EtIndonesia. Badai ini berasal dari wilayah selatan AS dan bergerak ke timur laut, menyebabkan banjir, pohon tumbang, dan pemadaman listrik. Sejauh ini, sedikitnya 9 orang dilaporkan tewas, dengan 8 korban berasal dari Kentucky. Gubernur Kentucky, Andy Beshear, telah mengumumkan status darurat.
Dalam konferensi pers, Beshear menyatakan bahwa sebagian besar korban tewas di Kentucky disebabkan oleh banjir yang naik dengan cepat, menjebak mereka di dalam kendaraan hingga tenggelam. Korban termasuk seorang ibu dan anaknya.
Ia juga melaporkan bahwa tim penyelamat telah mengevakuasi lebih dari 1.000 orang dalam waktu 24 jam.
Di platform media sosial X, Beshear menulis: “Saya sangat sedih untuk mengabarkan bahwa setidaknya 8 orang telah kehilangan nyawa akibat badai ini. Mohon tetap waspada, karena cuaca buruk masih berlanjut dan jumlah korban bisa bertambah.”
Selain Kentucky, badai ini juga menyebabkan satu korban tewas di Atlanta, Georgia. Scott Powell, pejabat pemadam kebakaran setempat, menyatakan bahwa pada 16 Februari dini hari, sebuah pohon besar tumbang menimpa rumah korban, menyebabkan kematian.
Menurut situs pemantauan listrik poweroutage.us, lebih dari 500.000 pengguna di wilayah selatan hingga New York mengalami pemadaman listrik akibat badai ini.
Badai ini terjadi setelah beberapa minggu cuaca ekstrem melanda wilayah timur AS, termasuk hawa dingin, salju, hujan, dan angin kencang.
Perkiraan Cuaca: Badan Cuaca Nasional AS memperkirakan bahwa akhir pekan ini sebagian besar wilayah akan mengalami suhu dingin ekstrem. Massa udara dingin dari Kutub Utara diperkirakan akan mencapai wilayah tengah AS, menyebabkan rekor suhu terendah. Di Dataran Tinggi dekat perbatasan Kanada, suhu bisa mencapai -51°C. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


