Li Zhaoxi
Berbagai sumber di Korea Utara mengungkapkan, sejumlah besar tentara Korea Utara yang diduga terinfeksi virus Komunis Tiongkok atau COVID-19, baru-baru ini meninggal dunia di rumah sakit. Insiden ini mengejutkan otoritas militer negara itu. Bahkan, berita itu sampai ke pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, yang dikatakan sangat marah
Menurut sebuah laporan oleh media Korea “Maily Korea” pada 7 September, seorang pejabat militer di Provinsi Gangwon mengatakan kepada media pada tanggal 6 September, bahwa pada Juli dan Agustus, ada 45 orang Korps Angkatan Darat meninggal dunia di bangsal sementara untuk “penyakit menular” yang dioperasikan di markas besar Divisi Kedua.
Pejabat itu mengatakan: “Setelah melapor ke Biro Kesehatan Angkatan Darat dengan judul “Statistik Pertempuran dan Kematian Pertempuran Selama Pelatihan Politik 2020-2021,” bangsal ditutup dan pasien dipindahkan ke fasilitas sementara lainnya.”
Pada saat yang sama, seorang pejabat militer di Nanpu mengatakan pada tanggal 4 September, bahwa Biro Kesehatan Angkatan Darat telah menerima statistik kematian di Angkatan Darat Kedua, selama pelatihan musim panas dan musim dingin.
Dia mengatakan bahwa, rumah sakit dalam “keadaan kacau” setelah ditegur, yang berarti bangsal ditegur oleh atasan karena tingginya angka kematian yang tak terduga.
Masalahnya jauh lebih dari itu. Karena statistik umum menunjukkan bahwa jumlah korban tewas dari seluruh tentara jauh melebihi dari perkiraan. Otoritas militer negara itu dalam keadaan terguncang.
Resimen garis depan Korea Utara seperti Korps Pertama dan Kedua, memiliki jumlah kematian tertinggi, diikuti oleh resimen dan markas besar yang ditempatkan di perbatasan antara Tiongkok dan Korea Utara, dan kemudian “resimen belakang” dan kamp pelatihan. Jumlah kematian di bangsal diduga sebagai kasus COVID-19 adalah yang tertinggi di Korps Angkatan Darat Kedua dan Ketiga.
“Otoritas militer terkejut. Meskipun tindakan karantina sangat ketat, masih begitu banyak orang meninggal dunia. Pemimpin tertinggi (Kim Jong Un) juga sangat marah, Mereka mengatakan satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah berusaha dengan keras untuk memperkuat pekerjaan karantina,” kata sumber itu.
Dikarenakan otoritas militer percaya bahwa pandemi virus Komunis Tiongkok akan segera berakhir, unit militer mengambil tindakan sementara, seperti mengubah lantai pertama bangsal tuberkulosis menjadi bangsal virus Komunis Tiongkok, atau menempatkan tempat tidur di gudang untuk mengisolasi kasus suspek.
Namun, selama periode pelatihan musim dingin yang dimulai pada 1 Desember tahun lalu, semua korps terserang demam dan militer memerintahkan karantina skala besar. Sedangkan pihak berwenang mulai membangun fasilitas karantina sementara di pegunungan yang jauh dari pasukan.
Selain itu, dokter belum memberikan “diagnosis” atau “pengobatan” yang akurat kepada pasien. Sumber itu mengatakan bahwa pasien yang menderita TBC, hepatitis, dan bahkan pilek “seperti diculik” ditempatkan di bangsal darurat “tanpa belas kasih.” Tidak ada diagnosis yang secara pasti terhadap penyakit mereka.
Sumber itu menjelaskan bahwa pasien “tidak menerima perawatan medis atau patologis, tetapi hanya memeriksa suhu dan berjemur dengan sinar matahari setiap hari.” Pasien juga tidak mendapatkan nutrisi yang tepat. Tentara di karantina hanya menerima 450 gram sereal dingin dan sup kubis asin setiap hari.
Laporan itu mengatakan bahwa, unit militer Korea Utara berusaha menutupi kematian itu. Mereka memberitahukan kepada kepada keluarga, mereka bahwa para prajurit telah tewas dalam “kecelakaan.” Namun demikian, kerabat tentara bertengkar dengan militer dan mengajukan pengaduan ke Kementerian Pertahanan.
Setelah ditegur oleh Kementerian Pertahanan Nasional, unit militer Korea Utara mulai menyampaikan laporan resmi. Kemudian berita itu mulai menyebar ke beberapa keluarga militer. Menurut sumber, pihak keluarga khawatir bahwa militer “tidak dapat menjamin bahwa kematian massal tidak akan terjadi lagi, karena tentara harus tinggal bersama di barak.”
Menurut peraturan militer Korea Utara, Biro Kesehatan Angkatan Darat harus menulis laporan penilaian pada bulan Agustus setiap tahun, satu bulan sebelum akhir hari pelatihan yakni 30 September, merinci jumlah rawat inap di tentara, periode pelatihan dan penyebab kematian . (hui)


