oleh He Yating
Penjaga Pantai Filipina pada Selasa (2/8) merilis sebuah berita tentang penemuan salah satu reruntuhan roket Long March 5B seberat 100 Kg dengan panjang 3 meter, lebar 2 meter oleh para nelayan Filipina di lepas pantai Pulau Mindoro di ujung utara Laut Sulu.
Foto-foto yang dirilis oleh Penjaga Pantai Filipina menunjukkan bahwa pola bendera bintang lima Tiongkok yang pada dasarnya masih terlihat dengan jelas pada potongan besar reruntuhan roket. Menurut laporan media lokal Filipina, ada juga beberapa aksara Mandarin yang tertera di reruntuhan.
Berdasarkan tampilan dan teks pada benda reruntuhan itu, masyarakat umumnya menilai bahwa itu kemungkinan besar adalah reruntuhan roket Long March 5-B yang diluncurkan oleh Tiongkok pada 24 Juli tahun ini.
Opini publik hampir semuanya sependapat bahwa sangat beruntung reruntuhan roket yang begitu besar dan berat yang tanpa bisa diprediksi akan jatuh ke mana oleh pihak peluncurnya, tidak sampai jatuh menimbulkan korban atau kerusakan benda.
Menurut informasi publik, Tiongkok meluncurkan roket Long March 5-B pada 24 Juli, dan puing-puingnya memasuki kembali atmosfer Bumi pada 31 Juli dalam kondisi yang sama sekali tidak terkendali.
Komando Luar Angkasa AS mentweet pada 30 Juli bahwa roket “Long March 5-B” akan kembali ke Bumi melalui langit Samudera Hindia sekitar pukul 22:45 Waktu Amerika Bagian Timur. Tapi pertanyaan mengenai hal-hal teknis yang berkaitan dengan kembali ke Bumi, seperti lokasi reruntuhan, masih menunggu penjelasan dari pihak berwenang Tiongkok.
Administrator NASA Bill Nelson mengatakan bahwa semua negara sebagai pelaku penjelajah luar angkasa harus mengikuti praktik internasional dan melakukan bagian mereka untuk berbagi informasi terlebih dahulu, untuk memperkecil risiko dari jatuhnya puing-puing roket peluncur. “Melakukan hal itu penting untuk menjaga keselamatan jiwa dan benda manusia di Bumi”.
Beberapa orang di industri penerbangan menunjukkan bahwa bagian inti dari roket “Long March 5-B” berbobot 22,5 ton, dan dibiarkan jatuh kembali ke Bumi tanpa terkendali adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab.
Pada 1 Agustus, setelah Badan Antariksa Filipina mengungkapkan bahwa ditemukan reruntuhan roket Tiongkok jatuh ke laut perairan Filipina, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian justru mengklaim bahwa sebagian besar puing-puing roket akan terbakar dalam proses memasuki atmosfir Bumi, dan tidak akan membahayakan kegiatan penerbangan dan manusia di bumi.
NASA mengecam otoritas Tiongkok atas tindakannya yang tidak bertanggung jawab.
Tiongkok telah berulang kali membiarkan puing-puing roket jatuh ke bumi secara tak terkendali, dan menolak untuk menganalisis informasi lintasan spesifik roket ke dunia luar, Akibatnya, negara lain tidak dapat memprediksi area kemungkinan jatuhnya puing-puing itu. Reruntuhan roket Long March 5 lainnya yang diluncurkan oleh Tiongkok pada tahun 2020 jatuh di Pantai Gading, Afrika Barat, dan merusak beberapa bangunan lokal. (sin)


