Menurut laporan terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Huawei menggunakan perusahaan cangkang untuk memperoleh lebih dari 2 juta chip AI dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC)
EtIndonesia. Sejak 2020, Huawei dan perusahaan afiliasinya masuk dalam “Daftar Entitas” di bawah sanksi ekspor AS, yang seharusnya memutus akses Huawei terhadap teknologi semikonduktor canggih dari TSMC. Namun, laporan CSIS mengungkap bahwa Huawei memanfaatkan perusahaan cangkang untuk memesan chip dari TSMC, lalu mengirimkannya ke Tiongkok, yang melanggar peraturan ekspor AS.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber pemerintah, TSMC telah memproduksi lebih dari 2 juta prosesor AI Ascend 910B untuk Huawei, yang cukup untuk membuat 1 juta prosesor Ascend 910C.
Selain itu, Huawei juga telah menimbun chip memori berkecepatan tinggi (HBM) yang cukup untuk produksi selama satu tahun. Sebagian besar chip ini diperoleh dari Samsung Korea Selatan sebelum sanksi AS diperketat pada Desember lalu, kemungkinan juga melalui perusahaan cangkang.
CSIS memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan yang masuk dalam daftar putih perdagangan, dapat tergoda oleh keuntungan besar dan bertindak sebagai perantara ilegal untuk memesan chip bagi Huawei. Tidak menutup kemungkinan Huawei juga menggunakan metode serupa untuk mendapatkan pasokan dari Samsung atau bahkan Intel.
Saat ini, Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC)—mitra produksi chip AI Huawei—mengalami kesulitan akibat sanksi AS dan sekutunya. Produksi chip 7nm SMIC hanya mencapai 20% yield rate dengan kapasitas hanya 20.000 wafer per bulan.
Di tengah persaingan AI global, AS masih unggul dalam pengembangan AI umum (AGI) dan AI superinteligensi. Namun, kesenjangan antara AS dan Tiongkok semakin menyempit.
Untuk mengejar ketertinggalan, pemerintah PKT melakukan berbagai strategi, termasuk:
- Investasi besar-besaran dari pemerintah,
- Penyelundupan chip,
- Eksploitasi celah dalam aturan ekspor AS,
- Alih teknologi dalam negeri,
- Merekrut mantan pegawai perusahaan teknologi global,
- Reverse engineering teknologi asing,
- Dukungan negara untuk kegiatan spionase ekonomi.
AS terus memperketat kontrol ekspor untuk membatasi akses Huawei dan perusahaan Tiongkok lainnya terhadap teknologi AI canggih. Namun, laporan ini menunjukkan bahwa Tiongkok masih mampu mengakali pembatasan tersebut melalui jalur tidak resmi.
Sumber : NTDTV.com


