NTD
Perekonomian Tiongkok sedang mengalami penurunan yang berkepanjangan sejak COVID-19, dampak yang paling kentara adalah, bahwa kekayaan warga negara Tiongkok yang dulunya dianggap kelas menengah langsung menyusut dengan cepat, bahkan tidak sedikit dari mereka yang kembali jatuh ke dalam kemiskinan. Baru-baru ini, Majalah Forbes menerbitkan sebuah artikel yang menyebutkan bahwa jumlah warga negara Tiongkok kelas menengah sedang berkurang.
Pada 7 Juni, Milton Ezrati, penulis senior di majalah Forbes dalam artikelnya menyebutkan, Tiongkok yang sebelumnya pernah memiliki kelas menengah yang optimis dan percaya diri. Kadang-kadang mereka dapat mengeluarkan banyak uang untuk dibelanjakan, dan mereka pun secara agresif melakukan investasi, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Sayangnya, jutaan orang-orang ini sekarang kembali jatuh miskin.
Artikel Milton menunjukkan, bahwa ini bukanlah masalah kecil bagi Partai Komunis Tiongkok. Sebab, sejak lama telah ada kontrak implisit antara PKT dengan rakyat Tiongkok, yaitu rakyat Tiongkok mau menoleransi kekuasaan PKT itu karena PKT bisa membawa kemakmuran ekonomi bagi mereka. Namun kini Partai Komunis Tiongkok tampaknya semakin tidak mampu mewujudkan “kesepakatan” ini. Sehingga rakyat Tiongkok merespons negatif dengan memangkas belanja mereka. Namun, jika situasinya berkembang menjadi ekstrem, alias PKT semakin tidak mampu mewujudkan “kesepakatan” itu, entah bagaimana reaksi rakyat Tiongkok.
Artikel menjelaskan, alasan utama masalah PKT gagal mewujudkan “kesepakatan” adalah krisis real estat yang sedang terjadi di Tiongkok, namun ini bukanlah satu-satunya alasan. Krisis real estat telah mengganggu perekonomian dan keuangan Tiongkok sejak tahun 2021 hingga saat ini. Bagi kelas menengah, yang utama adalah gegara harga perumahan menurun, sehingga sumber utama kekayaan rumah tangga mereka jadi berkurang. Misalnya, pada Desember tahun lalu, rata-rata harga rumah di 70 kota besar dan menengah di Tiongkok turun 6,3% dibandingkan tahun sebelumnya, yang merupakan penurunan terbesar sejak tahun 2011.
Isu yang paling ilustratif adalah laporan terbaru Kementerian Keuangan Tiongkok mengenai pendapatan pajak penghasilan warga di Beijing. Pada bulan Januari dan Februari tahun ini, jumlah pajak penghasilan pribadi yang diperoleh otoritas Beijing berjumlah sekitar RMB.362,2 miliar. atau turun 16% dari periode yang sama tahun lalu. Kementerian Keuangan Tiongkok menjelaskan, bahwa karena individu dengan pendapatan tahunan kurang dari RMB.100.000,- tidak perlu membayar pajak penghasilan pribadi, oleh karenanya, penurunan pajak penghasilan pribadi mencerminkan bahwa pendapatan rumah tangga telah berada di bawah RMB.100.000,-.
Milton percaya bahwa karena pendapatan tahunan sebesar RMB.100.000,- adalah garis pendapatan terendah bagi kelas menengah Tiongkok, jadi hal ini menunjukkan bahwa pendapatan banyak warga Tiongkok telah turun di bawah garis terendah kelas menengah, atau jatuh ke dalam kelompok yang berpenghasilan rendah.
Tanpa diduga survei terhadap pendapatan upah pekerja di Tiongkok yang dilakukan Bloomberg juga membuktikan, bahwa pendapatan upah Tiongkok pada kuartal ke-4 tahun 2023 telah turun sebesar 1,3%, ini adalah penurunan selama 3 kuartal berturut-turut. Jumlah bonus yang dibayarkan kepada pekerja bahkan lebih mengecewakan, karena menurun sekitar 17,5% YoY. Bonus pada industri Internet dan Telekomunikasi turun sebesar 27% YoY, dan bonus pada industri keuangan turun sebesar 35% YoY.
Jadi tidak heran jika penjualan barang-barang konsumsi mewah di Tiongkok menjadi anjlok. Laporan “Gucci” menyebutkan bahwa penjualan produknya di Tiongkok selama kuartal ini telah turun sebesar 20% dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu. Dan ekspor jam tangan Swiss ke Tiongkok turun 25% YoY.
Restoran-restoran kelas atas di Tiongkok mengalami penurunan, tetapi arus pengunjung restoran-restoran kelas bawah menunjukkan peningkatan. Ada data lain yang cukup mampu menjelaskan masalah ini, yaitu harga piano bekas jatuh karena stoknya di pasar cukup banyak. Karena piano selalu menjadi simbol status kelas menengah Tiongkok, jadi banyaknya persediaannya di pasar mencerminkan bahwa banyak warga kelas menengah terpaksa melepaskan pendidikan piano bagi putra-putri mereka.
Di akhir artikel, Milton Ezrati menyebutkan bahwa fenomena tersebut memberikan gambaran kepada kita mengenai prospek ekonomi Tiongkok, di mana warga kelas menengah Tiongkok sekarang lebih memilih berada di rumah, mengurangi pengeluaran, membatasi belanjanya, dan berusaha untuk menabungkan uangnya. Namun bagi Partai Komunis Tiongkok fenomena tersebut jelas meresahkan (mengingat ada “kesepakatan” yang harus diwujudkan). (sin)


