Tinju Shaolin Trump dan Pukulan Tai Chi Biden Membuat Xi Kewalahan

Tang Qing

Pada 16 November, Presiden AS Biden dan pemimpin Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping mengadakan pembicaraan di Lima, Peru. Ini adalah pertemuan perpisahan Biden. Dua bulan kemudian, Trump kembali dengan situasi kuat, berkuasa di Gedung Putih, maka Xi Jinping akan menghadapi lawan yang lebih tidak terduga.

Empat tahun yang lalu, Biden telah melanjutkan hampir semua kebijakan keras Trump terhadap PKT, dan atas dasar ini, dia telah meningkatkan upayanya. Dia juga telah bersatu dengan sekutu dari banyak negara untuk melawan PKT. 

Kali ini, Trump mencoba yang terbaik, memanfaatkan keunggulan Partai Republik dalam mengendalikan DPR dan Senat untuk berkuasa kembali di Gedung Putih. Dia menunjuk pejabat kabinet yang paling hawkish (tangkas bagai elang) dan yang termuda dalam sejarah, dendam lama dan baru harus diselesaikan dengan PKT.

Trump memainkan tinju Shaolin yang keras dan tidak dapat diprediksi, sementara Biden memainkan Tai Chi jurus jarum yang tersembunyi di kapas. Xi semakin tua. Sangat sulit bagi Xi untuk bertahan dalam kompetisi estafet seperti Trump dan Biden.

Ayam berbicara dengan bebek, balas-berbalas

Menurut risalah pertemuan yang dikeluarkan Gedung Putih, Biden mendesak Partai Komunis Tiongkok untuk “mengakhiri aktivitas militer yang mengganggu stabilitas di sekitar Taiwan.” Biden juga menyoroti masalah perdagangan Tiongkok yang tidak adil, Laut Cina Selatan dan masalah hak asasi manusia dalam pertemuan tersebut.

Menurut laporan dari Kantor Berita Xinhua Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping mengajukan tujuh saran atas hubungan AS-Tiongkok pada pertemuan tersebut, dan secara khusus menarik empat garis merah yang tidak dapat ditentang : masalah Taiwan, demokrasi dan hak asasi manusia, sistem jalan raya dan hak untuk pembangunan.

Terlihat dari persoalan Taiwan hingga persoalan HAM, kedua belah pihak sebenarnya saling balas-membalas dan tidak memiliki konsensus yang substantif. Masalah-masalah lain seperti ayam berbicara dengan bebek, masing-masing bercerita sendiri. Khususnya “empat garis merah”, coba kita lihat, bukankah secara khusus ditujukan kepada Trump dari kejauhan? Karena Xi Jinping tahu bahwa setelah Trump menjabat, dia pasti akan meningkatkan tekanan terhadap Taiwan dan masalah hak asasi manusia.

Yang lebih aneh lagi adalah para pejabat Partai Komunis Tiongkok dan media bersama-sama mengadakan “kontes palsu”, mengklaim bahwa Xi Jinping secara terbuka menunjuk Lai Ching-te, Presiden Republik Tiongkok untuk pertama kalinya, dan menekankan bahwa “kemerdekaan Taiwan dan tindakan separatis tidak sesuai dengan perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan”. 

Media resmi Partai Komunis Tiongkok mengklaim bahwa Xi menuntut agar Amerika Serikat “mengakui sifat kemerdekaan Taiwan dari Lai Qing-te dan otoritas Partai Progresif Demokratik”. Namun, unit terkait di Taiwan mengonfirmasi kepada Amerika Serikat bahwa Xi Jinping tidak pernah menyebut kata “Lai Qing-te” dalam percakapan publik atau pribadi. 

Surat kabar Taiwan mengutip orang dalam yang pergi ke Peru untuk menghadiri pertemuan tersebut yang mengatakan bahwa KTT APEC adalah kesempatan bagi negara-negara peserta untuk bekerja sama dan menjalin persahabatan, dan “tidak ada orang yang menyebut Lai Ching-te.”

Serigala perang berubah menjadi domba dalam semalam

Untuk meningkatkan hubungan Tiongkok-AS, kali ini Xi menggunakan taktik lunak dan keras, menggunakan seluruh kekuatannya. Anda tahu, dia kembali menunjukkan kelembutan kepada Biden, dengan mengatakan bahwa “negara-negara besar tidak boleh membangun halaman kecil dan tembok tinggi”, “Jika memperlakukan pihak lain sebagai lawan atau musuh….. akan mengganggu hubungan Tiongkok-AS……” Dia juga mengatakan bahwa kedua negara besar harus terus mengeksplorasi “jalan yang benar untuk hidup berdampingan secara harmonis”, merealsasikan “hidup berdampingan secara damai dalam jangka panjang”  antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Dia juga memberikan tanda damai kepada Trump : “Tiongkok siap menjaga komunikasi dengan pemerintahan baru AS, memperluas kerja sama, mengelola perbedaan, dan berusaha keras untuk mencapai transisi hubungan Tiongkok-AS yang mulus…”

“Sikap melunak” Xi Jinping mengingatkan penulis pada pernyataan terbaru Xie Feng, Duta Besar Tiongkok untuk Amerika Serikat. Xie Feng membuat pernyataan yang mengejutkan pada 15 November, mengatakan bahwa “kita melindungi hubungan Tiongkok-AS seperti kita melindungi sungai induk.” 

Dengar, apakah ini serigala perang yang pernah berteriak kepada Amerika Serikat bahwa pihak AS “tidak hanya ingin melakukan semua hal buruk, tetapi juga ingin memanfaatkan semua keuntungannya”? Netizen menyesalkan bahwa para serigala perang ini benar-benar “berubah menjadi domba dalam semalam”.

Kompetisi Estafet Bipartai Amerika

Para ahli pro-Komunis sering mengatakan bahwa presiden AS dianggap sebagai “pekerja sementara” yang berganti setiap empat tahun dan tidak memiliki kesinambungan kebijakan ; Sementara Partai Komunis Tiongkok bangga dengan “kekuasaan jangka panjang” dan memiliki “tekad strategis” yang konsisten. Ini mungkin terdengar masuk akal, tetapi di bawah tekanan berulang dari Trump dan Biden, pernyataan ini telah sepenuhnya digulingkan.

Setelah Biden berkuasa, alih-alih melonggarkan sanksi terhadap Partai Komunis Tiongkok, mereka malah meningkatkan sanksi berdasarkan sanksi Trump. Misalnya saja blokade teknologi semikonduktor, sanksi terhadap pejabat senior Partai Komunis Tiongkok dan aliansi dengan sekutu untuk membentuk penahanan internasional. Kebijakan Biden seperti pukulan “Tai Chi”, dengan jarum tersembunyi di dalam kapas, membuat PKT terpaksa sambil berdialog sambil dicecar pukulan. 

Model estafet ini membuat Partai Komunis Tiongkok bingung kewalahan. “Tinju Shaolin yang keras” dari Trump ditambah “pukulan Tai Chi yang lembut” dari Biden yang terbentuk, saling melengapi dengan sempurna, memaksa Xi Jinping capai mengatasi kesulitan internal dan eksternal              

Pada pemilu 2024, kedua partai dan kandidatnya bersaing untuk menunjukkan ketangguhan mereka melawan Partai Komunis Tiongkok di bawah tekanan opini publik. Kembalinya Trump yang kuat dalam pemilihan umum telah membuat stuasi kedua partai di Amerika Serikat “bergantian memberikan tekanan pada Partai Komunis Tiongkok” menjadi lebih jelas.

Tinju Shaolin Trump : Kuat dahsyat Tak Terduga

Ada yang mengatakan gaya bertarung Trump seperti tinju Shaolin, gerakannya langsung, cepat dan dahsyat, sama sekali tidak bertele-tele. Melihat kembali ke 2017, setelah Trump berkuasa, beberapa kebijakan utamanya menyebabkan kerugian langsung dan parah terhadap Partai Komunis Tiongkok :

1. Tarif dan perang dagang. Trump melancarkan perang dagang yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Partai Komunis Tiongkok dan mengenakan tarif tinggi terhadap impor Tiongkok senilai ratusan miliar dolar, yang secara langsung berdampak pada keunggulan ekspor Tiongkok. Hal ini tidak hanya memperlambat pertumbuhan ekonomi Partai Komunis Tiongkok, namun juga memaksa Xi Jinping terpecah antara “mempromosikan kemenangan” dan “respons pasif” aktual di dalam negeri.        

2. Blokade teknologi. Trump telah menambahkan Huawei, Semiconductor Manufacturing International Corporation, dan raksasa teknologi Tiongkok lainnya ke dalam daftar sanksi, memutuskan hubungan mereka dengan rantai pasokan AS dan mencegah Partai Komunis Tiongkok membuat terobosan lebih lanjut di bidang teknologi utama seperti 5G. Kebijakan ini membuat “kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi” PKT menjadi omong kosong belaka.

3. Konfrontasi ideologis: mengungkap wajah sebenarnya dari PKT. Pemerintahan Trump dengan jelas membedakan PKT dari rakyat Tiongkok dan secara blak-blakan mengkritik rezim PKT sebagai ancaman terbesar bagi dunia bebas. Istilah “virus Tiongkok” yang digunakan Trump menunjukkan kebenaran bahwa PKT menutup-nutupi epidemi, sehingga semakin melemahkan kredibilitas PKT di dunia internasional.

Pukulan Tai Chi Biden : Jarum tersembunyi dalam kapas

Ketika Trump mengakhiri masa jabatan pertamanya pada awal tahun 2021, Xi Jinping mengira Biden akan meredakan ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat setelah menjabat, namun dia kecewa. Berbeda dengan gaya bertarung keras dan dahsyat Trump, Biden menampilkan gaya “Tai Chi” : Menggunakan kelembutan untuk mengatasi ketangguhan, selangkah demi selangkah, yang tercermin dalam tiga aspek berikut :

1. Aturan Xiao diikuti Cao, melanjutkan kebijakan Trump. Pemerintahan Biden tidak pernah melonggarkan sanksi teknologi tinggi terhadap PKT, namun justru memperkuat konsistensi kebijakan terhadap Tiongkok. Mulai dari terus memberlakukan larangan terhadap perusahaan seperti Huawei hingga memperluas pembatasan ekspor semikonduktor, Biden telah menargetkan ambisi ekonomi dan teknologi Partai Komunis Tiongkok dengan tepat.

