Produk Tak Dapat Dijual Gara-gara Pembatasan COVID-19 Hingga Modal Petani Sayuran di Tiongkok Ludes Tak Tersisa

Xiong Bin dan Zhong Yuan

Pencegahan epidemi yang berlebihan oleh aturan Partai Komunis Tiongkok  telah menyebabkan produk pertanian tak dapat dijual secara serius. Petani dari Henan, Shandong, Hubei, Hunan, dan tempat lainnya terus mengirimkan pesan bantuan di internet.

Gara-gara blokade, logistik dan saluran penjualan diblokir, dan harga sayuran anjlok.  Tak ada yang peduli dengan nasib mereka sehingga menyebabkan petani kehilangan uang mereka.

Sebuah video yang diunggah di internet menunjukkan suasana pinggiran jalanan di daerah pedesaan di Hebei dipenuhi dengan tumpukan  lobak putih yang tak dapat dijual dan terbuang sia-sia.  Para Netizen merasakan tertekan karena kerja keras para petani menjadi sia-sia. Netizen yang memposting ulang video tersebut berkomentar : “Sebagian besar sayuran membusuk pada tahun ini. Pencegahan dan pengendalian logistik! Bagaimana orang-orang dapat hidup?”

Mr. Chen, seorang petani di Zhoukou, Henan, mengatakan kepada wartawan pada 6 Desember bahwa dia telah menanam 50 hektar sayuran sawi dan lobak putih.  Dia juga telah menyumbangkan sayuran ke rumah sakit dan unit pemerintah berkali-kali karena pencegahan dan pengendalian epidemi tak dapat menjualnya. Tahun lalu lobak putih dijual per potong, harganya RMB. 80 sen per potong, tapi tahun ini hanya bisa dijual per kati, dengan harga RMB. 30 sen per kati, setara dengan lebih dari RMB. 10 sen per kati. Dan, lobak putih hanya RMB. 15 sen per kati,  walaupun dijual rugi masih tidak laku.

Mr. Chen, seorang petani di Zhoukou, Henan berkata: “Saya masih memiliki 50.000 kati sawi dan lobak putih yang tersisa. Jika saya tidak dapat menjualnya, saya akan membuangnya di ladang. Saya tidak menginginkannya. Dipengaruhi oleh epidemi, saya tidak bisa keluar, dan saya tidak bisa menjual sayuran. Banyak pasar ditutup. Epidemi kami di sini sebenarnya tidak serius, tetapi tetap diberlakukan blokade. Sekarang tidak boleh pergi ke sekolah, bekerja, lokasi konstruksi tidak diizinkan untuk bekerja, dan banyak perusahaan dan unit telah menghentikan produksinya. Dia tidak mengizinkan restoran dibuka. Akibatnya, sayuran tak dapat dijual. Kerugian lebih dari RMB. 1 juta untuk tahun ini.”

Mr  Lu, seorang petani di Huanggang, Provinsi Hubei, yang menanam jamur shiitake, mengatakan bahwa karena situasi epidemi di daerah setempat, saluran logistik dan penjualan diblokir, dan produk lokal tidak dapat dikirim untuk dijual. Produk harus disetujui terlebih dahulu oleh pemerintah daerah. Saat ini  epidemi sedang mewabah di seluruh negeri, dan truk dari tempat lain tidak boleh masuk hingga mengakibatkan, 20.000 kati jamur shiitake miliknya tidak dapat dijual.

Mr. Lu, seorang petani di Huanggang, Hubei berkata : “Kami tidak bisa masuk atau keluar dari sini. Pasar petani dan supermarket tutup  dan kami tidak bisa menjualnya. Jika Anda datang ke sini, pemerintah akan membuka tagihan untuk mengambilnya. Yang lokal harganya RMB.10 per kati  Saya bisa menjualnya seharga RMB. 5. 5 atau RMB. 6 dan saya tidak bisa untung.”

Untuk diketahui, Kati adalah satuan berat tradisional yang sepadan dengan beban berat ​6 14 ons yang ditimbang dan diukur menggunakan alat kati.  (hui)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine