lokasi kafe yang terlalu terpencil. “Saya berkendara satu jam untuk ke sini, tempatnya terlalu jauh, dan kopi Americano seharga RMB.28 adalah yang terburuk yang pernah saya minum,” tulis seorang pelanggan.

Lebih ekstrem lagi, ada yang mengeluh tentang bau tak sedap. “Bau kandang babi sesekali tercium, saya minum kopi sambil menahan rasa mual…”

Selain permasalahan kualitas, banyak “Kafe Kandang Babi” juga menghadapi masalah ketidakstabilan jumlah pengunjung dan kurangnya pelanggan tetap. Menurut pemilik “Kafe Kandang Babi” di Nanjing, jumlah pelanggan meningkat pada akhir pekan dan hari libur, dengan kelompok pendaki gunung, pejalan kaki, dan keluarga sebagai pelanggan utama.

Karena semakin banyak pengusaha yang mencoba peruntungan di sektor “kafe pedesaan”, persaingan dalam bisnis ini menjadi sangat ketat.

Pemilik “Universe is a Granary” di Anhui, Xiao Zhao, mengatakan kepada GQ Life bahwa dalam setahun terakhir, lebih dari 60 kafe baru dibuka di desanya. Namun, dalam beberapa bulan, banyak yang tutup dan digantikan oleh yang baru.

Di tengah kondisi ekonomi Tiongkok yang lesu dan persaingan ketat dalam industri kuliner, banyak yang meragukan apakah tren “Kafe Kandang Babi” ini dapat bertahan lama.

Sebelumnya, Hongcan.com melaporkan bahwa pada tahun 2024, hampir 3 juta restoran tutup, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Bisnis yang terdampak mencakup berbagai kategori, seperti restoran biasa, minuman teh, kopi, toko roti, hot pot, makanan penutup, prasmanan, makanan cepat saji, bar, dan tempat BBQ.

Menurut data, dari minggu terakhir Januari 2025 hingga saat ini, setidaknya 40 merek telah menutup 41 gerai. Industri restoran adalah yang paling terdampak, dengan 21 gerai tutup, termasuk 7 kafe, 3 toko minuman teh, dan 2 toko roti.

Data dari Hongcan menunjukkan bahwa hingga Desember 2024, ada 103.000 gerai toko roti baru, tetapi 95.000 di antaranya tutup dalam periode November 2023 hingga November 2024. Selain itu, lebih dari 300.000 restoran hot pot dan 197.000 gerai minuman teh juga gulung tikar. (Hui)

Sumber : NTDTV.com 

Di PBB, Kebijakan Dalam Negeri Trump Meluas ke Kancah Internasional

EtIndonesia. Pada Selasa, 4 Maret, Amerika Serikat secara terbuka menunjukkan sikap baru dalam sidang Majelis Umum PBB. AS mengumumkan bahwa mereka tidak akan lagi secara otomatis mendukung program inti PBB, termasuk agenda keberlanjutan global dan tujuan pengentasan kemiskinan.

“Oleh karena itu, Amerika Serikat menolak dan mengutuk Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan tidak lagi menganggapnya sebagai kebijakan yang secara otomatis harus ditegaskan kembali,” ujar Edward Heartney, perwakilan AS di PBB.

Penolakan Resolusi Perdamaian dan Inklusi Sosial

Amerika Serikat memberikan suara menolak resolusi bertajuk “Hari Hidup Berdampingan Secara Damai Internasional” yang menegaskan kembali komitmen pada Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Resolusi tersebut mencakup upaya untuk membangun masyarakat yang damai, inklusif, memberikan akses keadilan untuk semua, dan membentuk lembaga yang efektif, bertanggung jawab, serta inklusif di semua tingkatan.

Heartney menjelaskan bahwa masyarakat Amerika dalam pemilu November lalu telah memilih pemerintahan yang berfokus kembali pada kepentingan nasional Amerika sendiri.

“Secara sederhana, inisiatif global seperti Agenda 2030 dan SDGs kalah dalam pemilu ini,” katanya.

Resolusi ini akhirnya disahkan dalam sidang dengan 162 suara mendukung, 3 suara menolak, yaitu dari Amerika Serikat, Israel, dan Argentina.

Penolakan pada “Hari Keadilan Internasional”

Majelis Umum PBB kerap menetapkan “Hari keadilan Internasional” untuk meningkatkan kesadaran mengenai isu-isu global dan mempromosikan perdamaian serta toleransi. Saat ini, terdapat lebih dari 150 hari peringatan internasional, termasuk Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret, Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Hari Bahasa Ibu Internasional, dan Hari Diabetes Dunia.

Pada pemungutan suara kali ini, mayoritas negara mendukung pembentukan “Hari Keadilan Internasional” kecuali Amerika Serikat, yang menjadi satu-satunya negara yang memberikan suara menolak.

Heartney menekankan bahwa Amerika Serikat “teguh mendukung upaya menjaga perdamaian dan menyelesaikan krisis global melalui cara-cara diplomatik,” dan percaya bahwa “hak-hak individu merupakan fondasi keamanan nasional Amerika serta promosi perdamaian internasional.”

Namun, menurutnya, resolusi ini menambah jumlah “Hari keadilan Internasional” secara tidak perlu, banyak di antaranya memiliki tujuan yang serupa. Heartney mencontohkan adanya “Hari Perdamaian Internasional” dan “Hari Kebahagiaan Internasional” yang sudah ada sebelumnya.

“Draf resolusi ini juga memuat istilah-istilah terkait keragaman, kesetaraan, dan inklusi, yang tidak sejalan dengan kebijakan Amerika Serikat yang berusaha menghapus segala bentuk diskriminasi dan menciptakan kesempatan yang setara bagi semua orang,” tambahnya.

Penolakan Program Keberagaman dan Pendidikan Demokratis

Pemerintahan Trump telah menjadikan penghapusan program-program keragaman, kesetaraan, dan inklusi sebagai salah satu kebijakan intinya, dengan alasan bahwa program-program tersebut secara tidak sah mendorong diskriminasi.

Selain itu, Amerika Serikat juga menjadi satu-satunya negara yang menolak resolusi bertajuk “Pendidikan Demokrasi” yang menegaskan hak setiap orang untuk mendapatkan pendidikan dan pentingnya menyediakan kesempatan yang setara bagi kaum muda, termasuk perempuan.

Teks resolusi tersebut menekankan bahwa “pendidikan demokrasi mengembangkan pembelajar yang bertanggung jawab dan aktif, memungkinkan mereka untuk berkontribusi secara efektif bagi masyarakat serta menciptakan perdamaian dan kemakmuran yang lebih luas.” Resolusi ini juga menyebutkan dampak negatif pandemi COVID-19 terhadap pendidikan global.

Resolusi tersebut mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk meningkatkan investasi dalam pendidikan berkualitas, mengurangi kesenjangan digital, serta “meningkatkan prospek generasi mendatang, mendorong terciptanya masyarakat yang damai, adil, demokratis, dan berkelanjutan.”

Implikasi Internasional dari Kebijakan Amerika yang Berfokus ke Dalam Negeri

Langkah Amerika Serikat ini menunjukkan perubahan besar dalam pendekatan diplomatiknya di PBB. Pemerintahan Trump tampaknya lebih memilih kebijakan yang memprioritaskan kepentingan domestik daripada berpartisipasi dalam program-program global.

Zelenskyy Berubah Sikap dan Sesuai dengan Gedung Putih, Umumkan Tahap Pertama Gencatan Senjata

EtIndonesia.  Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang sebelumnya bersikap tegas dalam pernyataannya kepada media global, tiba-tiba mengalami perubahan besar dalam sikapnya. Setidaknya, dalam hal pendekatan, ia kini sepenuhnya memenuhi beberapa tuntutan yang disampaikan Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya. Selain itu, ia juga mengajukan syarat tahap pertama gencatan senjata.

Berikut adalah analisis dari Dekan Fakultas Seni dan Ilmu Pengetahuan Universitas Adelphi AS sekaligus Profesor Ilmu Politik, Wang Weizheng, mengenai perubahan sikap Zelenskyy.

Pada Jumat (28 Februari) lalu, setelah insiden perselisihan di Gedung Putih, Zelenskyy tetap bersikeras untuk tidak meminta maaf. Ia bahkan secara terbuka menyatakan bahwa jarak menuju gencatan senjata masih “sangat, sangat jauh.” Namun, pada 4 Maret, sikapnya berubah drastis.

Dalam pernyataannya, Zelenskyy menulis: “Saya ingin menegaskan kembali komitmen Ukraina terhadap perdamaian. Tidak ada yang menginginkan perang tanpa akhir. Untuk semakin mendekati perdamaian yang langgeng, Ukraina siap untuk segera berunding. Tidak ada yang lebih menginginkan perdamaian selain rakyat Ukraina. Saya dan tim saya siap mencapai tujuan ini di bawah kepemimpinan kuat Presiden Trump.”

Sehari sebelumnya, Trump mengungkapkan tiga poin utama dalam menjawab pertanyaan wartawan di Gedung Putih:

  1. Zelenskyy harus menunjukkan rasa terima kasih atas dukungan jangka panjang dari AS.
  2. Kesepakatan kerangka ekonomi antara AS dan Ukraina masih terbuka.
  3. Siapa pun yang tidak menginginkan perdamaian harus mundur.

Tak lama setelah pernyataan ini, pemerintah AS menangguhkan semua bantuan ke Ukraina, termasuk senjata yang sedang dalam proses pengiriman atau transit melalui Polandia. Hingga saat ini, AS merupakan penyedia bantuan militer terbesar bagi Ukraina.

Profesor Wang Weizheng menjelaskan bahwa ada kesalahpahaman awal antara Trump dan Zelensky mengenai niat AS untuk mengakhiri perang dengan cepat. Namun, setelah Trump mengeluarkan pernyataan tegas, Zelenskyy tampaknya menyadari bahwa Trump benar-benar serius dengan ancamannya. Oleh karena itu, Zelenskyy mungkin merasa perlu menyesuaikan pendekatannya agar tetap mendapat dukungan AS.

Perbedaan utama antara Gedung Putih dan pemerintahan Zelensky adalah peran AS dalam negosiasi:

  • Trump ingin AS menjadi mediator netral, berusaha mendamaikan Rusia dan Ukraina serta mempercepat proses perundingan damai.
  • Tindakan konkret yang dilakukan Trump: Memulai kembali dialog langsung AS-Rusia dan menegosiasikan kesepakatan ekonomi AS-Ukraina.
  • Sebaliknya, Zelenskyy sebelumnya bersikeras bahwa AS harus secara terbuka mengecam Rusia, memberikan lebih banyak bantuan senjata, dan menjamin keamanan Ukraina.

Namun kini, Zelenskyy tidak lagi bersikeras pada tuntutan awalnya. Dalam pernyataannya, ia:

  • Mengucapkan terima kasih kepada Trump atas dukungan AS selama periode pertamanya sebagai presiden.
  • Mengungkapkan penyesalan atas insiden perselisihan di Gedung Putih dan berharap dapat memperbaiki hubungan.
  • Bersedia menandatangani perjanjian ekonomi AS-Ukraina dengan ketentuan yang disesuaikan dengan kepentingan AS.

Menurut laporan The Times dan beberapa media lainnya, AS dan Ukraina kemungkinan besar akan menandatangani perjanjian ekonomi hari ini. Trump bahkan diperkirakan akan mengumumkan hal ini dalam pidato kenegaraannya malam ini.

Zelenskyy mengajukan syarat tahap pertama untuk gencatan senjata, yang mencakup:

  1. Pertukaran tahanan perang.
  2. Larangan serangan rudal, drone jarak jauh, dan bom terhadap infrastruktur energi serta rumah warga sipil.
  3. Gencatan senjata di wilayah laut.

Jika Rusia memenuhi ketiga syarat ini, Ukraina bersedia segera memasuki tahap negosiasi berikutnya hingga mencapai kesepakatan akhir.

Profesor Wang Weizheng berpendapat bahwa ini adalah pertama kalinya Zelenskyy memberikan persyaratan konkret untuk negosiasi damai. Ia melihat pertukaran tahanan perang sebagai syarat yang paling mungkin tercapai, sementara gencatan senjata udara dan laut mungkin membutuhkan jaminan militer tambahan.

Namun, semua tanda menunjukkan bahwa perundingan antara Rusia dan Ukraina kini semakin tak terhindarkan, dan Zelenskyy mungkin mulai mengambil pendekatan yang lebih realistis. (Hui)

Sumber : NTDTV.com 

Amerika Hentikan Bantuan Militer: Anggota Parlemen Ukraina Khawatir Ribuan Orang Akan Tewas, Presiden Ukraina Harus Diganti


EtIndonesia.
Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan penghentian seluruh bantuan militer kepada Ukraina, yang berdampak signifikan terhadap situasi konflik antara Ukraina dan Rusia. Banyak pakar memberikan pandangan mereka, dan sebagian besar sepakat bahwa keputusan ini akan memberikan dampak serius bagi Ukraina, bahkan bisa mencapai tingkat “kelumpuhan”. Mereka berpendapat bahwa bantuan dari Eropa saja mungkin tidak akan mencukupi.

CNN, mengutip seorang pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa pasukan Ukraina di medan perang mungkin membutuhkan waktu beberapa hari hingga beberapa minggu untuk merasakan dampak dari penghentian bantuan militer AS. Namun, begitu persediaan senjata dan peralatan militer Ukraina mulai menipis, dampaknya akan sangat serius. Meskipun negara lain mungkin memberikan bantuan darurat, kesenjangan kemampuan ini adalah sesuatu yang tidak bisa diatasi oleh Eropa sendirian.

Dampak Penghentian Bantuan Militer AS: Risiko Kelumpuhan bagi Ukraina

Mark Cancian, Penasihat Senior di Pusat Kajian Strategis dan Internasional (CSIS) di Washington, menyatakan bahwa bantuan Eropa masih memungkinkan Kyiv untuk terus berperang saat ini. Namun, dalam 2 hingga 4 bulan ke depan, Ukraina akan mulai merasakan dampak besar dari penghentian bantuan militer AS, bahkan mungkin mencapai tingkat kelumpuhan.

“Ketika pasokan Anda terpotong setengah, akhirnya itu akan tercermin di medan perang, membuat garis depan mereka terus mengalami kekalahan, bahkan mungkin runtuh,” ujar Cancian. 

Dalam kondisi tersebut, Ukraina mungkin harus menerima solusi perdamaian yang sangat tidak menguntungkan, bahkan mungkin bersifat bencana.

Cancian juga memperingatkan bahwa pemerintahan Trump mungkin akan menghentikan atau membatalkan lebih banyak bantuan, termasuk dalam hal berbagi intelijen dan pelatihan untuk pasukan Ukraina. Meskipun masih ada cara untuk mengatasi situasi ini, bagi Presiden Zelenskiyy, hal ini bisa menjadi “penghinaan yang luar biasa”.

Pengaruh Jangka Panjang: Kemampuan Perang Ukraina Bisa Melemah Selama Bertahun-tahun

Analis militer CNN Cedric Leighton mengatakan bahwa penghentian bantuan militer oleh Trump bisa melemahkan kemampuan Ukraina dalam menghadapi Rusia, bahkan dampaknya mungkin bertahan selama bertahun-tahun. Bantuan militer ini mencakup berbagai peralatan, dari pesawat hingga amunisi, dan beberapa di antaranya memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mencapai garis depan. Dalam situasi khusus ini, efek domino bisa terjadi, memberikan dampak signifikan terhadap kemampuan tempur Ukraina.

Sebelumnya, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada CNN bahwa keputusan Trump ini berlaku untuk semua peralatan militer yang belum masuk ke wilayah Ukraina. Leighton menambahkan bahwa perintah Trump tersebut akan menghentikan beberapa bantuan yang telah disetujui selama pemerintahan Biden.

Bantuan Militer AS untuk Ukraina: Lima Kali Lipat dari Jerman

Menurut data dari Kiel Institute, sebuah lembaga think tank di Jerman, selama perang Rusia-Ukraina, bantuan militer Amerika Serikat untuk Ukraina mencapai 69 miliar dolar AS, jauh melampaui negara lain. Bantuan ini bahkan lima kali lipat lebih besar dibandingkan Jerman di posisi kedua dengan 13,6 miliar dolar AS, dan Inggris di posisi ketiga dengan 10,8 miliar dolar AS. Selain senjata dan peralatan, AS juga memberikan dukungan finansial yang sangat besar kepada Ukraina.

Laporan dari BBC dan Sky News menunjukkan bahwa kalangan politik dan media di Ukraina sangat khawatir dengan keputusan Trump untuk menghentikan bantuan militer ini. Anggota parlemen Ukraina, Volodymyr Aryev, menyebut keputusan ini sebagai “pukulan berat bagi pertahanan nasional.”

Anggota Parlemen Ukraina: “Tanpa Amerika, Ribuan Orang Akan Mati”

Oleksiy Goncharenko, anggota parlemen lainnya, mengatakan bahwa keputusan ini adalah “bencana” bagi Ukraina, yang dapat menyebabkan ribuan orang tewas dan semakin memperkuat posisi Presiden Rusia Vladimir Putin. Hal ini, menurutnya, dapat memperlebar perpecahan di dalam negeri. Goncharenko mendesak Zelenskyy untuk melakukan segala cara untuk keluar dari situasi ini dan bahkan menyarankan agar ia “meminta maaf kepada Trump” untuk memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat.

Ketika ditanya apakah Zelenskyy harus mundur, Goncharenko menjawab bahwa pada tahun 2019, saat pertama kali terpilih sebagai presiden, Zelenskyy pernah mengatakan tidak akan mencalonkan diri lagi. 

“Saya pikir sekarang saatnya mengingatkan semua orang tentang hal ini. Mungkin sebaiknya diumumkan bahwa setelah perang berakhir, akan ada pemilu baru. Setidaknya, menurut saya, dia harus mempertimbangkan untuk tidak mencalonkan diri lagi sebagai presiden,” tegasnya.

Situasi Sulit Bagi Ukraina: Antara Kehilangan Dukungan AS dan Mencari Solusi Diplomatik

Keputusan pemerintahan Trump untuk menghentikan bantuan militer menciptakan dilema besar bagi Ukraina. Di satu sisi, mereka sangat bergantung pada bantuan Amerika Serikat untuk mempertahankan diri dari agresi Rusia. Di sisi lain, hubungan dengan Amerika Serikat harus dipulihkan untuk mencegah kehancuran lebih lanjut. Saran Goncharenko untuk Zelenskyy agar meminta maaf kepada Trump menunjukkan betapa gentingnya situasi ini dan seberapa besar kebutuhan Ukraina untuk menjaga aliansi internasionalnya tetap utuh.(jhn/yn)

Seberapa Sering Anda Harus Membersihkan Karpet

Menyedot debu secara rutin dapat menghilangkan kotoran di permukaan, tetapi hanya pembersihan mendalam yang dapat membasmi bakteri dan noda membandel

oleh Nafeesah Allen – BHG.com

Karpet adalah fitur umum di sebagian besar rumah. Karpet membuat ruangan terasa nyaman sekaligus menambah tekstur dan kehangatan. Namun, kotoran, debu, dan alergen mudah berkembang di karpet. Menyedot debu secara rutin dapat menghilangkan kotoran di permukaan, tetapi hanya pembersihan mendalam yang dapat membasmi bakteri dan noda membandel. Jadi, seberapa sering Anda harus membersihkan karpet?

Jawabannya tergantung pada beberapa faktor, seperti jumlah lalu lintas di ruangan, apakah ada anggota keluarga yang memiliki alergi, dan apakah Anda memiliki hewan peliharaan yang sering rontok bulunya.

Produsen karpet biasanya merekomendasikan pembersihan permukaan setiap minggu dan pembersihan mendalam setidaknya setiap 12 hingga 18 bulan. Hubert Miles, Inspektur Master Bersertifikat dan pemilik Patriot Home Inspections di Carolina Selatan, menjelaskan alasannya.

Seberapa Sering Harus Membersihkan Karpet

Untuk rumah kecil atau keluarga yang jarang berada di rumah sepanjang hari, menyedot debu seminggu sekali mungkin sudah cukup. Namun, dua kali seminggu lebih ideal untuk area dengan lalu lintas tinggi dan rumah tangga dengan hewan peliharaan, anak-anak, atau anggota keluarga yang memiliki alergi.

