Pendukung Di Belakang Trump

CHEN WEIYU DALAM OPINI “DUNIA DI MATA WEIYU”

Berita terbaru pada hari ini adalah sebuah berita yang sangat mengecewakan. Mahkamah Agung AS dengan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya telah menolak gugatan negara bagian Texas, selain dua orang hakim agung yakni Alito dan Thomas setuju untuk menerima kasus tersebut, hakim agung lainnya tidak setuju. Alasannya adalah, tidak ada bukti yang cukup menyatakan kepentingan Texas telah dirugikan karena empat negara bagian lainnya.

Gugatan Texas hingga pagi hari ini, sebanyak 19 negara bagian lainnya telah bergabung, sebanyak 126 orang anggota kongres Partai Republik telah menandatangani surat pernyataan  “Amicus  Curiae” untuk menyatakan dukungannya.

Menganalisa dari kasus yang pernah terjadi sebelumnya, tadinya semua orang merasa ada kemungkinan sangat besar akan memenangkan gugatan, apalagi hal ini menyangkut prinsip kesetaraan dalam konstitusi.

Tapi entah karena alasan apa, sekarang para hakim agung justru menilai hal ini tidak ada hubungannya dengan Texas, mereka tidak merasa kepentingan Texas atau negara bagian lainnya dirugikan. Hari ini CNN memberitakan, Trump sudah tidak ada lagi kesempatan untuk membalikkan situasi.

Mengapa bisa terjadi akibat semacam ini, kemungkinan terbesar adalah para hakim agung telah disuap. Inilah yang pa- ling dikhawatirkan semua pihak. Sekarang sepertinya telah terjadi. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah  warga Texas akan menerima dengan iklas hasil seperti ini? Jika perang hukum tidak bisa merain keadilan, maka akan terjadi akibat yang konvensional seperti dalam sejarah,  yakni pejabat membuat rakyat terpaksa memberontak.

Dan di Amerika, yang paling bersifat memberontak adalah orang Texas. Jika memahami sejarah Texas, maka akan tahu sifat keras ala leher merah (redneck, red.) orang Texas yang tidak mudah dijinakkan. Leher merah sebenarnya tidak ada maksud pelecehan, walaupun mereka bertabiat keras, namun sifat mereka hangat dan berahabat.

Texas juga dijuluki dengan sebutan “Lone Star State”, populasi dan luas wilayah Texas adalah yang kedua terbesar di Amerika, karena industri minyak buminya yang kaya, Texas juga merupakan negara bagian kedua terkaya di Amerika. Dan yang paling penting adalah, di antara 50 negara bagian di AS, Texas merupakan satu-satunya negara bagian yang bergabung dengan pemerintah federal dengan status Republic of Texas.

Sejarah perlawanan Negara Bagian Texas

Sejarah Texas pada dasarnya adalah sejarah suatu ajang perlawanan. Dulu Texas pernah dijajah Spanyol, lalu sebagian diserahkan kepada Prancis, kemudian dikuasai oleh Meksiko. Bagi Meksiko, Texas adalah wilayah miskin yang terpencil dan sangat tertinggal, Amerika berhasil meyakinkan pemerintah Meksiko agar mengizinkan orang Amerika hijrah ke Texas untuk membuka lahan di sana. Maka, puluhan ribu warga Amerika hijrah ke AS

demi sebidang lahan, perbatasan Meksiko maupun Amerika menerapkan perlakuan yang sama, hingga akhir tahun 1835 di Texas sudah terdapat sebanyak hampir 30.000 imigran Amerika.

Pada 1835, Santa Anna menjadi Pre- siden Meksiko, dan menerapkan pengawasan ala militer terhadap Texas, kebijakan terhadap imigran di wilayah Texas pun acap kali berubah-ubah. Imigran di Texas menilai pemerintah Meksiko telah melanggar “Konstitusi Meksiko 1824”, maka perlawanan pun dimulai, Santa Anna mengirim pasukan untuk meredam, tekanan tersebut mengkibatkan konflik antara pemerintah Meksiko dengan warga Texas semakin sengit, hingga akhirnya meletuslah Revolusi Texas.

