ETIndonesia. Pada tahun 2024, perang Rusia-Ukraina memasuki tahun ketiga. Rusia, meskipun dengan kekuatan militernya yang semakin menipis, tetap berusaha merebut lebih banyak wilayah Ukraina. Sementara itu, Ukraina berupaya meminimalkan kerugian, menjaga semangat juang, dan meyakinkan mitra internasional bahwa bantuan militer tambahan dapat membalikkan keadaan.
Pada Februari 2024, karena kekurangan amunisi dan kekuatan pasukan, Ukraina kehilangan kota strategis Avdiivka di wilayah timur, yang telah dipertahankan selama berbulan-bulan. Kekalahan ini menyebabkan garis pertahanan Ukraina mengalami kerusakan serius, meskipun Rusia kehilangan 13.000 tentaranya dalam pertempuran tersebut.
Pada Mei, Rusia melancarkan serangan besar-besaran di wilayah timur laut Kharkiv, memaksa pasukan Ukraina mundur dari beberapa area.
Seorang polisi Ukraina berteriak kepada warga: “Lari, teman-teman! Jangan bawa barang lagi!”
Pada Oktober tahun yang sama, wilayah strategis lainnya, Vuhledar di garis depan Donbas, jatuh ke tangan Rusia. Menurut data dari Institute for the Study of War (ISW) yang berbasis di Washington, pada Oktober, Rusia menguasai 478 kilometer persegi wilayah Ukraina, menjadi sebuah rekor tertinggi sejak perang skala penuh dimulai pada Maret 2022.
Perlu dicatat bahwa untuk mengalihkan perhatian dan kekuatan pasukan Rusia dari garis depan Ukraina timur, pada Agustus, pasukan Ukraina secara tak terduga menyerang wilayah Kursk di Rusia dan hingga kini menguasai ratusan kilometer persegi wilayah tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan: “Pertempuran kami di wilayah Kursk (Rusia) masih berlanjut. Kami melakukan operasi dan mengontrol area yang telah ditentukan.”
Selain pertempuran darat, kedua pihak juga menggunakan drone dan rudal untuk melakukan serangan udara jauh ke dalam wilayah musuh.
Tepat pada hari ke-1.000 invasi Rusia ke Ukraina, negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris melonggarkan batasan penggunaan senjata jarak jauh untuk Ukraina. Setelah itu, Ukraina menggunakan Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat Amerika Serikat (ATACMS) dan rudal jelajah Storm Shadow dari Inggris untuk menyerang target militer di wilayah Rusia.
Sebagai tanggapan, pada 21 November, Rusia untuk pertama kalinya menggunakan rudal balistik hipersonik jarak menengah “Oreshnik” yang dapat membawa enam hulu ledak di medan perang Ukraina.
Hingga pertengahan Desember, Rusia telah melancarkan lebih dari sepuluh serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina tahun ini, yang menyebabkan sistem listrik dan pemanas Ukraina mengalami kerusakan parah.
Seiring dengan berlanjutnya perang yang menguras sumber daya ini, baik Rusia maupun Ukraina sangat membutuhkan dukungan tambahan. Amerika Serikat dan NATO berulang kali menuduh PKT, Iran, dan Korea Utara membantu Rusia dalam agresi terhadap Ukraina.
Mantan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan:
“PKT adalah pendukung utama dalam perang ilegal Rusia terhadap Ukraina.”
Pada Juni, Rusia dan Korea Utara menandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif. Dalam dua bulan terakhir, ditemukan bahwa lebih dari 10.000 tentara Korea Utara telah dikirim ke Rusia.
Menghadapi eskalasi konflik Rusia-Ukraina, negara-negara Barat terus memperluas sanksi terhadap Rusia sambil meningkatkan bantuan untuk Ukraina. Pemerintahan Biden bertekad untuk memanfaatkan setiap sumber daya yang tersedia di akhir masa jabatannya untuk membantu Ukraina.
Tahun 2025 menandai kembalinya Presiden terpilih Donald Trump ke Gedung Putih. Apakah kembalinya Trump dapat mengakhiri konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II ini, masih menjadi sorotan dunia. (Hui)
Sumber ; NTDTV.com


