Trump Mundur dari Kesepakatan Iran dan Kembalikan Sanksi Terberat

EpochTimesId – Presiden Donald Trump mengumumkan menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Iran. Trump juga menandatangani sebuah Perintah Eksekutif untuk menerapkan kembali sanksi-sanksi ketat terhadap Iran. Sanksi yang sebelumnya dicabut sebagai bagian dari kesepakatan Iran.

“Kami akan meresmikan sanksi ekonomi tingkat tertinggi. Amerika tidak lagi disandera oleh pemerasan nuklir,” kata Trump, ketika menyampaikan pengumuman di Gedung Putih pada Selasa, 8 Mei 2018.

Kesepakatan itu dinegosiasikan oleh pemerintahan Obama, dan ditandai penghentian banyak sanksi terhadap Iran. Penghapusan sanksi sebagai imbalan atas penundaan program nuklir Iran, selama 10-15 tahun dan menyerahkan sebagian besar ‘uranium yang diperkaya’.

Iran telah menegaskan bahwa program nuklirnya bukan untuk pembuatan senjata. Namun, pada 30 April 2018, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mempresentasikan apa yang dikatakannya adalah dokumen-dokumen Iran.

Dokumen itu diperoleh dalam operasi intelijen Israel yang berani. Dokumen itu membuktikan bahwa Iran telah mengembangkan senjata nuklir sebelum kesepakatan tahun 2015 yang ditandatangani dengan Amerika Serikat, China, Prancis, Rusia, Inggris, Jerman, dan Uni Eropa.

“Dokumen-dokumen yang diperoleh Israel dari dalam Iran menunjukkan tanpa keraguan bahwa rezim Iran tidak mengatakan yang sebenarnya,” kata Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo.

“Dokumen-dokumen menunjukkan bahwa Iran memiliki program senjata nuklir rahasia selama bertahun-tahun.”

Trump telah sangat mengkritik kesepakatan itu, jauh sebelum kampanye pemilihan presiden.

Pada hari Selasa dia mengatakan bahwa kesepakatan itu adalah kesepakatan sepihak yang mengerikan. Kesepakatan itu menurutnya, seharusnya tidak pernah dilakukan.

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :
https://youtu.be/0x2fRjqhmTA

“Itu tidak membawa ketenangan, itu tidak membawa kedamaian, dan itu tidak akan pernah terjadi,” kata Trump.

Kesepakatan Iran dipromosikan oleh Presiden Barack Obama saat itu sebagai ‘pilihan terbaik’, sebagai satu-satunya cara, bahkan untuk sementara, untuk mencegah Iran ‘memegang’ senjata nuklir. Di luar itu, Obama menggambarkan Iran ‘bergabung kembali dengan komunitas bangsa-bangsa’ setelah diberikan keringanan sanksi.

Namun Iran dilaporkan telah pergi ke arah yang berlawanan. Tahun lalu, rezim Islam Iran mengumumkan peningkatan 150 persen dalam anggaran militernya, mengembangkan rudal jarak jauh, pesawat tak berawak, dan kemampuan perang cyber. Mereka juga menggunakan sebagian aset hingga 150 miliar dolar AS di luar negeri yang sebelumnya telah dibekukan karena sanksi.

Amerika Serikat mencantumkan Iran sebagai negara sponsor terorisme. Amerika sejak lama mengkritiknya karena mendanai kelompok-kelompok teror seperti Hamas, Hizbullah, dan Huthi.

“Mereka memiliki seruannya tentang ‘kematian ke Israel’, dan sekarang juga disertai dengan sumpah ‘kematian bagi Amerika’,” Tulis analis konflik Arab-Israel, Alan Dershowitz dalam op-ed Oktober.

Kesepakatan Iran diberlakukan tanpa persetujuan Kongres. Para legislator kemudian mengeluarkan undang-undang yang memaksa Presiden untuk mengevaluasi sesuai kebutuhan, dan memperbaruinya setiap tiga bulan.

Trump telah memperingatkan bahwa dia akan membatalkan kesepakatan jika tidak dapat dinegosiasikan kembali untuk menyertakan penghentian program rudal balistik Iran dan permintaan lainnya.

Pada hari Selasa (8/5/2018) waktu Amerika, dia benar-benar melakukan hal itu.

“Amerika Serikat tidak lagi membuat ancaman kosong,” kata Trump.

Iran telah memperingatkan akan segera mulai memperkaya uranium lagi jika kesepakatan itu berakhir. Tetapi Trump bersumpah untuk mencegah Iran mencapai kemampuan untuk membuat senjata nuklir.

“Mencapai (kemampuan membuat) senjata seperti itu akan membahayakan keberlangsungan hidup rezim Iran itu sendiri,” kata Trump.

Dia memperkirakan Iran akan menanggapi penarikannya dari kesepakatan dengan penolakan keras untuk merundingkan kesepakatan yang baru. Tetapi Trump juga mengatakan rezim Iran pasti akan menyerah dan membuat kesepakatan pada suatu saat nanti.

“Ketika mereka melakukannya, saya siap, bersedia, dan mampu,” katanya.

Pemerintahan Trump menyatakan dalam rilis, Selasa bahwa sanksi yang dikenakan kembali akan menargetkan sektor-sektor penting ekonomi Iran, seperti energi, petrokimia, dan sektor keuangan.

“Mereka yang melakukan bisnis di Iran akan diberikan jangka waktu untuk memungkinkan mereka menghentikan operasi atau bisnis yang melibatkan Iran,” tulis rilis itu. “Mereka yang gagal mengakhiri kegiatan semacam itu dengan Iran pada akhir periode akan berisiko menimbulkan konsekuensi yang berat.”

Sejak tahap perencanaannya, kesepakatan Iran menghadapi kritik bipartisan. Mereka menilai bahwa kesepakatan itu hanya menghasilkan terlalu sedikit pengorbanan dari Iran, dengan imbalan yang terlalu banyak dari komunitas internasional.

“Bahkan bagi mereka yang mendukung [kesepakatan Iran] pada prinsipnya, Presiden Obama dan Menteri Luar Negeri John Kerry … konsesi berseri dan pembuatan alasan demi ‘melestarikan’ kesepakatan telah meresahkan,” tulis jurnalis Washington Post, Jennifer Rubin, pada Januari 2017.

Sementara kesepakatan itu masih dinegosiasikan, pemerintahan Obama menggagalkan kampanye penegakan hukum terhadap operasi perdagangan narkoba internasional besar-besaran Hizbullah. Bahkan saat itu, Hizbullah menyalurkan kokain ke Amerika Serikat, menurut laporan investigasi politik yang panjang.

Video Rekomendasi :

Ketika Iran mengikuti kesepakatan dengan serangkaian tes rudal, pemerintahan Obama menyatakan bahwa tes tersebut tidak melanggar kesepakatan. Walaupun, dia menjatuhkan sanksi pada 11 individu dan entitas yang terhubung dengan program rudal.

Iran masih menjalankan pabrik yang memproduksi air berat, komponen penting dalam produksi plutonium senjata nuklir. Sementara kesepakatan itu hanya memungkinkan Iran untuk menyimpan sejumlah kecil uranium yang diperkaya, itu memungkinkan negara itu untuk menjaga 130 ton air berat. Itu adalah jumlah yang cukup untuk membuat reaktor air berat untuk mengubah uranium yang tidak diperkaya menjadi plutonium.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran menjual kepada Rusia sekitar 9 ton uranium yang diperkaya. Iran dibayar dengan 154 ton uranium yang tidak diperkaya oleh Rusia.

Tepat sebelum masa jabatan Obama berakhir, Iran akan menerima 130 ton uranium yang tidak diperkaya dari Rusia dengan imbalan 44 ton air berat yang, jika disimpan, akan membuat Iran melanggar kesepakatan itu. Langkah itu disetujui oleh pemerintah AS sebelum Trump menjabat, namun pemerintah negara lainnya berusaha untuk menjaga Teheran berkomitmen pada kesepakatan nuklir,” The Associated Press mengabarkan, mengacu pada dua diplomat yang meminta anonimitas.

Sekretaris pers pemerintahan Obama pada saat itu, Josh Earnest, mengatakan pengaturan seperti itu tunduk pada pengawasan dan inspeksi yang cermat yang termasuk dalam kesepakatan.

Namun, dokumen-dokumen yang diungkap oleh Netanyahu memberikan amunisi kepada para kritikus kesepakatan itu, yang berpendapat bahwa karena Iran berbohong untuk menutupi program nuklirnya yang sudah ada jauh sebelum kesepakatan, masih dapat menemukan cara untuk berbohong tentang hal itu sekarang. (Petr Svab/The Epoch Times/waa)

Ivan Pentchoukov dan Reuters berkontribusi pada laporan ini.

Video Pilihan :
https://youtu.be/fTKcu82AtsA