Pada 1836 warga Texas bersama-sama menyusun Deklarasi Kemerdekaan Republik Texas, dan secara resmi mengumumkan kemerdekaannya, maka negara Republic of Texas pun terbentuk. Walaupun Meksiko tidak mengakui kemerdekaan Texas, namun Republik Texas telah mendapatkan pengakuan dari Amerika, Prancis, Belanda, Belgia, dan sejumlah negara lain.

Di tahun 1845, Texas yang telah 9 tahun merdeka mengumumkan bergabung dengan Amerika Serikat, dan hal ini pun memicu Perang Amerika-Meksiko. Walaupun Republik Texas hanya berumur 9 tahun, namun cukup untuk membentuk perasaan historis warga Texas yang unik, bagi warga Texas, jika pemerintah federal tidak menghormati konstitusi dan memperlakukan setiap negara bagian dengan adil merata, maka berdasarkan “Konstitusi Texas”, mereka berhak merombak atau menghapus pemerintah federal tersebut.

Selain semangat independen, dan kekayaan materi, di antara 50 negara bagian AS Texas juga merupakan satu-satunya dari negara bagian yang memiliki pasukan militernya sendiri. Kekuatan militer yang dimiliki oleh Texas setidaknya mencakup satu divisi Angkatan Darat, dua brigade tempur AD, satu brigade tempur AU, dan lima skuadron jet tempur, satu divisi transportasi AU, dan tujuh legiun independen tambahan sebagai pendukung logistik.

Keputusan Mahkamah Agung hari ini, secara langsung telah menyangkal niat warga Texas untuk mencari keadilan konstitusi. Bagi warga Texas, apakah hal ini akan menjadi sumbu penyulut yang membuat mereka angkat senjata, melepaskan diri dari pemerintah federal, dan kembali memerdekakan diri?

Jika warga AS tidak menerima pemilu yang bahkan hukum pun telah dikendalikan ini, maka ini mungkin bukan hanya masalah kemerdekaan Texas, suatu ajang perang saudara mungkin akan terjadi di AS. Dan orang yang pertama bangkit melawan kemungkinan besar adalah warga Texas.

Hari ini, terhadap tanggapan dari Mahkamah Agung ini, Ketua Partai Republik Texas Allen West telah mengeluarkan pernyataan, ia berkata, jika memang Mahkamah Agung tidak mempedulikan negara- negara bagian tersebut menginjak-injak konstitusi, maka negara bagian yang taat hukum seharusnya membentuk sebuah aliansi baru. Walaupun tidak berpengaruh pada negara bagian lain, Texas tetap akan maju demi membela konstitusi dan undang-undang. Pernyataan ini sangat sesuai dengan kepribadian orang Texas.

Saat  ini  konflik  berbagai pihak  baik di dalam maupun luar negeri AS sangat menonjol, konflik antara Komunis Tiongkok dengan AS, konflik antara kedua partai di AS, konflik antara warga AS dengan pencuri suara pemilu, juga konflik internal sendiri di dalam tubuh Partai Republik maupun Partai Demokrat. Dari sejumlah berita kita juga bisa melihat konflik seperti ini sedang berada di ambang kesengitan.

Semangat tidak berkompromi pada warga AS

Dari konflik internal pada Partai Demokrat kita juga telah melihatnya. Baru- baru ini Person of The Year versi majalah Time adalah Biden dan Harris. Ini sangat aneh, dulu jika presiden terpilih, yang selalu diterbitkan adalah foto presiden, tidak pernah ada wakil presidennya, kali ini bahkan foto Harris pun ikut diterbitkan, coba dipikirkan apa maksudnya.