“Karpet harus dibersihkan secara profesional setiap 12 hingga 18 bulan,” kata Miles. Pembersihan mendalam membantu menghilangkan kotoran dan noda dari serat karpet. Ada beberapa metode pembersihan mendalam, seperti ekstraksi air panas atau pembersihan uap, pembersihan dengan bantalan penyerap, dan pencucian menggunakan sampo berputar.

Baik Anda membersihkan sendiri atau menggunakan jasa profesional, kuncinya adalah meluangkan waktu untuk membersihkan setiap sudut dan celah serta bersabar agar karpet benar-benar kering sebelum digunakan kembali.

“Hindari berjalan di atas karpet yang masih lembap untuk mencegah kotoran menempel kembali dan memastikan seratnya benar-benar kering,” ujarnya.

Faktor yang Menentukan Seberapa Sering Pembersihan Mendalam Diperlukan

Beberapa faktor mempengaruhi seberapa sering karpet perlu dibersihkan secara mendalam, antara lain:

  • Lalu lintas kaki: “Rumah dengan lalu lintas tinggi atau penghuni yang memiliki alergi mungkin perlu dibersihkan lebih sering, idealnya setiap 6 hingga 12 bulan,” kata Miles.
  • Hewan peliharaan: Hewan berbulu dapat membawa kotoran dan kuman dari luar. Bahkan hewan peliharaan dalam ruangan pun rentan mengalami kecelakaan. Selain pembersihan mendalam setiap enam hingga 12 bulan, Miles menyarankan pembersihan segera terhadap noda akibat urin atau tumpahan untuk mencegah timbulnya bau dan noda yang menetap. Hewan peliharaan juga melepaskan ketombe dan bulu yang dapat menumpuk seiring waktu. Gunakan penyedot debu khusus untuk hewan peliharaan yang memiliki fitur tambahan untuk menangani bulu dan rambut rontok.
  • Alergi: Karpet yang kotor dapat memperburuk kondisi alergi, asma, atau demam. Penyedot debu dengan filter HEPA bekerja dengan baik untuk menangkap alergen. Namun, penyedotan debu yang terlalu sering dapat membuat alergen beterbangan di udara, memperburuk reaksi sebelum akhirnya membaik. Jika ada penghuni rumah yang menderita alergi atau masalah pernapasan, pertimbangkan untuk mencuci karpet dengan sampo atau membersihkannya dengan uap setiap tiga hingga enam bulan. Menangkap tungau debu dan alergen dalam wadah air (daripada filter debu atau udara) dapat lebih efektif bagi penderita alergi.
  • Perokok: Jika Anda atau seseorang di rumah merokok, pembersihan karpet dan penyaringan udara secara rutin sangatlah penting. Trik rumah tangga seperti baking soda, semprotan kain, dan pewangi ruangan mungkin tidak benar-benar menghilangkan bau asap yang tersisa. Cobalah menggunakan penyaring udara dalam ruangan secara teratur dan pindahkan aktivitas merokok ke luar ruangan yang jauh dari jendela dan pintu. Pembersihan karpet secara profesional setiap tiga hingga enam bulan sangat ideal, tetapi jika Anda mencoba menghilangkan noda berat yang menahun, mungkin Anda perlu mengganti karpet sepenuhnya.
  • Jenis serat dan warna: Jenis bahan karpet dapat memengaruhi seberapa sering pembersihan diperlukan. Karpet berwarna terang lebih cepat terlihat kotor, sedangkan karpet berwarna gelap bisa menyembunyikan noda. Jenis serat karpet juga menentukan seberapa banyak debu yang bisa menempel. Setiap karpet memiliki karakteristik tersendiri, sehingga Anda mungkin perlu menyesuaikan perawatan dengan kebutuhan spesifik karpet Anda.

Kapan Harus Mengganti Karpet?

Menurut Miles, dengan pembersihan profesional dan perawatan yang tepat, karpet bisa bertahan antara lima hingga 15 tahun. “Namun, keausan berlebihan, kusut, berjumbai, noda permanen, atau bau tak sedap akibat urin hewan peliharaan bisa menjadi tanda bahwa karpet perlu diganti lebih cepat.”

Pembersihan profesional hanya dapat menghilangkan kotoran, alergen, dan noda di permukaan karpet. Jika air dan alergen sudah terperangkap di dalam bantalan karpet, di mana jamur dan lumut dapat berkembang, satu-satunya solusi adalah menggantinya.

Jika karpet tidak dibersihkan secara rutin, kotoran, bakteri, dan kuman akan menumpuk. Anda mungkin bisa mencium bau tidak sedap meskipun tidak melihat kotorannya. Lebih buruk lagi, Anda bisa merasakannya. Karpet mungkin terasa lengket atau tidak nyaman saat diinjak, dan orang yang memiliki masalah pernapasan bisa mengalami gangguan kesehatan lebih sering.

Membersihkan dan mensterilkan karpet secara rutin dapat memperpanjang usia karpet serta meningkatkan kualitas hidup seluruh anggota keluarga.

Meskipun rentang waktu pembersihan mendalam yang direkomendasikan cukup luas, yaitu antara tiga hingga 12 bulan, Anda bisa menyesuaikannya dengan kondisi rumah dan karpet Anda. Menyedot debu setiap minggu dengan vacuum robot juga bisa membantu mengurangi beban perawatan karpet.

Pembaca yang Terhormat: Kami ingin mendengar pendapat Anda. Topik apa yang ingin Anda baca selanjutnya? Silakan kirimkan masukan dan saran Anda ke [email protected].

Menguak Mitos Tidur 8 Jam Sehari : Teori Konspirasi Besar tentang Tidur

Nicole James

Ada jenis kegilaan khusus yang hanya terjadi pada pukul 3:17 pagi. Saat itulah otakmu, yang terlalu lama dibiarkan tanpa pengawasan, mulai mengungkit semua hal memalukan yang pernah kamu ucapkan, tagihan yang lupa kamu bayar, dan kemungkinan besar bahwa aturan “Tidur Delapan Jam” adalah sebuah kebohongan besar.

Setidaknya, pemikiran terakhir itu ada benarnya.

Pasalnya, ide bahwa manusia harus tidur dalam satu blok utuh selama delapan jam tanpa gangguan adalah omong kosong belaka. Ini adalah kebohongan sejarah yang telah diulang begitu sering sehingga kita keliru menganggapnya sebagai fakta ilmiah.

Namun, aturan ini menentukan segalanya, mulai dari industri tidur bernilai miliaran dolar hingga rasa bersalah yang kita rasakan saat terbangun di tengah malam.

Tapi mari kita luruskan satu hal: manusia tidak dirancang untuk pendekatan tidur yang kaku dan industrial ini.

Pada dasarnya, kita adalah makhluk yang secara alami tidur dalam dua fase. Dulu, kita tidur dalam dua bagian. Dulu, kita bangun di tengah malam tanpa langsung merasa putus asa.

Dan yang lebih penting, kita baik-baik saja.

Mitos Tidur Delapan Jam

Untuk memahami bagaimana kita sampai pada kondisi saat ini—bergelisah dalam gelap, menggenggam ponsel, dan mengetik “KENAPA AKU TERBANGUN JAM 2 PAGI” dalam huruf kapital—kita harus kembali ke masa yang lebih sederhana. Masa sebelum alarm. Sebelum listrik. Sebelum email pekerjaan mengikuti kita ke tempat tidur seperti roh jahat.

Di Eropa abad pertengahan, orang-orang tidak tidur dalam satu rentang waktu panjang.

Sebaliknya, mereka memiliki “tidur pertama” (biasanya dari matahari terbenam hingga sekitar tengah malam), diikuti dengan “waktu jaga”—periode misterius di mana mereka berbincang, makan ringan, berdoa, atau sekadar berpikir.

Kemudian, sekitar pukul 2 atau 3 pagi, mereka kembali tidur untuk “tidur kedua,” yang berlangsung hingga pagi.

Ini bukan kebiasaan unik segelintir biarawan di bangunan batu yang dingin. Ini adalah hal yang umum dilakukan.

Lalu, seperti biasa, Revolusi Industri datang dan menghancurkan segalanya.

Salahkan Pabrik

Pada tahun 1817, seorang pemilik pabrik asal Wales bernama Robert Owen menciptakan slogan “Delapan jam kerja, delapan jam rekreasi, delapan jam istirahat.”

Bukan karena ini berdasarkan penemuan ilmiah yang mendalam, tetapi karena ini lebih praktis.

Sebuah pembagian waktu 24 jam yang rapi dan disetujui oleh pabrik untuk menjaga agar pekerja tetap cukup sadar demi menghindari tersedot ke dalam mesin.

Bergerak 200 tahun kemudian, kita masih menjadi tahanan dari logika kerja ala era Victoria ini, meskipun satu-satunya mesin yang dioperasikan oleh kebanyakan dari kita pada pukul 6 pagi hanyalah mesin kopi.

Krisis Tidur Modern

Sekarang, anda mungkin bertanya: Jika tidur tersegmentasi itu begitu baik, mengapa kita meninggalkannya?

Jawabannya, seperti yang bisa ditebak, adalah pencahayaan buatan.

Sebelum listrik, malam benar-benar gelap. Orang tidur ketika matahari terbenam karena memang tidak ada yang bisa dilakukan, kecuali kamu suka bermain-main dengan lilin dan berisiko membakar gorden.

Tetapi dengan munculnya lampu gas, bola lampu listrik, dan layar ponsel yang menyinari retina kita pada pukul 11:47 malam, kita memperpanjang waktu terjaga.

Begitu kita berhenti tidur lebih awal, tidur pertama pun menghilang, “waktu jaga” lenyap, dan yang tersisa hanyalah satu blok tidur panjang—yang sekarang justru sulit kita dapatkan.

Ilmu di Balik Tidur yang Terputus

Sekarang, bagian menariknya dimulai.

Ketika orang ditempatkan di lingkungan tanpa cahaya buatan—seperti dalam studi tidur yang dikontrol—mereka secara alami kembali ke pola tidur bifasik. Mereka terbangun di tengah malam, beraktivitas selama satu atau dua jam, lalu kembali tidur.

Jadi, apa artinya ini?

Jika kamu terbangun di tengah malam, itu bukan berarti ada yang salah denganmu.

Sebaliknya, kamu justru melakukan persis seperti yang dilakukan oleh nenek moyang kita selama berabad-abad.

Gangguan tidur yang sebenarnya bukanlah terbangun di malam hari, tetapi keyakinan kita yang keliru bahwa tidur harus terjadi dalam satu blok tanpa gangguan.

Jadi, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Pertama, berhenti panik.

Jika anda terbangun pukul 2 pagi, selamat! Kamu berfungsi sebagaimana manusia selama sebagian besar sejarah.

Daripada cemas memikirkan penurunan kognitif yang akan datang, manfaatkan waktu itu. Baca buku. Buat secangkir teh. Tatap jendela dengan ekspresi muram seperti tokoh utama yang tak dimengerti.

Kedua, kenali dan terima kronotipe-mu. Apakah kamu si “burung pagi,” “burung hantu malam,” atau semacam “merpati lelah permanen,” tubuhmu memiliki pola alami yang sudah ditentukan.

Studi menunjukkan bahwa variasi pola tidur 40–72 persen dipengaruhi oleh genetika. Jika nenek moyangmu lebih suka memulai hari di siang hari, kemungkinan besar begitu juga kamu.

Dan terakhir, mari kita tinggalkan jadwal tidur yang kaku. Manusia bukanlah robot. Kita tidak perlu tidur dengan jumlah yang sama, pada waktu yang sama, dengan cara yang sama.

Suku Hadza, pemburu-pengumpul dari Tanzania, tidur rata-rata hanya 6,25 jam per malam tanpa konsep jam tidur yang tetap. Tapi mereka tidak mengalami kurang tidur atau krisis eksistensial.

Sementara itu, kita—dengan tirai anti-cahaya, suplemen melatonin, dan obsesi berlebihan terhadap aplikasi tidur—justru berjalan seperti zombie.

Mungkin, hanya mungkin, kita telah melakukan semuanya dengan cara yang salah.

Pendekatan Baru untuk Tidur

Jadwal tidur yang ideal? Itu adalah jadwal yang cocok untuk Anda. 

Bukan yang ditentukan oleh pemilik pabrik di Wales dari tahun 1817. Bukan jadwal yang dipaksakan oleh ekspektasi sosial yang kaku.

Jadi, lain kali jika Anda terbangun di tengah malam, ingatlah, ini bukan krisis. Ini adalah sejarah yang mengetuk pintu Anda.

Dan, alih-alih melawannya, mungkin, mungkin saja, Anda kiranya harus menyeduh secangkir teh dan membiarkannya mengalir begitu saja. 

Rezim Tiongkok Memulai Pertemuan Politik Tertinggi di Tengah Krisis Ekonomi dan Politik

Seorang pakar mengatakan krisis ini berakar pada masalah struktural dalam rezim, yang tidak dapat diselesaikan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT)

EtIndonesia. Pertemuan politik tertinggi rezim komunis Tiongkok, yang dikenal sebagai “Dua Sesi,” dimulai pada 4 Maret dan diperkirakan berlangsung selama seminggu.

Kongres Rakyat Nasional yang bersifat formalitas akan menyetujui keputusan yang telah dibuat oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang akan menandakan prioritas rezim untuk tahun mendatang.

Sebelum pertemuan dimulai, media pemerintah merilis pesan-pesan yang menunjukkan bidang fokus rezim. Para ahli mengatakan bahwa rezim sedang mengalami krisis politik dan ekonomi serta tidak akan mewujudkan janji-janji yang dibuat selama “Dua Sesi” ini.

Ekonomi

Media resmi PKT merilis beberapa pernyataan pemimpin PKT, Xi Jinping, tentang ekonomi.

Pada 2 Maret, Kantor Berita Xinhua menerbitkan sebuah artikel di mana Xi mengklaim, “Saya selalu mendukung perusahaan swasta.”

Jurnal periodik PKT Qiushi pada 1 Maret menerbitkan pidato Xi di Konferensi Kerja Ekonomi Pusat pada Desember 2024. Xi mengatakan bahwa pemerintah harus mengkoordinasikan “hubungan antara pasar yang efektif dan pemerintah yang efisien” untuk membentuk tatanan ekonomi yang “membiarkan ekonomi berjalan bebas” sekaligus tetap “terkendali.”

Yuan Hongbing, seorang pakar hukum yang berbasis di Australia, mengatakan kepada The Epoch Times pada 2 Maret bahwa klaim Xi tentang dukungan terhadap perusahaan swasta adalah kebohongan.

Rezim Tiongkok telah menerapkan kebijakan “kemajuan negara dan kemunduran sektor swasta” selama bertahun-tahun untuk menekan sektor swasta.

Yuan menyebutkan bahwa Xi baru saja memberikan peringatan keras kepada para pengusaha swasta dalam pertemuannya bulan lalu. Xi mengatakan bahwa dalam masa sulit, perusahaan swasta harus memberikan lebih banyak kontribusi finansial dan tenaga, berinvestasi lebih banyak, serta membentuk sistem kerja sama dengan perusahaan milik negara di bidang utama. Ia juga memperingatkan bahwa siapa pun yang menolak atau bersekongkol dengan kekuatan asing akan dihukum oleh hukum, menurut Yuan.

Di tengah tekanan ekonomi yang meningkat dari pemerintahan Trump dan kaburnya modal asing dari Tiongkok, Xi dan PKT memaksa perusahaan swasta untuk berinvestasi serta bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan negara yang otoriter. Yuan mengatakan bahwa ini hanyalah cara lain untuk merampas kekayaan sektor swasta dengan dalih menerapkan ekonomi pasar guna membantu PKT bertahan dari krisis ekonomi saat ini.

Trump mengumumkan pada 27 Februari bahwa setelah kenaikan tarif 10 persen terhadap barang-barang Tiongkok pada awal Februari, tarif tambahan sebesar 10 persen akan diberlakukan mulai 4 Maret, sehingga total kenaikan menjadi 20 persen. Pasca pengumuman tersebut, tiga bursa saham utama Tiongkok—Shanghai, Shenzhen, dan Hong Kong—mengalami penurunan secara tajam.

Rezim Tiongkok mengajukan keluhan terhadap Amerika Serikat ke Organisasi Perdagangan Dunia atas kenaikan tarif tersebut dan membalasnya dengan menangguhkan impor kayu serta beberapa produk pertanian dari AS.

Xu Zhen, seorang profesional senior di pasar modal Tiongkok, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa berdasarkan langkah-langkah PKT dalam menghadapi kenaikan tarif Trump—yang dinilai tidak efektif—rezim  berada dalam keadaan kacau.

Ia menambahkan bahwa Xi sebenarnya menyadari kelemahan sistem PKT, tetapi kini ia menyerukan kepada para birokrat untuk “membiarkan ekonomi berjalan bebas” sekaligus tetap “mengendalikannya,” yang merupakan hal mustahil.

Xu mengatakan bahwa pernyataan Xi baru-baru ini tentang ekonomi menunjukkan bahwa kebijakan politiknya yang mengutamakan partai dalam mengelola ekonomi telah mengalami kemunduran besar, otoritasnya mendapat tantangan serius, dan ia telah kehilangan kendali atas pejabat menengah hingga bawahan.

“Para birokrat PKT yang tidak bertindak adalah bentuk perlawanan diam terhadap Xi serta menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadapnya,” kata Xu. 

“Xi ingin mendorong ekonomi melalui permintaan domestik dan membiarkan perusahaan swasta menyelamatkan PKT, tetapi itu hanyalah angan-angan dan sudah terlambat.”

Keamanan Politik

Menjelang “Dua Sesi,” PKT secara tiba-tiba merilis revisi baru atas “Rencana Tanggap Darurat Nasional untuk Kejadian Publik Besar” pada 25 Februari, yang menekankan stabilitas sosial serta penguatan kontrol opini publik dan komando pusat. Selain bencana alam, kecelakaan, dan insiden kesehatan masyarakat, revisi ini juga menargetkan “insiden keamanan.”

Yeh Yao-Yuan, profesor ilmu politik dan studi internasional di University of St. Thomas, mengatakan kepada The Epoch Times pada 2 Maret bahwa pengenalan rencana ini menunjukkan bahwa di tengah penurunan ekonomi Tiongkok, ada kemungkinan bahwa beberapa pihak akan melawan Komite Sentral PKT. Oleh karena itu, pihak berwenang harus memperoleh lebih banyak informasi intelijen terlebih dahulu untuk mencegahnya.

“Dalam beberapa hal, ini juga menunjukkan bahwa para pemimpin tertinggi PKT, terutama Xi Jinping, pesimis tentang stabilitas politik rezim di masa depan,” katanya.

Yuan mengatakan bahwa tujuan PKT dalam menerbitkan rencana ini adalah untuk mengantisipasi kemungkinan pemberontakan militer, kerusuhan sipil, dan berbagai krisis sosial lainnya.

“Mereka sudah merasakan bahaya dari krisis ini,” katanya.

“Krisis terbesar yang dihadapi PKT saat ini sebenarnya adalah krisis rezim itu sendiri serta krisis kediktatoran Xi Jinping yang semakin terpusat,” ujar Yuan.

Ia menyebutkan tiga sumber utama masalah politik yang dihadapi kediktatoran Xi saat ini:

  1. Masalah ekonomi, yang dapat memicu krisis politik dan sosial besar dalam kediktatoran PKT.
  2. Hampir semua pejabat dalam PKT tidak puas dengan kediktatoran Xi, termasuk beberapa perwira militer.
  3. Amerika Serikat yang semakin memperkuat hubungannya dengan Taiwan.

Isu Kesejahteraan Rakyat

“Dua Sesi” biasanya membahas beberapa isu yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat.

Tahun ini, Chen Songqi, anggota Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok serta akademisi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, mengusulkan penurunan usia pernikahan legal menjadi 18 tahun guna meningkatkan angka kelahiran. Saat ini, usia pernikahan legal di Tiongkok adalah 22 tahun untuk pria dan 20 tahun untuk wanita.

Usulan ini menuai cemoohan dari pengguna internet di Tiongkok. Sementara itu, tingkat pengangguran di Tiongkok terus meningkat seiring dengan rekor jumlah lulusan perguruan tinggi yang akan memasuki pasar kerja pada tahun 2025.

Yuan mengatakan bahwa masalah kesejahteraan rakyat yang paling krusial di Tiongkok saat ini adalah populasi yang menua, yang sulit diatasi.

“Pada saat yang sama, akibat penurunan ekonomi, kaum muda tidak mampu membangun keluarga dan karena itu enggan menikah atau memiliki anak. Ini adalah masalah struktural yang tidak dapat diselesaikan oleh PKT,” katanya.

