EtIndonesia.com Departemen Kehakiman Amerika Serikat telah menyita 13 nama domain internet yang diduga terkait dengan agen intelijen Partai Komunis Tiongkok (PKT). Situs-situs tersebut menyamar sebagai perusahaan konsultan untuk memancing pejabat pemerintah AS, baik yang masih aktif maupun yang telah pensiun dan memiliki akses terhadap informasi rahasia, agar memberikan intelijen dengan imbalan bayaran yang tinggi.
Sebelumnya, aliansi intelijen “Five Eyes” (Lima Mata) juga pernah mengeluarkan peringatan bersama bahwa mata-mata PKT secara aktif memanfaatkan platform pencarian kerja daring untuk merekrut orang-orang asing yang memiliki akses ke informasi sensitif.
Departemen Kehakiman AS Menyita 13 Situs
Pada 10 Juni, Departemen Kehakiman AS mengumumkan penyitaan 13 situs web yang diduga memiliki kaitan dengan badan intelijen PKT dan digunakan untuk menargetkan warga negara Amerika, khususnya mereka yang memiliki atau pernah memiliki izin keamanan (security clearance) sehingga dapat mengakses rahasia pemerintah dan informasi sensitif Amerika Serikat.
Berdasarkan dokumen permohonan penyitaan yang diajukan oleh Biro Investigasi Federal (FBI), para pelaku sejak November 2023 mendirikan situs-situs palsu yang mengatasnamakan perusahaan konsultan. Mereka merekrut individu di Amerika Serikat melalui berbagai platform pencarian kerja dengan menawarkan bayaran sebagai imbalan atas penyediaan informasi sensitif bahkan rahasia.
Target mereka adalah pejabat pemerintah dan personel militer AS, baik yang masih bertugas maupun yang telah pensiun. Para korban diminta memberikan layanan profesional, tetapi identitas klien sebenarnya tidak pernah dijelaskan secara jelas.
Menggunakan AI dan Identitas Palsu
FBI secara khusus menyebutkan bahwa situs-situs konsultasi palsu tersebut memanfaatkan konten yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI), avatar virtual berbasis AI, serta mencuri identitas orang sungguhan untuk meningkatkan kredibilitas mereka.
“Seiring berkembangnya kecerdasan buatan, media sosial, dan platform pencarian kerja, semuanya telah menjadi alat dan sarana baru bagi PKT untuk menjalankan aktivitas intelijen,” ujar wakil rektor Universitas Kainan Taiwan, Chen Wenjia.
“Amerika Serikat berharap melalui penegakan hukum secara terbuka dapat mengingatkan negara-negara lain agar meningkatkan kewaspadaan terhadap perekrutan daring dan infiltrasi kognitif yang dilakukan PKT,” katanya.
“Dengan kata lain, AS bukan hanya menangani satu kasus, tetapi juga menunjukkan bahwa mereka akan mengambil langkah yang lebih keras dan proaktif untuk melawan aktivitas intelijen PKT,” lanjutnya.
Ancaman dari Orang Dalam
Menurut analisis tersebut, bentuk baru spionase berbasis AI ini memungkinkan pelaku dengan biaya rendah melewati perlindungan teknologi yang dibangun Amerika Serikat dan berupaya melemahkan keunggulan teknologi maupun pertahanan militer AS dari dalam.
Chen Wenjia menambahkan: “Yang paling sulit dicegah sering kali bukanlah peretas dari luar, melainkan orang dalam yang memiliki akses sah. Jika pegawai aktif atau pensiunan memberikan informasi kepada PKT karena imbalan finansial, kebutuhan karier, atau alasan lainnya, hal itu dapat menimbulkan kerugian jangka panjang yang sulit dideteksi terhadap sistem pertahanan, diplomasi, dan intelijen Amerika Serikat.”
Persaingan Strategis yang Terus Berlanjut
Profesor tidak tetap Universitas Chung Yuan, Liu Wenbin, menyatakan bahwa tindakan ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah AS memandang masalah tersebut.
Ia mengatakan bahwa meskipun ada spekulasi setelah pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump bahwa permusuhan AS terhadap PKT mungkin akan mereda, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda.
“Tampaknya PKT tidak pernah menghentikan upayanya untuk menyusup ke masyarakat internasional, dan Amerika Serikat juga tidak pernah mengendurkan kewaspadaannya terhadap aktivitas tersebut,” ujarnya.
Dari Penindakan Pasif Menjadi Pencegahan Proaktif
Dalam beberapa tahun terakhir, pencegahan terhadap spionase teknologi dan ekonomi telah menjadi salah satu prioritas utama keamanan nasional Amerika Serikat.
Pendekatan AS terhadap dugaan aktivitas spionase yang berkaitan dengan PKT disebut telah berubah, dari sebelumnya hanya menangkap pelaku setelah ditemukan, menjadi melakukan tindakan proaktif dan bekerja sama lintas negara.
Liu Wenbin menambahkan: “PKT tidak membatasi kegiatan pencurian informasi hanya terhadap Amerika Serikat, tetapi melakukannya di seluruh dunia. Karena itu, seluruh negara demokratis perlu meningkatkan kewaspadaan. Dengan mengungkap 13 situs terkait ini, Amerika Serikat juga memberikan peringatan kepada masyarakat internasional agar tidak lengah ketika berurusan dengan PKT dan tidak begitu saja menerapkan asumsi kepercayaan yang lazim dalam masyarakat demokratis terhadap mereka.”
Peringatan dari Five Eyes
Seminggu sebelum operasi tersebut, aliansi intelijen Five Eyes—yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru—mengeluarkan peringatan bersama yang tidak biasa. Mereka menyatakan bahwa badan intelijen PKT secara aktif menggunakan platform pencarian kerja seperti LinkedIn dan Upwork, dengan menyamar sebagai konsultan atau spesialis sumber daya manusia untuk membujuk analis pertahanan dan diplomasi memberikan informasi rahasia.
Chen Wenjia mengatakan bahwa rangkaian penuntutan terhadap kasus-kasus yang diduga melibatkan mata-mata berlatar belakang PKT mencerminkan bahwa persaingan strategis antara AS dan Tiongkok telah meluas dari bidang perdagangan, teknologi, dan militer ke ranah keamanan intelijen, serta menjadi tren yang semakin permanen.
Ia memperkirakan bahwa di masa depan, perang intelijen tidak lagi hanya menjadi persaingan antar badan intelijen, melainkan menjadi bagian dari persaingan menyeluruh antar sistem keamanan nasional. Oleh karena itu, pemeriksaan terhadap personel yang menangani teknologi sensitif maupun keamanan informasi diperkirakan akan semakin diperketat oleh Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya.
Menurut komentar dalam laporan tersebut, jaringan intelijen Barat kini mulai beralih dari strategi bertahan secara pasif terhadap apa yang disebut sebagai aktivitas spionase nontradisional PKT menuju upaya pencegahan dan pemutusan secara proaktif. Ke depan, koordinasi dan tindakan balasan lintas negara maupun lintas lembaga diperkirakan akan menjadi semakin intensif dan cepat.
Disunting oleh Huang Yimei, wawancara oleh Chang Chun – NTD


