(Kebenaran Fakta Satu Abad]
Pemimpin Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai “sahabat dekat terbaiknya”.
Dalam 12 tahun sejak dia berkuasa pada 2012, Xi Jinping dan Putin telah bertemu 43 kali. Jumlah pertemuan tersebut melebihi pertemuan Xi dengan pemimpin luar negeri lainnya yang ada. Hal ini menunjukkan betapa Xi sangat mementingkan perihal menjaga hubungan baik dengan Putin.
Adapun Putin, di permukaan dia sangat sopan terhadap Xi, tetapi di dalam hatinya, apakah dia benar-benar ingin bertemu dengan Xi? Dalam episode kali ini, kita akan melihat kebenaran fakta berdasarkan pemberitaan media dari dalam dan luar negeri.
Pengkhianatan Terang-terangan pada tahun 2024
Pada 16 Mei 2024, Putin mengunjungi Beijing dan PKT memberinya sambutan tertinggi. Xi Jinping telah memberikan banyak “hadiah besar” ke Rusia, bahkan berinisiatif memeluk Putin.
Setelah pembicaraan antara Xi dan Putin, pernyataan bersama Tiongkok-Rusia dikeluarkan. Pernyataan itu berbunyi:
Kedua belah pihak menegaskan kembali kepatuhan mereka terhadap “Pernyataan Bersama Pemimpin Lima Negara Senjata Nuklir tentang Mencegah Perang Nuklir dan Menghindari Perlombaan Senjata” yang dikeluarkan pada 3 Januari 2022, khususnya konsep bahwa perang nuklir tidak dapat dimenangkan dan juga tidak boleh digunakan, Sekali lagi menyerukan kepada semua negara peserta pernyataan bersama untuk sungguh-sungguh mematuhi pernyataan tersebut”
Namun, hanya lima hari setelah pernyataan bersama Sino-Rusia dikeluarkan, Rusia mulai menggelar latihan senjata nuklir taktis tahap pertama di kawasan perbatasan Rusia-Ukraina.
Senjata nuklir taktis, juga dikenal sebagai senjata nuklir non-strategis, dirancang untuk digunakan di medan perang dan memiliki kekuatan penghancur yang luar biasa. Menurut Federasi Ilmuwan Amerika, Rusia memiliki sekitar 1.558 hulu ledak nuklir non-strategis.
Pada 21 Mei 2024, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa latihan tersebut dilakukan di distrik militer selatan, yang berbatasan dengan Ukraina dan mencakup sebagian wilayah Ukraina yang diduduki Rusia sejak perang Rusia-Ukraina pada Februari 2022. Tujuan dari latihan ini adalah untuk memastikan bahwa pasukan Rusia dan peralatan militernya “siap berperang dengan senjata nuklir non-strategis”.
Latihan tersebut melibatkan rudal “Iskander” dan rudal “Dagger”. Rudal Iskander adalah rudal operasional dan taktis tercanggih yang dilengkapi oleh tentara Rusia. Setiap peluncur Iskander mampu membawa dua rudal, yang dapat dipersenjatai dengan berbagai senjata konvensional dan nuklir.
Rudal “Dagger” adalah rudal hipersonik yang diluncurkan dari udara yang dikembangkan oleh Rusia dan dikatakan memiliki jangkauan lebih dari 2.000 kilometer dan dapat membawa hulu ledak konvensional dan nuklir.
Sebuah video yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Rusia menunjukkan truk-truk mengangkut rudal ke lokasi di mana sistem peluncuran telah dikerahkan, sementara personel militer Rusia sedang bersiap untuk memasang hulu ledak nuklir pada pesawat pembom di bandara.
Dikatakan bahwa latihan tersebut termasuk berlatih memuat kendaraan peluncur, berkendara ke lokasi peluncuran yang ditentukan, dan memuat rudal Iskander dan rudal “Dagger” ke dalam pesawat.
Apa tujuan latihan senjata nuklir Rusia? Yang pertama adalah melakukan penggertakan nuklir terhadap Ukraina dan sekutunya ; Yang kedua adalah mempersiapkan serangan nuklir.
Praktek Rusia ini bertentangan dengan apa yang dinyatakan dalam pernyataan bersama Tiongkok-Rusia. Ini merupakan tamparan terang-terangan sekali lagi kepada PKT yang dilakukan Putin mengenai masalah senjata nuklir.
Ejekan secara terang-terangan pada 2023
Pada 20 Maret 2023, Xi Jinping mengunjungi Moskow setelah meraih “tiga masa jabatan berturut-turut” , pada tiga posisi tertinggi di: Partai Komunis Tiongkok, pemerintahan, dan militer.
Tiga hari sebelum kunjungan Xi, pada 17 Maret 2023, Pengadilan Kriminal Internasional di Den Haag, Belanda, mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Putin, yang menuduh dia melakukan kejahatan perang di Ukraina. Kunjungan Xi ke Rusia kali ini dinilai memberikan dukungan kuat kepada Putin.
Pada 21 Maret 2023, Xi Jinping dan Putin bersama-sama menandatangani dan mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan : “Semua negara pemilik senjata nuklir tidak boleh mendisposisi senjata nuklir di luar negeri dan harus menarik senjata nuklir yang ditempatkan di luar negeri.” Kedua belah pihak menegaskan kembali komitmen mereka terhadap 《Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir》 dan akan terus berkolaborasi.
Namun, pada 25 Maret, hari ketiga setelah Xi kembali ke Tiongkok, Putin mengungkapkan dalam sebuah wawancara dengan seorang reporter dari saluran berita “Russia 24” bahwa Rusia telah menempatkan 10 jet tempur yang mampu membawa senjata nuklir taktis di Belarus. Mulai 3 April, Rusia akan memulai pelatihan untuk semua personel ; Pada 1 Juli, Rusia akan menyelesaikan pembangunan gudang penyimpanan khusus senjata nuklir taktis di Belarus.
Putin juga menambahkan bahwa Moskow telah menyerahkan sistem rudal Iskander ke Belarus untuk melengkapi kembali jet tempur Belarusia untuk membawa senjata nuklir.
Jelasnya, sebelum Putin menandatangani pernyataan bersama dengan Xi Jinping, dia telah memutuskan untuk menempatkan senjata nuklir di Belarus dan terlibat dalam “proliferasi nuklir” di Belarus. Apa yang dia katakan dalam “Pernyataan Bersama Tiongkok-Rusia” tentang tidak menempatkan senjata nuklir di luar negeri dan mematuhi Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir, dll, sepenuhnya merupakan penipuan terhadap diri sendiri dan orang lain, juga adalah ejekan secara terang-terangan terhadap Xi Jinping.
Utusan khusus Xi yang kehilangan mukanya
Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022, Putin tidak hanya mengingkari PKT dalam isu-isu yang terkait senjata nuklir, namun juga berulang kali menampar wajah PKT dalam isu-isu besar lainnya.
Misalnya, Partai Komunis Tiongkok terus berpura-pura tetap netral antara Rusia dan Ukraina, dan berulang kali menyatakan niatnya untuk menengahi perang tersebut. Pada 24 Februari 2023, Partai Komunis Tiongkok mengeluarkan 《Posisi Tiongkok dalam solusi politik terhadap krisis Ukraina》, yang secara khusus menyebutkan bahwa Partai Komunis Tiongkok bersedia memainkan peran konstruktif dalam melancarkan negosiasi antara Rusia dan Ukraina.
Dari 15 hingga 26 Mei 2023, untuk menengahi perang Rusia-Ukraina, Xi Jinping mengirimkan utusan khusus Li Hui untuk mengunjungi Ukraina, Polandia, Prancis, Jerman, markas besar UE dan Rusia. Namun, perjalanan Li Hui tidak membuahkan hasil praktis apa pun.
Sejak Li Hui mengunjungi Kiev, ibu kota Ukraina, hingga hari Li Hui mengunjungi Moskow, ibu kota Rusia, Rusia tidak menghentikan serangan udaranya terhadap Ukraina.
Menurut laporan media Rusia, setelah Li Hui tiba di Moskow, dia mengajukan permintaan untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, namun Putin menolak. Putin tidak memberi muka apapun terhadap mediasi PKT dalam perang Rusia-Ukraina.
Vladimir Putin Menampar Wajah Partai Komunis Tiongkok
Selain apa yang baru saja saya katakan, Putin sebenarnya telah melakukan banyak tindakan menampar wajah PKT.
Misalnya : Setelah pecahnya perang dagang Tiongkok-AS pada 2018, PKT telah membujuk Putin untuk bergabung dalam anti-Amerika. Namun, hati Putin tidak sejalan dengan keinginan PKT, Putin selalu mendorong PKT ke garis depan dalam hal anti-Amerika.
Ketika Xi Jinping mengunjungi Rusia pada Juni 2019, seorang reporter bertanya kepada Putin apa pendapatnya tentang perang dagang Tiongkok-AS. Jawaban Putin adalah : “Duduk di gunung dan menyaksikan pertarungan antar harimau”. Sedangkan dalam operasi sebenarnya, dia tidak hanya sekedar “duduk di gunung dan menyaksikan pertarungan antara harimau”.
Pada 5 Mei 2019, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali berkobar. Rusia mengambil kesempatan ini untuk mengumumkan bahwa mereka akan menaikkan tarif ekspor minyaknya sebesar US$5,8 per ton per 1 Juni menjadi US$110,4. Tiongkok adalah importir minyak Rusia terbesar. Dihitung berdasarkan data impor tahun 2018, PKT harus membayar tarif setidaknya $410 juta lebih ke Rusia setiap tahun!
Contoh lain : Setelah wabah besar terjadi pada 2020, Putin mengambil tindakan “karantina” yang paling ketat terhadap PKT, termasuk menutup perbatasan Rusia-Tiongkok, menangguhkan transportasi antara Rusia dan Tiongkok, melarang warga Tiongkok memasuki wilayah Rusia, membatasi warga Tiongkok yang transit di Rusia, dan secara paksa memindahkan orang-orang yang terinfeksi virus kembali ke Tiongkok dan seterusnya.
Contoh lain : Sejak 2 Mei 2020, konflik antara pasukan Tiongkok dan India berkali-kali terjadi di perbatasan. Hingga 15 Juni tahun itu, kedua belah pihak terlibat dalam konflik berdarah paling serius selama 58 tahun. Pada saat hubungan antara Tiongkok dan India sedang tegang, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia Manturov mengatakan bahwa India telah memesan dari Rusia 464 tank tempur utama T90 yang lebih canggih dan diperkirakan akan memesan 600 lagi tank tempur utama T14 terbaru. Karena permintaan mendesak dari militer India, Rusia akan memprioritaskan penyediaan 1.000 tank tempur utama.
Putin juga menggunakan taktik merugikan lainnya terhadap PKT.
Pada 8 Februari 2024, media pemerintah Rusia menyiarkan wawancara tokoh media Amerika Carlson dengan Putin.
Putin berkata : “Barat lebih takut pada Tiongkok yang kuat daripada Rusia yang kuat, karena Rusia memiliki populasi 150 juta jiwa, sementara Tiongkok memiliki populasi 1,5 miliar jiwa, dan perekonomian Tiongkok sedang berkembang pesat — lebih dari 5% per tahun, lebih banyak di masa lalu. Tapi ini sudah cukup bagi Tiongkok. Bismarck pernah berkata : Yang paling penting adalah potensi. Tiongkok memiliki potensi sangat besar. Dalam hal paritas daya beli, kini negara ini merupakan perekonomian terbesar di dunia dan agregat ekonominya menduduki peringkat pertama di dunia. Sudah sangat lama melampaui Amerika Serikat, dan tingkat pertumbuhannya masih terus meningkat.”
Implikasi dari kata-kata Putin adalah : Rusia bukanlah musuh nomor satu Barat, PKT lah musuh nomor satu ; Barat harus menargetkan PKT, bukan Rusia.
Ye Yaoyuan, ketua profesor studi internasional di Universitas St. Thomas di Amerika Serikat, dengan blak-blakan mengatakan bahwa pernyataan Putin ini tidak diragukan lagi merupakan “tikaman dari belakang” terhadap Tiongkok (PKT).
Belakangan, pada 17 Mei tahun ini, Putin yang mengunjungi Harbin, Tiongkok, mengklaim bahwa Moskow tidak akan menanggapi seruan gencatan senjata selama Olimpiade Musim Panas di Paris.
Hal ini lagi-lagi tidak memberikan muka pada Xi, karena dua minggu lalu pada 6 Mei, Xi Jinping mengadakan pembicaraan dengan Presiden Prancis Macron di Paris, kemudian ketika bertemu dengan wartawan, dia mengatakan bahwa Tiongkok bersedia bekerja sama dengan Prancis menjadikan Olimpiade Musim Panas Paris sebagai kesempatan untuk bersama-sama menganjurkan gencatan senjata global dan penghentian perang selama Olimpiade tersebut.
Mengapa Partai Komunis Tiongkok terus menganggap Rusia sebagai “sahabat terbaiknya”, sementara Rusia berulang kali mempermainkan Partai Komunis Tiongkok?
Ada dua alasan utama :
Pertama, Putin awalnya adalah anggota Partai Komunis Uni Soviet dan mantan pejabat badan keamanan nasional Soviet “KGB”. Dia memiliki pemahaman yang mendalam tentang ketergantungan Partai Komunis atas tekanan tinggi dan penipuan untuk mempertahankan kekuasaannya, Putin sama sekali tidak mempercayai para pemimpin Partai Komunis Tiongkok.
Kedua, Putin melecehkan para pemimpin Partai Komunis Tiongkok dari lubuk hatinya.
Di zaman modern ini, negara yang menduduki wilayah paling luas di Tiongkok bukanlah Amerika Serikat, Jepang atau Inggris, melainkan Rusia.
Selama negosiasi perbatasan Tiongkok–Rusia, PKT tanpa syarat menyerahkan lebih dari 1 juta kilometer persegi wilayah Tiongkok yang diduduki Rusia kepada Rusia. PKT juga memberikan setengah dari Pulau Heixiazi Tiongkok yang diduduki oleh Partai Komunis Soviet kepada Rusia.
Kemudian, PKT berulang kali menunjukkan niat baik kepada Rusia dan menganggap Rusia sebagai sahabat terbaiknya.
Sebuah pepatah Tiongkok kuno mengatakan: “Bila seseorang memandang rendah dirinya sendiri, maka akan dihina orang lain” Wajah PKT telah ditampar oleh Putin berkali-kali, dan itu semua adalah akibat ulahnya sendiri.(lin/mgl)


