Pasukan Pemberontak Myanmar Kuasai Kota Maungdaw di Negara Bagian Rakhine, Komandan Ditawan dan Peralatan Militer Disita

EtIndonsia. Militer Myanmar kembali menghadapi kekalahan besar di Negara Bagian Rakhine. Baru-baru ini, Tentara Arakan (Arakan Army/AA) mengumumkan telah memenjarakan ratusan tentara pemerintah setelah merebut markas Komando Operasional Nomor 15 di Buthidaung. Dalam serangan tersebut, AA juga menyita sejumlah besar senjata api, amunisi, dan peralatan militer lainnya.

Menurut laporan media pada 12 Desember, kamp terakhir militer Myanmar di Kota Maungdaw, dihancurkan dan direbut oleh Pasukan Arakan pada pukul 09.30 pagi, 8 Desember. Dengan jatuhnya pos tersebut, Pasukan Arakan kini sepenuhnya menguasai Kota Maungdaw. Mereka bahkan terus mengejar para tentara yang melarikan diri dari pos polisi perbatasan.

Brigadir Jenderal Thurein Tun, yang memimpin pertahanan Kota Maungdaw, juga turut ditangkap oleh Pasukan Arakan. Dilaporkan bahwa dia sebelumnya telah mengorganisasi warga Muslim di Kota Buthidaung dan Maungdaw, memberikan mereka senjata, pelatihan, serta menghasut konflik etnis untuk menyerang Pasukan Arakan.

Kelompok bersenjata etnis Arakan Army mengklaim telah menguasai pos militer terakhir di Maungdaw, Myanmar. Kota tersebut terletak di perbatasan antara Myanmar dengan Bangladesh. Di pos perbatasan ini memiliki lebih dari 700 personel militer yang dilengkapi dengan sistem pertahanan berlapis, termasuk kawat berduri ganda, zona pembantaian, parit selebar 20 kaki, dan jebakan besi. Pos ini berbentuk hampir persegi, dilengkapi lebih dari 20 bunker kokoh, 100 benteng kecil, dan menara pengawas. Selain itu, terdapat lebih dari 30 bangunan kokoh di dalam kompleks. Sebuah sungai di sekitar area pos juga menjadi penghalang alami bagi musuh.

Namun, dalam serangan yang dilakukan secara perlahan dan hati-hati, Pasukan Arakan berhasil maju sedikit demi sedikit sambil membersihkan lebih dari 1.000 ranjau darat tipe M14 yang ditanam oleh militer Myanmar. Banyak anggota tim penjinak ranjau dari Pasukan Arakan yang kehilangan nyawa atau anggota tubuh selama operasi tersebut.


Sementara itu, The Danu People’s Liberation Army (DPLA) juga mengeluarkan pernyataan terkait pertempuran sengit mereka. Sejak 30 November hingga 9 Desember, DPLA berhasil menghadang pasukan militer Myanmar yang dikirim untuk memperkuat daerah Nawnghkio di Utara negara bagian Shan. Dalam pertempuran selama 10 hari tersebut, lebih dari 50 tentara Myanmar tewas, dan DPLA menyita sejumlah besar senjata serta amunisi.

Seorang pejabat DPLA mengungkapkan bahwa selama pertempuran, militer Myanmar tidak mengirimkan dukungan udara. Meski tidak menangkap tawanan, DPLA menemukan mayat banyak tentara Myanmar.

Diketahui, pasukan militer Myanmar yang bergerak ke Nawnghkio berasal dari Batalion Artileri 349, serta Batalion 292.

Baik di Rakhine maupun negara bagian Shan, pertempuran yang terus berlangsung menunjukkan lemahnya pertahanan militer Myanmar dalam menghadapi kelompok pemberontak yang semakin solid. Penguasaan senjata dan amunisi dalam jumlah besar oleh kelompok-kelompok pemberontak ini menjadi tantangan serius bagi stabilitas negara yang telah dilanda konflik selama bertahun-tahun. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine