Kisah di Tengah Kerusuhan Minneapolis, Pemilik Toko Es Krim Mempertahakan Tokonya dan Memohon Kepada Penjarah Selama 3 Malam

oleh Charlotte Cuthbertson

Ricardo Espin sendirian menyelamatkan sebuah bangunan yang terdapat empat usaha dari kehancuran dan terbakar di pusat kerusuhan di Minneapolis beberapa waktu lalu. 

Hanya dipersenjatai dengan keberanian yang cukup, Ricardo Espin berdiri di luar toko es krimnya di East Lake Street dan Park Avenue selama tiga malam. Ia memohon kepada para perusuh untuk tidak merusak tokonya. Terletak sekitar 15 menit berjalan kaki dari Kantor Polisi Distrik 5 Departemen Kepolisian Minneapolis, Ricardo Espin mengatakan ia mencegah beberapa kelompok yang terdiri dari 5 hingga 10 orang perusak yang masih muda setiap malam. Biasanya sekitar pukul 2 pagi.

“Mereka sudah siap untuk memecahkan jendela. Pada dasarnya, tangan mereka sudah siap memukul jendela dengan palu atau linggis. Saya memberitahukan kepada mereka,”Tolong, saya akan membuka pintu dan memberi apa yang anda inginkan, tetapi jangan merusak jendela.’ Saya memberitahu mereka masing-masing: “Saya bersama kalian. Saya merasakan sakitnya. Saya tahu bagaimana rasanya. Tetapi bukan begini caranya.’ Dan sebagian besar, mereka menghormati kata-kata itu, dan langsung pergi,“ kata Ricardo Espin dalam wawancara kepada The Epochtimes edisi Bahasa Inggris. 

Keterangan gambar : Para pengunjuk rasa berbaris di sepanjang jalan bebas hambatan yang keluar dari St. Paul dalam perjalanan mereka ke Stadion Bank Amerika Serikat di Minneapolis melalui jembatan Saint Anthony Falls pada hari keempat unjuk rasa dan aksi kekerasan setelah kematian George Floyd, di Minneapolis, pada tanggal 29 Mei 2020. (Charlotte Cuthbertson / The Epoch Times)

Unjuk rasa di siang hari menuntut keadilan bagi George Floyd — yang dibunuh saat dalam penangkapan oleh pihak kepolisian pada tanggal 25 Mei — dibajak sebagai jalan pada kekerasan di malam hari di antara kawasan Kantor Polisi ke-3 dan ke-5 Kepolisian Minneapolis.

Selama tiga malam dari tanggal 27 Mei hingga 29 Mei, Ricardo Espin menyaksikan pom bensin Shell di seberang jalan yang menyerong dijarah dan dihancurkan. Suku cadang mobil O’Reilly, tepat di seberang jalan hangus terbakar — rak filter oli jelaga yang hitam dan bengkok adalah satu-satunya benda tersisa yang dapat dikenali, yang tepat di sebelah kanan bangunan Ricardo Espin yang menjadi kerangka kayu, baja, dan puing yang membara. 

Bangunan tersebut menampung empat bisnis kecil, termasuk sebuah bisnis mengepang rambut Afrika dan sebuah restoran Italia.

“Menakutkan. Dan puji Tuhan yang harus saya lakukan adalah menyuruh mereka berhenti dan mereka berhenti,” kata Ricardo Espin.

Keterangan gambar : Sebuah pompa bensin Shell dihancurkan selama unjuk rasa dan aksi kekerasan selama lima malam menyusul kematian George Floyd, di Minneapolis, pada tanggal 1 Juni 2020. (Charlotte Cuthbertson / The Epoch Times)

Toko La Michoacana hancur dalam waktu semalam, beberapa jendela besar pecah. Yang menambah penderitaan, listrik padam sekitar pukul 2 pagi pada tanggal 29 Mei dan belum dipulihkan hingga sore harinya.

“Kami membuang banyak barang kemarin, karena kami menggunakan semua produk segar,” kata Ricardo Espin. Ia mengatakan ia memberikan banyak es krim kepada orang-orang yang membantu membersihkan jalanan.

Pria itu menambahkan, ia sangat sedih membuang peralatannya. Sebuah Perasaan sedih yang mendalam. 

“Anda tahu, hampir menangis karena melihat seluruh tabungan selama hidup ada di sana, dan hilang dalam semalam. Jadi itu adalah perasaan yang mengerikan. Maksud saya, saya bukan satu-satunya orang yang menempatkan seluruh tabungan selama hidup ke dalam bisnis,” ujarnya.  

Ricardo Espin menuturkan : “Saya yakin ada lebih dari setengah dari kita di Lake Street yang menggunakan tabungan seumur hidupnya untuk menjadi modal bisnis. Dan dihancurkan seperti ini, itu adalah tidak baik. Saya berharap bisnis saya akan tetap menguntungkan. Saya harap orang-orang masih mau datang ke Lake Street setelah ini.” 

Ricardo Espin, adalah seorang imigran asal Meksiko. Ia membuka tokonya pada bulan Juni 2018. Baru dua minggu lalu, ia menghabiskan 3.000 dolar AS untuk memasang jendela yang diangkat ke atas agar ia masih dapat melayani pelanggan selama pandemi COVID-19.

“Adalah cukup sulit untuk berusaha melalui masa pandemi COVID, dan kini mengalami hal seperti ini. Ini adalah masa-masa sulit. Maksud saya, ini adalah kerugian besar,” katanya.

