EtIndonesia. Mantan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, baru-baru ini ditangkap oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Peristiwa ini menambah babak baru dalam perseteruan panjang antara dua keluarga politik besar di Filipina, yaitu keluarga Duterte dan keluarga Marcos, sekaligus memperburuk ketidakstabilan politik di negara tersebut.
Duterte dituduh oleh ICC atas kejahatan terhadap kemanusiaan terkait “perang melawan narkoba” yang berlangsung di masa kepemimpinannya. Kebijakan keras tersebut menyebabkan lebih dari 6.000 orang menjadi korban eksekusi di luar proses hukum. Meskipun Filipina telah keluar dari ICC sejak 2019, Interpol tetap membantu mengeksekusi penangkapannya. Pada Selasa (11 Maret), Duterte langsung dikirim ke Den Haag dalam semalam.
Presiden Filipina saat ini, Bongbong Marcos, menegaskan bahwa penangkapan Duterte hanya merupakan bagian dari penegakan hukum dan bukan bermotif politik.
“Kasus ini dimulai sejak tahun 1970-an, ketika kami masih menjadi anggota ICC, dan juga terjadi selama pemerintahan Duterte. Jadi, saya tidak mengerti mengapa ini disebut sebagai persekusi politik dari pihak saya.” – Bongbong Marcos
Namun, lebih dari setahun lalu, pemerintahan Marcos sudah memberi sinyal bahwa mereka bersedia bekerja sama dengan ICC untuk menangkap Duterte. Hal ini memperburuk hubungan antara dua keluarga politik ini. Putri Duterte, Sara Duterte, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Filipina, bahkan secara terbuka mengancam akan membunuh Presiden Marcos, menunjukkan ketegangan yang mendalam antara kedua keluarga.
Konflik antara kedua keluarga ini berakar sejak 1960-an, ketika ayah Duterte bekerja untuk pemerintahan Ferdinand Marcos Sr. Namun, setelah Revolusi Kekuatan Rakyat (1986) yang menggulingkan rezim Marcos, hubungan antara kedua keluarga menjadi semakin rumit.
Pada tahun 2016, Duterte terpilih sebagai Presiden dan menerapkan gaya kepemimpinan otoriter, sekaligus mendekatkan diri dengan Partai Komunis Tiongkok.
Sara Duterte sempat dianggap sebagai penerus politik ayahnya. Namun, ia menghadapi tuduhan korupsi dan kritik karena terlalu dekat dengan Beijing, yang akhirnya menghambat ambisinya dalam dunia politik.
Pada 2022, Bongbong Marcos terpilih sebagai Presiden dan memulihkan hubungan Filipina dengan Amerika Serikat serta mengambil sikap keras terhadap PKT.
Sara Duterte berencana mencalonkan diri dalam pemilu presiden 2028, tetapi hubungan dengan Marcos memburuk setelah ia gagal mendapatkan jabatan Menteri Pertahanan. Tahun lalu, ia mengundurkan diri dari kabinet dan terseret skandal korupsi, yang menyebabkan popularitasnya merosot tajam. DPR Filipina akhirnya memakzulkan Sara Duterte dengan tuduhan korupsi serta ancaman terhadap Presiden.
Ketika Duterte dan putrinya terbang ke Hong Kong untuk menghadiri acara, ICC memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menangkap Duterte. Sara Duterte menuduh bahwa ini adalah bagian dari balas dendam politik yang dilakukan oleh keluarga Marcos terhadap keluarga Duterte.
Dengan pemilu paruh waktu yang semakin dekat, persaingan antara kedua keluarga ini diperkirakan akan terus berlanjut, dan pertarungan politik antara Marcos dan Duterte masih jauh dari selesai. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


