Alex Wu
Sekitar seratus mahasiswa di Tiongkok tiba-tiba mulai menderita diare dan muntah awal minggu ini. Meskipun ada laporan keracunan yang meluas, kampus Wucheng dari Universitas Keuangan dan Ekonomi Shanxi, tidak menyediakan informasi apapun kepada para mahasiswa atas kejadian tersebut hingga malam tanggal 8 Oktober 2020, di mana pihak kampus secara singkat memastikan infeksi Norovirus melalui akun resminya di Weibo.
Dikatakan bahwa semua mahasiswa di lantai enam gedung asrama telah diisolasi karena wabah, tetapi diisolasi di dalam asrama.
Seorang mahasiswa, yang tidak ingin disebutkan namanya, memberitahukan kepada The Epoch Times mengenai hal tersebut pada malam tanggal 6 Oktober 2020. Ia menyebutkan para mahasiswa di dalam asrama mulai muntah satu demi satu.
Ia menuturkan, hampir semua mahasiswa di lantai enam menunjukkan gejala muntah. Sedangkan kasus yang lebih serius juga muncul di blok lain asrama itu. Mahasiswa di blok lain itu juga telah diisolasi, di mana pihak kampus mengantarkan makanan kepada mereka.
Para mahasiswa telah diberitahu mengenai isolasi oleh ketua kelas melalui obrolan grup di media sosial, yang juga menginstruksikan mereka bahwa siapa pun yang telah kembali ke asrama hanya boleh pergi ke kamar mandi di lantai enam, demikian The Epoch Times diberitahu.
Tidak ada mahasiswa yang diizinkan meninggalkan lantai enam. Adapun mahasiswa diminta untuk mendisinfeksi sendiri asrama itu dengan menyeka semua meja, kursi, dan tempat tidur dengan pemutih disinfektan.
Mahasiswa tersebut juga mengungkapkan, bahwa pihak kampus tidak mengungkapkan kepada mahasiswa berapa jumlah mahasiswa yang terinfeksi. Bahkan, hanya mengizinkan mahasiswa pergi ke klinik kampus untuk mendapatkan pengobatan.
Selain itu, Mahasiswa juga tidak diberitahu mengenai uji apa yang dilakukan oleh klinik kampus dan hasil uji mereka. Tidak ada mahasiswa yang dirawat di rumah sakit, demikian kata mahasiswa tersebut. Akhirnya, lantai lain dari gedung asrama mulai melaporkan infeksi.
Mahasiswa tersebut memperkirakan ada sekitar 100 orang yang menderita gejala.
Pada tanggal 7 Oktober 2020, pihak kampus mengumumkan telah memutuskan untuk menangguhkan semua kelas kuliah. Masih belum diketahui kapan kelas kuliah akan dimulai kembali.
Menurut mahasiswa tersebut, pihak universitas hanya memberikan cuti tiga hari bagi mahasiswa untuk liburan Festival Pertengahan Musim Gugur, yang seharusnya delapan hari sesuai peraturan. Seperti universitas lain di Tiongkok Daratan, kampus Wucheng telah ditutup sejak mulai musim gugur ini.
Mahasiswa belum diizinkan meninggalkan kampus. Namun, para guru dan orang yang tinggal di perumahan fakultas diizinkan untuk pindah ke dalam dan di luar kampus.
Mahasiswa tersebut mengeluh dengan berkata : “Kampus telah diisolasi sejak bulan September. Mahasiswa makan di kantin kampus atau memesan makanan untuk dibawa pulang, yang hanya boleh diambil melalui pagar kampus. Guru dan staf, serta orang-orang di perumahan fakultas terdekat, dapat datang dan pergi dengan bebas, dan universitas tidak melakukan apa pun akan hal itu.”
Mahasiswa tersebut juga berkata, “Saya tidak tahu berapa lama kelas kuliah ditangguhkan atau kapan karantina berakhir… Kampus seharusnya tidak mengizinkan mahasiswa tidak mengetahui informasi apa pun. Kami sudah tahan dengan liburan yang dipersingkat. Kini muncul masalah ini, orang-orang panik. Siapa yang berani mempercayai administrator kampus lagi?”
The Epoch Times menemukan bahwa banyak mahasiswa takut berbicara dengan media mengenai kejadian itu, takut pihak kampus akan membalas mereka dan mencegah mereka lulus. The Epoch Times menjangkau pihak universitas untuk memberikan komentar tetapi tidak menerima balasan. (Vv)