Ketengan gambar : Sederetan empat usaha kecil hancur selama unjuk rasa dan aksi kekerasan selama lima malam mengiringi kematian George Floyd, di Minneapolis, pada tanggal 30 Mei 2020. (Charlotte Cuthbertson / The Epoch Times)

Pada tanggal 30 Mei, pemilik gedung, James dan Kristin Schoffman, menutupi semua jendela dan pintu keempat toko dengan sekitar 50 lembar kayu lapis, dan mereka kembali keesokan harinya untuk memperkuatnya.

“Anda harus melakukannya. “[Penjarah] masih dapat masuk, tetapi membutuhkan beberapa waktu. Dan jika anda tidak melakukannya maka perusahaan asuransi berpikir anda tidak melakukan upaya terbaik untuk mengamankan properti anda. Dan kemudian perusahaan asuransi dapat mempersulit anda,” kata James Schoffman mengenai kayu lapis.

Keluarga Schoffman memiliki gedung tersebut selama 25 tahun. Ia menghabiskan 150.000 dolar AS sekitar 18 bulan lalu mengganti atap dan meningkatkan bangunan. Mereka berencana untuk memasang kayu lapis setidaknya satu hari setelah jam malam diberlakukan, di mana Gubernur Tim Walz meniadakan jam malam pada tanggal 29 Mei.

“Kemarin adalah hari yang sangat emosional. Karena pagi ini saya menerima kenyataan bahwa gedung ini dibakar. Keempat toko itu adalah bisnis milik minoritas kata Kristin Schoffman pada tanggal 31 Mei.

Di sebelah Ricardo Espin adalah sebuah toko telepon seluler, sebuah agen perawatan kesehatan, dan sebuah toko kelontong milik orang Ekuador.

Pemilik toko telepon seluler memiliki toko kedua di seberang jalan itu yang digeledah dan dijarah pada tanggal 29 Mei. Semua telepon seluler diambil, kata Kristin Schoffman. Agen perawatan kesehatan dibobol dan digeledah.

Toko kelontong milik orang Ekuador baru dibuka sebulan yang lalu.

“Orang Ekuador tersebut menandatangani kontrak selama pandemi COVID-19, karena toko kelontong adalah layanan penting… untuk melayani bahan makanan bagi masyarakat Ekuador. Dan kemudian ini terjadi. Saya menangis, karena kami ingin orang-orang ini berhasil dan mereka melakukan yang terbaik. Itu adalah impian mereka, semua tabungan mereka dimasukkan ke dalam bisnis ini, dan kemudian ini terjadi,” kata Kristin Schoffman. 

Keterangan gambar : Polisi mengambil ahli kembali jalan-jalan sekitar tengah malam setelah menembakkan gas air mata dalam jumlah besar untuk membubarkan pengunjuk rasa dan perusuh di luar Kantor Polisi ke-5 Minneapolis selama unjuk rasa dan aksi kekerasan pada malam keempat setelah kematian George Floyd, di Minneapolis, pada tanggal 29 Mei 2020. (Charlotte Cuthbertson / The Epoch Times)

Setelah kayu lapis diangkat, jendela yang rusak perlu diganti, serta bingkai yang harus disekrup dengan kayu lapis. 

Keluarga Schoffmans memperkirakan memakan waktu beberapa bulan karena kecenderungan permintaan di daerah tersebut.

Mereka juga menghabiskan sekitar 150.000 dolar AS untuk memasang pintu keamanan komersial, yang mana dapat digulung ke atas sepanjang bagian depan gedung untuk malam hari, “supaya penyewa gedung kami merasa aman. Jangan salah, ada pembobol di sini. Selama COVID-19, betapa buruknya pembobolan itu terjadi — sebelum kekacauan, toko-toko dengan bisnis yang tidak penting menjadi rusak selama 90 hari terakhir,” kata James Schoffmans.

James Schoffmans mengatakan bahwa selama beberapa malam terakhir, “banyak orang yang lupa akan George [Floyd] — semua orang lupa akan tujuannya, dan mereka hanya menginginkan (barang) gratis.”

Keterangan gambar : Toko Dollar Tree dibobol dan dijarah dekat Kantor Polisi ke-5 Minneapolis  selama unjuk rasa dan aksi kekerasan malam keempat setelah kematian George Floyd, di Minneapolis, pada tanggal 29 Mei 2020. (Charlotte Cuthbertson / The Epoch Times)

Keluarga Schoffmans berdoa agar tidak ada lagi kerusakan yang terjadi. 

Mereka banyak mendengar orang-orang berkata, “Ya, anda punya asuransi,” tetapi tidaklah sesederhana itu, kata James Schoffmans. Beberapa bisnis kecil tidak memiliki asuransi, dan bahkan bisnis kecil akan bangkrut hingga tingkat tertentu. Banyak orang harus membuat keputusan apakah akan membangun kembali atau keluar dari bisnis.

Ricardo Espin mengatakan ia berharap dan percaya bisnis es krimnya akan bertahan.

“Orang-orang di Minnesota adalah luar biasa, dan apa yang saya lihat hari ini dan kemarin… orang-orang ini, kini mereka membantu bersih-bersih, mereka akan membantu kita berhasil. Mereka akan membantu kita membangun bisnis kembali,” kata Ricardo Espin.

Keterangan gambar : Ricardo Espin berdiri di luar toko es krimnya setelah malam kelima protes dan kekerasan setelah kematian George Floyd, di Minneapolis, Minnesota, pada 1 Juni 2020. (Charlotte Cuthbertson / The Epoch Times)

(Vivi/asr)

Video Rekomendasi

https://www.youtube.com/watch?v=vL3JaRaUhO4