Krisis Ukraina Memaparkan Kebohongan Beijing terhadap Lingkungan Hidup yang Hijau

Stu Cvrk

Tiongkok akan mengeksploitasi perang Rusia-Ukraina untuk keuntungan ekonomi Tiongkok sendiri. Setiap penurunan ekspor minyak dan gas Rusia ke Eropa kemungkinan akan bergeser ke Tiongkok.

Kesepakatan Paris 2015 sangat menyudutkan Tiongkok. Ketika negara-negara lain dengan megah mengumumkan kontribusinya yang ditentukan secara nasional untuk mengurangi gas-gas rumah kaca, Tiongkok menolak secara spesifik sampai mendekati akhir waktu yang dialokasikan bagi negara-negara untuk mengembangkan rencananya.

Rezim Tiongkok menghadapi dilema untuk membangun lebih banyak pembangkit listrik tenaga batu bara, yang mana dibutuhkan untuk menggerakkan pertumbuhan industri Tiongkok, sementara pada saat yang sama secara publik memperjuangkan tujuan hijau untuk menjaga baris-baris produksi teknologi hijaunya sangat bergiat dan ekspor-ekspor panel surya, baterai, dan barang-barang lainnya semakin meningkat.

Tetapi kemudian bermuka dua adalah sifat yang dihargai oleh Partai Komunis Tiongkok, terutama ketika uang terlibat. Pemangkasan emisi membutuhkan suatu kendali untuk melanjutkan pertumbuhan ekonomi dalam prioritas Partai Komunis Tiongkok.

Mari kita tinjau masalahnya.

Untuk memenuhi komitmen Kesepakatan Paris, Tiongkok telah mengklaim mendukung “netralitas karbon” sejak pengumuman pemimpin Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping dalam pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September 2020.

“Kami bertujuan untuk mencapai puncak emisi-emisi karbon dioksida sebelum 2030 dan mencapai netralitas karbon sebelum 2060,” kata Xi Jinping, seperti dilansir New York Post.

Pembangkit listrik tenaga batu bara di Hanchuan, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada 11 November 2021. (Getty Images)

Mencapai netralitas karbon membutuhkan emisi-emisi karbon dioksida sebagai suatu produk sampingan dari proses industri harus dipangkas dan/atau jumlah yang setara dari emisi karbon dioksida harus “ditangkap” dan dikeluarkan dari atmosfer dalam beberapa cara.

[Selain itu, dasar pemikiran bahwa emisi karbon dioksida yang dihasilkan manusia adalah suatu penyebab utama  yang mendasari penyebab “pemanasan global”—–sekarang disebut sebagai “perubahan iklim”—–adalah semakin diserang berdasarkan ilmu pengetahuan nyata. Sebuah laporan baru, berjudul “World Atmospheric CO2, Its 14C Specific Activity, Non-fossil Component, Anthropogenic Fossil Component, and Emissions atau “Karbon Dioksida di Atmosfer Dunia, Aktivitas Spesifik C14 dari Karbon Dioksida, Komponen Non-fosil, Komponen Fosil Antropogenik, dan Emisi-Emisi (1750–2018),” membuat kesimpulan yang tidak mengejutkan ini (penekanan ditambahkan): “Hasil-hasil kami menunjukkan bahwa persentase total karbon dioksida  karena penggunaan bahan bakar fosil dari tahun 1750 hingga 2018 meningkat dari 0% pada tahun 1750 menjadi 12% pada tahun 2018, terlalu rendah untuk menjadi penyebab pemanasan global.” Singkatnya, mencapai netralitas karbon mungkin cenderung sebuah jalan pintas  yang bodoh.]

Apakah ada tanda-tanda-—selain deklarasi publik biasa oleh para tersangka biasa—–bahwa Tiongkok benar-benar memenuhi janji Xi Jinping? 

Partai Komunis Tiongkok yang pintar mungkin melembagakan sebuah upaya penanaman pohon secara besar-besaran di Mongolia Dalam, oleh kerja paksa orang-orang Uighur untuk mengklaim bahwa pertumbuhan pohon baru menghilangkan karbon dioksida untuk mengimbangi peningkatan emisi industri, tetapi mungkin Partai Komunis Tiongkok menghemat garis propaganda tersebut untuk digunakan nanti.

Menurut sebuah laporan yang dikutip oleh The Guardian bulan April lalu, setiap “kontribusi orang-orang Tiongkok yang ditentukan secara nasional” harus mencakup keharusan “mengurangi hampir 600 pembangkit listrik tenaga batu bara dalam 10 tahun ke depan menggantikan pembangkit listrik tenaga batu bara itu, dengan pembangkit listrik terbarukan, untuk memenuhi tujuan Tiongkok yaitu emisi gas rumah kaca benar-benar nol pada 2060.”

Apakah Partai Komunis Tiongkok memperhatikan laporan itu? Tidak ada bukti yang diketahui bahwa Partai Komunis Tiongkok bahkan mengakui keberadaan laporan tersebut.

Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri upacara penandatanganan perjanjian, dengan CEO Gazprom Alexei Miller (depan kiri) dan Ketua CNPC raksasa energi Tiongkok Zhou Jiping (depan R) menandatangani kontrak pasokan gas multi-dekade senilai $400 miliar, di Shanghai, Tiongkok, pada 21 Mei 2014. (Alexey Druzhinin/AFP/Getty Images)

Sebaliknya, seperti yang dilaporkan TIME pada Agustus 2021: “Tiongkok berencana untuk membangun 43 pembangkit listrik tenaga batu bara baru dan 18 tanur sembur baru—–setara dengan menambahkan sekitar 1,5% dari emisi-emisi tahunannya saat ini.”

Namun, Xi Jinping berjanji untuk tidak membangun pembangkit listrik tenaga batu bara lagi di luar negeri musim gugur yang lalu, seperti yang dilaporkan di The Guardian. Apakah hal tersebut adalah bagian pertukaran  untuk membangun lebih banyak di dalam negeri, atau apakah itu hanya bujukan komunis?

Sejauh ini, lobi apa pun dari Tiongkok di mana “Climate Czar” yang aneh milik Presiden Joe Biden, John Kerry mungkin telah melakukannya selama “negosiasi” yang ia lakukan menjelang Pakta Iklim Glasgow Desember lalu pasti diabaikan oleh Tiongkok.

Dari penilaian Washington Examiner mengenai Pakta Iklim Glasgow: “Kesepakatan yang tidak jelas tidak memerlukan apa pun dari Tiongkok. Kesepakatan tersebut hanya menyatakan bahwa Amerika Serikat maupun Tiongkok akan mengambil ‘tindakan-tindakan iklim yang ditingkatkan’ yang tidak ditentukan yang meningkatkan ambisi di tahun 2020-an … sesuai dengan keadaan-keadaan nasional yang berbeda.'”

Kesepakatan tersebut mengharuskan “negara-negara maju” untuk membelanjakan USD 100 miliar untuk kegiatan kelonggaran perubahan iklim, tetapi kesepakatan itu membuat Tiongkok lolos. Pasalnya, Partai Komunis Tiongkok tetap mengklaim bahwa ekonomi nomor dua di dunia itu adalah sebuah negara yang sedang berkembang. Partai Komunis Tiongkok menghindari sanksi lainnya dengan beberapa “janji-janji di masa depan!”

Bahkan ada lebih banyak bukti bahwa Tiongkok tidak memenuhi janji netralitas karbon oleh Xi Jinping, karena perang Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung memaparkan lebih banyak duplikasi hijau Tiongkok. 

Tiongkok adalah sebuah negara miskin-energi yang merupakan pengimpor minyak dan gas terbesar di dunia, menurut Forbes, di mana impor minyak melebihi 10 miliar barel per hari pada 2019, menurut Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat.

Tiongkok mengimpor 15 persen minyak mentahnya dari Rusia pada tahun 2019, serta gas alam dan batu bara dalam jumlah yang cukup besar. 

