Organisasi pemberontak gerilya Kolombia, Tentara Pembebasan Nasional (ELN), pada 8 Maret 2025, dalam wawancara langka dengan AFP, berjanji untuk melawan serangan pemerintah di wilayah timur laut Kolombia. Mereka memperingatkan bahwa kebijakan “perdamaian total” yang telah berlangsung selama bertahun-tahun bisa berubah menjadi “perang total”. Sementara itu, Presiden Gustavo Petro menegaskan bahwa pemerintah akan menggunakan kekuatan militer untuk merebut kembali kendali negara jika diperlukan.
EtIndonesia. Dalam sebuah lokasi rahasia di pegunungan dekat perbatasan dengan Venezuela, dua komandan ELN, Ricardo dan Silvana Guerrero, diwawancarai AFP dengan dikawal sekitar 30 pejuang bersenjata lengkap. Mereka menyatakan bahwa ELN bersedia berdialog dengan pemerintah, tetapi juga siap untuk bertempur. Mereka tidak akan ragu untuk menghadapi 10.000 tentara pemerintah yang telah dikerahkan ke wilayah tersebut.
“Jika tentara terus datang, kemungkinan besar akan terjadi konfrontasi, karena kami akan mempertahankan pasukan pemberontakan kami,” kata Ricardo.
Presiden Gustavo Petro menegaskan bahwa jika ELN memilih jalur perang, maka mereka juga akan mendapatkan perang.
“ELN telah memilih jalan perang, dan itulah yang akan mereka hadapi,” kata Petro.
ELN telah memberontak melawan pemerintah Kolombia selama lebih dari 60 tahun. Mereka menguasai wilayah yang luas dan terlibat dalam perdagangan kokain global.
Menurut perkiraan pemerintah, sejak Januari 2025, bentrokan antara ELN dan kelompok gerilya saingannya di wilayah perbatasan Catatumbo telah menyebabkan hampir 56.000 orang mengungsi dan menewaskan setidaknya 76 orang.
Ini adalah insiden paling mematikan sejak perjanjian damai Kolombia tahun 2016. Pemerintah telah mengumumkan status darurat dan mengerahkan ribuan tentara ke daerah tersebut. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


