Kekosongan Tiongkok

Mengapa lapangan pekerjaan di Tiongkok akan mengalir ke India dalam jumlah yang sangat besar

James Gorrie

Selama empat dekade, Tiongkok berkembang pesat, meski tidak merata, aliran investasi asing dan pengetahuan teknologi yang tiada habisnya dari Barat, tenaga kerja murah yang tidak terbatas, dan pasar-pasar terbuka yang luas yang ingin sekali membeli apa pun yang diproduksi.

Barat Membuat Tiongkok Menjadi Kaya

Akibatnya, pusat-pusat manufaktur global kehilangan basis-basis manufakturnya menghilang dengan cepat, terutama di Amerika Serikat, seiring dengan relokasi perusahaan-perusahaan ke Tiongkok agar tetap kompetitif dengan berbagai keunggulan-keunggulan biaya yang dimiliki Tiongkok. Seluruh industri di Amerika Serikat–—mulai dari tekstil hingga elektronik, suku cadang mobil, komputer, dan bahkan sistem-sistem militer yang sangat strategis–—hilang dalam beberapa tahun, jika tidak hilang dalam semalam. Diperkirakan lebih dari 2 juta pekerjaan manufaktur di Amerika Serikat kalah terhadap Tiongkok antara tahun 2001 hingga 2018.

Tiongkok menyaksikan kebangkitan kelas menengah, yang diperkirakan berjumlah 800 juta orang mengentaskan kemiskinan dari tahun 1979 hingga 2014. Juga muncul “uang baru” kelas atas, seiring dengan berkembangnya pedagang, maestro teknologi, dan produsen menjadi sangat kaya, seperti halnya anggota-anggota Partai Komunis Tiongkok. Sekarang Partai Komunis Tiongkok menjadi partai multijutawan dan miliarder. Hanya beberapa tahun yang lalu (sebelum COVID-19) pemimpin komunis Tiongkok Xi Jinping menyombongkan diri bahwa Partai Komunis Tiongkok sendirilah yang secara langsung bertanggung jawab atas pertumbuhan dan kesuksesan Tiongkok yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Hari-hari itu sudah berakhir.

Kejatuhan yang Dapat Diprediksi

Akhir perjalanan besar dan panjang Tiongkok dalam mengimbangi naik turunnya pembangunan agak dapat diprediksi, seperti halnya penurunan besar yang kita lihat sekarang. Pengamat-pengamat Tiongkok seperti Gordon Chang (dan saya sendiri) melihat hal ini terjadi selama bertahun-tahun, jika tidak, dalam kasus Gordon Chang, hal ini terjadi selama puluhan tahun. Meskipun tidak ada seorang pun (yang saya sadari) mengantisipasi tontonan COVID-19 dan mandat-mandat perpanjangan karantina oleh Partai Komunis Tiongkok yang berasal darinya, hal itu tampak besar dalam barisan panjang kesalahan langkah dan distorsi ekonomi yang memicu keruntuhan Tiongkok yang sedang berlangsung.

Partai Komunis Tiongkok menemukan bahwa dengan mengandalkan modal dan teknologi asing (penyalahgunaan jangka panjang terhadap mitra-mitra dagang), perekonomian berdasarkan korupsi, distorsi-distorsi pasar perumahan, dan pencurian yang merajalela dari masyarakatnya sendiri, hukum hasil-hasil yang semakin berkurang akhirnya mulai berlaku. Sebagian besar mitra dagang Tiongkok, baik di negara-negara Barat atau Inisiatif Sabuk dan Jalan yang mementingkan diri sendiri, sekarang sudah tidak lagi mempercayai Partai Komunis Tiongkok untuk melakukan perdagangan secara adil dan ingin mengurangi risiko dari Tiongkok. Perusahaan-perusahaan besar seperti Apple, yang membantu membangun sektor teknologi tinggi Tiongkok, juga akan hengkang, seperti banyak lainnya.

Tiongkok Dapat Diganti

Faktor-faktor negatif terus bertambah. Dampak krisis di bidang perumahan, yang menyumbang hingga sepertiga produk Produk Domestik Bruto Tiongkok, terus-menerus mempengaruhi perekonomian, begitu pula  keterasingan kebudayaan populasi menua yang jumlahnya menurun dengan cepat.