Ekspor hidrokarbon dari Rusia  akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang, karena kesimpulan dari kesepakatan ekspor-impor besar ini:

  • Kesepakatan gas senilai USD 400 miliar pada 2014 selama 30 tahun untuk gas Rusia melalui jalur pipa  Tenaga Siberia.
  • Kesepakatan kedua yang ditandatangani tahun ini untuk 10 miliar meter kubik gas Rusia per tahun selama 25 tahun.
  • Kesepakatan baru yang ditandatangani tahun ini untuk 100 juta ton batubara Rusia.
  • Kesepakatan baru Tiongkok dengan raksasa gas Rusia Gazprom untuk 50 miliar meter kubik gas lainnya per tahun melalui jalur pipa baru Soyuz Vostok melintasi Mongolia.

Bagaimana kesepakatan di atas akan menghasilkan komitmen Xi Jinping untuk mencapai “netralitas karbon” pada 2060? Rincian nengenai rencana iklim nasional Tiongkok yang baru  diumumkan musim gugur yang lalu, tentu saja tidak membahas kesepakatan hidrokarbon tersebut di atas.

Akankah Tiongkok memainkan permainan Jerman untuk mengklaim bahwa gas alam adalah suatu “bahan bakar transisi?” Tidak ada yang harus tertipu.

Bagaimanapun, aliansi Tiongkok-Rusia yang sedang berkembang dengan cepat untuk front ekspor-impor hidrokarbon dan hanya akan meningkat karena kepentingan minyak dan gas Rusia lebih lanjut dikenai sanksi sebagai akibat invasi ke Ukraina. 

Akan ada lebih banyak minyak dan gas Rusia yang tersedia untuk ekspor ke Tiongkok, karena negara-negara Uni Eropa dan negara-negara lainnya (Amerika Serikat?) akan berusaha untuk mengurangi ketergantungannya pada Rusia. Tiongkok tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut!

Meskipun ada beberapa spekulasi sebelumnya bahwa Tiongkok mungkin menyetujui sanksi-sanksi terhadap Rusia, “kata regulator perbankan dan asuransi Tiongkok pada hari Rabu [2 Maret] bahwa Tiongkok menentang dan tidak akan bergabung menjatuhkan sanksi keuangan terhadap Rusia,” seperti dilansir CNBC.

Hal tersebut membuka pintu bagi Rusia untuk membiayai transaksi-transaksi minyak dan gas di bawah  China’s Cross-Border International Payments System  (CLIPS), yaitu sebuah alternatif untuk sanksi-sanksi baru terhadap Rusia di bawah the Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT). 

Jika dan ketika Tiongkok meningkatkan impor minyak dan gas dari Rusia dalam waktu dekat, apalagi jika ditransaksikan melalui Sistem Pembayaran Internasional Lintas-Batas Tiongkok, Partai Komunis Tiongkok harus sendirian menghadapi beberapa sanksi yang serius!

Bukti tersebut semakin menunjukkan bahwa Beijing tidak peduli pada Perjanjian Paris dan Pakta Iklim Glasgow–—semuanya atas nama pertumbuhan ekonomi dan pemanfaatan sebuah peluang untuk meningkatkan impor-impor energi Tiongkok dari Rusia untuk mendorong pertumbuhan itu.

Moral cerita tersebut? Perhatikan tindakan-tindakan Partai Komunis Tiongkok–—bukan kata-kata Partai Komunis Tiongkok–—untuk membedakan kebenaran. (Vv)

Stu Cvrk pensiun sebagai kapten setelah melayani 30 tahun di Angkatan Laut AS dalam berbagai kapasitas aktif dan cadangan, dengan pengalaman operasional yang cukup besar di Timur Tengah dan Pasifik Barat. Melalui pendidikan dan pengalaman sebagai ahli kelautan dan analis sistem, Cvrk adalah lulusan Akademi Angkatan Laut A.S., di mana ia menerima pendidikan liberal klasik yang menjadi landasan utama bagi komentar politiknya