PM Li Keqiang Akui Ekonomi Tiongkok Sedang Hadapi Tekanan Baru, Tetapi Hindari Pembahasan Perang Dagang

oleh Luo Tingting

Dwi Konferensi Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah berakhir pada Jumat (15/3/2019), Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang dalam konperensi persnya mengakui bahwa ekonomi Tiongkok sedang menghadapi tekanan penurunan baru. Sehingga pemerintah memandang perlu untuk terus mempromosikan pengurangan pajak dan melonggarkan kewajiban perbankan, izin akses pasar dan sebagainya. Tetapi ia menolak membahas soal dampak perang dagang terhadap ekonomi Tiongkok.

Li Keqiang mengadakan konferensi pers reguler bagi domestik dan asing di Aula Majelis Umum Beijing pada 15 Maret 2019. Dalam konferensi pers yang berlangsung hampir tiga jam itu, Li Keqiang menjawab 18 pertanyaan wartawan tentang perekonomian Tiongkok dan hubungan bilateral Tiongkok – AS yang menjadi fokus perhatian media.

Pertanyaan pertama pada konferensi pers menunjuk pada ekonomi Tiongkok, masalah yang paling sensitif dari pejabat Tiongkok. Seorang wartawan Reuters bertanya apakah masalah yang dihadapi ekonomi Tiongkok lebih serius dari yang diperkirakan dan tindakan apa yang akan diambil Beijing ?

Sambil tersenyum Li menjawab : “Teman wartawan tersebut suka menusuk langsung ke bagian yang sensitif, ok-lah saya jawab secara terbuka dan jujur.”

Ia mengakui bahwa ekonomi Tiongkok memang mengalami tekanan penurunan baru yang cukup kuat. Dia mengakui ekonomi Tiongkok menunjukkan bahwa ada banyak ketidakpastian yang muncul tahun ini dan pemerintah juga akan lebih banyak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Akibat terpengaruh oleh perang dagang, pertumbuhan ekonomi Tiongkok sekarang berada pada posisi terendah selama 28 tahun terakhir. Angka pertumbuhan (PSB) yang diumumkan pemerintah adalah 6.6 %, namun laporan dari beberapa lembaga think tank internasional menunjukkan bahwa angka PDB riil Tiongkok jauh lebih rendah daripada data resmi, dan bahwa penurunan ekonomi Tiongkok jauh lebih serius daripada apa yang dikatakan pihak berwenang.

Pada saat yang sama, otoritas Beijing tidak optimis tentang perkiraan pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2019. Dalam laporan kinerja pemerintah yang disampaikan dalam Kongres Rakyat pada 5 Maret lalu, Li Keqiang mengatakan bahwa target PDB tahun 2019 adalah antara 6% – 6,5%, yang lebih rendah dari pada tahun 2018.

Bahkan tidak menutup kemungkinan dengan melalui penurunan kewajiban, menurunkan tingkat suku bunga dan sarana lainnya untuk mengatasi tekanan baru terhadap perekonomian Tiongkok, sebagaimana dikatakan Li Keqiang.

Namun, sejak tahun lalu, pihak berwenang telah 5 kali menurunkan standar kewajiban dan melepas kredit sebesar lebih dari RMB 4 triliun. Hal ini, malahan mengundang kritikan dunia luar yang mengatakan bahwa membuka lebar kran pinjaman, melonggarkan likuiditas itu justru akan mendatangkan dampak lebih serius bagi perekonomian.

Li Keqiang mengatakan bahwa upaya itu adalah untuk mencegah operasi ekonomi tergelincir keluar dari kisaran yang masuk akal.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa pemerintah akan mendongkrak ekonomi melalui pemotongan pajak berskala besar dan pengurangan biaya. Ia juga menyebutkan bahwa bahwa bonus pengurangan biaya dapat mencapai RMB. 2 triliun, sehingga pemerintah harus mengencangkan sabuk dalam masalah anggaran.

Namun, dunia luar menemukan bahwa Li Keqiang menghindari pembicaraan tentang dampak perang dagang terhadap ekonomi Tiongkok.

Sebelumnya, ketika Li Keqiang melakukan laporan kinerja pemerintah di hadapan anggota Kongres, ia tidak secara langsung menyebut perang dagang, meskipun ia menunjukkan bahwa pengembangan sedang menghadapi banyak situasi rumit dan parah yang berasal dari dalam dan luar negeri.

Dia mengatakan pemerintah menghadapi tantangan risiko lebih besar baik yang terkalkulasi maupun yang tidak dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Lebih jauh ia menyebut ekonomi mendapat tekanan penurunan baru yang kuat. Ini mengisyaratkan bahwa ekonomi Tiongkok sedang kena dampak negatif dari perang dagang dengan AS, dan ketidakpastian tentang arah masa depan ekonomi Tiongkok.

Li Keqiang berulang kali menyeka keringat saat memberikan laporan itu. Artikel RFI menyebutkan bahwa keringat Li Keqiang yang bercucuran ketika menyampaikan laporan mungkin bukan tanpa alasan. Dalam penyampaian laporan kinerja pemerintah ini, bayangan perang dagang AS – Tiongkok sulit dihilangkan dari pikirannya.  Kesulitan yang muncul di mana-mana menghalangi pertumbuhan ekonomi Tiongkok juga membuatnya tertekan.

Saat ini, perang dagang yang menghalangi pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan bahkan stabilitas rezim masih belum ada titik terang.

KTT Trump – Xi Jinping belum dapat ditentukan, dan kesepakatan belum bisa diambil karena masih memiliki perbedaan besar.

Baru-baru ini Presiden Trump malahan mengatakan bahwa ia tidak terburu-buru mengejar penandatanganan perjanjian.

Jika dalam KTT nanti Xi Jinping tidak dapat membuat kesepakatan yang memuaskan Trump, maka Trump sewaktu-waktu dapat “angkat kaki” dari tempat pertemuan. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

https://www.youtube.com/watch?v=4uCJcxw3lDk