Whistleblower Bongkar Bagaimana Software Memanipulasi Suara untuk Mengubah Hasil Pemilu Tanpa Meninggalkan Jejak

Charlotte Chutbertson

Pengacara kampanye Trump dan mantan jaksa federal, Sidney Powell merilis pernyataan di bawah sumpah atau affidavit pada 16 November 2020, dari seorang whistleblower yang mengaku telah menyaksikan bagaimana perangkat lunak pemilu secara diam-diam memanipulasi suara tanpa meninggalkan jejak.

Whistleblower itu mengatakan bahwa latar belakangnya adalah militer Venezuela, termasuk Garda keamanan nasional presiden Venezuela — menguraikan dugaan konspirasi antara eksekutif perangkat lunak Smartmatic, mantan diktator Venezuela Hugo Chavez, dan pejabat pemilu negara, untuk memastikan Chavez memenangkan pemilihan ulang dan mempertahankan kekuasaan selama bertahun-tahun. Whistleblower mengatakan dia hadir dalam beberapa pertemuan.

The Epoch Times tidak dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.

“Saya menyaksikan penciptaan dan pengoperasian sistem pemungutan suara elektronik yang canggih memungkinkan para pemimpin pemerintah Venezuela memanipulasi tabulasi suara untuk pemilihan nasional dan lokal dan memilih pemenang pemilihan tersebut untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan mereka,” demikian bunyi pernyataan affidavit tersebut. 

Whistleblower itu menyampaikan : “Sejak saat itu, Chavez tak pernah kalah dalam pemilihan. Faktanya, dia bisa memastikan kemenangan untuk dirinya sendiri, partainya, anggota Kongres, dan walikota. “

Whistleblower menyatakan bahwa “perangkat lunak dan desain fundamental dari sistem pemilu elektronik serta perangkat lunak Dominion dan perusahaan tabulasi pemilu lainnya bergantung pada perangkat lunak yang merupakan turunan dari Smartmatic Electoral Management System.”

“Singkatnya, perangkat lunak Smartmatic ada dalam DNA setiap perangkat lunak dan sistem perusahaan yang melakukan tabulasi suara,” katanya.

Pernyataan affidavit tersebut menuduh bahwa Dominion adalah salah satu dari tiga perusahaan besar yang menghitung suara di AS. 

Powell mengatakan dalam wawancara 15 November 2020, “Kami bersiap-siap untuk membalikkan hasil pemilu di banyak negara bagian.” Dia mengklaim bahwa perangkat lunak pemilu AS mengalihkan “jutaan suara” dari Trump ke Biden.

Whsitleblower mengklaim bahwa Smartmatic menciptakan sistem yang menganonimkan pilihan pemilih di dalam mesin. Kemudian sistem mengeluarkan hasil yang diinginkan pada akhir hari pemilihan. Tidak ada suara yang dapat dilacak kembali ke pemilih individu.

Pada pemilihan Venezuela April 2013, pernyataan di bawah sumpah menyatakan, para konspirator harus mematikan internet selama dua jam untuk mengatur ulang mesin, karena Nicolás Maduro kalah dengan banyak suara dari Henrique Capriles Radonski.

Whistleblower menuduh bahwa Chavez akhirnya mengekspor perangkat lunak tersebut ke Bolivia, Nikaragua, Argentina, Ekuador, dan Chili.

Seorang juru bicara Sistem Voting Dominion mengatakan pada 12 November, bahwa perusahaan “dengan tegas menyangkal klaim apa pun tentang peralihan suara atau dugaan masalah perangkat lunak dengan sistem pemungutan suara”.

“Sistem kami terus menghitung surat suara dengan andal dan akurat, dan otoritas pemilihan negara bagian dan lokal secara terbuka mengonfirmasi integritas proses tersebut,” kata juru bicara itu dalam sebuah pernyataan kepada Denver Post. (asr)

Keterangan Foto : Seorang petugas pemilu mengumpulkan penghitungan dari surat suara yang tidak hadir dari mesin pemungutan suara di Milwaukee, Wis., Pada 4 November 2020. (Scott Olson / Getty Images)

Video Rekomendasi :

https://www.youtube.com/watch?v=sLWioiVXn90