EtIndonesia.com Setelah kasus seorang lansia penyandang disabilitas yang diduga dipaksa bekerja selama 20 tahun di sebuah toko semen di Provinsi Hebei, Tiongkok menarik perhatian publik, seorang blogger Tiongkok yang dikenal sebagai pengungkap praktik penipuan kembali mengungkap dugaan kasus serupa di Wuhan, Provinsi Hubei.
Menurut tuduhan tersebut, seorang mandor diduga mengeluarkan 10.000 yuan atau Rp 26,2 juta untuk “membeli” seorang penyandang disabilitas dan memaksanya bekerja sebagai buruh selama 20 tahun. Blogger itu mengatakan bahwa sebelumnya ia juga telah menemukan sejumlah kasus serupa di berbagai provinsi lain, sehingga memunculkan pertanyaan di kalangan warganet: “Sebenarnya ada berapa banyak budak modern seperti ini?”

Dugaan korban tinggal di gubuk sederhana
Dalam video yang diunggah pada 15 Juni, blogger investigasi terkenal “Shangguan Zhengyi” menyebutkan bahwa di Desa Gaoche, Distrik Huangpi, Kota Wuhan, terdapat seorang penyandang disabilitas dengan identitas yang tidak jelas yang tinggal di sebuah gubuk sederhana di dekat kebun sayur desa.
Menurut laporan tersebut, orang itu sebelumnya bekerja menggarap lahan milik mandor dan kini terus bekerja untuknya mencari uang, dengan total masa kerja sekitar 20 tahun.
Mandor tersebut dikabarkan mengaku bahwa ia “membeli” orang tersebut dari seseorang di Guangzhou pada tahun 2006 dengan harga 10.000 yuan. Saat itu, korban disebut masih berusia sekitar 20 tahun.
Seluruh upah disebut diserahkan kepada mandor
Video tersebut memperlihatkan tempat tinggal korban berupa bangunan darurat yang sangat sederhana, dengan sebuah papan kayu yang dijadikan tempat tidur.
Saat diwawancarai, blogger bertanya:
“Apakah papan ini benar-benar dipakai untuk tidur? Bagaimana Anda bertahan saat musim dingin?”
Korban menjawab bahwa ia bekerja di luar dengan upah sekitar 200 yuan per hari, tetapi seluruh penghasilannya diberikan kepada sang mandor.
Ia juga mengaku berasal dari Kabupaten Lanshan, Provinsi Hunan, dan mengatakan bahwa keluarganya masih memiliki seorang ayah dan adik laki-laki.
Reaksi warganet
Kasus ini memicu berbagai komentar di media sosial, antara lain:
- “Dia masih ingat ayah dan adiknya, tetapi selama 20 tahun tidak bisa pulang karena dikendalikan. Sulit dibayangkan bagaimana ia menjalani hidup selama ini.”
- “Entah masih ada berapa banyak praktik ‘perbudakan’ di zaman modern seperti ini.”
- “Jangan-jangan kasus seperti ini ada di banyak tempat.”
- “Jika benar masih ada praktik perbudakan di sudut-sudut tertentu, itu sungguh memalukan.”
- “Apakah benar dia memang penyandang disabilitas sejak awal, atau justru dibuat cacat oleh orang-orang itu?”
Blogger mengaku menemukan sejumlah kasus serupa
Menurut unggahan di akun Weibo blogger tersebut:
- 14 Juni: Sebuah toko bahan bangunan di Kota Lu’an, Provinsi Anhui, diduga mempekerjakan seorang penyandang disabilitas dengan identitas tidak jelas. Pemilik toko mengklaim orang tersebut adalah seseorang yang “dipungut” beberapa tahun lalu dan bahkan telah didaftarkan dalam administrasi keluarganya, tetapi identitas aslinya tidak diketahui.
- Di Desa Liqingu, Kota Dingzhou, Provinsi Hebei, seorang penyandang disabilitas disebut telah bekerja selama bertahun-tahun sebagai buruh untuk pemilik toko serba ada. Ia dikatakan mengerjakan dua pekerjaan sekaligus, mulai dari mengangkut barang di toko hingga membersihkan kandang babi di peternakan milik putri pemilik toko. Pemilik toko disebut mengakui bahwa orang tersebut tidak memiliki dokumen kependudukan dan menyatakan bahwa warga desa maupun aparat setempat mengetahui keberadaannya.
Dugaan kasus lain di Hubei, Jiangsu, Jiangxi, Yunnan, dan Chongqing
Dalam unggahan pada 12 Juni, blogger itu menyatakan bahwa pada Oktober tahun lalu ia menemukan sejumlah penyandang disabilitas tanpa identitas yang diduga dipaksa bekerja di sebuah pabrik batu bata di Kabupaten Qichun, Provinsi Hubei.
Namun ketika ia tiba di lokasi, para mandor disebut telah memindahkan beberapa orang tersebut ke pabrik lain di Kabupaten Lianshui (Jiangsu) dan Kabupaten Anyi (Jiangxi).
Menurut unggahan tersebut, aparat setempat kemudian berhasil menyelamatkan delapan penyandang disabilitas, sementara tiga mandor terkait kasus itu ditangkap di wilayah Yunnan dan Chongqing.
Dugaan pemukulan jika tidak bekerja
Pada 8 Juni, blogger yang sama juga melaporkan dugaan adanya dua penyandang disabilitas tanpa identitas di Desa Xici, Kota Zhuozhou, Provinsi Hebei, yang telah bekerja selama bertahun-tahun tanpa menerima upah.
Ia menyebut bahwa awalnya mereka bekerja di sebuah tempat penjualan batu bara milik seorang majikan, kemudian dipindahkan untuk menggembalakan domba ketika majikan tersebut beralih usaha. Setelah tahun 2023, saat majikan mulai menjalankan bisnis pestisida dan benih pertanian, keduanya kembali dipekerjakan di usaha tersebut. Blogger itu juga menuduh bahwa mereka dipukul apabila menolak bekerja.
Ia mengaku telah menghubungi nomor darurat polisi 110 untuk melaporkan kasus tersebut, tetapi mengatakan bahwa petugas justru bertanya kepadanya, “Apa maksud Anda melaporkan hal ini?”
Sejumlah warganet kemudian berkomentar:
- “Apakah ini menjelaskan mengapa para gelandangan bisa tiba-tiba menghilang?”
- “Semakin dipikirkan, semakin mengerikan.”
Kasus serupa yang pernah diungkap
Tahun lalu, blogger tersebut juga mengklaim menemukan beberapa rumah warga di wilayah Shennongjia, Hubei, yang menampung penyandang disabilitas, bahkan ada keluarga yang menampung lebih dari satu orang.
Setelah kasus itu menjadi perhatian publik, pemerintah daerah disebut menyatakan bahwa orang-orang tersebut telah diserahkan kepada dinas kesejahteraan sosial setempat. Namun, menurut artikel ini, tidak ada laporan resmi lanjutan maupun perkembangan lebih lanjut yang diumumkan kepada publik.
Dilaporkan oleh Li Li / Diedit oleh Xu Gengwen – NTDTV.com


