EtIndonesia. Rusia mencoba menenggelamkan kapal kontainer yang dilaporkan membawa muatan senjata yang ditujukan ke Ukraina.
Dua rudal balistik Iskander-M dilepaskan ke pelabuhan Laut Hitam di kota selatan Odesa tempat kapal itu tiba setelah singgah di Turki.
Saluran Telegram Rusia mengklaim targetnya adalah pesawat nirawak dan rudal di atas kapal MSC LEVANTE F yang berbendera Panama.
Gubernur daerah Oleh Kiper mengonfirmasi bahwa dua pekerja pelabuhan terluka dan infrastruktur hancur.
Dalam tulisannya di Telegram, dia mengatakan serangan itu merusak kapal berbendera Panama milik perusahaan Eropa.
Dia mengatakan kru darurat berada di lokasi dan petugas medis merawat para korban.
Fasilitas di tiga pelabuhan Laut Hitam di sekitar kota itu sering menjadi target Rusia dalam perang yang telah berlangsung selama tiga tahun.
Kapal kontainer itu diserang saat bersiap untuk membongkar muatan, tetapi belum ada konfirmasi tentang jenis kargo itu.
Beberapa saluran Telegram pro-Kremlin mengunggah tentang penghancuran kiriman tersebut, tetapi klaim tersebut belum dikonfirmasi.
Sementara itu, wakil perdana menteri Ukraina Oleksii Kuleba menentang klaim tersebut, dengan alasan bahwa kapal tersebut membawa kargo sipil.
Dia mengatakan kapal kedua yang berbendera Sierra Leone juga rusak akibat serangan tersebut.
Rekaman menunjukkan orang-orang bergegas mencari tempat berlindung saat peringatan serangan udara berbunyi sesaat sebelum ledakan yang memekakkan telinga mengguncang Odesa pada pukul 6 sore pada hari Sabtu.
Serangan Rusia terjadi pada malam menjelang pertemuan puncak pertahanan di London saat Perdana Menteri Inggir, Keir Starmer mengumumkan kesepakatan baru yang memungkinkan Ukraina menggunakan dana ekspor Inggris senilai £1,6 miliar untuk membeli 5.000 rudal pertahanan udara lagi.
Perdana menteri mengatakan dalam konferensi pers bahwa senjata tersebut ‘akan dibuat di Belfast, menciptakan lapangan kerja di sektor pertahanan kita yang cemerlang’.
Dia menambahkan: “Ini akan sangat penting untuk melindungi infrastruktur penting sekarang dan memperkuat Ukraina dalam mengamankan perdamaian ketika saatnya tiba karena kita harus belajar dari kesalahan masa lalu.” (yn)


