Dokumen yang Bocor : Pihak Berwenang Komunis Tiongkok ‘Underreporting’ Adanya Infeksi Baru di Wuhan

Rezim Komunis Tiongkok menyatakan bahwa sudah tidak ada kasus infeksi virus Komunis Tiongkok yang baru di seluruh Tiongkok sejak tanggal 18 Maret. Pihak berwenang Tiongkok mengatakan bahwa epidemi tersebut telah mereda, sehingga Tiongkok  melonggarkan pembatasan perjalanan dan memberitahu rakyatnya untuk kembali bekerja. Akan tetapi berdasarkan dokumen yang bocor, Pihak Berwenang Komunis Tiongkok memang tidak melaporkan adanya infeksi baru di Wuhan.

Nicole Hao

Situasi di pusat epidemi virus Komunis Tiongkok di kota Wuhan, Tiongkok adalah jauh lebih buruk daripada apa yang dilaporkan secara resmi oleh pihak Komunis Tiongkok. Fakta itu menurut serangkaian dokumen internal pemerintah Tiongkok yang diperoleh oleh The Epoch Times.

The Epoch Times merujuk Coronavirus baru, yang menyebabkan penyakit COVID-19, sebagai virus  Komunis Tiongkok karena rezim Komunis Tiongkok menutup-nutupi wabah tersebut. Selain itu, salah menatalaksana wabah tersebut sehingga memungkinkan virus tersebut menyebar ke seluruh Tiongkok dan mengakibatkan pandemi global.

Dokumen-dokumen tersebut mencakup empat laporan dari Komisi Kesehatan Kota Wuhan, yang merupakan lembar data statistik mengenai hasil uji diagnostik COVID-19 di Wuhan pada tanggal 14 Maret.

Gambar tersebut menunjukkan “Ringkasan Statistik Deteksi Asam Nukleat Coronavirus Baru” yang diterima oleh Komisi Kesehatan dan Kesehatan Kota Wuhan pada 14 Maret. Data menunjukkan bahwa jumlah tes asam nukleat positif pertama (jumlah sebenarnya dari diagnosis yang baru dikonfirmasi) dalam satu hari di Wuhan adalah 91, yang setidaknya 22 kali lebih banyak dari jumlah diagnosis baru yang dikonfirmasi yang diterbitkan pada hari yang sama. Selain itu, pasien yang pulang masih menular dan dapat menginfeksi anggota keluarga selama isolasi di rumah. (The Epoch Times)

Data tersebut menunjukkan bahwa ada 91 pasien yang baru didiagnosis COVID-19 di Wuhan pada tanggal 14 Maret. Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok hanya melaporkan empat kasus untuk tanggal tersebut.

Sementara itu, dua kompleks perumahan di Wuhan, ternyata memposting pemberitahuan untuk memperingatkan, para penghuni bahwa ada beberapa penghuni yang tinggal di sana yang didiagnosis terinfeksi virus Komunis Tiongkok pada tanggal 19 Maret — indikasi lain bahwa rezim Tiongkok menyembunyikan skala epidemi yang sebenarnya.

Laporan Internal

Dokumen tersebut menunjukkan bahwa untuk tanggal 14 Maret, Wuhan mengumpulkan sampel dari 43 agen pengujian virus tersebut di Wuhan: 32 sampel rumah sakit dan 11 sampel laboratorium.

Satu set data mencatat rincian setiap uji, termasuk nama (yang dihapus), nomor kartu identitas, usia, jenis kelamin, kapan dan di mana sampel dikumpulkan, berapa kali orang tersebut telah diuji, agen mana menguji sampel tersebut, dan hasil uji terbaru (positif atau negatif).

Gambar tersebut menunjukkan “Ringkasan Statistik Deteksi Asam Nukleat Coronavirus Baru” yang diterima oleh Komisi Kesehatan dan Kesehatan Kota Wuhan pada 14 Maret. Data menunjukkan bahwa jumlah tes asam nukleat positif pertama (jumlah sebenarnya dari diagnosis yang baru dikonfirmasi) dalam satu hari di Wuhan adalah 91, yang lebih dari 20 kali lebih banyak dari jumlah diagnosis baru yang dikonfirmasi yang dipublikasikan pada hari resmi. (The Epoch Times)

Secara total, Wuhan menguji 16.234 sampel pada tanggal 14 Maret, di mana sebagian besar sampel dikumpulkan pada tanggal 13 Maret. Dari 16.234 sampel tersebut, 373 sampel adalah positif.

Di antara 373 sampel yang positif, 91 sampel adalah yang pertama kali positif. Di Wuhan, sampel hanya diambil dari usap tenggorokan. Jadi, 91 sampel ini dapat dipahami sebagai 91 pasien baru yang terinfeksi virus Partai Komunis Tiongkok.

Sebagai contoh, sampel bernama WX2023027216 milik seorang pria yang berusia 53 tahun. Saat ini, pria tersebut sedang diisolasi di pusat karantina di distrik Dongxihu. Sampel miliknya diambil pada tanggal 13 Maret dan diuji di Laboratorium Klinik Adicon di Wuhan pada tanggal 14 Maret.

Ini adalah untuk pertama kalinya pria tersebut diuji apakah terinfeksi virus  Komunis Tiongkok, yang hasil ujinya adalah positif.

Di antara sampel-sampel yang positif itu, 51 sampel berasal dari stasiun relay, yaitu fasilitas yang baru disediakan di Wuhan, setelah rezim Tiongkok menutup rumah sakit darurat. Rumah sakit darurat, yang  didirikan di dalam stadion, pusat pameran, dan pusat kebugaran besar, baru-baru ini ditutup setelah pihak berwenang Tiongkok mengklaim bahwa ada sedikit pasien, sehingga rumah sakit darurat sudah tidak perlu lagi.

Gambar tersebut memperlihatkan tangkapan layar file “Informasi Deteksi Asam Nukleat Asam Harian Baru” yang diterima oleh Komisi Kesehatan dan Kesehatan Wuhan pada 14 Maret. Data menunjukkan bahwa lebih dari 4.000 orang dalam sehari adalah tes asam nukleat pertama. (The Epoch Times)

Kini stasiun relay ini digunakan untuk mengisolasi pasien yang tadinya telah pulih dan dipulangkan dari rumah sakit — untuk observasi medis, karena beberapa pasien kambuh kembali setelah dipulangkan.

Misalnya, sampel 20S6338599 milik seorang pria berusia 44 tahun yang dirawat inap di Stasiun Relay Changjiang Xincheng. Stasiun relay ini memiliki kapasitas 1.260 tempat tidur dan terletak di distrik Jiang’an.

Data Palsu

Meskipun Komunis Tiongkok melaporkan tidak ada kasus COVID-19 baru di Tiongkok sejak tanggal 18 Maret, penghuni kompleks perumahan setempat menceritakan kisah yang berbeda.

Pada tanggal 20 Maret, para penghuni yang tinggal di distrik Qiaokou di Wuhan memposting foto pemberitahuan yang dikeluarkan oleh komite lingkungan rukun warga Hanjiadun.

Gambar tersebut memperlihatkan tangkapan layar file “Informasi Deteksi Asam Nukleat Asam Harian Baru” yang diterima oleh Komisi Kesehatan dan Kesehatan Wuhan pada 14 Maret. Data menunjukkan bahwa lebih dari 4.000 orang dalam sehari adalah tes asam nukleat pertama. (The Epoch Times)

Komite tersebut menyatakan, “Semalam [pada tanggal 19 Maret], ada beberapa kasus infeksi baru yang  dilaporkan dari kompleks perumahan Lishuikangcheng.”

Pemberitahuan lain dari komite tersebut menyatakan, “Seorang penghuni dari Gedung 12 kompleks perumahan Lishuikangcheng telah didiagnosis menderita COVID-19 [pada tanggal 19 Maret].”

Komite lingkungan rukun warga Meigui Xiyuan di distrik Hanyang, yang juga berada di Wuhan, merilis pemberitahuan kepada para penghuni pada tanggal 20 Maret, yang menyatakan bahwa dua orang penghuni yang tinggal di Unit 116 didiagnosis menderita COVID-19 pada tanggal 19 Maret.

Sementara itu, tenaga medis masih sangat dibutuhkan di Wuhan. Meskipun media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa 3.675 staf medis yang dikirim ke Wuhan untuk membantu merawat sejumlah besar pasien di Wuhan, telah meninggalkan Wuhan. Guang Ming Daily, surat kabar yang dikelola pemerintah Tiongkok melaporkan pada tanggal 19 Maret bahwa 453 dokter dan perawat dari Provinsi Zhejiang diminta untuk dengan segera mendukung Rumah Sakit Union Wuhan.

Menurut Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok, pada tanggal 8 Maret, 42.600 staf medis telah dikirim ke Wuhan dan kota-kota lain di Provinsi Hubei untuk mengobati pasien penyakit COVID-19. (Vv)

FOTO : Staf medis memeriksa ponsel ketika mereka merawat pasien virus Komunis Tiongkok di sebuah rumah sakit di Wuhan, Tiongkok, pada 19 Maret 2020. (STR / AFP via Getty Images)