Selain itu, ia menambahkan bahwa selama pandemi COVID-19, PKT memaksa rakyatnya untuk menerima vaksin buatan domestik, yang kini menunjukkan berbagai efek samping dan kemungkinan berkontribusi pada gelombang infeksi pernapasan saat ini di Tiongkok.

“Menghadapi berbagai masalah krusial ini, PKT bukan hanya tidak berani menghadapinya, tetapi juga berusaha menutup-nutupi krisis dengan mengaburkan kenyataan,” kata Yuan.

“‘Dua Sesi’ PKT bukanlah pertemuan untuk menyelesaikan masalah, tetapi untuk menutupi masalah,” pungkasnya.

Sumber : Theepochtimes.com 

Wapres Gibran Rakabuming Tinjau Lokasi Banjir di Bekasi, Didampingi Kepala BNPB 

EtIndonesia– Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming didampingi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto bersama meninjau lokasi terdampak banjir di Perumahan Pondok Gede Asri, Kecamatan Jati Asih, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/3/2025). Peninjauan itu dilakukan atas arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, yang disampaikan pada Rapat Terbatas di Istana Negara, Jakarta, sehari sebelumnya atau pada Selasa (4/3/2025).

Dikutip dari siaran pers BNPB, pada peninjauan itu, Wapres dan Kepala BNPB melihat kondisi pascabanjir yang kini menyisakan lumpur dan sampah. Dalam kesempatan itu, keduanya pun menyempatkan diri menyapa warga yang tengah membersihkan rumahnya dari sisa puing sampah dan lumpur.

Wapres dan Kepala BNPB turut mendengarkan keluhan dan permohonan dukungan dari para warga. Sejalan dengan itu, Wapres langsung memberikan jaminan bahwa segala bentuk kebutuhan dasar mendesak dan solusi jangka pendek hingga jangka panjang akan segera diberikan pemerintah melalui BNPB atas sinergi dengan Kementerian/Lembaga terkait serta tentunya pemerintah daerah setempat.

Wapres juga meminta BNPB untuk terus memprioritaskan dukungan langsung yang dibutuhkan masyarakat mulai dari penyelamatan dan pertolongan, pemenuhan kebutuhan dasar, permakanan hingga hal yang berkaitan dengan penanganan darurat.

Mantan Wakil Wali Kota Solo itu turut berpesan agar pemulihan segera dilakukan secara paralel, mengingat saat ini sebagian besar umat muslim tengah menjalankan ibadah puasa ramadan yang akan segera disusul dengan momentum Idul Fitri. Wapres tidak ingin masyarakat merasakan penderitaan terlalu lama dan menunaikan ibadah dalam kondisi kemalangan.

Kepala BNPB sendiri telah memastikan segala bentuk dukungan kebutuhan dasar pengungsi dan warga terdampak lainnya telah diberikan secara maksimal hingga situasi serta kondisi kembali normal. BNPB mendirikan posko pengungsian di Gedung Logistik dan Peralatan yang berada tak jauh dari lokasi terdampak banjir di Jati Asih.

“Upaya yang dilakukan BNPB beserta pihak terkait diantaranya aktivasi Posko Terpadu Penanggulangan Bencana, melaksanakan pencarian, evakuasi dan penyelamatan masyarakat terdampak, memastikan kebutuhan dasar pengungsi dipenuhi secara maksimal, dan melakukan pendataan terhadap barang, rumah masyarakat, infrastruktur, dan lain-lain yang rusak akibat banjir,” papar Suharyanto.

Sebagai langkah mitigasi dari potensi bencana susulan, BNPB juga telah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak Selasa (4/3) hingga Sabtu (8/3). OMC sendiri menurut Kepala BNPB akan dilanjutkan jika memang diperlukan, terlebih berdasarkan prakiraan cuaca BMKG bahwa potensi curah hujan dapat kembali meningkat pada 11-15 mendatang.

“Nanti operasi modifikasi cuaca akan kita laksanakan sampai tanggal 8 Maret, kemudian istirahat sebentar, nanti tanggal 11 Maret kita mulai lagi karena menurut prakiraan BMKG akan timbul hujan lagi,” ungkap Suharyanto.

Menyapa Para Warga Pengungsi

Sebelumnya Wapres Gibran bersama Kepala BNPB juga telah menyapa para warga yang mengungsi di tenda-tenda BNPB dan pelataran gudang logistik serta peralatan di Gedung BNPB Jati Asih. Pada kesempatan itu, Wapres dan Kepala BNPB meminta warga agar tetap tenang dan waspada dengan potensi cuaca ke depan.

Kepala BNPB juga menyatakan bahwa bagi warga terdampak yang tempat tinggalnya mengalami kerusakan baik itu ringan, sedang atau berat, maka BNPB akan mendukung dengan upaya relokasi. Tentunya implementasinya nanti dibutuhkan peran pemerintah daerah setempat untuk mempersiapkan lahan yang lebih aman dari segala jenis bencana.

Di sisi lain, Kepala BNPB juga meminta kepada warga agar apapun yang menjadi kebutuhan agar disampaikan langsung kepada BNPB. Warga dapat menyampaikan aspirasi, keluhan maupun kebutuhan secara langsung kepada tim BNPB yang ada di Gedung Logistik dan Peralatan BNPB di Jati Asih.

Banjir yang melanda wilayah Jati Asih dan sekitarnya akibat curah hujan tinggi serta kiriman air dari wilayah hulu telah melumpuhkan aktivitas warga. Genangan air yang mencapai 3 meter itu juga membuat warga harus dievakuasi ke beberapa titik yang lebih aman.

Secara keseluruhan, banjir yang melanda Kota Bekasi sendiri telah berdampak pada 16 kelurahan di 10 kecamatan. Menurut hasil kaji cepat per Rabu (5/3), sedikitnya 61.233 dari 18.738 KK terdampak. Tidak ada korban jiwa atas peristiwa tersebut, kendati demikian banjir telah membuat mobilitas dan aktivitas masyarakat menjadi terkendala. (Bnpb)

Minuman Manis Mengubah Bakteri Usus, Meningkatkan Risiko Diabetes

Sebuah studi besar menawarkan wawasan baru tentang faktor risiko diabetes

 George Citroner

Para ilmuwan telah menemukan mata rantai yang hilang antara minuman manis dan risiko diabetes: bakteri usus Anda. Sebuah studi baru menunjukkan bahwa minum sugar-sweetened beverages (SSB) atau minuman manis bergula tidak hanya membanjiri tubuh Anda dengan kalori kosong, tetapi juga mengganggu keseimbangan mikroba yang rapuh di sistem pencernaan Anda—menyebabkan perubahan yang dapat memprediksi siapa yang akan mengembangkan diabetes bertahun-tahun sebelum gejala muncul. 

Studi ini, menurut para penulis, adalah yang pertama menilai efek SSB pada metabolisme dan risiko diabetes, khususnya di kalangan populasi Hispanik dan Latin di AS—kelompok yang menghadapi tingkat diabetes yang lebih tinggi dan mengonsumsi minuman manis dalam jumlah besar.

Mikrobioma Dapat Memainkan Peran Penting 

Diterbitkan dalam jurnal Cell Metabolism, studi kohort jangka panjang terhadap lebih dari 11.000 orang dewasa Hispanik dan Latin meneliti bagaimana bakteri usus dan bahan kimia darah (dari pemecahan makanan) berbeda antara orang yang minum banyak minuman manis dan mereka yang tidak meminumnya. Minuman manis bergula adalah sumber utama gula tambahan dalam makanan orang dewasa AS, menurut para peneliti.

Bakteri usus secara signifikan memengaruhi kadar gula darah dan penanda metabolisme dengan menghasilkan metabolit seperti asam lemak rantai pendek, yang secara langsung dapat memengaruhi sensitivitas insulin dan kemampuan tubuh untuk memproses glukosa. 

Para peneliti menemukan bahwa perubahan kimia darah spesifik yang terkait dengan minuman manis meningkatkan risiko diabetes selama 10 tahun berikutnya. Diabetes tipe 2, suatu kondisi di mana tubuh secara bertahap kehilangan kemampuannya untuk mengatur gula darah secara efektif, memengaruhi lebih dari setengah miliar orang di seluruh dunia. 

“Studi kami menunjukkan mekanisme potensial untuk menjelaskan mengapa minuman manis bergula buruk bagi metabolisme Anda,” kata Qibin Qi, seorang ahli epidemiologi di Albert Einstein College of Medicine dan penulis senior studi tersebut, dalam sebuah pernyataan.

Qi mencatat bahwa dibandingkan dengan makanan padat, gula tambahan dalam minuman “mungkin lebih mudah diserap, dan mereka memiliki kepadatan energi yang sangat tinggi karena hanya gula dan air.” 

Penyerapan gula yang cepat ini dapat menyebabkan lonjakan gula darah, peningkatan risiko obesitas, dan masalah kesehatan lainnya jika dikonsumsi berlebihan.

“Meskipun temuan kami bersifat observasional, mereka memberikan wawasan untuk potensi pencegahan atau strategi pengelolaan diabetes menggunakan mikrobioma usus,” kata Qi.

Perubahan Mikrobioma yang Merugikan 

Studi tersebut tidak menemukan hubungan keseluruhan antara konsumsi SSB dan keragaman umum bakteri usus. Namun, ditemukan sembilan bakteri usus spesifik yang terkait dengan asupan SSB. Satu bakteri, Dakarella massiliensis, kurang umum pada orang yang minum lebih banyak SSB. Delapan bakteri lainnya (semua dari filum Firmicutes, salah satu kelompok bakteri paling melimpah di usus manusia) juga terkait dengan asupan SSB. 

Dua (Anaerostipes caccae dan Clostridium bolteae) lebih melimpah dengan konsumsi SSB yang lebih tinggi. Bakteri usus yang terkait dengan minuman manis dikaitkan dengan kesehatan metabolisme yang lebih buruk, termasuk peningkatan glukosa darah puasa dan kadar insulin, indeks massa tubuh yang lebih tinggi, dan kadar kolesterol lipoprotein densitas tinggi (“kolesterol baik”) yang lebih rendah. 

Menariknya, hubungan ini tidak terlihat dengan gula dari makanan lain. Studi ini tidak secara langsung menghubungkan perubahan bakteri spesifik ini dengan risiko diabetes, tetapi perubahan mikrobioma usus dapat memiliki efek hilir pada kesehatan, termasuk berpotensi memengaruhi risiko diabetes. 