Bukankah Biden akan sangat sedih? Biden memang menyedihkan, tapi ini setimpal. Di dalam hatinya ia sangat memahami nasibnya, jika benar-benar terpilih sebagai presiden, mungkin tidak lama lagi akan mundur karena sakit, sepertinya saya sudah melihat Harris yang merasa puas diri karena mendapatkan keuntungan darinya.

Jadi semua ini adalah konflik, kusut menggumpal menjadi satu, besar kemungkinan pada akhirnya akan meletus peperangan. Warga AS tidak seperti warga RRT yang rapuh, ingin melawan tapi tak berdaya melawan, warga AS memiliki senjata api, mereka memiliki semangat tidak berkompromi, jika orang-orang ini tidak bisa menerima hasil pemilu yang dicurangi secara mencolok, sementara hukum tidak memberikan perlakuan yang adil, maka jalan terakhir adalah warga akan bangkit melawan.

Ini juga sejumlah perselisihan yang timbul antara tim pengacara Trump dengan pengacara Powell dan Lin Wood. Yang diwakili oleh pengacara Powell dan Lin Wood adalah suara rakyat, siapa pun itu, yang melakukan kecurangan pada pemilu, tak akan dibiarkan oleh mereka, karena mereka ingin mengembalikan kekuasaan atas Amerika ke tangan rakyat.

Jika Presiden Trump tidak bisa menyelesaikan masalah ini lewat jalur hukum, atau Presiden Trump tidak mengeluarkan sanksi yang lebih keras lagi, orang-orang ini tidak akan bisa menerimanya. Mereka akan menggunakan caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah ini.

Saya percaya Presiden Trump sedang berusaha keras menghindari peperangan, sebenarnya peperangan dipastikan tidak akan bermanfaat bagi negara maupun rakyat, beberapa klan/keluarga yang berada di puncak kelompok Illuminati yang mengendalikan dunia itu, mereka paling berharap akan terjadi perang, tidak peduli siapa menang dan siapa kalah, begitu terjadi perang, yang terakhir meraup keuntungan adalah mereka.

Karena perang akan membutuhkan logistik, mereka bisa terus mengendalikan urat nadi perekonomian dengan mengendalikan perang kedua belah pihak. Dalam sejarah, hampir di balik setiap  peperangan ada bayang-bayang beberapa keluarga tersebut. Saya percaya inilah mengapa Pre- siden Trump berusaha keras menghindari terjadinya peperangan.

Akan tetapi hingga hari ini, jika ingin menghindari peperangan, saya merasa hanya ada dua kemungkinan, yang pertama adalah Presiden Trump telah menguasai pasukan militer, dan memberlakukan UU Anti-Pemberontakan, menerapkan penangkapan, dan menggulingkan Mahkamah Agung yang membuat keputusan tidak adil dalam bentuk apa pun.

Beberapa hari lalu Presiden Trump mengatakan, beberapa hari ke depan akan terjadi banyak peristiwa, saya merasa dia telah mempersiapkan diri.

Dan yang kedua adalah terjadi mukjizat Tuhan, membuat orang-orang pelaku kejahatan ini mendapatkan ganjaran yang setimpal, akan tetapi kondisi seperti ini, menurut ramalan ketiga Washington, saya merasa masih harus melangkah hingga ke tahap setiap warga AS tersadar, lebih banyak orang mulai berdoa dan memohon kepada Tuhan, untuk bisa mendapatkan bantuan Tuhan dan situasi berbalik.

Apapun yang terjadi, kita semua seharusnya mempersiapkan diri, akan terjadi suatu periode yang paling kelabu, saya tidak akan kehilangan keyakinan karenanya, Anda semua juga harus meyakini hal ini. Berdoa kepada Tuhan, agar menyelamatkan dunia ini, membantu dunia ini kembali ke moral dan tradisi. (sud)

Keterangan Foto : Para pendukung Presiden Trump mengumpulkan miniatur bendera di Austin, Texas, pada 3 November 2020. (Sergio Flores / AFP via Getty Images)

https://www.youtube.com/watch?v=tsaP8u1zdKs