Kim Jong-un Menukar Nyawa dengan Senjata: Kapal Selam Nuklir Buatan Korea Utara Ancaman Serius AS dan Korea Selatan

EtIndonesia. Baru-baru ini, Korea Utara untuk pertama kalinya memamerkan sebuah kapal selam yang diklaim sedang dalam tahap pembangunan dan dilengkapi dengan tenaga nuklir. Jika kabar ini benar, kapal selam tersebut berpotensi menjadi ancaman besar bagi keamanan Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Menurut laporan Associated Press, pada tanggal 5 Maret, media resmi Korea Utara, KCNA, mengumumkan bahwa Kim Jong-un telah mengunjungi sebuah galangan kapal besar untuk memantau perkembangan pembangunan kapal perang. Dalam kesempatan tersebut, Korea Utara juga merilis foto kapal selam yang disebut sebagai “Kapal Selam Nuklir Strategis Berpanduan Rudal”. Namun, laporan tersebut tidak memberikan rincian lebih lanjut selain menyebutkan bahwa Kim Jong-un menerima penjelasan mengenai kemajuan proyek tersebut.

Ahli: Kapal Selam Korea Utara Dapat Membawa Senjata Nuklir

Moon Keun-sik, seorang pakar kapal selam dari Universitas Hanyang Korea Selatan, menganalisis bahwa berdasarkan gambar yang dirilis, kapal selam tersebut diperkirakan memiliki bobot antara 6.000 hingga 7.000 ton dan mampu membawa sekitar 10 rudal.

Moon Keun-sik menekankan bahwa penggunaan istilah “berpanduan strategis” oleh Korea Utara mengindikasikan bahwa kapal selam ini mungkin memiliki kemampuan membawa senjata nuklir. 

“Ini jelas merupakan ancaman nyata bagi kita dan Amerika Serikat,” ujarnya.

Menanggapi langkah terbaru Korea Utara ini, juru bicara Dewan Keamanan Nasional (NSC) AS, Brian Hughes, menyatakan bahwa pihaknya telah menyadari klaim tersebut, tetapi belum memiliki informasi tambahan untuk dibagikan.

Moon Keun-sik memperkirakan bahwa kapal selam bertenaga nuklir milik Korea Utara ini mungkin akan menjalani uji coba di laut dalam satu hingga dua tahun mendatang dan dapat digunakan dalam operasi militer nyata setelahnya. Jika terjadi, hal ini akan semakin memperburuk situasi keamanan di kawasan Asia Timur Laut.

Kim Jong-un Menukar Tentara dengan Teknologi Militer Rusia

Tahun lalu, Korea Utara mengirim lebih dari 12.000 tentara elit ke garis depan perang Rusia-Ukraina untuk membantu Rusia. Pada saat itu, pejabat utama industri militer Korea Utara bahkan secara khusus bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, sehingga menimbulkan spekulasi mengenai jenis senjata apa yang akan diberikan Rusia sebagai imbalan atas bantuan tentara tersebut.

Kini, teka-teki tersebut mungkin telah terungkap. Korea Utara diduga mendapatkan imbalan berupa senjata strategis terpenting, yaitu kapal selam bertenaga nuklir dan teknologi pembuatannya.

Moon Keun-sik menjelaskan bahwa Korea Utara kemungkinan menukar bantuan militer dan pasukan untuk Rusia dalam perang Ukraina dengan dukungan teknologi dari Moskow, yang kemudian memungkinkan Pyongyang mengembangkan reaktor nuklir untuk kapal selam tersebut.

Indikasi Kolaborasi Militer Korea Utara dan Rusia Semakin Kuat

Minggu ini, Amerika Serikat secara mendadak mengumumkan penghentian bantuan militer dan berbagi intelijen dengan Ukraina, membuat posisi Ukraina dalam melawan Rusia semakin terjepit. Pada tanggal 5 Maret, Institut Penelitian Intelijen Nasional Korea Selatan melaporkan bahwa berdasarkan data intelijen, pasukan Korea Utara yang dikerahkan di Rusia telah mulai mempelajari pengoperasian drone dan taktik perang terkait.

Menurut laporan Yonhap News Agency, Badan Intelijen Korea Selatan menilai bahwa Rusia mungkin menawarkan teknologi drone sebagai imbalan atas bantuan tambahan pasukan dari Korea Utara. 

“Ada indikasi bahwa tentara Korea Utara yang ditempatkan di Rusia terus belajar dari otoritas Moskow mengenai pengoperasian dan taktik drone. Kami sedang memantau kemungkinan adanya kerja sama drone antara kedua negara tersebut,” ujar seorang pejabat intelijen.

Selama beberapa tahun terakhir, Korea Utara gencar mengembangkan teknologi drone. Pada November tahun lalu, Kim Jong-un bahkan menginspeksi uji coba drone serang bunuh diri, memberikan arahan langsung di lapangan, dan memerintahkan departemen terkait untuk segera mempercepat produksi massal.

Korea Utara Diduga Kembali Mengirim Pasukan ke Rusia

Pekan lalu, Badan Intelijen Nasional Korea Selatan melaporkan bahwa Korea Utara tampaknya telah menambah jumlah pasukannya di Rusia. Yoo Yong-won, anggota parlemen dari Partai Kekuatan Rakyat yang berkuasa di Korea Selatan, pada tanggal 5 Maret menyebutkan bahwa lebih dari 3.500 tentara Korea Utara sedang menjalani pelatihan di wilayah Timur Jauh Rusia. Hal ini menunjukkan bahwa Korea Utara kemungkinan telah untuk ketiga kalinya mengirim pasukan untuk membantu Rusia.

Pada Oktober tahun lalu, Korea Utara pertama kali mengirimkan tentaranya ke Rusia dan menempatkannya di wilayah Kursk yang berada di perbatasan Rusia. Mengutip data dari Direktorat Intelijen Pertahanan Ukraina, Yoo Yong-won menjelaskan bahwa Korea Utara telah melakukan pengiriman tambahan sekitar 1.500 tentara. Hingga 26 Februari, tercatat lebih dari 400 tentara Korea Utara tewas dan lebih dari 3.600 lainnya terluka di medan perang Ukraina. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine