Komunis Tiongkok Terbitkan Peringatan Keras untuk Membungkam Postingan Media Sosial Tentang Pneumonia Wuhan

Olivia Li – The Epochtimes

Merebaknya novel coronavirus Wuhan membuat penduduk daratan Tiongkok daratan menyadari bahwa rezim Komunis Tiongkok dan corong media-medianya, tak mengatakan sebenarnya atau menceritakan keseluruhan fakta yang terjadi. 

Pengguna media sosial di Wuhan, terutama dokter dan perawat, berbagi pengalaman mereka dan memposting video di media sosial. Tujuan mereka untuk mengingatkan kepada semua orang-orang tentang situasi sebenarnya. Bagi aparat Komunis Tiongkok justru sebagai peristiwa yang memalukan.

Menurut Xinhua News, surat kabar utama rezim Komunis Tiongkok, media sosial paling populer di Tiongkok, WeChat, mempublikasikan pemberitahuan pada 25 Januari 2020. Isinya mengumumkan peraturan dan hukuman baru untuk “mereka yang menyebarkan desas-desus tentang bentuk baru pneumonia.”

“Berbagai komentar tidak berdasar yang diposting ke internet terus-menerus menimbulkan kepanikan publik,” demikian bunyi pemberitahuan itu.   

“Semua orang yang menyebarkan berita palsu dengan demikian mengganggu tatanan sosial akan menghadapi tiga tahun penjara, penahanan, atau tindakan disipliner. Mereka yang telah menimbulkan konsekuensi serius akan dijatuhi hukuman penjara 3 tahun hingga 7 tahun. ”

Pemberitahuan juga mengklaim bahwa WeChat sekarang bekerja dengan “agensi rumor yang berlawanan” untuk menyangkal dan menghapus rumor yang muncul di WeChat. 

Akun pengguna yang ditemukan menyebarkan rumor dapat di-suspend.

Sebuah dokumen yang bocor dari Cyberspace Administration of China juga menyatakan bahwa mulai tanggal 26 Januari 2020, semua grup media sosial dilarang mempublikasikan berita apa pun tentang pneumonia Wuhan yang bukan dari sumber resmi pemerintahan komunis Tiongkok. Polisi akan menangkap semua orang yang menyebarkan berita yang belum dikonfirmasi oleh pemerintah.

Penulis Freelance Jiang Lijun mengungkapkan di Twitter pada 26 Januari, bahwa akun WeChat-nya ditutup secara permanen karena dia meminta pejabat tinggi Kota Wuhan dan Provinsi Hubei untuk meminta maaf atas tindakan mereka dan mengundurkan diri. Ia  memposting beberapa artikel tentang pneumonia Wuhan.

Sejak peneliti medis mengidentifikasi Novel Coronavirus, pemerintahan setempat telah bekerja keras untuk melenyapkan rumor dan menggelar  operasi penangkapan. 

Akibatnya, penduduk Wuhan tidak mendapat informasi tentang penyakit ini. warga juga tidak melakukan tindakan pencegahan sampai seluruh kota ditutup. Ketika peraturan WeChat baru diumumkan, netizen daratan Tiongkok menjadi marah. 

Seorang netizen menulis, “Blokade informasi para pejabat adalah alasan yang menyebabkan pneumonia Wuhan menyebar dengan cepat. Betapa tidak tahu malu Anda untuk terus membungkam whistleblowers. “

Tiga Jenazah di Lantai Rumah Sakit

Beredar sebuah video yang memperlihatkan tiga jenazah, terbungkus kain putih, tergeletak di lantai rumah sakit. Sementara itu, ruang tunggu terdekat dipenuhi oleh orang-orang yang menunggu perawatan. Warga yang merekam adegan itu berkata : “Ketiga mayat ini telah ada di sini sepanjang pagi. Seorang meninggal dunia di pagi hari dan masih belum ada yang datang untuk mengangkat jenazah. Sekarang, dokter, perawat, dan pasien semua harus bertahan dalam lingkungan seperti itu. ”

Jenazah pasien dengan penyakit menular menimbulkan bahaya bagi orang lain. Jenazah itu memerlukan perawatan khusus ketika ditangani oleh petugas kamar mayat. Mereka tidak boleh ditinggalkan di area publik.

Postingan itu segera dihapus, tetapi sudah dibagikan oleh orang lain di Instagram dan Twitter, media sosial yang dilarang digunakan di daratan Tiongkok. 

Liga Pemuda Komunis Tiongkok kemudian membantah video itu, dengan mengatakan, “Setelah diselidiki, kami menemukan bahwa video ini tidak merefleksikan kebenaran.”

Seorang netizen yang marah membantah pernyataan Liga Pemuda: “Siapa yang menyebarkan rumor? Itu adalah kamu. Teman baik saya bekerja di rumah sakit ini. Dia bekerja di departemen darurat pada Malam Tahun Baru Imlek hingga pukul 3 pagi. Bekerja di ground zero, dia tentu mengetahui apakah ketiga orang di lantai itu meninggal dunia atau hidup. Tenaga medis di garis depan sekarang putus asa dan menangis minta tolong.” 

Video lain yang diposting menunjukkan seorang dokter dalam kondisi mental yang hancur. Ia mengenakan pakaian pelindung, ia meminta untuk berbicara dengan pimpinan rumah sakit di telepon, ia berteriak: 

“Saya di sini bekerja lembur, empat shift sehari. Saya bahkan tidak bisa berhenti sejenak untuk beristirahat. Apa yang telah Anda lakukan [untuk membagikan beban kerja kami]? Pindahkan [mayat] itu di lantai. Pindahkan semuanya! ”

Operasi Penangkapan

Menurut media pemerintahan Komunis Tiongkok, sejumlah pengguna media sosial telah ditangkap karena dituduh “menyebarkan desas-desus.”

Seorang wanita bernama Xi, berusia 29 tahun, ditempatkan di bawah penahanan pada 25 Januari lalu. Pasalnya, ia dituduh “melaporkan jumlah palsu pasien pneumonia Wuhan yang terinfeksi pada 24 Januari”.

Departemen Kepolisian Kabupaten Changsha dari Provinsi Hunan, TIongkok juga memasukkan seorang pria bermarga Zhou ke dalam tahanan karena dia mengatakan “empat warga” di wilayahnya telah didiagnosis dengan pneumonia Wuhan. Polisi bersikeras bahwa diagnosis yang dikonfirmasi hanya untuk seorang pasien. 

Namun demikian, tim manajemen komunitas kemudian menyampaikan pemberitahuan yang mengumumkan bahwa memang ada empat kasus yang dikonfirmasi.

Pada saat yang sama, semakin banyak netizen daratan Tiongkok mengarahkan kemarahan mereka pada rezim Komunis Tiongkok.

Seorang pria muda dari Wuhan memposting video di YouTube untuk memohon bantuan dunia internasional.

“Hari ini adalah Tahun Baru Imlek, tetapi Wuhan seperti neraka, Saya menyerukan kepada semua orang yang berhati nurani untuk membantu kami.”

Dia juga mendesak masyarakat internasional untuk membedakan orang-orang Tionghoa dengan “pemerintah Komunis Tiongkok yang bobrok.”

“Percayalah padaku, banyak orang Tionghoa seusiaku, yang lahir di tahun 80-an dan 90-an, bukanlah pendukung rezim yang konyol. Kami tidak dicuci otak,” katanya. (asr)

FOTO : Seorang wanita mengenakan makser saat mengendarai sepeda listrik di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada 22 Januari 2020. (Getty Images)

Video Rekomendasi :

https://www.youtube.com/watch?v=LEwvBhRzhbc