Bagaimana Memahat Patung Buddha dengan Khidmat, Padahal Sang Pemahat Tak Pernah Melihatnya?

Xu Ru

Di kuil dan gua yang berada di Asia Selatan, Asia Tenggara dan daratan  Tiongkok  saat ini, tersimpan patung Buddha yang dipahat  ratusan bahkan ribuan tahun silam. Patung yang khidmat dan penampakan yang hidup, membuat umat dan masyarakat yang mendoakannya, timbul perasaan mendambakan dunia yang indah dan suci itu. Satu pertanyaan, pemahat di dunia manusia bagaimana bisa membuat patung Buddha yang begitu hidup, belas kasih, dan khidmat itu?

Dikatakan sebelum Buddha Sakyamuni wafat, dari Kuil Jetavana di Kota Shravasti naik ke Dunia Trāyastriṃśa untuk mengajarkan Dharma bagi ibundaNya Ratu Maya selama tiga bulan, untuk menyelamatkan sang ibu. 

Raja Udayana dari negara tetangga Shravasti yakni Negara Kosambī berkat pengaruh putri raja yang sangat menghormati dan berbakti pada Buddha, ia pun telah menjadi pengikut Buddha. Selama tiga bulan tidak bertemu, sampai jatuh sakit karena memikirkan dan rindu pada Sang Buddha.

Untuk   menghilangkan kegalauan Raja Udayana, para pejabat mengusulkan Raja Udayana agar meminta seorang seniman patung untuk memahat patung suci Sang Buddha, dengan demikian sang raja bisa berdoa pada Sang Buddha siang dan malam. 

Gambar menunjukkan “Buddha Sakyamuni” oleh Yao Wenhan dari Dinasti Qing. (Domain publik)

Raja Udayana begitu bahagianya dan segera memerintahkan  seorang seniman membuat patung Buddha dari bahan kayu cendana. Kayu cendana, disebut juga cendana wangi, sangat berharga, dan dapat menebarkan aroma wangi. 

Tapi setelah berupaya, si pemahat belum mampu juga mengukir wujud Buddha yang agung dan khidmat, maka Raja Udayana pun memohon pada murid tertua Sang Buddha yakni Moggallāna yang memiliki kekuatan supranatural tertinggi, untuk mengirim si pemahat ke Dunia Trāyastriṃśa, agar si pemahat dapat melihat langsung wajah Sang Buddha yang sulit dibayangkan.

Dikisahkan, karena saat mengajarkan Dharma Sang Buddha memancarkan sinar gemerlap ke segala penjuru, sehingga pemahat yang hanya seorang manusia biasa tidak mampu menatap langsung ke tubuh Buddha, ia hanya dapat memantulkan wajah Sang Buddha dengan sebilah cermin, lalu menatapnya lewat cermin dan mengingat  sosok  khidmat  Buddha. 

Moggallāna mengirim si pemahat  pulang  pergi sebanyak tiga kali, patung dari kayu cendana setinggi lima kaki itu baru dinyatakan rampung. Raja Udayana dengan penuh hormat menempatkannya di dalam kuil Jetavana dan dipuja, kebahagiaannya tak mampu terungkapkan dengan kata-kata.

Ketika Sang Buddha dari langit kembali ke Kuil Jetavana, patung kayu cendana ini tiba-tiba bangkit berdiri dan menyambut Sang Buddha, Buddha berkata pada patung itu, “Kau ada di masa mendatang, berbuat banyak hal kebuddhaan, setelah Aku moksha, para pengikutKu, akan mengikuti jejakmu.” 

Patung ini adalah patung pahatan tubuh sejati Buddha yang pertama, banyak patung Buddha dari kerajaan-kerajaan kecil lainnya kemudian dibuat dengan meniru patung ini. Hal ini juga menandakan, patung Buddha yang paling awal sudah ada sebelum Sang Buddha moksha, dan seiring dengan tersebar luasnya ajaran Buddha, patung Buddha juga bermunculan di berbagai negara, mendatangkan keyakinan dan dorongan spiritual bagi para pengikutnya.

halaman depan buku “The Great Tang Records of West Regions”

Biksu Xuanzang (Pelajar, pelancong dan penerjemah yang memberikan pengaruh terhadap interaksi antara Tiongkok dan India di awal Dinasti Tang. Dalam novel Perjalanan ke Barat versi Bahasa Indonesia terkenal sebagai Tom Sam Cong, red.) dalam kitab kelima “The Great Tang Records of West Regions”, ia mencatat,  saat tiba di tempat ini dan melihat patung ukiran Buddha, menuliskan, “Di museum di tengah kota terdapat Kuil Jetavana, tingginya enam puluh kaki lebih, ada sebuah patung Buddha dari kayu Cendana, diatasnya terdapat penutup dari batu, dibuat oleh Raja Uda- yana (dulu Udayana-Vatsa), ruang penyimpanan patung wajah Buddha, memancarkan cahaya keilahian.”

 Catatan yang sama pada kitab ke-12 juga menjelaskan patung dan kitab Buddha yang dibawanya dari India, seperti: “Sebuah patung ukir Buddha, tingginya satu kaki lebih lima inci, meniru patung asli dari ukiran cendana yang di- dambakan oleh Raja Udayana dari Kerajaan Kosambī.” Dengan kata lain, tatkala Biksu Xuanzang tiba di India, tidak hanya berdoa di hadapan patung cendana itu di Kerajaan Kosambi, juga telah membawa pulang patung ukiran tiruannya.

Dalam kitab “Da Tang Nei Dian Lu” juga tercatat: di masa Dinasti Han tabib bernama Qin Jing mendapat titah kembali ke negeri Yuezhi, dalam perjalanan melihat patung ukiran Cendana milik Raja Udayana itu, maka dia meminta seniman melukisnya, lalu dibawa ke Kotaraja Luoyang, setelah kaisar melihat lukisan itu, segera memberi perintah agar dijadikan pujaan di gerbang kota barat dan makam Xianjieling, sejak saat itu lukisan Buddha itu pun beredar luas kemana-mana.

Seribu tahun kemudian, di Dinasti Tang juga muncul kisah yang serupa. Menurut catatan dalam “Guang Qing Liang Zhuan”: pada tahun Jingyun masa pemerintahan Kaisar Tang Ruizong (710 – 712), biksu Kepala Vihara Da Hua Yan di Wutaishan yakni Bhikkhu Fa Yun berencana membuat sebuah patung Bodhisattva Mañjuśrī untuk dipuja oleh para umat. Ia mengundang pemahat untuk membentuk patung Buddha.

Patung batu abad ke-9 dalam koleksi Institut Seni Honolulu. (Area publik)

Seorang pemahat yang bernama An Sheng pun memberanikan diri datang untuk mengukir patung, tapi dia berkata, “Jika tidak melihat sendiri tubuh sejati Bodhisattva, maka patung yang diukir pasti terdapat banyak kekeliruan.”

Maka, Biksu Fa Yun  dan  An  Sheng pun menyalakan dupa bersama dan berdoa, memohon agar Bodhisattva Mañjuśrī memperlihatkan diri. Tak lama kemudian, Bodhisattva Mañjuśrī pun memperlihatkan diri di aula utama vihara tersebut. 

An Sheng sangat terkejut sekaligus bahagia, ia bersujud memohon agar Sang Bodhisattva bersedia berdiam beberapa saat, agar ia dapat menyelesaikan ukiran patungnya. An Sheng pun sembari menyaksikan paras asli Sang Bodhisattva, sembari dengan penuh kesungguhan hati melakukan pahatannya.

Mulai dari penampakan pertama hingga rampung, Bodhisattva Mañjuśrī menampakkan diri sebanyak 72 kali, An Sheng yang bersikap tulus pun berhasil memahat patung itu sehingga terlihat begitu hidup. Penampakan wujud asli Bodhisattva Mañjuśrī membuat para umat Buddha dari jauh maupun dekat kian hari kian banyak.

Dari sini bisa disimpulkan, dalam sejarah berapa banyak pemahat yang menyaksikan sendiri wujud asli Sang Buddha, lalu barulah mengukir/memahat patung  atau melukis wajah suci sang Buddha? Walaupun tidak banyak terdapat dalam catatan sejarah, tapi semestinya juga tidak terlalu sedikit. (lin)

Materi Referensi:

Kitab Ekottarika Āgama

Kitab “Sì fēn lǜ xíngshì chāo” 

Biografi Guǎng qīngliáng

Keterangan Foto : Di tengahnya adalah patung Buddha Shakyamuni. (Referensi Room Epoch Times)

Video Rekomendasi :

https://www.youtube.com/watch?v=LEL3oEW7jdg