oleh Lin Yi
Perang Rusia – Ukraina telah menyebabkan serangkaian masalah sosial seperti inflasi yang tinggi di Eropa, pemogokan dan pawai di banyak negara Eropa untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Di antara mereka, pemogokan pekerja kilang minyak Perancis telah berlangsung paling lama, hingga Rabu 12 Oktober pemogokan itu telah berlangsung selama 23 hari, memicu kekurangan minyak secara nasional.
Pada Rabu, antrian panjang terlihat di jalan-jalan dekat pompa bensin. Di Kota Paris, warga harus berangkat pada pukul 4 pagi menunggu antrian selama 4 jam lebih untuk mengisi tangki bensin kendaraan. Hal ini menimbulkan keluhan para pengemudi.
Eddy, seorang sopir mobil angkutan barang mengatakan : “Parah ! Ini tak beda dengan bencana, jika situasi ini terus berlanjut, semua orang akan mogok juga karena ini sangat menjengkelkan, kami tidak bisa menjalankan kendaraan karena tidak ada solar”.
Pekerja kilang Perancis menginginkan upah yang lebih tinggi di tengah kenaikan harga. Pada akhir bulan September tahun ini, Serikat Pekerja Umum (CGT) Perancis yang paling kuat memimpin pemogokan para pekerja. Akibatnya, banyak kilang minyak seperti Total Energy dan Exxon Mobil di Perancis terpaksa ditutup, memengaruhi sekitar 60% produksi bahan bakar minyak di Perancis, dan hampir 1/3 pompa bensin tidak bisa jualan karena kehabisan stok BBM.
Marin Guillotin, perwakilan dari serikat pekerja “Force Ouvriere” mengatakan : “Yang ideal adalah mendengarkan tuntutan sah kami dan bernegosiasi pada tahun 2022. Biar semua pihak duduk di meja perundingan, agar masalah dapat diatasi dan situasi segera pulih”.
Saat ini, Exxon Mobil telah membuat kemajuan dalam bernegosiasi dengan serikat pekerja, setuju untuk menaikkan upah sebesar 6,5% tahun depan, selain ditambah lagi dengan subsidi sebesar EUR. 3.000,-
Namun demikian, komunikasi antara Total Energy dan serikat pekerja tidak berjalan lancar, mereka hanya setuju untuk memajukan waktu negosiasi dari November ke Oktober dengan alasan penghentian pemogokan, yang mana ditolak oleh Federasi Serikat Pekerja Perancis.
Melihat bahwa pemogokan akan diperpanjang waktunya, pemerintah Perancis telah mulai melakukan intervensi pada Selasa 11 Oktober, mengharuskan pekerja kilang minyak segera kembali bekerja, jika tidak mereka akan menghadapi hukuman denda dan bahkan penangkapan untuk menghindari kerusuhan sosial yang lebih besar di Perancis.
Juru bicara pemerintah Perancis Olivier Veran mengatakan : “Dampak dari konflik sosial ini telah membuat terlalu banyak warga Perancis kewalahan. Beberapa dari mereka tidak dapat pergi bekerja, menyekolahkan anak-anak, pergi berbelanja, dan kadang-kadang bahkan untuk pergi ke dokter untuk berobat”. (sin)


