Bangkitnya Asia Tenggara Meruntuhkan Status “Pabrik Dunia” Tiongkok 

NTD

Di bawah pengaruh ketegangan geopolitik Tiongkok, kenaikan biaya, serta pembatasan kegiatan masyarakat yang ekstrem karena epidemi, banyak perusahaan asing, termasuk perusahaan teknologi besar, mereka memilih untuk memindahkan basis produksi ke Asia Tenggara dan negara-negara lain. Pada saat yang sama, Amerika Serikat juga telah melakukan berbagai langkah untuk membangkitkan kembali industri manufaktur dalam negerinya. Media asing percaya bahwa status Tiongkok sebagai “pabrik dunia” sedang terancam runtuh.

Pada 8 September, Apple merilis iPhone 14 andalannya, dan pada bulan depan, Google berencana meluncurkan smartphone generasi terbarunya. Perubahan penting yang perlu dicatat di sini adalah bahwa beberapa ponsel dari mereka itu sudah tidak lagi dibuat di Tiongkok.

The New York Times baru-baru ini melaporkan bahwa bagian dari iPhone 14 sengaja dirakit di India, meskipun sebagian besar produksi dan manufaktur awal masih dilakukan di daratan Tiongkok. Tetapi Apple kemudian akan memindahkan lagi sebagian dari keseluruhan manufaktur iPhone ke India.

Foxconn, produsen peralatan asli terbesar Apple, baru-baru ini menandatangani kesepakatan senilai USD. 300 juta dengan pemerintah Vietnam untuk membangun pabrik baru guna memperluas produksi. Foxconn sebelumnya telah menginvestasikan USD. 1,5 miliar di lokal yang sama.

Google tahun ini berencana untuk memindahkan produksi ponsel Pixel 7 terbaru dari pabrik Foxconn di Tiongkok selatan ke Vietnam, dan diperkirakan akan memasok setengah dari kapasitas ponsel Pixel kelas atas tahun depan.

Bukan hanya smartphone yang telah memindahkan rantai produksi ke luar negeri, Apple sudah membuat iPad di Vietnam utara, konsol game Xbox Microsoft mulai dikirim dari Kota Ho Chi Minh tahun ini, dan Amazon sudah membuat perangkat Fire TV di Chennai, India.

Beberapa tahun yang lalu, semua produk teknologi ini dibuat di daratan Tiongkok.

Davy Jun Huang, seorang ekonom yang berbasis di Amerika Serikat mengatakan : “Ketegangan dalam hubungan internasional akan menyebabkan komoditas yang diproduksi di Tiongkok terkena tarif hukuman seperti di era Trump, atau akan bernasib seperti chip yang tidak dapat diekspor ke Tiongkok sekarang. Guna menghindari pembatasan terhadap berbagai industri Tiongkok yang bakal bertambah, demi perkembangan perusahaan terpaksa hengkang terlebih dahulu”.

Davy Jun Huang mengatakan bahwa selain kenaikan biaya dan lockdown ekstrem karena epidemi, hubungan yang buruk antara Tiongkok dengan Amerika Serikat, Eropa, Australia, Jepang, dan negara lainnya juga menjadi alasan utama penarikan modal asing.

Saat ini, Vietnam dianggap sebagai penerima manfaat terbesar dari penarikan perusahaan asing dari daratan Tiongkok.

Samsung Korea Selatan mengungkapkan pada bulan Agustus tahun ini bahwa mereka berencana untuk memproduksi secara massal komponen kemasan semikonduktor di sebuah pabrik di Vietnam tahun depan. Ini akan menjadi bisnis ketiga Samsung di Vietnam setelah peralatan rumah tangga dan smartphone.

Sebelumnya, Intel yang saat ini menjadi perusahaan AS yang menanamkan modal untuk teknologi tinggi terbesar di Vietnam telah membangun pabrik pengemasan dan pengujian dengan lebih dari 2.700 orang karyawan di Kota Ho Chi Minh.

Pada 15 Agustus, Moody’s menaikkan prakiraan tingkat pertumbuhan PDB Vietnam menjadi 8,5%, merupakan pertumbuhan PDB yang tertinggi di Asia.

Davy Jun Huang mengatakan : “Asia Tenggara, khususnya Vietnam, Malaysia, dan India, mereka secara khusus mendorong dan menyambut beberapa perusahaan yang mengalir keluar dari Tiongkok. Selain itu, negara-negara itu mampu memenuhi kebutuhan dalam kapasitas produksi industri seperti pasokan listrik, air atau dapat dikatakan bahwa negara mampu menciptakan lingkungan objektif yang dapat menampung industri yang pindah dari daratan Tiongkok. Kemudian, mereka juga tidak akan dengan mudah membiarkan industri itu mengalir kembali ke Tiongkok. Jadi saya pikir industri-industri yang hengkang ke Asia Tenggara ini 70 hingga 80% tidak akan berpindah lagi”.

Selain itu, bangkitnya kembali manufaktur Amerika juga ikut menggoyahkan status Tiongkok sebagai “pabrik dunia”. Sejak tahun ini, pemerintah AS telah mengumumkan daftar ratusan proyek yang mulai membangun pabrik atau berinvestasi di bidang manufaktur di Amerika Serikat.

Menurut survei yang dilakukan oleh A.T. Kearney, 92% eksekutif memiliki sikap positif untuk kembali berproduksi di AS. Di antara mereka, 79% eksekutif dengan operasi manufaktur di Tiongkok telah memindahkan beberapa operasi ke Amerika Serikat atau berencana untuk pindah kembali dalam tiga tahun ke depan, dan 15% lainnya sedang mengevaluasi tindakan serupa.

Beberapa hari lalu, pemerintahan Biden juga mengumumkan bahwa perusahaan teknologi AS yang telah menerima dana federal akan dilarang untuk membangun pabrik “teknologi canggih” di daratan Tiongkok dalam 10 tahun ke depan.

Lior Susan, pendiri perusahaan modal ventura Eclipse, mengatakan bahwa kerajaan manufaktur Tiongkok sedang goyah, karena semakin banyak modal akan menarik diri dan mencari negara alternatif.

Pakar keuangan Taiwan Edward Huang percaya bahwa keuntungan manufaktur Tiongkok sudah nyaris hilang, dan mesin utama penggerak pembangunan ekonomi hampir mati.

Edward Huang mengatakan : “Krisis pasar real estat ditambah lagi dengan kebijakan Nol Kasus ekstrem telah membuat seluruh pasar permintaan domestik mengalami penurunan. Jadi dalam situasi demikian, investasi asing ini menjadi sangat penting. Namun, akhirnya, tanpa diduga mereka juga memilih hengkang dari Tiongkok. Jadi saya pikir ini telah menjadi lingkaran setan. Dan hal demikian ini akan berdampak buruk terhadap Tiongkok, terutama dalam menjaga stabilitas pada lapangan kerja, atau stabilitas terhadap beberapa teknologi baru, dan sumber teknologi baru”.

Indeks Manajer Pembelian Manufaktur (PMI) Agustus tahun ini yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional Tiongkok menunjukkan angka 49,4, Hal ini mencerminkan bahwa industri pilar ekonomi Tiongkok masih belum bangkit. Metrik penting ini telah berkontraksi selama 5 kali dalam 6 bulan terakhir, yang berarti pertumbuhan ekonomi Tiongkok terus mengalami penurunan. (sin)