Selain itu, hubungan ditemukan antara konsumsi minuman manis dan 56 metabolit darah. Ini termasuk beberapa yang dihasilkan oleh mikrobioma manusia. Orang dengan kadar metabolit tertentu yang tinggi, termasuk beberapa lemak dan asam amino rantai cabang (yang memengaruhi metabolisme dan gula darah) dan kadar turunan asam amino lainnya yang rendah, memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes selama 10 tahun berikutnya. 

Lima kelompok metabolit diidentifikasi. Salah satunya—turunan asam amino rantai cabang (BCAA), yang penting untuk produksi energi dan diproduksi oleh mikrobiota—meningkat dengan konsumsi minuman manis dan perubahan bakteri usus terkait. 

Kadar BCAA dan turunannya yang tinggi dapat mengganggu pensinyalan insulin, membuat sel kurang responsif terhadap insulin dan meningkatkan risiko diabetes.

Memprediksi Risiko Diabetes di Masa Depan 

“Kami menemukan bahwa beberapa metabolit terkait mikrobiota dikaitkan dengan risiko diabetes,” kata Qi.

 “Dengan kata lain, metabolit ini dapat memprediksi diabetes di masa depan.” 

Metabolit ini termasuk kreatin, urat, xantin, dan berbagai turunan asam lemak seperti 1-palmitoleoylglycerol dan 1-oleoylglycerol. Para peneliti mencatat bahwa karena ukuran sampel yang terbatas untuk analisis mikrobioma usus, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan langsung antara mikroba usus spesifik dan risiko diabetes.

 Tim peneliti berencana untuk memvalidasi temuan ini pada populasi lain dan mengeksplorasi peran metabolit mikroba dalam masalah kesehatan kronis lainnya yang terkait dengan konsumsi gula berlebihan, termasuk penyakit kardiovaskular.

Pakar  : Lewati Saja Gula 

Kalori kosong bukan satu-satunya masalah dengan minuman manis. Minuman ini tidak memuaskan rasa lapar seperti makanan padat, menyebabkan orang mengonsumsi kalori jauh lebih banyak daripada yang mereka sadari, demikian Stephanie Schiff, ahli diet terdaftar dan spesialis diabetes bersertifikat di Huntington Hospital di New York, mengatakan kepada The Epoch Times. 

“Masalah lain yang kami temukan adalah bahwa asupan gula yang berlebihan mengganggu mikrobioma usus kami.” 

Schiff merekomendasikan untuk mengganti minuman manis dengan air, yang dia sebut “standar emas,” tetapi dia mengatakan seltzer, teh (konvensional atau herbal), dan kopi juga merupakan pilihan yang baik.

“Lewati saja gula,” katanya, menambahkan bahwa sebaiknya hindari kopi beraroma, karena sering mengandung gula dalam jumlah “luar biasa”. Misalnya, kopi yang diberi rasa dengan beberapa jenis sirup dapat mengandung 70 gram atau lebih gula dalam satu minuman besar. 

Schiff menunjukkan bahwa belum banyak penelitian tentang efek pemanis buatan pada mikrobioma usus, tetapi yang telah dilakukan menunjukkan efek negatif dan netral.

“Saran saya adalah untuk menghindari pemanis buatan jika Anda bisa, atau menggunakan pemanis non-nutritif alami, seperti Stevia,” katanya.

Studi Menunjukkan Screen Time Berkaitan dengan Peningkatan Risiko Rabun Jauh pada Anak

Bahkan satu jam screen time per hari secara signifikan meningkatkan risiko rabun jauh, terutama pada anak-anak, menurut sebuah studi terbaru

 George Citroner

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa bahkan satu jam screen time per hari secara signifikan meningkatkan risiko rabun jauh (myopia), terutama pada anak-anak.

Semakin Lama Screen Time, Semakin Tinggi Risikonya

Para peneliti menemukan bahwa menghabiskan satu jam tambahan per hari (di luar satu jam pertama) untuk menatap layar dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan terkena rabun jauh sebesar 21 persen.

Studi ini menganalisis data dari 45 penelitian berbeda yang melibatkan lebih dari 335.000 peserta untuk menemukan hubungan kompleks antara screen time dan risiko myopia. Analisis ini mengumpulkan data dari berbagai perangkat digital seperti ponsel pintar, tablet, konsol game, komputer, dan televisi, yang secara kolektif disebut sebagai perangkat digital.

Temuan dari tinjauan sistematis dan meta-analisis yang baru-baru ini diterbitkan dalam JAMA Network Open menyoroti kekhawatiran yang semakin meningkat terkait penggunaan layar oleh anak-anak.

“Karena anak-anak semakin banyak menggunakan perangkat pintar sejak usia dini dan menghabiskan lebih banyak waktu di layar digital, ada kebutuhan mendesak untuk lebih memahami hubungan antara waktu layar digital dan myopia,” tulis para peneliti.

Di Amerika Serikat, prevalensi myopia diperkirakan sekitar 42 persen. Di antara anak-anak, sekitar 41 persen di daerah perkotaan dan 16 persen di daerah pedesaan mengalami kondisi ini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa screen time harian sebaiknya dibatasi kurang dari satu jam untuk mengurangi risiko berkembangnya rabun jauh.

Melanjutkan Penelitian Sebelumnya

Meta-analisis sebelumnya yang menggabungkan data dari 11 studi dengan 934 peserta menemukan bahwa waktu layar pada perangkat pintar (seperti ponsel pintar atau tablet) berkaitan dengan peningkatan risiko rabun jauh sebesar 26 persen.

Ketika screen time ini dikombinasikan dengan penggunaan komputer, kemungkinan terkena rabun jauh meningkat hingga 77 persen.

Namun, meta-analisis lain yang menganalisis waktu layar berdasarkan kategori perangkat menemukan bahwa penggunaan komputer dan televisi berkaitan dengan rabun jauh, sedangkan penggunaan ponsel pintar tidak demikian.

Para peneliti dalam studi terbaru mencatat bahwa temuan ini menyoroti perlunya investigasi lebih mendalam untuk menentukan ambang batas aman paparan perangkat digital.

Mengapa Risiko Rabun Jauh Meningkat?

Rabun jauh terjadi ketika mata memanjang dari depan ke belakang, menyebabkan cahaya yang masuk ke mata terfokus di depan retina, bukan langsung di atasnya. Hal ini membuat objek yang jauh tampak buram, jelas Dr. Meenal Agarwal, seorang optometris dan pemilik beberapa klinik optometri di Kanada, kepada The Epoch Times.

“Ini memang tampak berlawanan dengan intuisi,” katanya. “Namun teorinya adalah bahwa fokus pada objek dekat dalam waktu lama dapat memberi tekanan pada sistem fokus mata, yang dapat memengaruhi bentuk mata dan menyebabkannya memanjang lebih dari yang seharusnya.”

Ia menambahkan bahwa ini berlaku ketika melihat objek lebih dekat dari 22 inci (sekitar 56 cm) dari wajah.

Saat menatap layar, mata terus-menerus berfokus pada jarak tetap yang biasanya sangat dekat dengan wajah. Hal ini mencegah perpindahan alami antara fokus pada objek dekat dan jauh, yang biasanya terjadi di lingkungan alami. Akibatnya, mata tetap fokus dalam waktu lama, menyebabkan ketegangan pada otot yang bertanggung jawab untuk mengubah fokus mata, dan berpotensi berkontribusi pada rabun jauh karena upaya fokus dekat yang berkepanjangan.

Agarwal juga mengatakan bahwa peningkatan tekanan ini dapat mencegah mata untuk sepenuhnya rileks saat melihat objek yang jauh, yang dapat menyebabkan perubahan dalam pertumbuhan mata dari waktu ke waktu.

Mengurangi Risiko Rabun Jauh

Untuk mengurangi risiko rabun jauh pada anak-anak, Agarwal merekomendasikan agar mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar ruangan.

“Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan cenderung memiliki risiko lebih rendah terkena rabun jauh,” katanya.

“Hal ini disebabkan oleh paparan cahaya alami dan fokus pada objek dengan berbagai jarak, seperti yang kita lakukan saat berada di luar ruangan.”

Agarwal merekomendasikan sekitar dua jam waktu di luar ruangan per hari untuk anak-anak dan orang dewasa guna membantu mencegah atau menunda timbulnya rabun jauh. Ia juga menekankan pentingnya mengurangi aktivitas yang membutuhkan fokus dekat dalam waktu lama serta mengambil jeda saat melakukan aktivitas tersebut.

Untuk mengurangi ketegangan akibat pekerjaan dekat yang berkepanjangan, Agarwal menyarankan untuk mengikuti aturan “20-20-20”, yaitu mengambil jeda selama 20 detik dan melihat sesuatu yang berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter) setiap 20 menit.

“Terakhir, jika anak Anda sudah mengalami rabun jauh, pertimbangkan opsi kontrol myopia dengan dokter mata, seperti kacamata khusus, lensa kontak, atau pengobatan dengan tetes mata atropin,” katanya. “Semua metode ini terbukti dapat memperlambat perkembangan rabun jauh.

George Citroner melaporkan tentang kesehatan dan kedokteran, meliput topik-topik yang mencakup kanker, penyakit menular, dan kondisi neurodegeneratif. Dia dianugerahi penghargaan Media Orthopaedic Reporting Excellence (MORE) pada tahun 2020 untuk sebuah cerita tentang risiko osteoporosis pada pria.

Apa yang Dikhawatirkan oleh PKT Jika AS Berhasil Menegosiasikan Akhir Perang Rusia–Ukraina?

Tiongkok, yang menghadapi pertikaian politik internal dan ekonomi yang melemah, berisiko menjadi ancaman utama bagi Amerika Serikat jika perang Ukraina berakhir. Bisakah negara itu bertahan di bawah tekanan?

oleh Dorothy Li

Jika Presiden Donald Trump berhasil menegosiasikan kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina, Partai Komunis Tiongkok (PKT)  bisa menjadi target berikutnya bagi Amerika Serikat, menurut para analis.

Dalam panggilan telepon pada 24 Februari, pemimpin PKT  Xi Jinping menegaskan kembali kemitraan “tanpa batas” yang ia deklarasikan tiga tahun lalu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Sebagai bentuk solidaritas, Xi mengatakan kepada Putin bahwa negara mereka adalah “tetangga yang baik” dan “sahabat sejati yang telah melalui suka dan duka bersama,” menurut pernyataan resmi Beijing.

Para analis mengatakan bahwa kehangatan yang ditunjukkan dalam peringatan tahun ketiga perang Ukraina mencerminkan kekhawatiran serius dari rezim Tiongkok.

“Ketakutan terbesar Xi Jinping adalah jika Putin berpihak pada Trump” atau bahkan membantu upaya AS untuk mengekang rezimnya, kata Cai Shenkun, seorang komentator independen urusan Tiongkok, kepada The Epoch Times.

Menurut Cai, aliansi antara dua rezim otoriter ini tidak sekuat yang terlihat. Ia menjelaskan bahwa perang di Ukraina telah menjadi katalis yang mempererat hubungan antara Beijing dan Moskow serta ekonomi mereka. Namun, setelah gencatan senjata tercapai, beberapa titik gesekan lama dalam kemitraan mereka, seperti sengketa wilayah di perbatasan bersama, mungkin akan muncul kembali.

Selain itu, dukungan Beijing terhadap upaya perang Moskow telah memperburuk hubungannya dengan Washington dan Brussel.

Pejabat AS berulang kali mengkritik Tiongkok karena membantu Rusia membangun kembali kompleks industri pertahanannya melalui ekspor barang yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer, sehingga memberikan Moskow jalur ekonomi di tengah sanksi Barat.

Sementara itu, para pemimpin Eropa, termasuk Sekretaris Jenderal NATO, sedang mempertimbangkan kembali ketergantungan mereka pada rezim otoriter, terutama setelah konflik bersenjata terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.

“Dulu, kita melakukan kesalahan dengan bergantung pada minyak dan gas Rusia. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan itu dengan Tiongkok: bergantung pada uang, bahan mentah, dan teknologinya,” kata Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg dalam sebuah acara pada April 2024. “Ketergantungan membuat kita rentan.”

Cai mengatakan bahwa ketika ketidakpercayaan global terhadap  komunis Tiongkok meningkat, rezim tersebut bisa semakin terpinggirkan setelah konflik di Ukraina berakhir dan Putin tidak lagi membutuhkan dukungan Xi.

“Baik Ukraina maupun Rusia tidak akan berterima kasih kepada Tiongkok atas perang ini. Eropa juga pasti tidak,” kata Cai. 

“Xi tidak punya pilihan lain selain bertaruh pada Putin.”

Pergeseran Fokus AS ke Tiongkok

Chen Shih-min, pakar keamanan Eropa Barat dan militer Tiongkok di Universitas Nasional Taiwan di Taipei, menggemakan pandangan tersebut. Ia mengatakan bahwa Beijing dan Moskow terikat oleh kepentingan bersama, yang berarti mereka akan berpisah begitu kepentingan tersebut mulai bertentangan.

Chen mengatakan bahwa setelah perang Ukraina selesai, pemerintahan Trump mungkin akan mengalihkan fokusnya untuk memisahkan Beijing dari Moskow dan menghadapi PKT.

“Trump akan menekan PKT dengan keras,” kata Chen kepada The Epoch Times.

Para pemimpin pertahanan AS telah mengindikasikan adanya pergeseran strategis untuk menghadapi ancaman dari komunis Tiongkok.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menggambarkan komunis Tiongkok sebagai pesaing setara dengan “kapabilitas dan niat untuk mengancam tanah air kita serta kepentingan nasional inti di Indo-Pasifik.”

“AS memprioritaskan pencegahan perang dengan Tiongkok di Pasifik, menyadari keterbatasan sumber daya, dan membuat pengorbanan dalam alokasi untuk memastikan pencegahan tetap efektif,” kata Hegseth dalam pernyataan pembukaannya pada pertemuan Ukraine Defense Contact Group di Brussel pada 12 Februari.

Pergeseran fokus ini tidak hanya terbatas pada militer AS. “Untuk membawa manufaktur kembali ke Amerika Serikat dan mengatasi defisit perdagangan, Trump harus menargetkan akar masalah ini: PKT,” kata Chen.

Tantangan yang Dihadapi Beijing di Dalam Negeri

Dengan meningkatnya tekanan eksternal, bisakah PKT bertahan dari pengawasan global? Cheng Cheng-ping, profesor di Universitas Sains dan Teknologi Nasional Yunlin, Taiwan, mengatakan bahwa ia belum melihat tanda-tanda langsung dari runtuhnya kekuasaan PKT, meskipun ada indikator “pelemahan dan kemunduran rezim,” seperti pertikaian politik dan ekonomi yang goyah.

Ekonomi terbesar kedua di dunia ini sedang berjuang dengan lemahnya permintaan domestik, populasi yang menua, dan krisis berkepanjangan di sektor real estat.

Tingkat pengangguran bagi kelompok usia 16 hingga 24 tahun melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Otoritas Tiongkok bahkan menghentikan pelaporan angka ini pada Juni 2023 setelah data resmi menunjukkan bahwa satu dari lima anak muda di Tiongkok tidak bekerja.

Banyak lulusan perguruan tinggi terpaksa menerima pekerjaan berupah rendah, sementara ekonomi melemah dan perusahaan asing menarik diri, yang menyebabkan meningkatnya ketidakpuasan publik.

Chen mengatakan bahwa meskipun ketidakpuasan publik atau perlambatan ekonomi tidak akan secara langsung mengancam kekuasaan Partai—karena pengawasan massal dan kontrol sosial yang ketat—hal ini bisa menciptakan situasi di mana Xi mempertimbangkan tindakan militer agresif, seperti invasi ke Taiwan, untuk mengalihkan kritik terhadap dirinya.

“Ketidakpuasan publik sangat kuat. Dari sudut pandang lain, harus ada cara untuk melepaskan ketidakpuasan ini, dan perang akan cukup untuk mengalihkan perhatian publik dari Xi Jinping,” kata Cheng kepada The Epoch Times.

PKT tidak pernah menguasai Taiwan, tetapi menganggap pulau demokratis yang berpemerintahan sendiri itu sebagai wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk merebutnya. Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok sering mengirim pesawat dan kapal perang untuk melakukan latihan militer skala besar di dekat Taiwan guna melemahkan pertahanan pulau itu.

Latihan perang terbaru berlangsung sekitar 40 mil laut dari pantai Kota Kaohsiung di Taiwan selatan. Pada 26 Februari, kementerian pertahanan Taiwan melaporkan bahwa 45 pesawat militer dan 16 kapal perang Tiongkok terdeteksi di dekat pulau itu.

Cheng, yang mengunjungi Kyiv, Odesa, dan dua kota lain di Ukraina pada 2023 untuk mempelajari pelajaran dari perang di Eropa bagi Taiwan, mengatakan bahwa ia tidak setuju dengan anggapan bahwa Xi akan bertindak hati-hati selama masa jabatan kedua Trump.

Menurut analisisnya, kemungkinan invasi meningkat seiring dengan kemajuan sektor pertahanan Beijing, yang melampaui Amerika Serikat dalam beberapa bidang utama, seperti pembuatan kapal.

Namun, menurut Cheng, langkah terburu-buru untuk menyerang Taiwan dapat berujung pada “akhir dari” kekuasaan komunis di Tiongkok.

Akhir dari Kekuasaan Komunis di Tiongkok?

Aktivis Qin Jin mengatakan bahwa meskipun tidak ada “tanda jelas” yang menunjukkan kejatuhan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam waktu dekat, ia tidak akan terkejut jika hal itu terjadi dalam semalam, mirip dengan runtuhnya Uni Soviet—sesuatu yang hanya sedikit diprediksi oleh dunia Barat sebelum benar-benar terjadi pada tahun 1991.

Qin menyoroti kerahasiaan yang menyelimuti rezim otoriter, membandingkan cara kerja internal PKT dengan Tirai Besi era Soviet, dan menyebutnya sebagai “Tirai Bambu” di Tiongkok.

“Apa yang tersembunyi di balik Tirai Bambu hampir mustahil untuk diketahui hingga pihak berwenang memilih untuk mengungkapkannya,” kata Qin, ketua Federasi untuk Demokrasi Tiongkok di Australia, kepada The Epoch Times.

Sebagai contoh dari sifat tertutupnya rezim ini, Qin mengutip kendali ketat Beijing terhadap informasi terkait COVID-19, yang pertama kali muncul di kota Wuhan, Tiongkok tengah, lima tahun lalu. Hingga saat ini, Beijing masih menolak penyelidikan internasional mengenai asal-usul pandemi, membuat dunia tetap dalam kegelapan tentang bagaimana pandemi itu bermula di Tiongkok.

Kerahasiaan semakin ketat ketika menyangkut pusat kekuasaan negara tersebut. Qin menyoroti misteri di balik kematian mantan pejabat nomor dua, Li Keqiang, pada Oktober 2023—tujuh bulan setelah ia mengundurkan diri sebagai perdana menteri.

Kematian Li pada usia 68 tahun menimbulkan kecurigaan di kalangan pengamat Tiongkok, yang mencatat bahwa para elit Partai biasanya berumur panjang. Dua pendahulu langsungnya, Wen Jiabao (83) dan Zhu Rongji (96), masih hidup.

Beberapa komentator berspekulasi bahwa kematian Li bertepatan dengan perebutan kekuasaan di antara elit Partai. Sejumlah pejabat senior dan komandan militer, termasuk mantan menteri luar negeri Qin Gang dan menteri pertahanan Li Shangfu, secara tiba-tiba dicopot dari jabatan mereka setelah menghilang tanpa penjelasan.

“Detail kematian Li Keqiang pasti akan terungkap di masa depan,” kata Qin. “Kapan? Setelah rezim komunis runtuh.”

Ketidakpuasan di kalangan aparat penegak hukum semakin meningkat di kota-kota besar. 

Baru-baru ini, Qin berbicara dengan seorang kepala polisi dari ibu kota provinsi yang telah melarikan diri ke luar negeri—sebuah indikasi adanya gejolak bahkan di tingkat tinggi dalam biro keamanan publik, yang biasanya berada di bawah kendali ketat PKT.

“Itu seperti gempa bumi besar,” katanya. “Manusia mungkin tidak merasakan datangnya, tetapi hewan bisa mendeteksi [bahayanya] lebih awal.”

