Yi Ren dan Yang Jiusi melaporkan dari Frankfurt, Jerman
Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi pada tanggal 20 untuk membekukan Perjanjian Investasi Tiongkok-UE. Michael Gahler, anggota Parlemen Eropa yang diberi sanksi oleh Komunis Tiongkok, menganalisis niat asli perjanjian Komunis Tiongkok
Dengan hasil pemungutan suara 599 mendukung, 30 suara menentang, dan 58 abstain, Parlemen Eropa akhirnya membekukan negosiasi Perjanjian Investasi Komprehensif antara Uni Eropa dan Komunis Tiongkok.
Setelah tujuh tahun tarik-menarik, pada 30 Desember tahun lalu, sehari sebelum Jerman mundur sebagai presiden bergilir Uni Eropa, Tiongkok dan Eropa dengan tergesa-gesa mencapai kerangka kesepakatan investasi.
Uni Eropa semula berharap dapat meningkatkan kondisi investasi perusahaan Uni Eropa di Tiongkok melalui perjanjian ini.
Michael Gahler, Anggota Parlemen Eropa Jerman kepada NTD mengatakan : “Karena lebih mudah bagi perusahaan Tiongkok untuk beroperasi di Eropa daripada perusahaan kami (di Tiongkok). Perusahaan kami dipaksa untuk mendirikan usaha patungan atau dipaksa untuk mentransfer teknologi, dan untuk masuk ke Pasar Tiongkok dan menyerah. Itulah mengapa perjanjian ini harus benar-benar memastikan situasi perusahaan kami di Tiongkok membaik. “
Akan Tetapi , anggota Kongres Michael Gahler, menemukan bahwa Komunis Tiongkok memiliki tujuan politik lain, yaitu menggunakan perjanjian investasi Tiongkok-UE untuk membatasi Amerika Serikat.
Michael Gahler berkata : “Saya ragu apakah pemerintah Tiongkok benar-benar menginginkan perjanjian ini. Pasti ada upaya untuk menciptakan fakta yang terkait dengan perubahan pemerintahan serta merugikan Amerika Serikat. Jadi, tentu saja. Tidak dapat dicapai. Sebagai Uni Eropa, kami akan bekerja sama dengan AS terkait kebijakan Tiongkok. “
Faktor yang menyebabkan penangguhan negosiasi perjanjian investasi adalah sanksi Komunis Tiongkok terhadap beberapa anggota parlemen, akademisi dan institusi Eropa, termasuk anggota parlemen Michael Gahler dari Jerman. Akan tetapi, ia merasa sanksi tak berdampak terhadap dirinya.
Michael Gahler menegaskan : “Saya pikir ini lebih merupakan perilaku simbolis bagi Tiongkok dan tidak berdampak terhadap dirinya. Saya tidak memiliki rencana perjalanan, saya juga tidak berinvestasi di sana. Saya bukan karena urusan Uighur terkena sanksi, tetapi karena saya adalah ketua Asosiasi Persahabatan Taiwan tidak resmi Parlemen Eropa, mereka telah mengincar saya sejak lama. “
Gahler menyatakan penegasan model demokrasi Taiwan.
Michael Gahler menuturkan : “Rakyat Taiwan mempraktikkan demokrasi setiap hari dan menunjukkan, mungkin untuk mengorganisir masyarakat Tiongkok secara demokratis. Tentu saja, ini juga menjadi duri di mata para penguasa Beijing . “
Meski mendapat sanksi dari Komunis Tiongkok, Gahler tetap peduli dengan nasib rakyat Tiongkok, dia merasa sedih karena Hong Kong kehilangan kebebasan, tapi dia tetap percaya diri di masa depan.
Michael Gahler menjelaskan, dirinya percaya bahwa orang-orang Tiongkok, karena mereka sangat cerdas dan sangat bijaksana, suatu hari akan menyingkirkan kediktatoran komunis. Rakyat Hong Kong akan mendapatkan kembali kebebasannya, dan semua orang Tiongkok akan memperoleh kebebasan, praktisi Falun Dafa akan dapat berlatih lagi. Ini adalah keinginan dirinya kepada orang-orang (Tiongkok). ” (hui)