Bahkan, untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, lebih banyak modal investasi dari Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Jepang, dan Korea Selatan meninggalkan Tiongkok saat ini daripada berinvestasi. Tidak ada indikasi bahwa tren tersebut akan berbalik kapan saja dengan segera. Yang mengejutkan adalah semakin buruk keadaannya, Partai Komunis Tiongkok semakin menindas karena Partai Komunis Tiongkok harus mempertahankan kekuasaan. Benar-benar menghujam ke bawah. Di situlah Tiongkok saat ini.

Singkatnya, Tiongkok dapat digantikan dalam pandangan dunia. Negara-negara seperti India dan Vietnam adalah penerima manfaat langsung, di mana India akan mendapatkan keuntungan dampak terbesar dari krisis ekonomi Tiongkok. Itu jelas bagi semua orang.

India Akan Menjadi Kisah Pembangunan Besar Berikutnya

India mempunyai posisi yang baik untuk menjadi negara dengan perkembangan besar berikutnya. India memiliki jumlah penduduk yang terus bertambah, sebagian besar berpendidikan tinggi, dan kebudayaan yang lebih banyak mengadopsi kebudayaan Barat, kepedulian terhadap kolonialisme Inggris, dan teknologi tinggi yang mapan, layanan pelanggan, dan sektor otomotif, dan masih banyak lagi. Ditambah lagi, India mempunyai keuntungan sebagai negara yang ramah terhadap Barat, tidak seperti Tiongkok yang tidak ramah  terhadap Barat.

Dari perspektif investasi asing, modal global sudah sangat banyak mengalir ke dalam industri komputer dan mobil India. Tidak ada yang menyangka perekonomian India yang bernilai USD 3,75 triliun akan menantang perekonomian Tiongkok yang bernilai USD 15 triliun saat ini, namun dari perspektif pertumbuhan, India merupakan peluang yang jauh lebih baik.

Perusahaan-perusahaan akan mengambil kesempatan untuk menggantikan praktik-praktik bisnis yang bermusuhan yang mereka lawan di Tiongkok dengan iklim bisnis India yang lebih mendukung. Survei terbaru terhadap 500 eksekutif Amerika Serikat yang dilakukan oleh perusahaan riset pasar OnePoll menunjukkan bahwa 61 persen akan memindahkan produksinya ke India setelah infrastruktur berada di tempatnya.

Tren Jangka Panjang Menguntungkan India

Pada saat yang sama, kondisi jalan yang buruk dan hambatan distribusi di India juga turut menyebabkan tantangan infrastruktur besar yang harus diatasi. Namun, beberapa tren jangka panjang menjadi pertanda baik bagi India, yang akan terus menarik lapangan kerja dari Tiongkok.

Berbeda dengan Tiongkok, India mengalami peningkatan pendapatan, yang berarti permintaan domestik lebih sehat untuk barang dan jasa. Kelas atas dan menengah di India akan segera berjumlah sekitar 400 juta, menyaingi Tiongkok dengan pasar yang lebih terbuka yang akan menarik produk premium. Sebaliknya, Tiongkok sebagian besar menolak untuk membuka pasar domestiknya ke Barat.

Selama dekade terakhir, pemerintah India telah memulai reformasi kebijakan struktural untuk meningkatkan iklim ekonomi dan investasi dan menjadikan India lebih ramah bisnis. India juga telah berkomitmen terhadap transformasi digital. Kini India memiliki salah satu populasi daring terbesar di dunia, dengan tarif data yang rendah dan penerapan Antarmuka Pembayaran Terpadu secara luas, yang mengakibatkan peningkatan tajam dalam ekonomi online d India.

Beijing Memperingatkan Mengenai ‘De-Sinisisasi’

Tanggapan Partai Komunis Tiongkok terhadap upaya-upaya Barat untuk mengurangi risiko sangatlah tidak tepat dan dapat diprediksi. Pada Konferensi Keamanan Munich pada bulan Februari, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi memperingatkan Eropa dan Amerika Serikat bahwa “siapa pun yang berupaya melakukan desinisasi atas nama pengurangan risiko akan membuat kesalahan sejarah.”

Partai Komunis Tiongkok gagal mengakui bahwa kebijakan-kebijakannya merupakan “kesalahan-kesalahan sejarah” dalam banyak hal. Kelas menengah Tiongkok menyusut, begitu pula populasi dan ekonomi Tiongkok. Kegagalan-kegagalan tersebut bukanlah akibat dari pengurangan risiko, melainkan akibat langsung akibat kebijakan-kebijakan Partai Komunis Tiongkok. (viv)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine