Biden Mendorong Upaya untuk Membendung Koalisi Tiongkok, Rusia, Iran, dan Korea Utara

EtIndonesia. Menurut pejabat AS, Presiden Joe Biden tengah mendesak lembaga-lembaga keamanan nasional Amerika Serikat untuk merumuskan strategi baru guna menghadapi hubungan yang semakin erat antara Tiongkok, Rusia, Iran, dan Korea Utara.

Menurut laporan Reuters, dalam sebuah memorandum keamanan nasional yang dirilis pada Selasa (10/12), Biden merangkum bahwa Rusia memberikan jet tempur, sistem pertahanan rudal, dan teknologi antariksa kepada Iran sebagai imbalan atas dukungan Iran dalam perang Rusia di Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga disebut menyediakan bahan bakar, dana, dan teknologi kepada Korea Utara, serta mengakui Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir secara de facto. Pemerintah AS juga mengungkapkan bahwa Rusia dan Tiongkok sedang melakukan patroli bersama di kawasan Arktik.

Dalam dokumen rahasia baru, Biden memerintahkan semua departemen pemerintah AS untuk merombak struktur tim yang saat ini diorganisir berdasarkan wilayah geografis, guna lebih efektif menangani hubungan lintas kawasan antara empat negara tersebut yang melibatkan Eropa dan Asia.

Seorang pejabat pemerintah menyatakan bahwa tujuan mereka adalah menciptakan “pilihan-pilihan baru agar tim baru dan Kongres dapat benar-benar bertindak dengan cepat.”

Para pejabat menambahkan bahwa tantangan ke depan termasuk memastikan sanksi dan pengendalian ekspor terhadap empat negara ini diterapkan secara terkoordinasi, sehingga dapat menghindari reaksi balasan dari mereka. Amerika Serikat juga ingin lebih mampu menangani krisis yang melibatkan beberapa negara secara bersamaan, seperti situasi di mana tentara Korea Utara kini bertugas di Rusia.

Seorang pejabat lainnya mengatakan bahwa meskipun kerja sama antara negara-negara tersebut masih terbatas, ada situasi di mana aliansi mereka gagal memberikan dukungan yang signifikan, seperti dalam kasus penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad pada akhir pekan lalu.

Menurut laporan Reuters, Jonathan Fulton, peneliti senior tidak tetap di Atlantic Council, mengatakan bahwa jatuhnya rezim Assad melemahkan pengaruh utama pendukungnya, yaitu Iran dan Rusia, di dunia Arab. Hal ini juga merupakan pukulan terhadap ambisi global Beijing.

“Ada banyak pandangan yang terkesan dilebih-lebihkan tentang kemampuan Tiongkok untuk membentuk hasil politik di kawasan tersebut,” kata Fulton. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine