George W. Bush : Trump Berhak Memperjuangkan Gugatan Hukum untuk Kasus Pemilu

Jack Phillips

Mantan Presiden AS George W. Bush pada 8 November 2020 mengatakan bahwa Presiden Donald Trump memiliki “hak untuk meminta penghitungan ulang dan memperjuangkan gugatan hukum” terkait “masalah yang belum terselesaikan” untuk “diadili dengan benar.”

“Rakyat Amerika bisa yakin  pemilu ini pada dasarnya adil, integritasnya akan dijunjung, dan hasilnya jelas,” kata Bush.

Bush, dalam pernyataannya, menyebut calon dari Partai Demokrat Joe Biden sebagai “presiden terpilih”, setelah Biden mengumumkan kemenangan pada 7 November 2020. 

The Epoch Times tidak akan mengumumkan pemenang pemilu sampai semua hasil pemilu disahkan dan semua gugatan hukum diselesaikan.

Trump saat ini “memperoleh suara lebih dari 70 juta warga Amerika — pencapaian politik yang luar biasa. Mereka telah berbicara, dan suara mereka akan terus didengar melalui orang-orang Republik terpilih di setiap tingkat pemerintahan,” kata Bush.

Sementara itu, Senator Mitt Romney (R-Utah) kepada NBC dalam program “Meet the Press” mengatakan pada 8 November bahwa Trump memiliki hak untuk meminta penghitungan ulang dan mendorong gugatan hukum.

Senator Mitt Romney (R-Utah) tiba di Gedung Kantor Senat Hart di Washington pada 19 Maret 2020. (Mandel Ngan / AFP melalui Getty Images)

“Dia memiliki hak untuk meminta penghitungan ulang. Karena kita berbicara tentang margin 10.000 suara di sini, atau kurang dalam beberapa kasus,  Penghitungan ulang bisa mengubah hasilnya. Dia ingin melihat ketidakberesan, meneruskan di pengadilan. Tetapi jika, seperti yang diharapkan, hal-hal itu tidak mengubah hasilnya, mengapa, dia akan menerima hal yang tak dapat dihindari,” katanya.

Hal demikian ketika Trump telah memulai gugatan hukum di beberapa negara bagian, termasuk Pennsylvania, Nevada, dan Georgia. Di beberapa negara bagian, perolehan suara mendukung Biden dengan beberapa ribu suara.

Trump belum menyatakan kekalahan dan menyampaikan tentang gugatan hukum. Badan legislatif negara bagian harus mengesahkan hasil pemilu sebelum membawanya ke Electoral College, yang kemudian memberikan suara kepada siapa presidennya.

Sejumlah tokoh Republikan mengatakan sudah seharusnya Trump  tidak mengakui kekalahan.

Ketua Komite Senat Lindsey Graham, R-S.C., Berbicara selama sidang konfirmasi calon Mahkamah Agung Amy Coney Barrett, di hadapan Komite Kehakiman Senat, Rabu, 14 Oktober 2020, di Capitol Hill di Washington. (Foto AP / Susan Walsh, Pool)

Senator Lindsey Graham (R-S.C.), Ketua Komite Kehakiman Senat AS, mengatakan Trump tidak boleh menyerah, setelah sejumlah media dan tim kampanye Biden mengklaim kemenangan.

“Kami akan bekerja dengan Biden jika dia menang, tetapi Trump tidak kalah, Jangan menyerah Mr Presiden. Berjuanglah dengan gigih,” kata Graham kepada Fox News pada 8 November. 

Gubernur South Dakota, Kristi Noem, seorang Republikan, pada 8 November 2020  membela klaim Trump tentang “suara ilegal” yang diberikan untuk mendukung Biden. 

Keterangan Foto : Gubernur South Dakota Kristi Noem pada 8 Januari 2019. (James Nord / AP Photo)

Dia mengatakan kepada ABC News bahwa “orang-orang telah menandatangani dokumen hukum” dan mengatakan mereka melihat “kegiatan ilegal.” Selain itu, rakyat Amerika “perlu mengetahui setidaknya Amerika masih berguna dan kami akan melakukan hal yang benar.” (asr)

Keterangan Foto : Mantan Ibu Negara Laura Bush dan mantan Presiden George W. Bush menyapa Presiden Donald Trump di luar Blair House di Washington pada 4 Desember 2018. (Chip Somodevilla / Getty Images)

Video Rekomendasi :

https://www.youtube.com/watch?v=czXHXeS7mpY