oleh Lin Cenxin/Lin Cenxin, Zhang Yuanzhang, Wang Mingyu
Kebijakan blokade ekstrem Partai Komunis Tiongkok telah menyebabkan penurunan ekonomi dan kehidupan orang-orang semakin sulit. Sedangkan gelombang “Kabur” dari Tiongkok semakin meningkat. Tak hanya orang kaya di daratan Tiongkok yang telah mentransfer aset mereka untuk beremigrasi, tetapi banyak pengusaha Taiwan juga menutup bisnis mereka di daratan Tiongkok. Mereka bergabung dengan gelombang kabur dan kembali ke Taiwan.
Seorang pengusaha Taiwan, Liao Jinzhang mengakhiri bisnisnya selama 25 tahun di daratan Tiongkok selama lockdown Shanghai tahun ini. Dia melepaskan bisnisnya yang beromset bulanan 1 hingga 3 juta dolar AS dan kembali ke Taiwan.
Pengusaha Taiwan Liao Jinzhang berkata: “Saya baru kembali ke Taiwan pada April lalu. Saya bertekad untuk melepaskan segalanya di Tiongkok. Ini sangat sederhana. Setelah berani menghancurkan Hong Kong, berani blokade pabrik dan kota Shenzhen, dan Dongguan juga ditutup, bahkan Shanghai juga ditutup. Atas hal tak beralasan yang disebut Omicron, Partai Komunis tak akan peduli dengan hidup dan mati rakyat.
Ketika berada di daratan Tiongkok, Liao Jinzhang dilarang dan diperingatkan aparat karena memposting ulang artikel di luar Firewall Tiongkok. Ia sekarang menjadi youtuber dan mengungkap PKT di internet.
Liao Jinzhang berkata : “Mengumpulkan pajak dari rakyat, lalu menghidupi sekelompok tentara untuk melawan Anda, yang disebut menjaga stabilitas. Tentara berperang melawan negara asing. Apa yang disebut menjaga stabilitas adalah melawan rakyat lokal. Memerlukan lebih banyak uang untuk memerangi rakyat di dalam negeri daripada orang asing, terlebih lagi negara ini mengetahui telah melakukan kejahatan, dan takut orang-orang Tiongkok akan mengetahui kejahatannya, dan lambat laun orang-orang akan tahu, jadi itulah yang paling ditakutkannya atas orang-orang yang memiliki nalar .”

Di kalangan pengusaha Taiwan, Liao Jinzhang tidak sendirian. Menurut sebuah survei oleh Scott Kennedy, seorang pakar Tiongkok di Center for Strategic and International Studies, Amerika Serikat mengatakan perusahaan Taiwan mengalihkan bisnis mereka dari daratan Tiongkok ke Taiwan mencapai tingkat yang “memecahkan rekor”.
Survei tersebut melakukan wawancara dengan 525 eksekutif perusahaan Taiwan dari 25 Juli hingga 1 Agustus tahun ini.
Menurut laporan tersebut, 25,7% dari perusahaan Taiwan yang diwawancarai menunjukkan bahwa mereka telah memindahkan sebagian dari operasi produksi atau pengadaan mereka ke luar Tiongkok, 33,2% sedang mempertimbangkan tetapi belum bertindak.
Para scholar percaya, hal yang mendorong semakin banyak pengusaha Taiwan melihat dengan jelas sifat PKT adalah perubahan kebijakan PKT dalam beberapa tahun terakhir, terutama kebijakan penutupan kota karena epidemi.
Profesor Sun Guo-xiang dari Universitas Nanhua Taiwan mengatakan, hal yang dikhawatirkan oleh Xi Jinping adalah stabilitas rezim PKT itu sendiri. Dengan kata lain, menjaga stabilitas adalah segalanya. Jadi, kita dapat melihat bahwa dalam situasi Covid-19, ada beberapa pengusaha Taiwan telah menyadari masalahnya. Adapun pertumbuhan ekonomi adalah indikator setiap pejabat lokal, tetapi sekarang situasinya telah berubah, seperti kita melihat kota-kota di berbagai benua, ketika mereka menutup kota sepertinya terlalu berlebihan.”
Suara Karyawan Foxconn yang terlibat aksi protes menggema dengan berkata : “Pertahankan hak! Pertahankan hak! Kami bahkan tidak bisa keluar sekarang. Mereka menembak kami dengan senjata air dan kami tidak bisa keluar. Ada beberapa regu polisi anti huru hara di luar, semuanya adalah polisi anti huru hara.”
Insiden di Pabrik Zhengzhou Foxconn, anak perusahaan dari Grup Hon Hai Taiwan, menyebabkan karyawan melarikan diri karena tindakan blokade yang ketat. Baru-baru ini, aksi protes secara besar-besaran juga meletus yang dipicu karena masalah gaji karyawan, dan konflik terus berlanjut.
Liao Jinzhang mengatakan, menurut pengamatannya, ada permainan antara Komite Pusat PKT dan pemerintah daerah dalam insiden Foxconn. Justru dapat mempercepat pengusaha Taiwan hengkang.
Liao Jinzhang menilai : “Faktanya, bagaimana situasi Foxconn saat ini? Pemerintah pusat ingin mengusirnya, tetapi pemerintah daerah tidak membiarkannya pergi. Karena 70% dari PDB Zhengzhou disediakan oleh Foxconn, jadi Anda akan menemukan bahwa banyak bagian dari pemerintah, tetapi langkah mereka berbeda.”
Cendekiawan Taiwan Sun Guoxiang menganalisis bahwa kesuksesan Foxconn di Tiongkok bergantung pada dukungan pemerintah daerah.
Sun Guoxiang mengungkapkan, alasan mengapa Foxconn dapat pindah dari Guangdong ke tempat-tempat seperti Zhengzhou dan Chongqing, yang relatif pedalaman, sebenarnya mewakili pemerintah daerah setempat. Dalam situasi tertentu, Pemda berjanji untuk membantu menemukan karyawan. Tak lain, dikarenakan membutuhkan tenaga kerja yang sangat besar.”
Kini, di bawah aturan blokade epidemi, tenaga kerja telah menjadi masalah di Tiongkok.
Dikarenakan situasi blokade dan kontrol Tiongkok, Sun Guoxiang menilai dapatkah Foxconn menemukan tempat lain yang dapat menyediakan jumlah karyawan yang sama dan memiliki perakitan dasar, yang disebut pekerja terampil, hal demikian masih merupakan ujian besar. ”
Liao Jinzhang mengatakan bahwa sulit bagi orang Taiwan untuk memahami kebijakan PKT. Jika orang Taiwan tidak mengerti Tiongkok pada saat ini, mereka masih ingin pergi ke Tiongkok. Jika mereka gegabah, maka mereka pasti akan mati.”
Sun Guoxiang percaya bahwa apakah pengusaha Taiwan dengan skala besar seperti Foxconn akan mengurangi lini produksi di daratan Tiongkok atau mundur, akan menjadi salah satu indikator penting untuk pengamatan ekonomi Tiongkok. (hui)


