Menelisik Akar Darurat Humor

oleh Iswahyudi

Menertawakan diri  sendiri, itu pengetahuaan atau skill tingkat tinggi. Butuh intelektualitas di atas rata-rata. Indonesia pernah punya sosok bapak humor bahkan sempat menjadi orang nomor satu di negeri ini. Orang itu adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Satu hal yang paling menonjol dari Gus Dur adalah kemampuannya menertawakan diri sendiri lewat lelucon. Alkisah, beberapa pekan setelah menjadi presiden pada 1999, Abdurrahman Wahid berpidato di depan para tamu negara asing. Peristiwanya terjadi di Denpasar, Bali. Ia berpidato dalam bahasa Inggris tanpa teks. 

Di awal pidato, Gus Dur ini berujar: “Saya dan Megawati adalah pasangan presiden dan wakil presiden yang lengkap: Saya tidak bisa melihat, dia tidak bisa ngomong.” Semua tamu gergeran tanpa kecuali. Gus Dur bersikap biasa saja melihat orang tertawa bahak-bahak. Wajahnya datar seolah tak berdosa.

Saat menjabat sebagai presiden, ketika Gus Dur obral statemen senantiasa membuat media kegirangan. Sementara wapresnya, Megawati Soekarnoputri irit bicara. Diamnya Megawati memang membuat orang bertanya-tanya, terutama menyangkut kapasitas pribadinya sebagai wakil presiden dan ketidakcocokannya dengan sang presiden. Gus Dur tahu betul tentang itu dan ia mencoba menetralkan situasi dengan kemampuannya yang menyenangkan: Lelucon dan menertawakan diri sendiri. Itulah keahlian unik Gus Dur.

Tidak sampai di situ, ketika desakan pengunduran diri kepada Gus Dur makin kencang di mana-mana, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) mampir ke istana. Cak Nun berkisah pernah mendatangi Gus Dur sebagai seorang sahabat yang bermaksud mengingatkan. “Gus, sudahlah, mundur saja. Mundur tidak akan mengurangi kemuliaan sampeyan,” kira-kira begitu kata Cak Nun. Dengan sigap Gus Dur menjawab: “Aku ini maju aja susah, harus dituntun, apalagi suruh mundur.” Dua orang sahabat itu ger-geran bersama sambil ngakak. Kala itu posisi Gus Dur sebagai presiden di ujung tanduk. Sepanjang Juni-Juli 2001, lawan-lawan politiknya terus menyerang dengan isu skandal Buloggate dan Bruneigate di DPR dan MPR. Suasana semakin memanas akibat demo pro dan kontra Gus Dur tiap hari terjadi di depan istana. 

Akhirnya Gus Dur mengeluarkan Dekrit Presiden yang salah satu poinnya adalah membekukan DPR dan MPR. Dekrit yang dikeluarkan pada 23 Juli 2001 pukul 01.10 itu ditentang banyak institusi negara, termasuk TNI dan Mahkamah Agung. Akhirnya dekrit ini memicu DPR/ MPR untuk meng-impeach-nya. Akhirnya, Gus Dur benar-benar menyatakan mundur dengan meminta surat perintah pejabat setempat yaitu Lurah Gambir. Dan ending lucu dan menggelikan dari drama itu, ketika beliau meninggalkan  istana, Gus Dur melambaikan tangan kepada para pendukungnya dengan berkaos, bercelana pendek, dan bersandal jepit. Itulah karya teragung, termahal, dan ternyata dalam sejarah humor Indonesia. Ia memberikan pesan bahwa di atas politik masih ada kemanusiaan.

Sebagai tokoh yang toleran, Gus Dur mencoba membuat lelucon yang ingin menjembatani kebekuan dalam hubungan antar agama di Indonesia. Salah satu humor Gus Dur yang paling dikenal adalah leluconnya soal kedekatan Tuhan dengan umat beragama. Ini juga mengandung un- sur penertawaan diri terhadap sesuatu yang dianggap sakral tapi sering dipahami secara kaku yaitu agama. “Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apa- lagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa.” Seluruh Indonesia, tentu saja, tertawa. Pada posisi ini, humor dan tertawa bisa dipandang sebagai anugerah Tuhan bagi manusia untuk menjaga kewarasan dan kewaskitaan (kemampuan untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu secara langsung) dalam memandang diri dan realitas yang sering menekan secara psikologis. Humor itu semacam pelepasan emosi yang menggumpal dan juga bagian dari upaya survival manusia dari deraan emosi negatif, terpaan beban dan penderitaan hidup. Humor bisa jadi satu bentuk dari pencerahaan itu sendiri.

