Reuters : Enam Lampu Peringatan Berkedip untuk Perlambatan Ekonomi Tiongkok

Perekonomian Tiongkok yang diklaim mencapai USD 13 triliun terus melambat. Melansir dari Reuters yang dilaporkan oleh The epochtimes edisi Amerika Serikat, bahwa indikator menunjukkan kisaran dari pengiriman barang hingga pabrik pembangkit listrik, dari pekerjaan hingga pengeluaran untuk hiburan dilaporkan melambat. 

Tiongkok merilis data produk domestik bruto versinya sendiri pada 18 Oktober lalu. Indikator kunci untuk pertumbuhan global karena perubahan kecil dalam kinerja ekonomi Tiongkok, dapat memiliki efek riak untuk ekonomi utama lainnya.

Ekonom memperkirakan, pertumbuhan Tiongkok melambat mendekati level terendah sejak Tahun 1990 silam. Dikarenakan, meningkatnya konflik perdagangan dengan Amerika Serikat dan melemahnya permintaan domestik. 

Perlambatan itu tampaknya semakin dalam, meskipun mata uang melemah dan diluncurkannya langkah-langkah oleh Beijing untuk memberikan stimulus, termasuk pemotongan pajak dan biaya yang setara dengan sekitar 282 miliar dolar AS.

Produk Domestik Bruto -PDB- kuartal ketiga Tiongkok diperkirakan akan tumbuh 6,1 persen, menurut jajak pendapat Reuters. 

Beberapa analis memperkirakan pertumbuhan telah turun di bawah 6 persen untuk kuartal ini, di bawah bagian target pertumbuhan pemerintah untuk Tahun 2019.

Di bawah ini adalah enam indikator yang menunjukkan kondisi perlambatan Tiongkok yang dirangkum oleh Reuters.

Pertama, Pekerjaan Manufaktur

Sementara tingkat pengangguran resmi Tiongkok diklaim tetap stabil, muncul tanda-tanda bahwa permintaan domestik yang melamban dan gesekan perdagangan dengan Amerika Serikat telah memicu peningkatan PHK di sektor manufaktur negara itu.

Komponen pelacakan pekerjaan dari Purchasing Manager’s Index atau PMI —sebuah snapshot dari kondisi di sektor ini — telah cenderung menurun secara tajam sejak tahun lalu. 

Bacaan pada bulan Agustus lalu, tergelincir di bawah angka 47 untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan global.

Angka di bawah 50 menunjukkan bahwa perusahaan mempekerjakan lebih sedikit karyawan.

Kedua, Ekspor Mesin Listrik

Pengiriman mesin listrik ke luar negeri mulai berkontraksi pada akhir tahun lalu. Angka itu sangat kontras dengan pertumbuhan dua digit untuk sebagian besar tahun 2018.

Untuk tahun 2019, ekspor telah turun, yang mencerminkan tarif tol yang diberlakukan AS terhadap produsen Tiongkok. 

Penurunan ekspor pada bulan September adalah yang paling tajam dalam hampir 10 bulan, tidak termasuk pembacaan Februari, yang terdistorsi oleh faktor musiman. Bahkan mata uang yuan yang lebih murah gagal menahan penurunan ekspor. 

Mata uang Tiongkok telah turun 12 persen terhadap dolar sejak perang dagang meletus awal tahun lalu.

Ketiga, Angkutan Rel

Pertumbuhan tahunan dalam volume pengiriman yang dilakukan pada lebih dari 100.000 kilometer jalur kereta api Tiongkok, telah meruncing setiap bulan sejak akhir 2017 silam. Dikarenakan, permintaan domestik telah melunak.

Dibandingkan dengan kenaikan dua digit persentase bulanan sebelumnya, angkutan kereta api sebagian besar telah berkurang ke pertumbuhan satu digit atau bahkan penurunan secara drastis. 

Perlambatan telah terjadi meskipun ada pengurangan – atau dalam beberapa kasus pembatalan – biaya pengiriman oleh China Railway Corp yang dikelola pemerintah pada bulan April tahun ini untuk mendukung ekonomi.

Angkutan kereta api dikatakan sebagai salah satu tolok ukur pertumbuhan ekonomi yang disukai oleh Perdana Menteri Li Keqiang, ketika ia menjadi sekretaris Partai Komunis Provinsi Liaoning, Tiongkok pada pertengahan 2000-an.

Keempat, Pembangkit Listrik

Industri tenaga listrik Tiongkok, yang terbesar di dunia, adalah tolok ukur utama kegiatan di sektor industri negara tersebut.

Pertumbuhan pembangkit listrik telah melambat, terlihat sejak paruh kedua tahun lalu ke level terendah dalam tiga tahun.

Menghasilkan hampir sepertiga dari Produk Domestik Bruto, industri Tiongkok berada di bawah tekanan karena perang dagang Tiongkok-AS. Yang mana telah mengganggu rantai pasokan.

Kelima, Penjualan Otomotif

Penjualan mobil Tiongkok menurun tahun lalu untuk pertama kalinya sejak 1990-an. Pada bulan September, penjualan mobil, yang menyumbang sekitar sepersepuluh dari semua penjualan ritel, turun selama 15 bulan berturut-turut. Jumlahnya mengurangi harapan untuk perputaran secara cepat pada pasar mobil terbesar di dunia.

Selain otomotif, konsumen Tiongkok mengurangi pembelian di segala hal mulai dari ponsel pintar hingga furnitur.  Sebabnya, pertumbuhan pendapatan melambat dan tingkat utang merayap lebih tinggi. Pengeluaran konsumen menyumbang lebih dari 60 persen ekonomi Tiongkok.

Keenam, Pendapatan dari Box Office

Pendapatan film box office Tiongkok tahun 2018, melambat dari tahun sebelumnya. Hanya tumbuh 9 persen atau setara dengan 8,6 miliar dolar AS. Jumlah itu dibandingkan dengan pertumbuhan hampir 13,5 persen pada tahun 2017.

Perlambatan di pasar film terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat semakin dalam pada tahun ini. Dikarenakan, konsumen memperketat pengeluaran mereka.

Pendapatan box office bulan lalu merosot ke level terendah sejak September 2018 lalu. Jumlah itu menurut perhitungan Reuters, berdasarkan statistik harian yang disediakan oleh Jaringan Informasi Data Film Tiongkok milik pemerintahan komunis Tiongkok. (asr)