Ia memperingatkan bahwa kejatuhan rezim bisa terjadi secara tiba-tiba dan mengejutkan dunia.

“Itu sepenuhnya mungkin,” ujarnya. “Dan saya menantikan hari itu.”

Laporan ini juga berkontribusi oleh Luo Ya.

12 Poin Penting dari Pidato Kebijakan Besar Pertama Trump di Kongres AS

Trump memuji pencapaian pemerintahannya dalam 42 hari pertama dan menjanjikan kemakmuran serta keamanan yang lebih besar bagi negara.

EtIndonesia—Presiden Amerika Serikat Donald Trump menutup enam minggu pertamanya di Gedung Putih dengan pidato sepanjang 100 menit di hadapan sesi gabungan Kongres Amerika Serikat.

Pidato pada 4 Maret 2025 disampaikan setelah lebih dari 100 tindakan eksekutif yang memengaruhi hampir setiap aspek pemerintahan dan hubungan AS dengan negara lain.

Berikut adalah sorotan utama dari pidato yang dimulai dengan pernyataan “America is back” atau “Amerika telah kembali” dan diakhiri dengan ajakan untuk “memperbarui janji tak terbatas dari American Dream.”

1. Janji Pemotongan Pajak untuk Seluruh Warga Amerika

Trump berjanji akan memangkas pajak secara menyeluruh, termasuk pajak penghasilan pribadi, pajak korporasi, dan pajak industri.

Setelah pemotongan pajak dalam undang-undang pajak Partai Republik tahun 2017 gagal menjadi permanen, Trump mengatakan bahwa ia mendorong anggota parlemen untuk memastikan Kongres kali ini melakukannya.

Trump kembali mengusulkan penghapusan pajak atas tip, upah lembur, dan tunjangan Jaminan Sosial, serta menawarkan bunga nol persen untuk pinjaman kendaraan buatan Amerika.

Ia juga mendesak Demokrat untuk mendukung legislasi tersebut, dengan peringatan bahwa mereka akan menghadapi konsekuensi politik jika tidak melakukannya.

Trump menambahkan bahwa pemotongan pajak ini—yang berdasarkan rencana DPR AS akan mencapai $4,5 triliun dalam satu dekade—akan berlaku surut sejak 20 Januari 2025.

2. Perbatasan Ditutup, Deportasi Dimulai

Trump memuji upaya pemerintahannya dalam mengamankan perbatasan, termasuk menandatangani 10 perintah eksekutif untuk menghentikan arus imigran ilegal dan memulai deportasi massal terhadap para kriminal berbahaya.

Trump juga menyoroti perintahnya yang menetapkan kartel narkoba dan geng transnasional sebagai organisasi teroris asing.

3. Trump Menyuarakan ‘Revolusi Akal Sehat’

Trump mengumumkan “revolusi akal sehat” yang berfokus pada penghapusan ideologi woke dari pemerintahan dan program yang didanai secara federal.

Ia menyebutkan perintah eksekutif yang menyatakan bahwa pemerintah federal hanya mengakui dua jenis kelamin berdasarkan jenis kelamin biologis saat konsepsi, bukan identitas gender.

Trump juga menyoroti perintahnya yang menghentikan dana federal untuk sekolah yang mengizinkan laki-laki berkompetisi dalam olahraga perempuan.

Sebagai bagian dari agendanya, ia mendukung kebijakan perekrutan berdasarkan meritokrasi, bukan kuota keragaman.

4. Kebijakan Tarif dan ‘Sedikit Gangguan’

Trump mengatakan kebijakan perdagangannya akan tetap berpusat pada tarif yang dirancang untuk meningkatkan investasi asing di AS dan menyeimbangkan defisit perdagangan miliaran dolar.

Serangkaian tarif, termasuk pajak 25 persen untuk barang dari Kanada dan Meksiko serta tambahan 20 persen untuk produk dari Tiongkok, mulai berlaku pada 4 Maret.

Meskipun para kritikus menyebut tarif dapat menyebabkan inflasi, Trump menepis anggapan tersebut dan mengatakan dampaknya hanya sementara.

5. Temuan Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE) Disorot

Trump memuji kerja Elon Musk yang memimpin Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE), yang telah menghemat lebih dari $105 miliar melalui pembatalan kontrak, pengurangan staf, serta penghapusan penipuan dan pemborosan anggaran.

Trump menyoroti pembatalan berbagai proyek yang terkait dengan diversity, equity, and inclusion atau keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI), serta program senilai $22 miliar yang seharusnya menyediakan perumahan dan kendaraan bagi imigran ilegal.

Menurut Trump, upaya ini akan membantu menurunkan inflasi, suku bunga hipotek, harga mobil, serta biaya bahan makanan.

6. Janji Anggaran Seimbang

Trump meresmikan rencananya untuk menyeimbangkan anggaran federal selama masa jabatan keduanya.

Menyeimbangkan anggaran federal adalah tujuan lama Partai Republik, tetapi sebelumnya bukan isu utama dalam kebijakan Trump.

Salah satu cara yang ia usulkan adalah program “kartu emas,” di mana warga asing atau perusahaan mereka dapat membayar $5 juta untuk mendapatkan jalur menuju kewarganegaraan AS.

7. Sorotan pada Korban Kejahatan Imigran Ilegal

Trump mengenang beberapa korban kejahatan yang dilakukan oleh imigran ilegal dalam pidatonya.

Salah satunya adalah Laken Riley, seorang mahasiswa keperawatan berusia 22 tahun yang dibunuh oleh anggota geng Tren de Aragua pada Februari 2024.

Trump mengumumkan bahwa sebuah suaka margasatwa nasional seluas 34.000 hektar di dekat Houston akan dinamai ulang untuk menghormati Jocelyn Nungaray, seorang gadis 12 tahun yang juga diduga dibunuh oleh anggota geng yang sama.

8. Ajakan Langsung kepada Warga Greenland

Trump secara langsung mengajak rakyat Greenland untuk bergabung dengan Amerika Serikat, dengan janji akan menguntungkan mereka dan meningkatkan keamanan dunia.

Trump sebelumnya pernah menawarkan untuk membeli Greenland dari Denmark, namun ditolak.

Ia menegaskan bahwa pulau tersebut memiliki kepentingan strategis dalam keamanan nasional AS dan menyatakan, “Saya pikir kita akan mendapatkannya, satu cara atau lainnya.”

9. Surat dari Zelenskyy

Trump mengungkapkan bahwa ia menerima surat dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang menurutnya bisa menjadi tanda bahwa kedua negara semakin dekat mencapai kesepakatan mineral.

Trump menghentikan semua bantuan AS ke Ukraina pada 3 Maret, tetapi surat dari Zelenskyy menunjukkan bahwa Ukraina siap menyetujui kesepakatan yang memungkinkan 50 persen pendapatan sumber daya alam digunakan untuk membayar kembali sekitar $175 miliar dana AS yang telah digunakan untuk mendukung pertahanan Ukraina.

Trump juga mengatakan bahwa Rusia telah memberikan “sinyal kuat” bahwa mereka siap untuk berdamai.

10. Kantor Pembuatan Kapal Baru

Trump mengumumkan pembentukan Kantor Pembuatan Kapal Gedung Putih untuk menanggapi dominasi Tiongkok dalam industri perkapalan global.

Menurut data PBB, Tiongkok saat ini menguasai lebih dari 50 persen pesanan kapal di dunia.

Trump menyatakan bahwa insentif pajak akan membantu “menghidupkan kembali” industri ini untuk meningkatkan produksi kapal komersial dan militer serta memperkuat keamanan nasional AS.

11. Penangkapan Teroris Utama yang Bertanggung Jawab atas Serangan di Abbey Gate

Trump membuat pengumuman mengejutkan bahwa teroris utama yang bertanggung jawab atas pembunuhan 13 anggota militer AS dalam pemboman di Abbey Gate saat penarikan pasukan dari Afghanistan pada 2021 kini telah ditangkap.

“Amerika sekali lagi berdiri teguh melawan kekuatan terorisme Islam radikal,” kata Trump. 

“Malam ini, saya dengan senang hati mengumumkan bahwa kami baru saja menangkap teroris utama yang bertanggung jawab atas kekejaman itu, dan saat ini dia sedang dalam perjalanan ke sini untuk menghadapi keadilan Amerika yang tegas.”

Pemboman di Abbey Gate diduga dilakukan oleh seorang pelaku bom bunuh diri yang berafiliasi dengan ISIS, yang meledakkan rompi peledaknya di Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul.

Pejabat AS telah mengidentifikasi anggota senior kelompok teroris ISIS yang berbasis di Afghanistan tersebut sebagai Muhammad Sharifullah.

Sharifullah diserahkan kepada otoritas AS oleh Pakistan dan sedang dibawa ke Amerika Serikat untuk diadili, kata Trump.

12. Tanggapan dari Partai Demokrat

Anggota Kongres dari Partai Demokrat mengkritik Trump baik dari dalam maupun luar ruang sidang tempat ia berbicara.

Anggota kongres Al Green yang dikeluarkan dari ruang sidang setelah berdiri dan berteriak selama pidato Trump. Ia kemudian mengatakan bahwa dirinya “ingin memperjelas kepada presiden bahwa ia tidak memiliki mandat untuk memangkas Medicaid.” Trump sendiri telah menyatakan bahwa ia tidak akan menyentuh Medicaid.

Beberapa anggota Demokrat melakukan protes dengan membawa tanda bertuliskan “Selamatkan Medicaid” dan “Musk Mencuri.” Beberapa anggota kongres perempuan mengenakan jaket merah muda sebagai bentuk pernyataan terhadap dampak kebijakan Trump yang dianggap merugikan perempuan.

Setelah pidato Trump, Senator Elissa Slotkin menyampaikan pidato dari negara bagiannya untuk mengkritik tindakan presiden. “Presiden Trump berusaha memberikan hadiah besar yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada teman-teman miliardernya,” katanya.

Sementara itu, Anggota kongres  Herb Conaway dalam wawancara dengan NTD, media saudara The Epoch Times, menolak gagasan bahwa Amerika sedang mengalami masa kejayaannya. Ia menyatakan bahwa inflasi terus meningkat, begitu juga dengan harga telur dan kopi. Ia juga mengkritik tarif yang diterapkan Trump, dengan menyebutnya sebagai “tidak lebih dari pajak bagi rakyat Amerika.”