Pasukan Cadangan Rusia yang Menentang Invasi ke Ukraina Membakar Kantor Wajib Militer

NTD

Invasi Rusia ke Ukraina memicu sentimen anti-perang di dalam negeri Rusia. Akhir-akhir ini lebih dari 10.000 orang warga sipil Rusia telah ditangkap pihak berwenang karena turun ke jalan untuk memprotes invasi. Kini dalam gambar yang diposting online menunjukkan kantor militer yang digunakan untuk perekrutan cadang pasukan invasi sedang diamuk si jago merah, diduga kebakaran sengaja dilakukan oleh pemrotes. 

Menurut laporan media asing, insiden itu terjadi di Lukhovich yang berlokasi di wilayah tenggara Kota Moskow. Pemuda yang diduga membakar gedung itu pertama-tama mengecat warna bendera Ukraina di pintu masuk kantor perekrutan dan menuliskan kata-kata ‘Aku tidak akan membunuh saudaraku’, lalu memanjat tembok dan memasuki halaman, kemudian melemparkan bom bensin yang sudah terbakar untuk menghancurkan jendela.

Dari video yang diunggah ke YouTube menunjukkan setidaknya dua jendela kaca pecah dan api berkobar di dalam dan luar ruangan.

Pembakar mengatakan bahwa dirinya tidak bersedia untuk mematuhi instruksi pemerintah karena dia tidak ingin pertumpahan darah antara teman sekelas dan sahabat. 

Dia mengatakan bahwa dia berharap dengan terbakarnya kantor perekrutan, maka dapat menggagalkan rencana Rusia untuk menambah pasukan cadangan untuk dikirim ke Ukraina.

Dia menghimbau warga Rusia untuk mengambil tindakan yang lebih radikal, karena protes di jalan-jalan jelas tidak berhasil. Dia juga meneriakkan slogan untuk tentara Rusia : “Para prajurit, musuh kita ada di Kremlin, bukan di Kyiv”.

Saat ini, protes anti-perang telah meluas ke lebih dari 100 kota di Rusia. Kelompok pengawas independen Rusia OVD-Info mengatakan pada Minggu 6 Maret, bahwa sampai saat ini sudah ada lebih dari 13.000 orang warga telah ditangkap. Sedangkan pada Minggu saja, polisi menangkap lebih dari 4.640 orang pengunjuk rasa di 65 kota.

Sementara suara-suara anti-perang bergaung di sejumlah kota Rusia, pihak berwenang Rusia justru memanipulasi media untuk mempublikasikan cerita versi pemerintah yang menggambarkan bahwa, masuknya tentara Rusia ke Ukraina merupakan suatu “tindakan demi menjunjung keadilan”.

Propaganda resmi juga telah menyebabkan sejumlah besar warga Rusia secara fanatik mendukung aksi militer ke Ukraina. Saat ini telah terjadi polarisasi di Rusia, bahkan telah memicu bentrokan kekerasan antara anggota keluarga mengenai apakah mendukung perang atau tidak.

Aktor Rusia Jean-Michel Scherbak mengatakan di media sosial, bahwa dirinya malu dengan negaranya karena mengobarkan perang, dan ibunya, yang mendukung perang di Ukraina, segera memblokirnya secara online.

Alex, seorang penguji permainan berusia 28 tahun, juga mengatakan kepada Reuters bahwa orang tuanya meneleponnya setiap hari, bahwa dia dan ibunya selalu bertengkar sengit dalam pembicaraan di telepon, walau sikap ayahnya lebih netral. (sin)