Su Shi dalam Pengasingan: Makna “Meredakan Angin dan Gelombang”

Su Shi, salah satu penyair dan negarawan terkemuka Dinasti Song di Tiongkok, menulis beberapa karya paling abadi dalam hidupnya ketika menjalani pengasingan politik. Salah satunya adalah “Settling the Wind and Waves” (Ding Feng Bo / Meredakan Angin dan Gelombang), sebuah puisi yang ditulis saat ia menghadapi badai hujan dan terus menggugah pembaca selama hampir seribu tahun. Baris penutupnya—“Menoleh kembali ke badai yang telah berlalu, aku pulang. Tak ada lagi badai, tak ada pula cahaya mentari”—telah menjadi simbol ketenangan batin yang ditempa oleh penderitaan.

Puisi ini sering dipahami sebagai refleksi tentang ketangguhan menghadapi kesulitan, tetapi asal-usulnya berakar pada masa krisis pribadi dalam kehidupan Su Shi.

Pada tahun 1079, pada masa pemerintahan Kaisar Shenzong, Su Shi dituduh oleh para sensor pemerintah menulis puisi yang dianggap mengkritik istana kekaisaran. Ia ditangkap dan ditahan selama lebih dari empat bulan oleh Badan Sensor Kekaisaran. Meskipun terhindar dari hukuman mati, ia diturunkan jabatannya dan diasingkan ke Huangzhou, sebuah kota kecil di wilayah yang kini menjadi Provinsi Hubei.

Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai “Kasus Puisi Teras Gagak” (Crow Terrace Poetry Case) itu meninggalkan dampak mendalam dalam hidupnya. Saat tiba di tempat pengasingan, Su Shi tidak mengetahui bagaimana masa depannya akan berakhir dan menyadari bahwa tuduhan baru bisa saja muncul sewaktu-waktu. Pengalaman tersebut menjadi titik balik penting dalam hidupnya, memaksanya menghadapi ketidakpastian karier politik dan kerentanannya sendiri di dalam sistem kekuasaan.

Kehidupan di Huangzhou tidak mudah. Namun seiring waktu, ia mulai beradaptasi. Perlahan-lahan ia terbiasa dengan lingkungan barunya dan menemukan sedikit kestabilan dalam hidupnya.

Suatu sore, ketika berjalan bersama teman-temannya untuk meninjau lahan pertanian, mereka tiba-tiba diterpa hujan deras di tempat terbuka. Ketika orang lain bergegas mencari tempat berteduh, Su Shi tetap berjalan dengan langkah tenang dan mantap, menerima keadaan sebagaimana adanya.

Pengalaman itulah yang kemudian melahirkan puisi “Settling the Wind and Waves.”

Puisi tersebut tidak hanya menggambarkan suasana fisik—hujan, angin, dan jalan yang tidak rata—tetapi juga mencerminkan cara pandang yang telah terbentuk dalam dirinya sejak penangkapan dan pengasingannya. Alih-alih melawan ketidaknyamanan, ia memilih untuk melewatinya. Badai tidak lagi dipandang sebagai gangguan terhadap perjalanan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan itu sendiri.

Baris penutup puisi tersebut mengekspresikan perubahan cara pandang itu.

“Tak ada badai, tak ada pula cahaya mentari” bukanlah gambaran tentang cuaca yang sebenarnya, melainkan keadaan batin yang tidak lagi ditentukan oleh perubahan situasi di luar diri. Perbedaan antara penderitaan dan kenyamanan mulai kehilangan pengaruhnya. Yang tersisa adalah keteguhan diri yang lebih mantap, yang tidak ditentukan oleh keadaan.

Karier Su Shi sendiri dipenuhi berbagai kemunduran—perselisihan politik, penurunan jabatan, dan pengasingan. Setiap peristiwa menguji posisinya di lingkungan istana sekaligus kemampuannya menghadapi ketidakpastian. Seiring waktu, pengalaman-pengalaman tersebut membentuk pandangan hidup bahwa peristiwa-peristiwa eksternal, betapapun mengguncangnya, pada akhirnya hanya bersifat sementara.

Dalam puisi itu, badai sebenarnya telah berlalu ketika sang penyair menoleh ke belakang. Apa yang sebelumnya terasa begitu dekat dan menyesakkan kini telah menjauh. Kenangan tentang peristiwa itu masih ada, tetapi kekuatannya telah berkurang. Perjalanan hidup tetap berlanjut.

Sudut pandang inilah yang membantu menjelaskan mengapa puisi tersebut terus dibaca hingga sekarang. Puisi itu tidak menyangkal adanya kesulitan ataupun berusaha meremehkannya. Sebaliknya, ia menawarkan cara untuk melewati penderitaan tanpa membiarkan penderitaan itu mendefinisikan diri seseorang.

Gambaran tentang seseorang yang berjalan tenang di tengah hujan, tanpa tergesa-gesa dan tanpa perlawanan, mencerminkan ketenangan yang lahir dari pengalaman hidup, bukan sekadar teori atau gagasan abstrak.

Bagi Su Shi, ketenangan tersebut bukanlah sesuatu yang bersifat filosofis semata. Ia lahir dari kehidupan yang ditempa oleh tekanan politik dan ketidakpastian pribadi. 

Dalam “Settling the Wind and Waves”, seluruh pengalaman itu dipadatkan ke dalam sebuah momen singkat: berjalan di tengah hujan, menoleh ke belakang, dan menyadari bahwa badai itu tidak lagi memiliki kuasa atas dirinya.

Oleh Lin Wanru.

INSPIRASI ERABARU

Bersyukur Tak Hanya Menenangkan Hati, tetapi Juga Membentuk Ulang Otak

Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu otak mengembangkan rasa syukur yang bermanfaat bagi kesehatan mental maupun fisik.Oleh Sarah Campise HallierKetika ayah Melissa meninggal secara tiba-tiba,...

4 Makanan Tinggi Protein yang Membantu Lansia Meningkatkan Imunitas dan Mempertahankan Massa Otot

Asupan protein cenderung menurun seiring bertambahnya usia, dan dampaknya sering kali muncul secara perlahan tanpa disadari. Ketika massa otot melemah, infeksi menjadi lebih lama...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine