EtIndonesia.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis 11 Juni mengungkap informasi yang menurutnya belum pernah dipublikasikan sebelumnya.
Dalam keterangannya kepada wartawan di Gedung Putih, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat baru-baru ini berhasil mengawal 22 kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz tanpa diketahui oleh Iran, sehingga jutaan barel minyak dapat dikirim keluar dari kawasan tersebut.
Trump menjelaskan bahwa operasi tersebut dilakukan pada malam hari dan kapal-kapal sengaja berlayar tanpa menyalakan lampu untuk menghindari pengawasan Iran.
Ia mengatakan sebenarnya sudah lama ingin mengungkapkan operasi tersebut, tetapi memilih merahasiakannya agar tidak mengganggu jalannya misi.
Trump menyatakan:”Setiap malam kami mengirim minyak, dan jutaan barel telah berhasil dikirim keluar. Sekarang saya bisa membicarakannya karena mereka sudah mengetahuinya.”
Peran Penting Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur transportasi energi paling penting di dunia. Sejak meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, muncul kekhawatiran bahwa Iran dapat menutup selat tersebut, yang berpotensi menyebabkan lonjakan tajam harga minyak global.
Trump berpendapat bahwa keberhasilan kapal-kapal tanker tersebut mengangkut minyak keluar dari kawasan itulah yang membantu menjaga harga minyak dunia tetap terkendali.
Menurutnya, jika minyak tersebut tidak berhasil keluar, harga minyak bisa melonjak hingga US$250 per barel. Namun saat ini harga minyak masih berada di kisaran US$85–90 per barel.
Dampak terhadap Inflasi AS
Meski demikian, tekanan kenaikan harga energi tetap berdampak pada perekonomian Amerika Serikat.
Data yang dirilis oleh United States Bureau of Labor Statistics pada 10 Juni menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Mei naik 0,5% setelah disesuaikan secara musiman, sementara tingkat inflasi tahunan mencapai 4,2%.
Walaupun angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, itu merupakan tingkat inflasi tertinggi sejak April 2023.
Di sisi lain, terdapat kabar yang relatif positif. Jika komponen makanan dan energi yang paling bergejolak dikeluarkan dari perhitungan, tingkat inflasi inti (core inflation) tercatat sebesar 2,9% per tahun, lebih rendah dibandingkan inflasi keseluruhan.
Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan inflasi belakangan ini terutama dipengaruhi oleh naiknya harga energi.
Pasar Menunggu Keputusan The Fed
Fokus pasar berikutnya adalah sikap Federal Reserve (The Fed).
Saat ini, mayoritas pelaku pasar memperkirakan bahwa The Fed kemungkinan besar tidak akan mengubah suku bunga pada pertemuan Juni.
Namun, berdasarkan perdagangan kontrak berjangka, para trader memperkirakan bank sentral AS berpotensi menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.
Sumber : NTDTV.com