Indonesia Darurat Humor?

Semakin hari masyarakat Indonesia semakin sensi dan baperan. Dari isu yang serius dan berat sampai remeh temeh bisa berujung menjadi perang tagar # di media sosial. Saling merundung di media sosial dan bahkan saling melaporkan ke pihak berwajib itu menjadi hobi baru akhir-akhir ini. Banyak profesi pelawak atau komika melihat situasi masyarakat yang mudah marah dan sensi menjadi berpikir keras untuk menciptakan lawakan yang jangan sampai berujung somasi atau gugatan. Di tengah situasi yang bisa dikatakan sebagai darurat humor ini, humormu bisa menjadi harimaumu.

Pada Jumat (12/6/2020), seorang warganet bernama Ismail Ahmad, pemilik akun Mail Sula, mengutip humor Gus Dur “3 polisi jujur”1 di Facebook. Tak lama kemudian, ia diminta menghapusnya, lalu dipanggil aparat Polres Kepulauan Sula, Maluku Utara. Setelah diperiksa terkait motifnya membagikan guyonan itu di media sosial, Ismail diizinkan pulang. Ia juga sempat meminta maaf di hadapan aparat kepolisian yang memanggilnya. Kasus ini memicu respons putri-putri Gus Dur dan mereka kompak memberikan  sentilan di media sosial. Inayah Wahid mengungkapkan bahwa seharusnya polisi bukan menangkap pengguna Facebook yang mengunggah humor Gus Dur “3 polisi jujur” itu, melainkan si pencetus humor, yaitu almarhum Gus Dur sendiri.

Fenomena darurat humor juga terkon- firmasi dari kasus yang menimpa seorang komika, Bintang Emon. Bintang Emon pernah membuat konten lawakan berkait- an tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan.

Dua terdakwa penyiraman Novel, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis, dituntut 1 tahun oleh JPU di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (11/6). Jaksa menilai keduanya tidak sengaja melukai mata Novel, namun hanya hendak memberinya pelajaran. Emon kemudian mengunggah video kritis sekaligus jenaka terkait tuntutan jaksa di akun media sosialnya, Jumat (12/6/2020). Video itu kemudian menjadi viral. Sejumlah pesohor mengunggah ulang video itu. Komentar positif membanjiri Emon. Data kata “Emon” menjadi tranding di twitter. Namun Emon mendapat serangan siber dari buzzer bayaran. Meme Emon yang berisi tudingan penggunaan sabu pun beredar ke mana-mana. Sejak itu, pembe- laan terhadap Emon meledak, terutama setelah sejumlah pesohor menyerang balik pemfitnah Emon tersebut seperti stand-up comedian Pandji Pragiwaksono dan Fiersa Besari (@FiersaBesari). Warganet pun ramai-ramai menyebut serangan terhadap Emon merupakan ulah akun-akun buzzer sembari mengkritisi pemerintah yang takut pada generasi kritis Emon.

Akhir 2021, Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) dan Humoria.id menginisiasi sebuah Sarasehan “Indonesia Darurat Humor? untuk menyadarkan kembali banyak pihak terkait kondisi emosional bangsa ini yang sedang tidak stabil. Setiap hari kita disuguhi oleh “parade kemarahan” serta “festival hujatan”. Menariknya, beberapa tensi tinggi itu konon dipercaya berasal dari produk humor.

Maman Suherman (duta literasi dan advisor IHIK3), Dedy “Miing” Gumelar (pelawak grup Bagito), dan Pandji Pragiwaksono (pelawak tunggal) hadir memberikan pandangannya terkait tema tersebut di atas. Lebih dari 10 tahun berpengalaman sebagai komika, tentu Pandji menekankan bahwa melawak tidak boleh sembarangan. Komika harus bisa mempertanggung jawabkan apa yang sudah ia sampaikan. Namun, ketika si pelawak sudah berhati-hati tetapi tetap tersandung oleh kasus ketersinggungan, maka masalahnya seharusnya bukan semata-mata berasal dari pelawak tersebut. “Melebihi dari bangsa lainnya, kita itu bangsa yang sangat komunal, suka berkomunitas. Dan kalau kita pikir baik-baik, skillset terpenting dalam menjadi bagian dari komunitas adalah untuk diterima oleh komunitas tersebut. Nah, karena ingin diterima oleh komunitasnya, maka banyak orang yang akan ikut meramaikan ketika komunitasnya ‘disentuh’ oleh orang lain,” ujar Pandji.

Dedy juga beranggapan para pelawak tidak perlu takut melawak dan diganjal pasal pencemaran atau penghinaan nama baik karena sifat pasal tersebut hanyalah delik aduan. Selama pelawak sudah melewati tahapan-tahapan memotret fenomena yang benar-benar ada di masyarakat, merisetnya dengan seksama, dan mengemasnya menjadi bahan komedi yang cantik, kemungkinan besar lawakannya bakal aman dan bisa diterima banyak kalangan.

Filosofi Pertempuran (Struggle of Class) Akar Darurat Humor?

“Tertawalah sebelum tertawa itu dila rang”, itulah salah satu motto group lawak Warkop. Situasi darurat humor sebenarnya adalah gejala dari kondisi yang lebih besar dari situasi sosial yang terjadi di Indonesia. Mulai Pilkada DKI 2017 yang sarat dengan isu SARA dan politik identitas, publik Indonesia menjadi terbelah dua. Menjadi suatu kubu yang saling berseteru apa pun isu yang mencuat. Pembelahan masyarakat untuk tujuan pemenangan kontestasi politik memang murah secara biaya, namun dampak sosialnya tak hilang hingga kini. Ditambah lagi maraknya industri penggiring opini (buzzer Rp) yang sering malah dipelihara oleh pihak penguasa. Bahkan telah mencuat fakta buzzer dibiayai oleh APBN2 .

Indonesia sebenarnya mempunyai modal sosial yang sangat besar yang diwariskan oleh bapak pendiri bangsa untuk menghadapi ujian-ujian disintegrasi bangsa. Modal sosial bisa diibaratkan sebagai deposito modal sosial yang menjadi lem perekat atas segala kebhinnekaan yang ada di Indonesia. Namun demi memenangkan kontestasi politik, deposito modal sosial itu terus dikuras dari waktu ke waktu dengan berbagai macam parade kebencian atas nama perbedaan Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan.

Melihat fenomena pembelahan masyarakat yang terjadi terus-menerus patut dicurigai bahwa bangsa ini telah disubversi oleh ideologi yang menghalalkan perjuangan kelas yang terjadi terus menerus. Selalu menciptakan musuh bersama sebagai sasaran perundungan dan kambing hitam.

Melihat fenomena ini teringat sebuah teori tentang subversi ideologi oleh Yuri Bosmonov yang menjelaskan bagaimana subversi ideologi itu dilakukan. Dimulai dengan:

(1) Demoralisasi. Fase ini butuh waktu 15-20 tahun. Itu adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mendidik satu generasi. Pada fase ini modal moralitas dan karakter bangsa perlahan-lahan digeser dan dihancurkan. Nilai tradisi mulai ditinggalkan digantikan dengan nilai baru. Subversi ideologi bisa jadi dari kiri dan dari kanan. Indonesia menganut ideologi tengah. Akhir-akhir ini tarikan ke kiri dan ke kanan semakin terasa. Sehingga terdapat dua kutub yang saling berlawanan.

(2) Destabilisasi. Ketika dua kelompok massa yang kontras secara ideologi terbentuk. 

Benih-benih benturan dimulai. Politik belah bambu seringkali dijalankan. Satu kelompok massa diinjak, sementara kelompok massa yang lain diangkat.

(3) Fase krisis. Konflik dua kubu sudah mengarah ke kontak fisik horisontal atau perang sipil.

(4) Normalisasi. Memunculkan seorang “sleeper agent” yang membawa misi subver- sor seolah menjadi dewa penyelamat atas krisis yang terjadi tapi sejatinya ia adalah proxy dari sang subversor.

Irama filosofi pertempuran dari subversi ideologi ini harus segera dihentikan. Humor dan menertawai diri sendiri bukan serta merta membebaskan diri dari situasi ini, tapi memberikan sebuah ruang untuk melihat dari sudut lain betapa bodohnya dan lucunya kita. Humor bisa melepaskan perasaan tertekan dan itu gampang menular. Suatu mekanisme survival yang menyelamatkan dari kemarahan dendam yang merusak sebuah bangsa. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. (et)