Krisis Laut Merah Mengancam Rantai Pasokan, AS Membentuk Aliansi 10 Negara untuk Melindungi Navigasi Kapal

oleh Zhang Qiling

Sejak November tahun ini, kelompok pemberontak Yaman (angkatan bersenjata Houthi) yang menamakan diri “Gerakan Pemuda” acap melakukan serangan dengan rudal atau drone dan pembajakan terhadap kapal-kapal dagang yang berlayar melintasi Laut Merah dan Terusan Suez. Saat ini, banyak perusahaan pelayaran, termasuk Maersk, telah mengubah rute pelayaran melalui Tanjung Harapan yang berada di ujung selatan Benua Afrika, sehingga menyebabkan naiknya biaya transportasi. Oleh karena itu, pada Senin (18 Desember), Amerika Serikat mengumumkan pembentukan aliansi yang terdiri dari 10 negara untuk melindungi kapal-kapal tersebut dari serangan kelompok pemberontak Houthi.

“Mengenai gerakan pemuda, serangan ini sembrono dan berbahaya serta melanggar hukum internasional. Jadi kami terpaksa mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman ini dengan membangun koalisi internasional,” kata Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin pada 18 Desember.

Berdasarkan pernyataan Menhan AS ini, total ada 10 negara anggota ikut bergabung dalam Operasi Menjaga Kemakmuran (Operation Prosperity Guardian). Adapun negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat, Inggris, Bahrain, Kanada, Prancis, Italia, Belanda, Norwegia, Seychelles, dan Spanyol. Austin mengatakan bahwa pertemuan virtual dengan para menteri dari berbagai negara ini akan dilakukan pada 19 Desember 2023.

“Kami akan segera memberikan informasi lebih rinci untuk memastikan bahwa kami akan melakukan segala upaya untuk menjamin kebebasan navigasi di area tersebut,” ujarnya.

Laut Merah adalah salah satu rute pelayaran terpenting di dunia, perairan tersebut menjadi jalur dari 12% perdagangan internasional, termasuk barang konsumsi dan minyak. Karena ancaman dari “Gerakan Pemuda” Houthi, jadi banyak perusahaan pelayaran besar, termasuk Maersk Denmark, CMA CGM Prancis, dan Evergreen Shipping Lines Taiwan telah mengumumkan penangguhan pelayaran yang melintasi Laut Merah. (sin)