EtIndonesia. Sebuah sabuk emas dari Ultimate Fighting Championship (UFC) tampak bersandar di salah satu sudut ruangan saat adu mulut terjadi antara Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy di Gedung Putih. Sabuk itu merupakan hadiah dari Zelenskyy untuk Trump, mengikuti tradisi suvenir yang biasa dibawa oleh para pemimpin dunia di masa lalu.
Sabuk UFC tersebut dimenangkan oleh petinju Ukraina, Oleksandr Usyk, tahun lalu setelah mengalahkan petinju Inggris, Tyson Fury. Sabuk itu menemani Zelenskyy saat dia memasuki Gedung Putih untuk membahas gencatan senjata dengan Rusia—sebuah kesepakatan yang kini hancur berantakan setelah bentrokan sengit antara kedua presiden.
Namun, hadiah yang seharusnya menjadi simbol kebanggaan olahraga terbesar Ukraina ini justru tenggelam oleh riuhnya perdebatan mereka. Upaya Zelenskyy untuk menarik simpati Trump, setelah sebelumnya disebut sebagai “teroris”, tampaknya tidak membuahkan hasil.
Hadiah itu kemungkinan besar bahkan diabaikan. Situasi semakin memalukan ketika delegasi Ukraina diminta meninggalkan Gedung Putih, konferensi pers bersama dibatalkan, dan jamuan makan mewah yang telah disiapkan tidak pernah disajikan.
Pertemuan yang Berubah Menjadi Kekacauan
Pertemuan di Oval Office awalnya berlangsung dengan suasana ramah, saat Trump dan Zelensky bersiap menandatangani perjanjian mineral langka. Kedua pemimpin berjabat tangan, bahkan Trump sempat bercanda tentang pakaian Zelenskyy—sebuah kemeja bergaya militer yang biasa dikenakan oleh pemimpin Ukraina di masa perang. Namun, dalam hitungan menit, segalanya berubah drastis.
Zelenskyy berusaha menenangkan situasi, tetapi ketegangan meningkat ketika Wakil Presiden AS, JD Vance, menuduh pemimpin Ukraina itu tidak cukup “bersyukur” atas dukungan AS. Saat Zelenskyy mempertanyakan seruan untuk diplomasi, Vance menuduhnya tidak menghormati AS.
Dua pemimpin yang sama-sama piawai bermain di depan kamera itu kemudian terlibat dalam perang kata-kata. Zelenskyy memperingatkan bahwa AS akan “merasakannya di masa depan” jika tidak membantu Ukraina, yang langsung membuat Trump murka.
“Jangan beri tahu kami apa yang akan kami rasakan,” balas Trump dengan tajam.
Suara Trump semakin meninggi, dan dengan gaya khasnya, dia memperingatkan Zelenskyy bahwa dia sedang “bermain dengan Perang Dunia 3”. Tak lama setelah itu, Zelenskyy meninggalkan Gedung Putih tanpa konferensi pers bersama. Jamuan makan resmi yang seharusnya diadakan juga dibatalkan—tetapi drama ini masih jauh dari selesai.
Pertengkaran sengit ini mengejutkan para pemimpin dunia. Kanada dan sekutu Eropa segera menyatakan dukungan bagi Zelenskyy, sementara Rusia memuji “kesabaran” Trump dalam menghadapi pemimpin Ukraina tersebut. (yn)


