EtIndonesia. Pada hari Selasa (10/12) Israel melancarkan serangan udara terhadap pangkalan militer Suriah, dengan alasan mencegah senjata jatuh ke tangan pemberontak, namun membantah bahwa pasukannya telah melewati zona penyangga perbatasan ke wilayah Suriah.
Sumber keamanan lokal dan pejabat militer Suriah yang kini telah runtuh menggambarkan serangan udara pagi itu sebagai salah satu yang paling dahsyat. Serangan tersebut menghancurkan berbagai fasilitas militer dan pangkalan udara di seluruh Suriah, termasuk puluhan helikopter, pesawat tempur, serta aset Pasukan Garda Republik di Damaskus dan sekitarnya.
Sumber tersebut memperkirakan sekitar 200 serangan udara yang dilakukan pada malam hari hampir menghancurkan semua aset militer Suriah.
Israel menyatakan bahwa serangan ini akan berlangsung beberapa hari, tetapi kepada Dewan Keamanan PBB, mereka menegaskan tidak terlibat dalam konflik Suriah. Israel mengklaim telah mengambil “langkah terbatas dan sementara” semata-mata untuk melindungi keamanannya.
Sejak akhir pekan, jet tempur Israel telah menargetkan beberapa fasilitas pemerintah Suriah. Tujuannya adalah memastikan bahwa peralatan militer, termasuk pesawat tempur, rudal, dan senjata kimia, tidak jatuh ke tangan kelompok pemberontak.
Israel menyambut baik kejatuhan Assad—sekutu utama Iran, musuh bebuyutannya. Namun, Israel bersikap hati-hati terhadap kelompok pemberontak utama, Front Nasional Pembebasan–Tahrir al-Sham, karena memiliki hubungan dengan Al-Qaeda dan ISIS.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin menyatakan bahwa setelah jatuhnya Assad, Israel akan menggunakan segala cara untuk melindungi keamanannya.
Bantahan Masuk ke Wilayah Suriah
Israel membantah bahwa pasukannya telah melewati zona penyangga Dataran Tinggi Golan ke wilayah Suriah. Sebelumnya, sumber Suriah melaporkan bahwa pasukan Israel telah masuk sejauh 25 kilometer dari ibu kota Damaskus.
Setelah rezim Assad runtuh, pasukan Israel dilaporkan masuk ke zona penyangga yang didirikan setelah Perang Timur Tengah tahun 1973. Pasukan khusus Israel juga merebut pos pengawasan yang ditinggalkan di sisi Suriah Gunung Hermon, sebuah lokasi strategis yang memberikan pandangan luas ke Damaskus.
Sumber keamanan Suriah mengatakan pasukan Israel telah mencapai sebuah kota di barat daya Damaskus, di sisi timur zona demiliterisasi. Namun, klaim ini dibantah oleh militer Israel.
Juru bicara militer Israel mengatakan: “Laporan media tentang tank Israel yang bergerak menuju Damaskus adalah palsu. Pasukan Pertahanan Israel tetap berada di dalam zona penyangga, seperti yang sebelumnya dinyatakan.”
Israel juga menyatakan bahwa meskipun telah mencapai gencatan senjata dengan Hizbullah Lebanon yang didukung Iran setelah berminggu-minggu pertempuran, mereka tidak menginginkan konfrontasi dengan kekuatan baru yang menguasai Damaskus.(jhn/yn)