2. Satukan sekutu untuk meluncurkan kampanye pembendungan. Biden telah menggunakan platform seperti G7, Dialog Keamanan Quad (Quad) dan Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik untuk memenangkan sekutu guna membendung PKT. Dalam situasi diplomatik, pemerintahan Biden mengklaim “mengelola risiko,” memaksa Partai Komunis Tiongkok untuk berpartisipasi dalam dialog dengan senyuman di wajahnya. Namun pada kenyataannya, Partai Komunis Tiongkok sambil berdialog sambil terkena pukulan, disini kebijakan “jarum tersembuny dalam kapas” membuat  PKT semakin tidak nyaman.

3. Ofensif hak asasi manusia dan nilai-nilai. Pemerintahan Biden telah berulang kali secara terbuka mengecam pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok terhadap masalah Xinjiang, Hong Kong, Tibet dan Falun Gong, dan telah bergabung dengan komunitas internasional untuk bersama-sama memberikan sanksi kepada pejabat senior Partai Komunis Tiongkok, secara terbuka menyebut Xi Jinping sebagai “Diktaktor”. Tindakan-tindakan ini semakin merusak citra PKT di dunia internasional dan memicu ketidakpuasan dalam negeri.

Trump Kembali : Badai Meningkat

Sekarang, kembalinya Trump menunjukkan bahwa Partai Komunis Tiongkok akan menghadapi badai yang lebih dahsyat. Kali ini “Tinju Shaolin Trump” akan didasarkan pada “Pukulan Tai Chi Biden” yang menyebabkan cedera internal dan eksternal pada PKT. Itu juga dapat diringkas dalam tiga aspek :

1. Perang dagang meningkat. Trump mengklaim akan mengenakan tarif sebesar 10% hingga 20% pada seluruh negara di dunia, namun hanya mengenakan tarif sebesar 60% atau lebih pada seluruh produk impor dari Tiongkok. Gaya permainan ini secara langsung mengambil 2,5 poin persentase PDB Tiongkok. Ini merupakan balas dendam yang pantas atas penggunaan perjanjian perdagangan sebelumnya oleh Xi Jinping untuk menipu Trump. Pada saat yang sama, dia juga dapat merundingkan kembali perjanjian perdagangan dengan berbagai negara untuk semakin melemahkan pengaruh Partai Komunis Tiongkok di pasar internasional.        

2. Meningkatnya konfrontasi militer dan geopolitik. Trump mungkin meningkatkan dukungan militer untuk Taiwan, termasuk memperluas penjualan senjata ke Taiwan dan mempromosikan hubungan Taiwan dengan organisasi internasional. Dia juga dapat memperkuat kehadiran militer AS di Laut Cina Selatan dan secara langsung menantang “hegemoni maritim” PKT.

3. Kabinet terkuat dalam sejarah menghadapi PKT. Kabinet baru Trump memiliki sikap keras yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap PKT, dan mungkin secara komprehensif mendukung pembendungan strategis PKT. Sebagian besar pejabat senior ini bersikap keras terhadap kebijakan Tiongkok, tujuan bersama mereka adalah untuk sepenuhnya menekan ambisi ekspansi global PKT. Mereka tidak menyembunyikan sikap terbuka mereka terhadap PKT. Banyak dari mereka adalah anak muda berusia 40-an, kabinet Gedung Putih termuda dalam sejarah, penuh semangat dan energik.

Kontes terakhir antara Tiongkok dan Amerika Serikat

PKT pada awalnya berpikir bahwa keunggulan dari “pemerintahan jangka panjang” dapat mengalahkan model “pekerja sementara” Amerika Serikat, namun kenyataannya justru sebaliknya. Strategi estafet yang dilakukan Trump dan Biden menunjukkan fleksibilitas sistem AS, sementara kekakuan Partai Komunis Tiongkok telah menjadi beban strategis bagi Tiongkok.

Saat ini, Partai Komunis Tiongkok sedang menghadapi pengepungan yang berpusat pada Amerika Serikat. Pertumbuhan ekonomi dalam negeri sedang melambat, pengangguran kaum muda melonjak, konflik sosial semakin meningkat dan perebutan kekuasaan semakin intensif. Hal ini sama berbahayanya seperti duduk di kawah gunung berapi .

Setelah Trump kembali, badai ini akan semakin hebat. Dari ekonomi, militer, hingga hak asasi manusia, “Tinju Shaolin” Trump dan “Pukulan Tai Chi” Biden membombardir bolak-balik. Penderitaan yang dihadapi PKT hanya dia sendiri yang tahu. Dan, apakah penguasa PKT dapat bertahan dari krisis ini, mungkin sudah berada di luar kendali mereka. (lin/mgl)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine