oleh Lin Yi
Perusahaan teknologi Tiongkok yang telah terkena sanksi keras dari Amerika Serikat kembali mengalami pukulan mematikan. Pada 30 Januari 2023 pemerintahan Biden telah menginstruksikan untuk sepenuhnya melarang ekspor teknologi ke perusahaan tersebut
Pada 30 Januari, beberapa media di Amerika Serikat yang memperoleh informasi dari sumber pemerintah memberitakan bahwa, Amerika Serikat telah sepenuhnya melarang perusahaan AS mengekspor teknologi ke Huawei. Langkah-langkah terbaru ini termasuk melarang ekspor teknologi dan produk terkait 4G, Teknologi nirkabel generasi ke-6 dan ke-7 , kecerdasan buatan, dan teknologi komputasi yang efisien serta produk cloud. Ini adalah eskalasi terbaru dari pembatasan AS terhadap ekspor teknologi dan produk 5G ke Huawei yang telah berjalan sejak tahun 2019.
Beberapa perusahaan Amerika Serikat telah memperoleh pemberitahuan dari Kementerian Perdagangan AS bahwa mereka tidak akan lagi memperoleh lisensi dari pemerintah untuk mengekspor teknologi ke Huawei.
Frank Tian Xie, seorang profesor dari Aiken School of Business di University of South Carolina, Amerika Serikat mengatakan : “Saya pikir alasan sanksi adalah karena ambisi serigala PKT semakin jelas belakangan ini, dan semakin besar ancamannya terhadap dunia. PKT ternyata diam-diam mendukung Rusia dalam masalah perang Rusia – Ukraina. Faktanya, mereka terus berusaha melawan sanksi Amerika Serikat, sehingga Amerika Serikat terpaksa memutuskan untuk sepenuhnya mengisolasi PKT dari teknologi terbaru Amerika Serikat. Larangan total ekspor teknologi ini merupakan pukulan berat bagi Huawei, yang kemungkinan besar bisa membuatnya sekarat.”
Pada 31 Januari, Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menanggapi larangan AS terbaru seperti maling sedang teriak maling. Ia menyebut pendekatan AS itu sebagai “hegemoni teknologi” yang jelas-jelas telah “melanggar prinsip ekonomi pasar serta aturan ekonomi dan perdagangan internasional”.
Frank Tian Xie mengomentari dengan mengatakan : ” Hegemoni teknologi’ ini dapat diterjemahkan sebagai hak kekayaan intelektual. Dan Amerika Serikat sesungguhnya yang memiliki semua hak kekayaan intelektual itu. Ia boleh saja mempertahankan hak kekayaan intelektual dan keunggulan teknologinya. Sedangkan PKT menyinggung soal ekonomi pasar dan prinsip-prinsipnya, jelas tidak nyambung kecuali membuat orang yang mendengarkan tertawa. Padahal pemerintah Tiongkok yang pertama melanggar aturan pasar internasional sejak ia bergabung dengan WTO.”
Baru pada akhir pekan lalu, Amerika Serikat, Belanda, dan Jepang, tiga raksasa chip dunia mengumumkan keputusan untuk memblokir PKT mengimpor peralatan manufaktur chip canggih dari ketiga negara ini.
Frank Tian Xie percaya bahwa setelah perang chip dan perang teknologi AS – Tiongkok kembali meningkat, langkah berikutnya mungkin adalah terus memperluas cakupan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok.
“Banyak perusahaan swasta di daratan Tiongkok, apakah itu perusahaan swasta, mereka sebenarnya tidak benar-benar independen. Sehingga tidak dapat dikesampingkan bahwa perusahaan ini secara diam-diam akan memberikan produk teknologi AS ini kepada Huawei. Jadi, sangat mungkin Amerika Serikat nantinya akan memblokir semua perusahaan Tiongkok yang berkecimpung di bidang teknologi,” katanya. (sin)


