Pembunuhan Terhadap Trump Lebih Mudah Pasca Pemilu? Departemen Kehakiman AS Ungkap Konspirasi Mengejutkan Iran

EtIndonesia. Pada  Jum’at (8/11), Departemen Kehakiman AS mengatakan bahwa mereka telah berhasil menggagalkan komplotan yang dirancang oleh Iran untuk membunuh calon presiden AS saat itu, Donald Trump, dan telah mendakwa 3 orang terkait. Sangat penting untuk dicatat bahwa tuduhan ini muncul beberapa hari setelah Trump mengalahkan kandidat Partai Demokrat, Kamala Harris.

Rencana Iran Membunuh Trump Terungkap oleh Departemen Kehakiman AS, 3 Tersangka Didakwa

Menurut laporan Fox News, dakwaan kriminal yang diajukan di pengadilan federal New York oleh Departemen Kehakiman mengidentifikasi tersangka warga negara Iran berusia 51 tahun, Farhad Shakeri, yang pada September lalu menerima instruksi dari seorang pejabat Pasukan Pengawal Revolusi Iran untuk merumuskan rencana pembunuhan Trump dalam 7 hari. Jika tidak dapat memenuhi tenggat waktu tersebut, Pasukan Pengawal Revolusi berencana menunda aksi hingga setelah pemilihan presiden AS, menganggap bahwa akan lebih mudah untuk melaksanakannya setelah pemilu.

Menteri Kehakiman Merrick Garland dalam sebuah pernyataan menegaskan: “Diantara beberapa negara yang menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan nasional AS, Iran adalah salah satunya. Departemen Kehakiman telah mendakwa seorang agen yang diperintahkan oleh rezim Iran, yang bertanggung jawab mengarahkan sindikat kejahatan untuk melaksanakan rencana pembunuhan Iran, termasuk terhadap calon presiden AS yang kini terpilih sebagai presiden Donald J. Trump.”

Departemen Kehakiman AS juga menangkap 2 tersangka lainnya: Carlisle Rivera, warga Brooklyn, New York berusia 49 tahun, dan Jonathon Loadholt, warga Staten Island berusia 36 tahun.

Menurut dokumen pengadilan, Shakeri berjanji membayar 100,000 dolar kepada Rivera dan Loadholt untuk melakukan pengawasan jangka panjang terhadap Ali Neshad, seorang jurnalis Amerika keturunan Iran. Kedua orang ini sempat pergi ke Fairfield University pada bulan Februari untuk mengambil gambar lokasi acara yang dijadwalkan dihadiri oleh target.

Shakeri juga memberikan instruksi dalam komunikasi mereka: “Kita harus bersabar menunggu kesempatan saat target keluar masuk tempat tinggal atau pergi ke luar, jangan coba-coba masuk ke dalam, itu akan seperti bunuh diri.”

Selain Trump, penyelidikan juga menemukan bahwa Shakeri merencanakan pembunuhan terhadap jurnalis terkenal warga AS keturunan Iran, Masih Alinejad.

Ancaman Hukuman Maksimal 20 Tahun Penjara

Ketiga tersangka dijerat dengan berbagai tuduhan termasuk konspirasi pembunuhan dan pencucian uang, dengan hukuman maksimal 20 tahun penjara. Shakeri masih berada di Iran, sedangkan dua tersangka lainnya telah ditangkap. Shakeri juga dikenai tuduhan memberikan dukungan material kepada organisasi teroris, serta melanggar Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional.

Departemen Kehakiman menyebutkan bahwa Shakeri pernah imigrasi ke AS saat masih anak-anak, namun setelah menjalani 14 tahun penjara atas tuduhan perampokan, dia dideportasi kembali ke Iran pada tahun 2008. Selain itu, dia juga diduga menerima instruksi dari Pasukan Pengawal Revolusi Iran untuk membunuh dua warga negara Amerika Yahudi yang tinggal di New York dengan imbalan 500.000 dolar dan merencanakan serangan terhadap turis Israel di Sri Lanka.

Kasus ini mencerminkan apa yang sebelumnya dijelaskan oleh pejabat AS tentang Iran yang terus menargetkan pejabat pemerintah AS, termasuk Trump, dengan operasi yang dilakukan di dalam negeri AS.

Iran Membantah Berada di Balik Rencana Pembunuhan Trump dan Menuduh Pihak AS Membuat-buat Cerita Karena Gagal Menangkap  pelaku sebenarnya.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, pada 9 November menyatakan bahwa tuduhan dari AS tidak berdasar dan menyerukan pembangunan kepercayaan antara dua negara yang saling bermusuhan, Iran dan AS.

Araqchi menulis di platform sosial X: “Saat ini… mereka menciptakan skenario baru… Mengingat tidak adanya pembunuh dalam dunia nyata, penulis skenario malah menciptakan komedi tak bermutu.” 

Dia mengacu pada tuduhan AS bahwa Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran memerintahkan pembunuhan Trump. Trump baru-baru ini memenangkan pemilihan presiden AS dan akan dilantik pada Januari tahun depan.

Araqchi mengatakan: “Masih ingat insiden pembunuhan Presiden Ismail Haniyeh di Teheran setelah dia dilantik? Semua orang tahu siapa pelakunya dan mengapa itu dilakukan. Sekarang, dengan pemilihan yang baru, skenario baru telah diciptakan dengan tujuan yang sama: Karena tidak ada pembunuh dalam kenyataan, maka penulis skenario diminta untuk membuat komedi tak bermutu. Siapa yang akan percaya bahwa seorang pembunuh yang disebut-sebut bersembunyi di Iran dan berkomunikasi secara online dengan FBI?”

 “Berikut adalah beberapa realitas yang layak dipertimbangkan: Rakyat Amerika telah membuat keputusan. Iran menghormati hak mereka untuk memilih presiden. Jalan ke depan juga merupakan pilihan, dan ini harus dimulai dengan saling menghormati,” lanjut Araqchi.

Dia menambahkan: “Iran tidak mengejar senjata nuklir, dan tidak ada ruang diskusi. Ini adalah kebijakan yang berdasarkan doktrin Islam dan penilaian keamanan kami. Membangun kepercayaan bukanlah jalan satu arah, melainkan memerlukan usaha dari kedua belah pihak.”

Analis Iran dan orang dalam lingkaran inti tidak mengecualikan kemungkinan untuk meredakan ketegangan antara Teheran dan Washington selama masa pemerintahan Trump, meskipun itu tidak akan mengembalikan hubungan diplomatik bilateral.

Analis dari Teheran, Saeed Laylaz, mengatakan: “Iran akan bertindak sesuai dengan kepentingannya. Kemungkinan Teheran secara diam-diam akan berdialog dengan Washington. Jika ancaman keamanan terhadap Republik Islam Iran dihilangkan, segala sesuatu saja mungkin terjadi.” (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine