AS Kurangi Impor Garmen dari Tiongkok, Untungkan Negara-negara Asia Lainnya

Perang dagang dan pelanggaran hak asasi manusia di Tiongkok menjadi faktor utama penurunan tersebut,  para ahli mengamati bagaimana masa jabatan baru Trump akan memengaruhi situasi ini lebih lanjut

 Venus Upadhayaya

Dominasi Beijing dalam ekspor pakaian ke Amerika Serikat telah berkurang, memberikan peluang bagi negara-negara Asia lainnya. Laporan dan para ahli menyebutkan sejumlah faktor yang menyebabkan penurunan tersebut, termasuk pelanggaran hak asasi manusia dan perang dagang AS-Tiongkok.

Tiongkok, sebagai pengekspor pakaian terbesar ke Amerika Serikat, kehilangan 16,4 persen pangsa pasarnya dari tahun 2013 hingga 2023. Sementara itu, pangsa pasar eksportir lain seperti Vietnam, Bangladesh, India, dan Kamboja meningkat, menurut laporan terbaru the United States International Trade Commission (USITC) atau Komisi Perdagangan Internasional Amerika Serikat.

Laporan yang diterbitkan pada September tersebut menemukan bahwa penurunan pangsa pasar Tiongkok disebabkan oleh beberapa faktor, terutama tarif yang diberlakukan oleh Washington dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Uyghur di kamp kerja paksa di Xinjiang.

Para ahli memprediksi bahwa masa jabatan kedua Presiden terpilih Donald Trump akan semakin memengaruhi pasar AS, tidak hanya bagi eksportir besar dan saingan geopolitik seperti Tiongkok tetapi juga bagi negara-negara kecil lainnya.

Dalam masa jabatan pertamanya, Trump memberlakukan tarif terhadap barang-barang Tiongkok senilai ratusan miliar dolar sebagai tanggapan atas praktik perdagangan yang dianggap tidak adil oleh Beijing. Hal ini menyebabkan penurunan signifikan pangsa impor Tiongkok ke AS sejak 2018.

Perang tarif dan ketegangan perdagangan tersebut berdampak begitu besar sehingga banyak perusahaan AS setidaknya sebagian memindahkan rantai pasokan mereka dari Tiongkok, menurut laporan USITC.

Kekhawatiran atas hak asasi manusia di wilayah Xinjiang juga mendorong Kongres AS mengesahkan Uyghur Forced Labor Prevention Act pada tahun 2022, yang melarang impor barang yang diproduksi sepenuhnya atau sebagian dengan kerja paksa Uyghur, menurut laporan tersebut.

Priyajit Debsarkar, seorang penulis dan analis geopolitik yang berbasis di Inggris, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa pandemi juga berkontribusi pada penurunan ekspor pakaian Tiongkok ke AS. Ia setuju dengan temuan laporan bahwa catatan buruk Tiongkok dalam hal hak asasi manusia semakin meyakinkan pasar AS untuk mencari eksportir yang mematuhi standar mereka.

“Saya pikir ada penyebab mendasar berupa kekerasan dan eksploitasi di Turkistan Timur atau wilayah Uyghur di Tiongkok, serta kerja paksa. Semua ini jelas berkontribusi pada penurunan tersebut,” kata Debsarkar.

Laporan USITC juga menemukan bahwa kenaikan upah di Tiongkok menyebabkan produk menjadi lebih mahal, yang turut mengurangi ekspor ke Amerika Serikat. Terutama antara tahun 2016 dan 2018, importir AS semakin menyadari pentingnya mencari sumber produk di luar Tiongkok, menurut komisi tersebut.

Negara Asia Lainnya Meningkatkan Pangsa Pasar


Amerika Serikat, sebagai importir pakaian terbesar di dunia dengan total impor sebesar $79,3 miliar pada tahun 2023, meningkatkan impor dari Asia Selatan dan Asia Tenggara antara tahun 2013 dan 2023.

Sementara pangsa pasar Tiongkok menurun dari 37,7 persen menjadi 21,3 persen, Vietnam, sebagai pemasok terbesar kedua pada periode yang sama, mencatat peningkatan pangsa impor dari 10 persen menjadi 17,8 persen, menurut laporan USITC.

Industri pakaian terus berkembang di negara-negara Asia Tenggara pada tahun ini.

Vietnam National Textile and Garment Group (Vinatex) melaporkan kenaikan sebesar 7 persen dalam nilai ekspor tekstil secara keseluruhan selama sembilan bulan pertama tahun 2024, mencapai 73,6 persen dari target produksi tahunan hanya dalam tiga kuartal pertama. Perusahaan mengharapkan pesanan untuk Natal dan Tahun Baru akan mendorong pertumbuhan lebih lanjut hingga akhir tahun.

Menurut makalah tahun 2023 yang diterbitkan oleh Centre for Economics, Policy and History di Dublin, Vietnam meraih keuntungan terbesar dari perang dagang AS-Tiongkok. Sementara pangsa ekspor Tiongkok ke AS menurun dari 20 persen menjadi 17,5 persen antara tahun 2018 dan 2019, pangsa ekspor Vietnam meningkat dari 21,5 persen menjadi 26 persen.

Vietnam dan Tiongkok “memiliki keunggulan komparatif yang serupa dalam industri tertentu, seperti tekstil dan pakaian, serta mesin dan elektronik,” menurut laporan tersebut. 

“Hal ini menunjukkan bahwa Vietnam merupakan kandidat yang baik sebagai negara sumber alternatif terbaik untuk impor AS, karena kenaikan tarif meningkatkan biaya impor dari Tiongkok.”

Negara lain yang memperoleh keuntungan dari penurunan pangsa pasar Tiongkok termasuk Bangladesh, yang memperoleh keuntungan terbesar di industri pakaian jadi (garment) dengan merebut 9 persen impor AS pada tahun 2023. India memiliki pangsa pasar sebesar 6 persen, Indonesia 5 persen, Kamboja 4 persen, dan Pakistan 3 persen, menurut laporan USITC.

Debsarkar, yang memiliki keahlian khusus dalam urusan Bangladesh, menyebutkan bahwa Bangladesh berhasil memanfaatkan penurunan ekspor Tiongkok karena memiliki tenaga kerja yang besar, baik yang terampil maupun tidak terampil, untuk industri pakaian jadi (RMG).

“Faktor pendorong utama lainnya adalah banyaknya pabrik di Bangladesh yang telah mematuhi peraturan Barat, baik di Eropa, Inggris, Amerika Utara, Australia, maupun Selandia Baru,” ujarnya.

Menurut Debsarkar, banyak negara yang mendapatkan keuntungan dari penurunan pangsa pasar Tiongkok, termasuk Bangladesh, telah fokus pada peningkatan infrastruktur industrinya dalam dekade terakhir atau lebih agar sesuai dengan standar kepatuhan internasional.

Masa Jabatan Kedua Trump

Dikarenakan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok selama masa jabatan pertama Trump berdampak signifikan pada ekspor tekstil ke AS, para ahli industri dan analis geopolitik kini mengamati dengan seksama bagaimana kebijakan tarif presiden terpilih terhadap Tiongkok dan negara-negara lain akan memengaruhi pasar global.

Selama kampanye, Trump mengancam akan memberlakukan tarif hingga 60 persen untuk semua impor dari Tiongkok dan setidaknya 10 persen tarif universal. Bulan lalu, ia berjanji untuk menambahkan tarif 10 persen lainnya pada barang-barang Tiongkok, dengan alasan kurangnya respons Beijing dalam menangani perdagangan fentanyl.

Debsarkar mengatakan bahwa meskipun pandemi tidak berdampak pada industri tekstil Bangladesh, pemerintahan Trump yang baru dapat membawa dampak tersebut.

“Tantangannya adalah, sejak pemilihan presiden Amerika, Presiden Trump telah mengumumkan bahwa ia akan memberlakukan tarif impor secara menyeluruh. Tentu saja, Tiongkok menjadi target utama. Namun, ia juga mengatakan akan mencakup negara-negara lain,” kata Debsarkar, menambahkan bahwa masih harus dilihat bagaimana negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara akan terdampak.

Sayedad Hossain, direktur National Institute of Strategic Strategies, sebuah lembaga think tank berbasis di Bangladesh, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa Bangladesh sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan perdagangan yang mungkin muncul akibat tarif baru AS.

“Meski langkah-langkah seperti itu dapat mengganggu perdagangan global, Bangladesh melihat situasi ini sebagai peluang untuk memperdalam hubungan dagangnya dengan AS dan memperoleh keunggulan kompetitif di sektor-sektor tertentu, khususnya pakaian jadi,” kata Hossain melalui email.

Menurut Hossain, kebijakan perdagangan Trump secara historis berfokus pada perjanjian perdagangan bilateral, berbeda dengan preferensi Demokrat yang cenderung mengutamakan negosiasi perdagangan multilateral. Ia mengatakan bahwa Bangladesh dapat memanfaatkan situasi ini dengan mengusulkan perjanjian perdagangan timbal balik untuk mendapatkan akses bebas tarif bagi barang-barangnya di pasar AS.

Hal ini dapat mencakup penawaran akses bebas tarif untuk barang-barang AS sebagai imbalan, yang dianggap layak karena produk AS relatif mahal dan tidak mungkin membanjiri pasar Bangladesh. Langkah lain yang bisa diambil adalah memperluas pangsa pasar produk Bangladesh di pasar AS.

“Mendapatkan akses bebas tarif atau pengurangan tarif dapat secara signifikan meningkatkan daya saing ekspor Bangladesh, terutama pakaian jadi, yang saat ini menghadapi tarif rata-rata sebesar 15,70 persen di AS,” katanya.

Bagi Vietnam, rencana tarif Trump bisa menjadi “pedang bermata dua,” menurut laporan tanggal 7 November oleh perusahaan riset BMI, bagian dari Fitch Solutions.

“Vietnam bisa menjadi eksportir alternatif untuk beberapa produk seperti tekstil, tetapi juga menghadapi risiko dari Tiongkok yang mengalihkan ekspor beberapa produknya seperti baja ke Vietnam, yang dapat memperburuk defisit perdagangan Vietnam dengan Tiongkok ,” demikian isi laporan tersebut.

Sumber : The Epoch Times

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine