Sudut Pandang Teori Evolusi Bab 1F : Teori Evolusi adalah Hipotesa yang Belum Terbukti (7)

5.3.2 “Fosil Hidup” Yang Abadi

Ada sejumlah spesies yang disebut sebagai “fosil hidup” oleh manusia, spesies tersebut sudah sangat purba tapi tidak pernah mengalami “evolusi”, misalnya tanaman Ginkgo, tanaman pakis, dan panda di dunia fauna, mereka semua telah melalui periode geologis yang sangat panjang, namun tidak mengalami “evolusi”. Ikan raja laut atau Coelacanth atau disebut juga “ikan empat kaki”, bisa dibilang merupakan fosil hidup di bumi ini, ikan ini adalah ikan purba yang berasal dari 420 juta tahun silam. Belum lama ini ilmuwan telah menemukan adanya jejak ikan ini di negara kepulauan tropis di Afrika Timur yakni Kepulauan Madagaskar⁵⁵.

Ini membuktikan gen pada setiap spesies makhluk hidup biasanya sangat stabil. Alam semesta memiliki waktu yang cukup memadai, lingkungan eksistensi spesies-spesies tersebut juga terus berubah, tetapi spesies itu sendiri tidak pernah berubah menjadi spesies lain. Selama lebih dari seratus tahun, para ilmuwan berusaha menemukan bukti suatu spesies berubah menjadi spesies lain, tapi segala daya upaya itu nyaris telah gagal.

Virus Corona telah menjangkiti lebih dari 600 juta orang di seluruh dunia, dan telah mengalami banyak mutasi, dunia juga telah mengembangkan obat-obatan untuk melawan virus serta vaksinnya, tapi hingga sekarang ini virus Corona masih tetap virus Corona, dan tidak terjadi perubahan spesies; bakteri E. Coli telah bereproduksi selama puluhan ribu generasi, masih saja berupa bakteri E. Coli; virus influenza telah bermutasi selama bertahun-tahun, masih saja berupa virus influenza. Manusia tidak pernah melihat adanya fenomena unik dimana ada satu jenis makhluk hidup berubah menjadi makhluk hidup jenis lain. 

5.3.3 “Pembiakan Buatan” Tidak Menghasilkan Spesies Baru

Ketika Darwin menulis buku “On the Origin of the Species”, ia tidak dapat memberikan contoh nyata evolusi seleksi alam, jadi Darwin menggunakan contoh seleksi spesies secara buatan. Misalnya, dia menggunakan burung dara sebagai eksperimen, secara seleksi buatan dipilih burung dara dengan ciri-ciri berbeda, seperti besar kecilnya paruh, postur tubuh, dan warna, dan membuktikan dapat mengubah ciri-ciri pada burung dara, seakan ingin membuktikan melalui eksperimen tersebut seleksi alam dapat menimbulkan efek satu spesies berubah menjadi spesies yang lain. Tapi, semua burung dara tersebut tetap saja dikategorikan sebagai burung dara. Pada Januari 1868 Darwin mempublikasikan buku berjudul “The Variation of Animals and Plants Under Domestication” ⁵⁶, pada buku tersebut pun hanya ditulisnya “variasi” (variation), dan bukan “mutasi”. Pembiakan buatan, hanya memperlihatkan kombinasi genom yang berbeda pada hewan atau tumbuhan, dan tidak dapat dikategorikan menciptakan spesies baru.

Untuk bisa menjadi sebuah spesies baru, harus terbentuk satu kelompok biologis baru, kelompok ini dapat berkembang biak secara independen, tidak bisa melakukan perkawinan dengan kelompok sebelumnya untuk menghasilkan keturunan yang memiliki kemampuan reproduksi.

Misalnya, perkawinan antara kuda dengan keledai bisa melahirkan bagal. Karena jumlah kromosom kuda dan keledai masing-masing adalah 64 buah dan 62 buah, jadi kromosom pada bagal adalah 63 buah⁵⁷, bagal yang memiliki kromosom ganjil tidak bisa berkembang biak menghasilkan keturunan. Oleh sebab itu, dilihat dari sudut pandang biologi, bagal bukanlah sebuah “spesies” yang sesungguhnya.

Semangka tanpa biji yang kita konsumsi sehari-hari adalah generasi hibrida hasil perkawinan silang antara semangka diploid (2 set genom, red.) biasa dengan semangka tetraploid (4 set genom, red.) yang telah diproses dengan kolkisina⁵⁸, karena kromosom yang ganjil (triploid, red.), gamet-nya tidak dapat berpasangan, sehingga semangka triploid (semangka tanpa biji) tak dapat menghasilkan bibit semangka yang matang dengan normal. Semangka jenis ini walaupun daging buahnya dapat dimakan, tapi karena tidak bisa menghasilkan keturunan, maka tidak dapat dikategorikan sebagai spesies independen yang sesungguhnya.

Dalam ilmu biologi, fenomena tidak dapat menghasilkan keturunan disebut dengan istilah “Isolasi Reproduktif” (Reproductive Isolation), pada umumnya yang dimaksud adalah karena alasan reproduksi atau biologi walaupun hubungan geografisnya berdekatan, antar kelompok spesies tidak dapat menghasilkan keturunan yang memiliki kemampuan reproduksi. Ini menjelaskan setiap spesies di alam ini memiliki mekanisme alami yang memastikan stabilitas eksistensi keunikan spesies itu sendiri⁵⁹.

Karena itu pula, objek eksperimen Darwin — semua hewan ternak yang telah dikawin silang, sekembalinya ke alam bebas, varian yang kompleks akan lenyap dengan segera, yang bertahan hidup akan kembali ke varian aslinya⁶⁰. Bahkan ahli pembiak yang paling hebat sekalipun tidak akan mampu menciptakan spesies baru.

Direktur French Academy of Science sekaligus pakar zoologi bernama Pierre-Paul Grasse (1895-1985) menilai, “Kasus pembiakan buatan adalah bukti kuat yang menentang teori Darwin. Walaupun melalui tekanan seleksi spesies selama ribuan tahun, setiap individu yang tidak sesuai dengan objektif pembiakan itu akan musnah, tapi sejak dulu hingga kini tidak pernah muncul spesies baru. Pengujian terhadap serum darah, hemoglobin, plasma protein pada anjing, dan kemungkinan terjadinya pembuahan pada anjing menunjukkan, semua anjing dari ras yang berbeda, sebenarnya masih merupakan satu jenis spesies makhluk hidup yang sama. Kesimpulan ini adalah hasil pengujian secara objektif, bukan pendapat yang subjektif pada ilmu taksonomi.”

Jadi, di alam raya ini tidak terdapat spesies transisi (atau spesies peralihan, red.) antara dua jenis spesies yang sedang mengalami evolusi, dan fakta bahwa pembiakan buatan tidak mampu menciptakan suatu spesies baru, membuktikan bahwa setiap spesies memiliki siklus alami untuk mempertahankan kestabilannya, dan tidak mungkin berevolusi begitu saja. Spesies bukan hanya tak dapat berevolusi, sebaliknya perlu mempertahankan sifat aslinya untuk dapat mempertahankan hidup. Teori evolusi Darwin pada dasarnya telah melanggar siklus alami yang abadi ini.

Referensi:

55. Cooke, A. ., Bruton, M. N., & Ravololoharinjara, M. . (2021). Coelacanth discoveries in Madagascar, with recommendations on research and conservation. South African Journal of Science, 117(3/4).
https://doi.org/10.17159/sajs.2021/8541

56. Darwin, C. R. 1875. The variation of animals and plants under domestication. London: John Murray. 2d edition. Volume 1.
http://darwin-online.org.uk/content/frameset?itemID=F880.1&viewtype=text&pageseq=1

57. Trujillo, J.M., Stenius, C., Christian, L.C. et al. Cromosomes of the horse, the donkey, and the mule. Chromosoma 13, 243–248 (1962).
https://doi.org/10.1007/BF00577041

58. Zhang, N., Bao, Y., Xie, Z., Huang, X., Sun, Y., Feng, G., Zeng, H., Ren, J., Li, Y., Xiong, J., Chen, W., Yan, C., & Tang, M. (2019). Efficient Characterization of Tetraploid Watermelon. Plants (Basel, Switzerland), 8(10), 419.
https://doi.org/10.3390/plants8100419

59. Ouyang, Y., & Zhang, Q. (2018). The molecular and evolutionary basis of reproductive isolation in plants. Journal of genetics and genomics = Yi chuan xue bao, 45(11), 613–620.
https://doi.org/10.1016/j.jgg.2018.10.004

60. Phillip E. Johnson. Darwin On Trial. Used with permission of Phillip E. Johnson and Regnery Gateway Publishing Co.  Electronically Enhanced Text (c) Copyright 1993 World Library, Inc. Copyright 1991.
http://maxddl.org/Creation/Darwin%20On%20Trial.pdf

SUD/whs