Pejabat AS : Balon Mata-Mata Tiongkok Memiliki Kemampuan Penghancuran Diri yang Tidak Diaktifkan

NTD

Pejabat AS sebelumnya pernah menyebutkan bahwa balon mata-mata PKT yang ditembak jatuh itu dilengkapi dengan alat peledak sehingga mampu menghancurkan diri sendiri. Beberapa hari yang lalu, media AS mengutip sumber resmi yang mengonfirmasikan bahwa balon tersebut memiliki procedures to self-destruction yang tidak diaktifkan atau gagal diaktifkan sebelum ditembak jatuh oleh jet tempur AS.

The New York Times melaporkan pada Rabu (15 Februari) bahwa menurut pejabat AS, hasil penelitian awal menunjukkan bahwa perangkat penghancuran diri balon mata-mata PKT masih utuh.

Mereka mengungkapkan bahwa penyelam Angkatan Laut yang mencari puing-puing di lepas pantai Carolina Selatan melihat alat peledak yang dirancang untuk menghancurkan muatan. Saat penyelidik FBI memeriksa puing-puing, mereka berspekulasi bahwa mungkin saja perangkat tersebut mengalami suatu gangguan sehingga tidak berfungsi.

Tetapi beberapa pejabat AS mengatakan mereka sekarang yakin bahwa perangkat itu berfungsi normal.

Pejabat AS mengatakan, PKT mungkin tidak menghendaki perangkat penghancur diri difungsikan saat balon masih terbang di atas daratan AS, karena takut menimbulkan kerusakan di darat yang lebih memicu eskalasi krisis. Pejabat PKT mungkin juga memiliki kemampuan untuk mengempiskan balon dan membiarkan balon melayang turun ke tanah, tetapi mereka tidak ingin AS mendapatkan akses ke peralatan pengawasan di balon tersebut.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari setelah Amerika Serikat menemukan balon tersebut, PKT masih belum mengambil tindakan apa pun terhadap balon yang melayang di atas pangkalan militer AS tersebut. Sampai menjelang balon ditembak, PKT baru memberitahu AS bahwa petugas pengontrol balon sedang mempercepat terbang balon agar segera keluar dari wilayah udara AS. Namun saat ini, sudah hampir tiga hari sejak pecahnya krisis balon, sampai-sampai publik Amerika dan politisi secara terbuka mengungkapkan kemarahannya, dan pemerintahan Biden pun menuai kritik keras karena tidak menembak jatuh balon tepat waktu.

Menurut laporan, tanggapan PKT setelah pecahnya krisis balon menunjukkan, bahwa Beijing mungkin telah membuat kesalahan dalam menilai Amerika Serikat.

The New York Times yang mengutip informasi dari sumber melaporkan bahwa pada 1 Februari sore, Kementerian Luar Negeri AS telah mengirimkan surat pendapat resmi kepada Zhu Haiquan, kepala kedutaan besar Tiongkok di AS, meminta Beijing untuk menanggapi insiden balon tersebut. Saat itu, Zhu Haiquan tampak terkejut. Namun Beijing tidak segera mengambil tindakan.

Baru pada 2 Februari, setelah Pentagon secara terbuka mengumumkan bahwa pihaknya telah menemukan balon mata-mata PKT terbang di wilayah udara Amerika Serikat, para pejabat dari Kementerian Luar Negeri Tiongkok baru secara pribadi mengakui kepada para diplomat di Kedutaan Besar AS di Beijing, bahwa itu hanya “sebuah kapal udara tidak berbahaya yang mengalami penyimpangan orbit” yang dimiliki oleh Tiongkok.

Pada 3 Februari, pihak Tiongkok mengeluarkan pernyataan publik. Di hari yang sama, Menlu. Blinken mengumumkan pembatalan kunjungan akhir pekannya ke Beijing. Setelah itu, kecepatan  terbang balon tersebut baru tampak bertambah, kata pejabat AS.

Pada 4 Februari, pihak Tiongkok memberitahu AS bahwa pejabat pengontrol balon sedang berusaha mempercepat terbangnya agar bisa segera keluar dari wilayah udara AS. Namun saat itu balon telah mencapai pantai Atlantik, dan militer AS sudah mulai merencanakan penembakannya jika sudah terbang di atas laut. Sore itu, militer AS menembak jatuh balon tersebut dengan rudal.

Menurut laporan sebelumnya, balon mata-mata PKT ini terbang pada lapisan stratosfer yang berketinggian sekitar 20.000 meter di atas laut.

Lapisan stratosfer, juga dikenal sebagai ruang dekat, adalah tempat sebagian besar pesawat dan satelit tidak dapat tinggal secara permanen. Komentator militer Tiongkok Shi Hong menulis di sebuah majalah tahun lalu : “Siapa pun yang memiliki keunggulan di bidang dekat ruang (near space), maka dia yang akan mengambil inisiatif lebih besar dalam perang di masa depan”.

Pada Agustus 2019, “The Southern Metropolis Daily”, anak perusahaan dari Komite Partai Provinsi Guangdong mengklaim bahwa Institut Penelitian Dongguan yang berada di bawah Universitas Aeronautika dan Astronotika Beijing telah berhasil “menerobos serangkaian masalah teknis utama”, dan mewujudkan “kemampuan yang belum ada duanya untuk menerbangkan kapal udara stratosfer yang dikendalikan secara aerodinamis untuk terbang keliling dunia pada ketinggian 20.000 meter”.

Menurut laporan tersebut, sebuah kapal udara tak berawak bernama “Chasing the Cloud” dari Institut lepas landas dari Pulau Hainan pada 27 Juli 2019, dan mulai terbang di ketinggian 20.000 meter. 

Peta lintasan penerbangan yang diterbitkan dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa kapal udara itu telah terbang melintasi langit Florida, Louisiana, Texas, dan negara bagian selatan lainnya di Amerika Serikat, termasuk melewati langit Hawaii. (sin)